NovelToon NovelToon
Hanya Cinta Yang Bisa

Hanya Cinta Yang Bisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:616
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Bahas Itu

Setelah beberapa saat kesadarannya pulih sepenuhnya, Ario menatap botol kecil berisi pil antibiotik yang tergeletak di meja kayu darurat di sampingnya. Ia tahu benar kondisi Venezuela. Ia tahu bahwa di negara yang sedang hancur ini, obat-obatan adalah barang mewah yang hanya bisa dibeli dengan dolar atau emas dalam jumlah besar.

"Obat itu..." Ario memberi isyarat ke arah botol pil dengan dagunya. Suaranya masih lemah, namun ketajaman pikirannya mulai kembali. "Dari mana kau mendapatkannya, Helen? Kita tidak punya uang tunai. Kartu kreditku sudah diblokir oleh Beatrix. Bagaimana kau membayarnya?"

Helen terdiam. Ia memalingkan wajahnya ke arah pintu yang terbuka, di mana Miguel terlihat sedang duduk di luar sambil mengasah parangnya. Tenggorokan Helen terasa tercekat. Ia teringat saat ia menyerahkan satu-satunya kenangan fisik yang ia miliki dari ibunya—sebuah kalung emas dengan liontin permata kecil yang selalu melingkar di lehernya sejak ia berusia tujuh tahun.

"Miguel sangat baik," jawab Helen lirih, berusaha menghindari kontak mata. "Dia membantuku mencarinya di pasar gelap."

Ario menyipitkan mata. Ia meraih tangan Helen, dan saat itulah ia menyadari sesuatu yang hilang. Leher Helen yang biasanya dihiasi oleh kalung halus itu kini tampak kosong. Hanya ada bekas kemerahan samar akibat gesekan selama pelarian mereka.

"Kalungmu..." suara Ario berubah menjadi bisikan yang penuh penyesalan. "Kalung dari ibumu... kau menjualnya untukku?"

Helen menggigit bibir bawahnya, menahan isak tangis yang nyaris pecah. "Itu tidak penting, Ario. Kalung itu hanya benda mati. Nyawamu jauh lebih berharga daripada emas manapun di dunia ini. Jangan bahas itu lagi, kumohon."

Ario memejamkan mata rapat-rapat. Rasa sakit di hatinya saat ini jauh lebih hebat daripada luka tembak di bahunya. Ia tahu betapa Helen memuja mendiang ibunya. Kalung itu adalah satu-satunya barang yang tidak pernah disita oleh Beatrix karena Helen menyembunyikannya dengan sangat baik. Dan sekarang, demi menyelamatkan pria yang awalnya ia benci, Helen telah melepaskan harta terakhirnya.

"Maafkan aku, Helen," bisik Ario. "Aku seharusnya melindungimu, bukan membuatmu kehilangan segalanya."

"Kau sudah melindungiku dengan peluru di bahumu," sahut Helen sambil menggenggam tangan Ario kuat-kueat. "Sekarang, fokuslah untuk sembuh. Kita tidak punya waktu untuk bersedih. Beatrix pasti sudah mengirim orang untuk menyisir tempat ini."

****

Sementara itu, di puncak gedung pencakar langit Jakarta, Beatrix van Amgard sedang berdiri di depan peta digital Amerika Selatan yang terpampang di layar besar. Beberapa titik merah berkedip di sekitar wilayah Caracas.

"Mereka masih hidup," geram Beatrix. Ia menyesap teh hijaunya dengan gerakan yang sangat elegan namun penuh ketegangan. "Andre melaporkan bahwa Ario tertembak, tapi mereka menghilang di pemukiman kumuh La Guaira."

Bambang berdiri di belakangnya dengan kepala menunduk. "Nyonya, kami sudah menyebar informan di pasar gelap Caracas. Siapapun yang mencari obat-obatan atau bantuan medis dengan ciri-ciri orang asing, akan segera dilaporkan."

Beatrix berbalik, matanya berkilat jahat. "Helen itu bodoh. Dia dibesarkan dalam sutra. Dia tidak akan tahan lama di tempat kotor seperti itu. Dia pasti akan mencoba menjual sesuatu untuk bertahan hidup. Perhiasannya, jam tangannya, atau apapun yang tersisa di tubuhnya. Pantau semua toko gadai dan penadah emas di Caracas."

Beatrix berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil sebuah foto lama. Foto pernikahan Aditya Kusuma dengan ibu Helen. Dengan gerakan lambat, ia menyulut ujung foto itu dengan pemantik api emas miliknya.

"Satu per satu, semua yang berhubungan dengan keluarga Kusuma akan musnah," gumam Beatrix sambil memperhatikan api melalap wajah ibu Helen. "Dan saat Helen kembali ke Jakarta, dia tidak akan menemukan satu pun batu nisan yang bisa ia tangisi."

****

Di gubuk Miguel, malam kembali jatuh menyelimuti Caracas. Miguel masuk ke dalam membawa semangkuk sup encer yang terbuat dari akar-akaran dan sedikit daging ayam—makanan mewah yang ia dapatkan dari sisa hasil penjualan kalung Helen.

"Ayo, makanlah," kata Helen pada Ario. Ia menyuapi Ario dengan sabar.

Meskipun makanan itu terasa asing di lidah mereka yang terbiasa dengan hidangan mewah, mereka memakannya dengan lahap. Di tengah kemiskinan yang mencekik ini, rasa kemanusiaan Miguel memberikan mereka harapan yang belum pernah mereka rasakan di Jakarta yang penuh intrik.

"Helen," panggil Ario pelan setelah makan malam mereka selesai. "Setelah aku bisa berjalan, kita harus segera bergerak. Miguel dalam bahaya jika kita terus di sini. Orang-orang Beatrix akan membakar tempat ini jika mereka tahu kita bersembunyi di sini."

"Aku tahu," jawab Helen. "Tapi kau masih terlalu lemah."

"Dendam memberiku kekuatan," sahut Ario dengan tatapan mata yang kembali tajam. "Aku sudah berhasil menghubungi salah satu kontak lamaku melalui radio milik Miguel semalam saat kau tidur. Ada sebuah pesawat kargo kecil yang akan mendarat di landasan pacu ilegal di luar kota dalam dua hari. Jika kita bisa sampai di sana, kita bisa terbang ke Panama, dan dari sana... kita pulang."

Helen menatap suaminya. Ada rasa kagum yang tumbuh di sela-sela rasa takutnya. Ario tidak pernah menyerah. Bahkan dengan lubang di bahunya, ia tetap menyusun bidak catur untuk melawan balik.

"Tapi bagaimana dengan Tante Beatrix?" tanya Helen ragu. "Dia sudah memiliki segalanya sekarang. Perusahaan, rumah, kekuasaan."

Ario menarik napas panjang, menahan rasa sakit di dadanya. "Dia mungkin memiliki gedung-gedungnya, Helen. Tapi dia tidak memiliki kita. Selama kita masih bernapas, perang ini belum berakhir. Dia telah membuat kesalahan besar dengan membiarkan kita tetap hidup."

****

Malam itu, Ario tertidur kembali karena pengaruh obat. Helen duduk di sampingnya, menatap ke arah bulan yang mengintip dari balik celah atap. Ia menyentuh lehernya yang kosong, dan air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.

Ia merasa sangat kehilangan kalung itu. Tapi saat ia melihat dada Ario yang naik turun dengan teratur, ia tahu ia telah melakukan hal yang benar. Ia bukan lagi Helen yang manja dan hanya bisa bergantung pada kekuasaan ayahnya. Ia adalah seorang pejuang yang telah belajar harga dari sebuah pengorbanan.

Di luar gubuk, Miguel masih terjaga, menjaga pintu dengan parang di pangkuannya. Ia tahu bahwa dua tamu asing ini adalah magnet bagi masalah besar, tapi ia telah melihat kalung emas itu—bukan sebagai logam mulia, tapi sebagai simbol cinta seorang istri pada suaminya. Dan di dunia yang sudah hancur seperti Venezuela, cinta adalah satu-satunya mata uang yang masih memiliki nilai murni.

Di kejauhan, sirine polisi Caracas meraung-raung, menandakan bahwa para pemburu mulai mendekat. Namun di dalam gubuk kecil itu, untuk sementara waktu, ada kedamaian yang rapuh. Helen menggenggam tangan Ario, bersiap untuk menghadapi fajar yang mungkin akan membawa mereka lebih dekat pada kematian, atau selangkah lebih dekat pada pembalasan dendam yang manis.

"Tunggu kami, Tante Beatrix," bisik Helen dalam kegelapan. "Karena saat kami kembali, kami tidak membawa emas... kami membawa api."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!