Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menjual ikan 2
“Harapan kita tinggal satu, hanya ikan cana ini.” Amira menatap ikan cana yang ada dalam galon.
Air di dalam galon itu bergoyang pelan mengikuti gerakan tangannya. Ikan di dalamnya sesekali menyentakkan tubuh, sisiknya memantulkan cahaya redup pagi. Amira menelan ludah. Harapan mereka seolah benar-benar terkurung di dalam wadah plastik itu.
“Ya sudah, mari kita ke toko ikan hias,” ajak Nanda dengan senyum ceria.
Senyum itu tampak dipaksakan, tapi tetap hangat. Nanda mengangkat dagunya, mencoba terlihat kuat meski lingkar matanya tak bisa menyembunyikan kelelahan.
“Ibu masih bisa tersenyum, padahal kita punya empat perut yang harus diisi.” Amira masih saja khawatir dengan masa depannya.
Angin tipis menyapu wajah mereka. Perut Amira ikut bergejolak, kosong dan perih. Ia melirik adik-adiknya.
“Jangan terus berpikir negatif. Kita harus bahagia. Bahagia adalah kunci sukses.” Bagaikan seorang motivator, Nanda berkata dengan penuh semangat.
Tangannya mengepal kecil, seolah memberi energi pada dirinya sendiri.
“Hidup tidak semudah kata-kata indah.” Amira mendengus pelan.
Ia menendang kerikil kecil di jalan, mempercepat langkah.
“Ya, memang pahit, tapi kita harus terus hidup. Jangan pernah menyerah. Tetaplah hidup walaupun tak berguna.”
“Ya, dengan uang 50.000, apa yang akan kita lakukan?”
“Ayolah, Amira. Hidup tak hanya dipikirkan. Impian itu harus didekatkan dengan dengkul dan tangan. Mari bertindak, jangan terlalu banyak berpikir.”
“Baiklah, baiklah. Tapi aku tidak tega dengan Dewi. Lihat matanya sayu seperti itu. Dia pasti kelaparan, hanya saja dia menahannya.” Amira menatap ke arah Dewi.
Dewi berjalan pelan, matanya memang tampak redup, tapi bibirnya tetap tersenyum.
“Sudahlah, kita harus bertindak,” kembali Nanda mengingatkan.
Sementara itu, Dewi justru tertawa kecil. Ia berlari mendekati Arjuna yang membawa ular. Arjuna mengangkat ular itu dengan ragu, lalu melilitkannya ke lehernya sendiri. Tubuhnya sempat menegang, tapi Dewi bertepuk tangan senang, membuatnya bertahan.
Akhirnya mereka berjalan menyusuri jalan.
Aspal terasa panas di bawah kaki. Suara klakson bersahutan. Tukang ojek online melintas cepat, jaket hijau mereka berkibar. Kuli panggul berjalan tergesa, keringat mengalir di pelipis. Pedagang berteriak menawarkan dagangan, suara mereka saling bertumpuk menciptakan hiruk pikuk yang melelahkan.
Akhirnya sampailah mereka di toko ikan hias Sarimurni.
Etalase kaca berderet, berisi ikan-ikan berwarna mencolok. Lampu neon membuat air tampak berkilau.
“Mas, saya mau jual ikan chana ini,” ucap Nanda sambil mengangkat galon.
Seorang lelaki paruh baya dengan baju kotak-kotak memandang galon itu sambil menyipitkan mata.
Tatapannya tajam. Ia menunduk sedikit, mencoba melihat lebih jelas.
“Ikan yang bagus, tapi mereka hanya gembel, mana tahu itu ikan bagus,” gumamnya dalam hati. Niat menipu langsung timbul.
“Itu sih ikan gabus, bukan ikan cana. Aku punya temannya. Bagaimana kalau aku beli 50.000 saja?”
“Yang benar saja ini ikan gabus?” ucap Amira ketus. “Ini ikan cana, Pak. Jangan coba menipu kami.”
“Kamu tahu apa tentang ikan? Aku ini sudah dagang ikan hias selama 10 tahun. Ini bukan ikan cana. Jual ke saya 100.000, itu harga paling mahal. Percaya sama saya, kamu tidak akan bisa menjual ikan ini dengan harga lebih tinggi lagi,” ucapnya dengan penuh percaya diri, merendahkan. Namun, Nanda tahu tatapan pedagang itu antusias.
“Mana ada ikan gabus harga 100.000? Ikan ini kami dapatkan dengan susah payah. Kalau kamu tidak mau, ya sudah.”
“Hei, kamu menghina saya? Dasar gembel! Kamu mencuri ikan ini, kan?” pedagang itu langsung menuduh.
Suasana mendadak menegang. Beberapa orang melirik.
“Paman, benarkah ini ikan gabus?” ucap Dewi dengan suara cemprengnya.
“Benar, Nak. Ini ikan gabus,” jawab pedagang penuh percaya diri.
“Mah, kalau begitu mari kita pulang. Kita bakar saja ikan ini. Besok kita bisa cari belut. Perutku sudah lapar ini.”
“Karena ini ikan gabus gizinya sangat banyak, jadi mari kita pulang, kita bakar saja.”
Pedagang itu terdiam sejenak. Wajahnya berubah. Matanya kembali menatap ikan itu dengan cepat.
Mendadak pedagang itu panik. Setidaknya dia bisa menjualnya dengan harga tiga juta rupiah. Dia tidak mau kehilangan keuntungan.
“Baiklah, aku beli 500.000,” ucap pedagang.
“Dewi, lihat ikan itu ngamuk pas lihat ular,” terdengar suara Arjuna yang sedang mendekatkan kepala ular ke galon.
Air di dalam galon beriak keras. Ikan itu menghantam sisi plastik, agresif.
“Wah, ikan ini agresif sekali. Mungkin kemarin dia mabuk air, jadi kurang agresif. Ikan ini ikan mahal, kita jual saja ke sebelah tadi. Dia nawar dua juta, enggak kita kasih.”
“Baiklah, baiklah... 2.500.000,” ucap pedagang itu.
Amira hampir saja loncat gembira mendengar hal itu, namun dia harus bersikap datar.
“Ikan ini setidaknya harganya lima juta... tapi ya sudahlah, saya jual 2.800.000, oke?”
“Alah, mahal sekali.”
Dewi sedari tadi langsung membawa galon itu.
“Dewi, mau dibawa ke mana?” tanya Amira.
“Itu bapak-bapak mau beli tiga juta, Bu,” ucap Dewi asal.
Pedagang itu langsung mengangkat tangan.
“Oke, oke... 2.800.000 lah, jadi,” ucap pedagang.
“Transfer atau cash?” lanjutnya.
“Cash saja. Ponsel dan kartu ATM saya hilang.”
Amira menyerahkan galon itu kepada pedagang. Semakin dilihat, semakin senang pedagang itu.
Matanya berbinar. Tangannya hampir gemetar saat menerima galon itu.
Ikan cana dengan motif unik. Dengan diberi vitamin sedikit saja, dia pasti akan lebih agresif.
Dia mengambil uang dan menghitungnya, lalu menyerahkannya kepada Amira.
Lembaran uang itu terasa berat di tangan Amira.
Amira menghitungnya dengan teliti.
Jari-jarinya bergerak cepat, memastikan tidak ada yang kurang.
“Oke, makasih, Mas,” ucap Amira.
Dengan wajah sumringah, Amira dan keluarganya meninggalkan kios itu. Langkah mereka terasa lebih ringan. Galon yang tadi mereka bawa kini sudah berganti dengan setumpuk uang di tangan Amira. Untuk pertama kalinya sejak lama, napas mereka tidak terasa sesak. Hanya dengan sedikit keberanian dan tekad untuk bertahan, mereka akhirnya mendapatkan uang yang lumayan banyak.
“Mah, aku lapar,” ucap Dewi sambil memegang perutnya.
Perutnya berbunyi pelan, wajahnya sedikit meringis, tetapi matanya tetap berbinar.
“Baiklah, marilah kita cari makan.”
“Sebaknya dibungkus saja, para pengunjung nanti takut sama ular yang kamu bawa.”
“Ya kok gitu sih,” ucap Dewi mengeluh, bahunya langsung merosot.
“Dewi, jangan cari masalah lagi,” tegur Nanda tegas, meski suaranya tetap lembut.
“Ok, baiklah. Tolong belikan juga ayam buat dia ya,” pinta Dewi sambil melirik ke arah ular sanca putih yang melilit santai di tangan Arjuna.
Akhirnya mereka menemukan warung nasi Padang. Aroma santan dan rempah langsung menyambut begitu mereka mendekat. Amira memesan delapan bungkus nasi, tangannya sedikit gemetar saat menyerahkan uang. Totalnya 120.000 rupiah—jumlah yang dulu terasa besar, tapi kini terasa pantas untuk kebahagiaan kecil ini.
Mereka terus berjalan hingga menemukan pohon rindang di taman. Angin berhembus pelan, dedaunan bergoyang meneduhkan. Mereka duduk melingkar di atas rumput, membuka bungkusan nasi dengan tergesa.
“Anjani, kamu lapar?” tanya Dewi pada ular sanca putih itu.
Ular itu menjulurkan lidahnya beberapa kali.
Dewi tersenyum kecil, seolah memahami.
“Kamu pergi dulu saja cari makan sana. Tuh, di sana ada sungai. Nanti habis makan balik lagi. Kamu ingatkan bau badan aku,” ucap Dewi santai.
Ular itu kembali menjulurkan lidahnya.
“Ya sudah, pergilah,” ucap Dewi sambil mengibaskan tangan.
Perlahan, ular itu meluncur pergi.
“Kamu mengerti dengan bahasa binatang?” tanya Amira heran.
“Tidak,” jawab Dewi singkat.
“Terus tadi kamu bisa ngobrol sama dia?”
“Aku saja lapar, apalagi dia. Dia pasti akan kembali padaku,” jawab Dewi mantap.
“Ya sudah, sekarang kamu makan yang banyak, jangan malu-malu.”
“Benarkah? Berarti sisa dua bungkus untukku, kan?”
“Makan, makan, Dewi. Jangan banyak bicara,” ucap Nanda.
Mereka berempat makan dengan tenang, menikmati setiap suapan. Nanda dan Dewi selesai lebih dulu, lalu berdiri menuju kran taman.
Air mengalir dingin membasahi tangan mereka.
“Amira, selanjutnya apa yang harus kita lakukan?” tanya Nanda.
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
yg ada di tindas terus
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪