Maura, seorang gadis yang terpaksa harus menikah dengan seorang pengusaha muda yang ternyata adalah bos tempat dimana dia mencari nafkah.
semua berawal dari minuman, Maura yang saat itu sedang memergoki ke kasihnya sedang berselingkuh dan bercinta dengan sahabatnya sendiri sungguh sangat frustasi dan memutuskan untuk pergi ke club dan meminum alkohol di sana.
tetapi sayangnya itu justru membawa pengaruh buruk untuknya, akibat mabuk dia salah masuk apartemen.
Bukannya melakukan hubungan terlarang, Maura justru menghajar pria tersebut hingga dia berakhir di penjara.
untuk bisa keluar dari sel tahanan tersebut, Jo memberikan syarat, yaitu harus menjadi kekasih sekaligus calon istri penggantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon na4vR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part. 19. Drama pagi
Ya, jelas lah kamu salah!! penjelasan mu itu di luar dari apa yang kita sepakati!! Kamu terlalu berlebihan."tuding Joe
"Lah lah!! Terus harusnya kek gimana? Apa saya harus ngomong.. Iya Tan, kita emang pacaran!! Terus emang masalah buat Lo, Tan? Iya, gitu." pekik Maura.
Tanga Joe terangkat, dia sudah habis kesabarannya menghadapi gadis yang ada di sebelahnya. Karena selalu ada saja jawabannya dan ia baru nenyadari jika Maura sangat pandai berbicara.
"Ngga harus gitu juga!! Tapi yang tadi tuh, kamu sok ramah banget dan lihat sekarang!! Semuanya jadi rumit!!"
"Yee, itu derita Bapak!! Masa nyalahin saya!! Karma Pak makanya jangan bohongin orang tua." balas Maura membuat Joe menatap tajam gadis itu, ia mengeram kesal karena semua yang dia katakan. Ada saja jawaban dari gadis itu.
"Jadi, kamu nyalahin saya, hah?"
"Ya, iyalah Bapak salah!! Terus emang siapa lagi yang harus di salahkan?" sahut Maura.
"Terus, kenapa kamu mau saja nerima jadi calon istri pura-pura?" tanya Joe yang mulai lupa siapa yang membuat ide dan tawaran itu.
"Eh? Entar dulu!! Are you amnesia Bos? Nanya kek gitu!! Hey yang harusnya nanya itu saya!! Anda tanya jawabannya pada diri anda sendiri."
Duarr!!
Joe langsung terbungkam mulutnya, ucapan Maura benar adanya. Memang bukan dia yang salah tapi dirinya lah.
( huu, emang kapan sih wanita bisa kalah? Sabar, Joe) gerutu Joe dalam hatinya.
Sudah kehabisan kata-kata, Joe memilih diam bahkan sekarang terlihat seperti orang frustasi.
Dan tak terasa mobil yang membawanya sudah sampai di lobby apartemen.
Sebelum Maura keluar dari dalam mobil, gadis itu menyempatkan untuk menatap sinis pada Joe terlebih dahulu.
"Makasih Loh, Bos!! Hmm, setelah saya pikir-pikir dari tadi!! Sepertinya bakalan ada pertemuan selanjutnya dengan keluarga Alexander..jadi, dengan senang hati saya akan tetap menerapkan untuk sekali pertemuan tetap di harga 500 juta."
Ucapan Maura yang baru saja keluar dari mulutnya membuat mulutnya menganga lebar dan mata melotot tajam. Tetapi belum sempat ia memarahi wanita itu, Maura sudah lebih dulu keluar dari dalam mobil.
"Maura, sialan!! Dasar cewek matre!! Pekik Joe.
Maura masih mendengar teriakan bosnya, tapi dengan santainya dia hanya menggedikkan bahu acuh. Kemudian lebih memilih masuk kedalan lift, karena ia sangat lelah dan tidak peduli apa yang bosnya rasakan.
*************
Pagi hari ini Maura sudah sangat rapih, tidak seperti biasanya yang selalu datang tepat waktu. Tapi kali ini ada yang beda, wanita itu datang lebih cepat dari biasanya.
Tentu saja hari pertamanya ia sangat semangat 45, karena sekarang gaji yang di janjikan sangat besar, dan kapan lagi ia mendapatkan gaji 25 juta perbulan.
Sedari tadi Maura berdiri depan ruangan Joe dengan senyum manis yang sudah ia siapkan sedari tadi. Tidak sabar dirinya menanti kedatangan bos yang sangat menyebalkan itu, walau begitu ia tetap harus baik demi uang yang akan ia terima setiap bulannya.
Sementara Joe, begitu sampai di lobby perusahaan miliknya. Ia gegas turun dan berjalan melewati beberapa karyawan yang menyapanya dengan penuh kharisma dan berwibawa. Siapa pun pasti akan terpesona dengan ketampanannya, walau ia terlihat sangat dingin.
Ketika hampir sampai di depan ruangannya, dahinya mengerut melihat seorang wanita tengah berdiri sambil tersenyum padanya seperti kurang waras.
"Ngapain berdiri di situ?waras kamu! Pagi- pagi udah senyum gak jelas."
Mendengar ucapan ketus dari Joe, senyuman yang sudah di buat semanis itu pun mendadak hilang. Susah payah dia mempertahankan senyuman nya, bukan di puji tapi malah di bilang kurang waras.
(sabar Maura sabar!! Dia mata uang Lo sekarang)bathin Maura.
"Selamat pagi Pak Joe?" sapa Maura dengan senyum ramah, dia pun menunduk hormat. Sebisa mungkin pagi ini untuk tidak membuat keributan.
"Silimit pagi Pak Joe! Sok, manis banget!! Lihat kamu, mood aku langsung drop!!" cebik Joe.
Maura mengepalkan tangannya, kedua tangannya sudah gatal ingin memberikan satu tanda cinta berupa bogeman mentah pada wajah bosnya. Tapi ia sadar harus bersabar, saat ini ia tidak bisa semena-mena. Bisa-bisa karier nya akan hancur, mengingat kalau Joe adalah bosnya.
"Maaf, apa Pak Joe mau saya buatkan kopi atau teh?" dengan sabar Maura coba menawarkan minuman hangat pada bosnya. Ia sebisa mungkin mengambil hati Joe, yah siapa tahu saja kopinya bisa dihargain 500 ribu.
"Kamu mau bunuh saya?"
"Astaga!! Pak saya cuma menawarkan kopi atau teh tanpa sianida."
"Jadi benarkan!! Kamu ada niat mau menghilangkan nyawa aku? Ingat!! Kamu kerja sama saya."
" Baik, Pak.. Kalau memang ngga mau di buatkan kopi!! Saya permisi dulu, mau melanjutkan pekerjaan saya."
Maura malas berlama-lama meladeni bos sinting menurutnya itu, ia berniat untuk segera pergi saja. Namun, sepertinya Joe tidak mau melepaskan sekretarisnya begitu saja.
"Siapa yang bilang, saya ngga mau kopi? Ada ngga saya bilang kalau ngga mau kopi?"
Maura yang mendengar ucapan bosnya hanya memutar bola mata malasnya, sepertinya ia yang salah seharusnya tidak usah sok sok an menawarkan kopi.
"Jadi Bapak mau saya buatkan kopi?"
"Pakai sianida?"
Saking kesalnya, Maura mengangguk cepat. "kalau Bapak mau pakai sianida, saya dengan hati akan buatkan."
"Kamu ada dendam apa sama saya?"
"Enggak Pak!!" jawab Maura cepat, walau dalam hatinya berkata (ngga salah Pak)
"Sangat tidak sinkron hati, mulut dan isi kepala mu!! Kamu tuh harus ingat yang seharusnya ada dendam itu saya ke kamu!! Gara-gara kamu situasi menjadi kacau.. Kalau Mommy ngotot ingin kita nikah bagaimana?"
Jawaban Maura sungguh di luar dugaan, dengan santainya ia menjawab.
"Ya,kalau ngga ada jalan lain, kita nikah aja. Pak!! Gitu aja dibuat pusing."
"Kamu suka sama saya?"
Joe ngga habis pikir dengan betina satu di hadapannya itu, ia pikir Maura akan menolaknya. Tapi diluar dugaannya, wanita itu dengan santai tanpa keberatan sama sekali.
Maura menggaruk tengkuknya yang memang sudah di pastikan tidak gatal, kemudian ia menatap polos bosnya.
"Lebih tepatnya bukan suka sama Bapak!! Tapi duit Pak Duit."
Jawaban yang keluar dari mulut Maura langsung membuat Joe dan Frans mulut menganga lebar, tidak menyangka kata-kata kramat itu meluncur dari mulut wanita yang sangat cantik.
"Ternyata kamu matre udah ngga ada ampun lagi, ya?"
"Bukan matre Pak!! Tapi hidup harus realistis.. Manusia mana yang bisa hidup tanpa uang? Saya pernah coba ikutin saran orang-orang yaitu di mulai dengan senyum tapi baru sampe kantor perut saya udah kelaparan lagi!! jadi bisa di simpulkan kalau mau makan harus beli pakai uang, Pak!!"
Memang ngga ada yang salah dari penjelasan Maura, tapi kenapa jawaban nya itu mampu membuat Joe gemas.
"Ckk..udah terserah kamu saja!! Buatkan saya kopi, sekarang!!" titahnya karena sudah lelah harus berdebat dengan Maura.
"Hah, Bapak seriusan mau kopi campur sianida?"
Joe sudah menahan mati-matian untuk tidak menyentil dahi wanita yang ada di hadapannya. Namun, karena sabarnya sudah habis. Ia pun menyentil kening itu juga, membuat Maura meringis menahan sakit.
"Gila saja kamu!! Buatkan saya secangkir kopi hitam tanpa sianida dan segera antarkan ke ruangan saya lagi!!"
"Emang ada ya? Kopi warna putih atau merah? Dimana - mana kopi itu berwarna hitam."gerutu Maura yang masih dapat di dengar Joe dan juga Frans.
Baru saja Maura akan keluar dari ruangan itu, Joe kembali menahan lengannya.
Maura mengerutkan keningnya, hanya masalah kopi saja harus membuang waktu nya hampir satu jam. padahal tinggal jawab saja iya or tidak, selesai kan.
"Gulanya 150 butir!!"
"Hah? Bapak waras!!
"Apa saya terlihat seperti orang ngga waras?"