NovelToon NovelToon
Private Military Company

Private Military Company

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".

Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Langkah Pertama ke Dunia Nyata

Pagi itu, langit di atas markas Garuda Security tampak mendung kelabu, seolah ikut merasakan beratnya takdir yang akan diemban oleh para prajurit muda itu. Angin bertiup dingin, membawa bau tanah basah dan aroma logam yang tajam. Di lapangan parkir utama, tiga buah truk militer besar berwarna hijau loreng sudah menyala mesinnya, suara raungan mesinnya menggetarkan tanah di sekitarnya.

Raka berdiri di depan barisan timnya, mengenakan seragam tempur lengkap yang baru, dilengkapi rompi anti peluru berat, perlengkapan bertahan hidup, dan senapan M4A1 yang kini terasa seperti perpanjangan tangan tubuhnya. Di lengan kirinya, lambang Garuda emas berkilau, dan di bahu kanannya, tanda pangkat Kopral yang baru saja ia sandang kemarin sore terpasang rapi.

Di sebelahnya, Bara berdiri tegak sebagai wakil pemimpin tim, wajahnya tenang namun matanya waspada. Rio ada di sisi lain, memeriksa kotak amunisi dan peralatan medis dengan teliti. Di belakang mereka, enam anggota tim lainnya berdiri berbaris rapi. Dan di barisan paling belakang, terlihat dua sosok yang wajahnya masih masam dan penuh kepahitan: Reza dan Dedi. Sesuai hukuman kemarin, mereka kini menjadi bawahan langsung Raka, wajib patuh pada setiap perintahnya, betapa pun benci dan malunya mereka.

Komandan Hendra berjalan mendekati mereka, diikuti oleh Mayor Seno yang akan ikut memimpin misi ini sebagai pengawas sekaligus penasihat taktis. Wajah Komandan Hendra kali ini tidak lagi keras dan mengancam seperti biasa, melainkan serius dan penuh beban. Ia berhenti tepat di depan Raka, menatap mata pemuda itu lekat-lekat.

"Kopral Raka Pratama," ucap Komandan Hendra tegas, suara lantangnya terdengar jelas di tengah suara bising mesin truk. "Ini adalah misi pertama kalian di luar markas. Ini bukan lagi latihan. Ini bukan lagi papan sasaran atau kawan-kawan yang berpura-pura jadi musuh. Di luar sana, ada orang-orang yang benar-benar ingin membunuh kalian. Ada peluru yang benar-benar bisa merobek daging dan mematahkan tulang kalian. Dan ada bahaya yang jauh lebih besar daripada yang pernah kalian bayangkan."

Ia menunjuk ke arah bak kargo tertutup di bagian belakang truk paling besar di tengah.

"Di dalam truk itu, ada muatan bernilai sangat tinggi, sangat rahasia, dan sangat berbahaya. Tugas kalian sederhana tapi berat: Mengawal konvoi ini dari sini sampai ke Pos Pengamanan Utara, sejauh dua ratus kilometer melewati jalur pegunungan dan hutan lebat. Jalur itu rawan serangan penyergapan dari kelompok pemberontak, gerombolan perampok, atau pasukan musuh yang ingin merebut apa yang kami bawa."

Komandan Hendra mendekatkan wajahnya sedikit, suaranya merendah menjadi bisikan yang hanya bisa didengar Raka dan Mayor Seno.

"Dan ingat satu hal paling penting, Raka... Muatan itu tidak boleh jatuh ke tangan siapa pun selain pihak yang dituju. Kalau ada ancaman muatan itu direbut... kalian punya wewenang penuh untuk melakukan apa saja, termasuk menghancurkan muatan itu dan menghabisi siapa saja yang ada di dekatnya, tanpa pandang bulu. Barang itu lebih berharga daripada nyawa kalian, lebih berharga daripada nyawa saya, bahkan lebih berharga daripada seluruh markas ini."

Raka mengangguk pelan, dadanya terasa sesak mendengar betapa pentingnya barang yang mereka bawa. Ada rasa aneh, rasa tidak enak yang mulai menjalar di perutnya. Entah kenapa, kata-kata Komandan Hendra dan cara ia menatap truk tertutup itu... mengingatkan Raka pada cerita-cerita samar yang pernah didengarnya dulu, cerita tentang pengiriman rahasia yang konon menjadi penyebab hilangnya ayahnya dulu.

"Siap melaksanakan perintah, Pak!" jawab Raka tegas, menyingkirkan rasa curiga itu sejenak.

"Bagus. Sekarang naik ke kendaraan. Berangkat sekarang juga. Semoga keberuntungan berpihak pada kalian. Dan ingat... di luar sana, Garuda Security tidak akan ada untuk menolong kalian. Kalian sendirian. Kalian dan tim kalian."

Mereka naik ke atas bak truk yang terbuka, duduk berjejer di bangku kayu yang keras. Pintu-pintu ditutup, dan konvoi pun mulai bergerak perlahan meninggalkan gerbang besi besar markas Garuda Security.

Saat gerbang itu tertutup rapat di belakang mereka, Raka menoleh ke belakang, menatap bangunan kokoh itu yang perlahan menjauh dan hilang di balik pepohonan. Ia tidak tahu... apakah ia akan kembali ke tempat ini sebagai pemenang, atau tidak akan kembali sama sekali.

Perjalanan dimulai dengan suasana hening dan tegang. Truk-truk itu melaju di jalan tanah yang bergelombang dan berdebu. Di kiri kanan jalan, hamparan hutan lebat dan bukit-bukit batu yang curam membentang sejauh mata memandang. Tempat-tempat seperti ini adalah surga bagi para penyergap. Banyak tempat persembunyian, banyak sudut mati, dan sangat sulit untuk dikendalikan.

Di samping Raka, Bara berbisik pelan sambil mengamati sekeliling dengan mata waspada.

"Raka... ada yang aneh dengan misi ini," ucap Bara pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara raungan mesin. "Biasanya, untuk pengiriman barang berharga sebesar ini, mereka akan mengirimkan pasukan elit, pasukan yang sudah berpengalaman bertahun-tahun. Tapi mereka mengirim kita... anak-anak baru yang baru lulus latihan beberapa minggu. Dan lihatlah... Mayor Seno ada di sini, tapi dia tidak memegang kendali. Dia membiarkan kau yang memimpin, dia membiarkan kau yang mengambil keputusan. Seolah-olah... dia sedang menguji sesuatu."

Raka mengangguk setuju, matanya tetap menatap tajam ke arah hutan di sisi kanan jalan.

"Aku juga merasakannya, Bara. Sejak pagi tadi, rasanya ada yang salah. Komandan Hendra bilang barang itu sangat berharga, sangat rahasia. Tapi dia tidak mau bilang apa isinya. Dan cara dia bicara... seolah-olah barang itu bukan sekadar senjata atau uang. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik besi truk tertutup itu. Sesuatu yang gelap."

Di belakang mereka, Reza dan Dedi duduk bersila, menjauh dari yang lain. Mereka tidak bicara, tidak membantu mengawasi, hanya duduk diam dengan wajah dingin dan penuh rencana jahat. Bagi mereka, misi ini adalah kesempatan emas. Kalau terjadi sesuatu, kalau misi ini gagal, mereka bisa menyalahkan Raka, bisa menjatuhkan wibawanya, dan mungkin bisa menyingkirkannya selamanya.

Perjalanan memakan waktu berjam-jam. Matahari bergerak naik ke atas kepala, membuat udara makin panas dan berdebu. Debu jalan masuk ke sela-sela seragam, membuat kulit terasa gatal dan perih. Tenggorokan mereka kering, lelah mulai menyerang, tapi Raka tidak membiarkan siapa pun lengah. Ia terus memerintahkan pergantian posisi pengawasan, terus mengingatkan mereka untuk tetap siaga, terus mengawasi setiap jengkal jalan yang dilewati.

Tepat pukul dua siang, saat mereka memasuki kawasan lembah sempit yang diapit tebing tinggi di kiri dan kanan... bahaya itu datang.

DENTAR! DENTAR!

Suara ledakan keras menggema tiba-tiba di depan dan belakang konvoi. Tanah berguncang hebat, debu dan batu beterbangan ke udara. Truk paling depan dan truk paling belakang tersentak keras dan berhenti mendadak, terhalang oleh longsoran batu yang tiba-tiba runtuh dari tebing ke jalan raya. Konvoi mereka terjebak di tengah. Terkurung.

"SERANGAN! SERANGAN! KESELAMATAN DI DALAM! BERLINDUNG!" teriak Raka sekuat tenaga, suaranya memotong kegaduhan.

Hampir bersamaan dengan itu, hujan peluru meluncur turun dari atas tebing kiri dan kanan. Suara letusan senjata api berdentang tak henti-hentinya, memecah keheningan lembah. Peluru-peluru itu menghantam bodi besi truk, membuat suara dentuman berisik dan serpihan logam beterbangan.

Semua prajurit langsung menjatuhkan diri ke lantai bak truk, bersembunyi di balik ban serep, kotak besi, dan pelindung besi yang tersedia.

"Jangan angkat kepala! Jangan menembak sembarangan!" perintah Raka lantang, matanya mengintai keluar dari celah kecil di pinggir bak truk. Ia berusaha melihat posisi musuh, jumlah mereka, dan jenis senjata yang mereka pakai.

Mayor Seno yang berada di truk tengah melompat turun dengan cepat, berlari merunduk mendekati truk tempat Raka berada. Wajahnya yang biasanya dingin dan tenang kini berubah serius dan tegang.

"Raka! Mereka menunggu kita! Mereka tahu jadwal kita, mereka tahu rute kita! Ini bukan perampok biasa! Ini pasukan terlatih!" teriak Seno di sela-sela suara tembakan. "Mereka memblokir jalan depan dan belakang. Kita terjebak di sini! Dan lihat senjata mereka... mereka pakai senjata standar militer, bukan senjata rakitan!"

Raka mengerutkan keningnya makin dalam. Pikiran-pikiran cepat berputar di kepalanya. Musuh terlatih. Tahu jadwal. Tahu rute. Ini hanya bisa berarti satu hal: Ada pengkhianat di dalam Garuda Security. Ada orang yang membocorkan informasi ini.

"Pak! Musuh ada di atas tebing, ketinggian! Kita di bawah, posisi kita lemah! Kalau kita diam di sini, kita akan jadi sasaran empuk sampai habis amunisi kita atau sampai mereka turun dan menghabisi kita!" jawab Raka cepat, otaknya bekerja secepat kilat. "Saya punya rencana, Pak! Saya dan tim saya akan memancing perhatian mereka dari sisi kiri. Sementara itu, Bara akan membawa sebagian orang memanjat tebing sisi kanan dan menyerang mereka dari atas, dari belakang! Kita harus rebut kendali ketinggian itu, Pak! Kalau tidak, kita mati semua di sini!"

Mayor Seno menatap Raka tak percaya. Keputusan itu diambil begitu cepat, begitu tepat, dan begitu berani. Padahal ini pertama kalinya Raka berada di medan perang nyata, di tengah hujan peluru dan bahaya maut.

"Lakukan! Aku lindungi truk dan muatan di sini! Hati-hati, Raka! Musuh banyak dan tangguh!"

Raka langsung berbalik menghadap anak buahnya yang masih bersembunyi.

"Dengar perintahku! Reza, Dedi, Rio! Ikut aku! Kita jadi Kelompok Serangan Arah Kiri! Kita akan menarik tembakan mereka ke arah kita! Jangan berhenti bergerak! Jangan diam di satu tempat! Bara! Kau ambil sisanya! Pergi ke arah kanan, cari jalur pendakian, naik ke atas, dan serang mereka dari belakang saat mereka sibuk menembaki kita! Mengerti?!"

Bara mengangguk tegas, matanya berbinar penuh keyakinan. "Siap, Komandan! Hati-hati!"

Reza dan Dedi menatap Raka dengan mata terbelalak. Mereka tidak percaya. Di tengah bahaya maut seperti ini, Raka tidak panik, tidak bingung, malah memberi perintah seolah dia sudah melakukan ini seribu kali. Dan lebih aneh lagi... mereka berdua yang paling membenci dia, justru dia pilih untuk berada di sisi paling berbahaya, di sisi pemancing serangan.

"Kalian berdua! Ikut aku! Sekarang!" bentak Raka tegas, tidak memberi ruang untuk bantahan.

Raka melompat turun dari truk, berlari merunduk di balik tumpukan batu dan tanah di pinggir jalan. Reza, Dedi, dan Rio tidak punya pilihan selain mengikuti. Mereka berlari di antara semak-semak, menembak ke arah atas hanya untuk membuat suara dan menarik perhatian musuh.

Taktik itu berhasil. Mendengar suara tembakan dan melihat gerakan di sisi kiri, sebagian besar musuh memalingkan senjata mereka ke arah itu, membanjiri semak-semak tempat Raka bersembunyi dengan hujan peluru yang dahsyat. Tanah di sekitar mereka hancur, debu beterbangan, dan suara dentuman peluru di atas kepala mereka terdengar mengerikan.

"Gerak! Gerak! Jangan diam!" teriak Raka, berlari dari satu tempat perlindungan ke tempat lain, memimpin mereka menembus semak belukar yang lebat.

Di satu titik, saat mereka sedang berlari di ruang terbuka, sebuah ledakan granat tangan meledak tak jauh dari posisi Dedi. Hantaman ledakan itu melempar tubuh Dedi terhempas ke tanah, menjatuhkannya ke belakang semak berduri.

Dedi terbaring di sana, kakinya tertimpa batang kayu besar, darah mengalir dari luka di pelipisnya. Ia kesakitan, takut, dan bingung. Ia melihat musuh mulai bergerak turun mendekat, melihat ujung senjata mereka berkilauan di balik pepohonan. Ia tahu... ia akan mati di sini. Ia akan ditinggalkan. Tidak ada yang akan menolongnya, apalagi Raka yang ia benci dan ia coba jatuhkan berkali-kali.

Namun, di tengah kepanikan itu, ia melihat sosok Raka berbalik. Raka melihatnya jatuh. Raka melihatnya terjebak. Dan bukannya lari menyelamatkan diri seperti yang Dedi bayangkan... Raka justru berbalik arah, berlari kembali ke arahnya, menembaki musuh yang makin dekat dengan tembakan akurat dan cepat, lalu dengan sigap mengangkat batang kayu yang menimpa kaki Dedi, lalu menarik tubuh Dedi ke balik batu besar yang aman.

"Kau gila?! Kenapa kau kembali?!" teriak Dedi kaget dan bingung, matanya menatap Raka tak percaya. "Aku musuhmu! Aku benci padamu! Aku ingin kau mati! Kenapa kau selamatkan aku?!"

Raka tidak menjawab. Ia hanya menembak musuh yang mencoba mengintai, lalu menoleh sebentar ke arah Dedi dengan wajah serius namun tenang.

"Di sini, di medan perang ini... musuh kita bukan satu sama lain. Musuh kita adalah mereka yang ingin membunuh kita. Kau adalah anak buahku. Kau adalah kawan seperjuanganku. Dan aku tidak pernah meninggalkan kawan, sekalipun dia membenci aku. Itu aturanku."

Kata-kata itu menghantam dada Dedi lebih keras daripada hantaman granat tadi. Rasa benci yang selama ini ia pupuk keras... tiba-tiba runtuh seketika. Ia merasa malu, merasa kecil, merasa sangat berdosa. Ia melihat ke arah Reza yang ada di dekatnya, dan ia melihat Reza juga diam terpaku, mendengar dan melihat semuanya. Reza yang tadinya penuh kebencian, kini matanya berubah. Ada rasa malu, ada rasa kagum, dan ada rasa hormat yang mulai tumbuh, meski masih tersembunyi.

Di saat yang sama, dari atas tebing sisi kanan, terdengar suara teriakan perang dan letusan tembakan yang berubah arah. Bara dan timnya berhasil memanjat, berhasil menyusup, dan berhasil menyerang musuh dari belakang! Musuh yang tadinya sibuk menembaki Raka di bawah, kini kaget dan panik karena diserang dari atas, dari belakang, dari arah yang tidak mereka duga.

Kekacauan terjadi di barisan musuh. Mereka terjebak di antara dua api. Di bawah ada Raka yang terus menekan, di atas ada Bara yang memotong jalan lari mereka.

"SEKARANG! SERANG MAJU! HABISI MEREKA!" teriak Raka memberi aba-aba.

Ia melompat keluar dari persembunyiannya, berlari mendaki lereng bukit yang curam, menembak dengan akurasi mematikan. Setiap kali ia menarik pelatuk, satu musuh jatuh. Gerakannya cepat, luwes, dan penuh keberanian. Ia tidak takut pada peluru, seolah ia punya indra keenam yang memberitahu di mana bahaya berada.

Reza, Dedi, dan Rio yang melihat keberanian itu, melihat ketulusan itu, dan melihat kemampuan luar biasa itu... rasa hormat itu berubah menjadi api semangat yang membara. Mereka tidak lagi ragu, tidak lagi benci. Mereka mengikuti Raka, berteriak lantang, bertempur dengan sekuat tenaga demi pemimpin yang ternyata jauh lebih hebat dan jauh lebih mulia daripada yang mereka bayangkan.

Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, pertempuran itu berakhir. Musuh yang tersisa melarikan diri ke dalam hutan, meninggalkan korban berjatuhan di mana-mana.

Raka berdiri di atas tebing, napasnya sedikit terengah, matanya mengawasi sekeliling memastikan aman. Di sekelilingnya, anak buahnya—termasuk Reza dan Dedi—berdiri tegak, memandang Raka bukan lagi sebagai anak desa yang beruntung, tapi sebagai pemimpin sejati yang menyelamatkan nyawa mereka semua.

Mayor Seno naik ke atas, berjalan mendekati Raka. Wajahnya pucat, matanya lebar terbuka penuh kekaguman dan rasa takut bercampur jadi satu. Ia melihat pertempuran itu dari bawah. Ia melihat bagaimana Raka memimpin, bagaimana Raka berpikir, bagaimana Raka bertempur.

"Kau... kau bukan manusia biasa, Raka," bisik Mayor Seno pelan, suaranya bergetar. "Kau baru saja memenangkan pertempuran yang seharusnya mustahil dimenangkan oleh pasukan baru seperti kalian. Kau mengalahkan pasukan terlatih hanya dengan kecerdasan dan keberanianmu."

Namun, Raka tidak tersenyum bangga. Ia tidak merasa menang. Ia berjalan melewati Mayor Seno, berjalan menuju ke arah salah satu mayat musuh yang tergeletak di tanah. Ia berlutut, memeriksa seragam dan perlengkapan orang itu.

Dan di sana, ia menemukan sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Di lengan kiri mayat musuh itu... tersulam sebuah lambang. Sebuah lambang yang sama persis dengan lambang di lengan mereka sendiri. Lambang Garuda. Tapi warnanya bukan emas. Warnanya merah darah.

Raka mengangkat lengan mayat itu, menunjukkannya ke arah Mayor Seno dengan tangan gemetar.

"Pak... lihat ini... mereka pakai lambang yang sama. Mereka pakai senjata yang sama. Mereka pakai taktik yang sama... Siapa mereka, Pak? Kenapa pasukan Garuda Security menyerang pasukan Garuda Security? Kenapa kita saling bunuh?!"

Mayor Seno menatap lambang merah itu, lalu menatap Raka dengan wajah yang kini berubah menjadi sangat sedih dan sangat gelap. Rahasia besar itu akhirnya terungkap sedikit demi sedikit di depan mata Raka.

"Raka... dengar aku baik-baik..." ucap Seno pelan, berat, dan penuh kepahitan. "Garuda Security bukan satu kesatuan yang utuh. Sudah lama ada dua kubu di dalam organisasi ini. Kubu Merah dan Kubu Emas. Kubu Ayahmu... dan kubu musuh ayahmu. Dan barang yang kita bawa di truk itu... adalah alasan kenapa mereka saling bunuh selama lima belas tahun ini."

Raka mundur selangkah, kakinya terasa lemas. Dunianya berputar. Semua tebakannya, semua firasatnya, semua bayangan masa lalu... semuanya nyata.

"Jadi selama ini..." gumam Raka parau, "Kita tidak bertempur melawan musuh dari luar... Kita bertempur melawan saudara sendiri. Kita bertempur dalam perang saudara yang sudah dimulai sejak lama... sejak ayahku masih hidup."

Di kejauhan, matahari mulai terbenam, menyinari lembah itu dengan cahaya merah darah, seolah langit pun menangis melihat pertumpahan darah sesama anak manusia.

Dan di dalam truk tertutup itu, di balik besi yang terkunci rapat, barang rahasia itu masih tersimpan diam. Barang yang menjadi akar dari segala kejahatan, segala pengkhianatan, dan segala dendam yang kini menuntut Raka untuk menyelesaikannya.

1
NonaAns
keren, Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!