NovelToon NovelToon
Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andrean Matabuh

Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'

Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.

Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Tunduknya Para Raksasa Regional

Matahari pagi baru saja terbit, memancarkan cahayanya yang hangat menembus dinding kaca tebal kamar Penthouse Suite di Hotel Marina Bay Sands. Dari ketinggian lantai lima puluh lima, pemandangan Singapura yang sibuk mulai menggeliat. Namun, di dalam ruangan mewah itu, suasana terasa begitu tenang. Kirana duduk di meja makan marmer putih sambil menyesap kopi hitamnya perlahan, sementara tangannya yang lain sibuk menggeser layar tablet, memeriksa laporan pergerakan modal masuk yang dikirimkan oleh tim keuangan pusat Asura

Digital Bank.

Aku berjalan mendekat, masih mengenakan jubah mandi handuk putih yang santai, lalu meletakkan selembar draf dokumen baru yang baru saja dicetak oleh mesin faks di sudut ruangan.

"Tepat jam sembilan pagi," ujarku sambil tersenyum tipis. "Utusan dari Tan Sri Nasaruddin dan Somchai sudah berdiri di lobi bawah. Mereka tidak berani menunggu sampai jam sepuluh seperti batas waktu yang kuberikan kemarin malam."

Kirana mendongak, matanya yang indah berbinar terang, memancarkan kombinasi antara rasa kagum yang mendalam dan sisa-sisa rasa tidak percaya. Dia mengambil dokumen itu, membaca judul halaman depan yang tertera dengan huruf tebal berlapis emas: Draf Perjanjian Konsorsium Strategis dan Pengalihan Manajemen Energi-Logistik Asia Tenggara.

"Adrian... mereka benar-benar menyerah," bisik Kirana, suaranya sedikit bergetar. "Malaya Energy Corp bersedia menyerahkan tiga puluh persen saham mereka sebagai jaminan likuiditas darurat dari bank kita. Dan Bangkok Port Holdings membuka seluruh jalur trayek eksklusif mereka di Teluk Thailand untuk kapal-kapal kargo Wijaya Group tanpa biaya sepeser pun. Ini... ini bukan lagi sekadar kerja sama, ini adalah penyerahan kekuasaan total."

Aku duduk di kursi di hadapannya, menuangkan teh hangat ke dalam cangkirku. "Di dunia bisnis internasional, Kirana, reputasi dan rahasia adalah segalanya. Begitu mereka tahu bahwa aku memegang kartu mati yang bisa menjebloskan mereka ke penjara atau membuat perusahaan mereka bangkrut dalam semalam, pilihan mereka hanya dua: hancur berkeping-keping atau ikut naik ke atas kapal kita."

[Ding! Progres Misi Global Tahap Pertama Selesai dengan Sukses Mutlak!]

[Negara yang Dikuasai: Singapura, Malaysia, Thailand (100% Selesai)]

[Evaluasi Sistem: Tuan Rumah telah resmi menjadi Penguasa Korporasi Regional Tersembunyi!]

[Hadiah Utama Diaktifkan: Cetak Biru Teknologi 'Kedirgantaraan Tingkat Dewa' telah berhasil diunduh ke dalam memori jiwa Tuan Rumah!]

[Saldo Tambahan Rp 500 Miliar telah berhasil ditransfer ke rekening utama Anda!]

Mendengar suara digital dari Sistem Penguasa Dewa yang kembali berdengung nyaman di dalam kesadaranku, aku mengembuskan napas perlahan. Bersamaan dengan itu, sebuah arus informasi yang sangat masif dan rumit mendadak mengalir masuk ke dalam sel-sel otakku. Itu adalah rumus fisika astrodinamika, struktur material logam paduan titanium-grafena super ringan, serta rancangan mesin pendorong ion kuantum yang belum pernah ditemukan oleh badan antariksa mana pun di bumi.

Teknologi Kedirgantaraan Tingkat Dewa. Ini bukan lagi sekadar membuat pesawat komersial biasa. Ini adalah cetak biru untuk menciptakan satelit komunikasi mandiri berkecepatan tinggi yang tidak bisa disadap, serta kendaraan peluncur luar angkasa yang bisa memotong biaya transportasi orbit hingga sembilan puluh persen.

"Adrian? Kamu melamun?" suara lembut Kirana memecah fokus pikiranku. Dia menatapku dengan pandangan penuh perhatian, tangannya mengusap punggung tanganku yang berada di atas meja.

"Tidak, aku hanya sedang memikirkan langkah kita selanjutnya," jawabku sambil menggenggam jemarinya yang hangat. "Kirana, setelah proses penandatanganan dengan Nasaruddin dan Somchai selesai siang ini, aku ingin kita segera kembali ke Indonesia. Sektor keuangan dan logistik kita di Asia Tenggara sudah stabil. Sekarang, saatnya kita membangun fondasi untuk sektor ketiga kita: teknologi satelit dan kedirgantaraan."

Kirana membelalakkan matanya yang bulat, hampir saja tersedak kopi yang baru diminumnya. "K-kedirgantaraan? Satelit? Adrian, apakah kita akan membangun perusahaan roket seperti para miliarder dunia di Amerika?"

"Lebih dari itu, Kirana," aku menyunggingkan senyum penuh arti. "Kita akan membangun jaringan satelit komunikasi mandiri milik kita sendiri untuk memperkuat enkripsi *Asura Digital Bank* di seluruh dunia. Tanpa satelit sendiri, sistem keuangan kita masih bergantung pada jaringan kabel bawah laut milik konsorsium barat. Aku tidak ingin ada satu pun celah yang bisa mereka gunakan untuk memblokir kita di masa depan."

Siang harinya, di ruang rapat utama lantai empat Hotel Marina Bay Sands, proses penandatanganan dokumen perjanjian berlangsung dalam keheningan yang sarat akan ketegangan batin. Tan Sri Nasaruddin dan Somchai duduk di sisi seberang meja dengan wajah yang tampak sangat kusam dan letih, seolah-olah mereka telah menua sepuluh tahun dalam waktu satu malam. Di belakang mereka, tim pengacara internasional mereka hanya bisa menundukkan kepala, tidak berani mengeluarkan argumen hukum apa pun setelah melihat berkas bukti pelanggaran klien mereka yang diletakkan oleh tim hukum Wijaya Group di atas meja.

Kirana menandatangani dokumen tersebut dengan gerakan tangan yang sangat anggun namun mantap. Sret! Sret!

Begitu stempel resmi Wijaya Group berlogo jangkar emas menempel di atas kertas dokumen, Kakek Bramasta yang ikut hadir sebagai penasihat senior di barisan belakang langsung menghela napas lega dengan mata berkaca-kaca. Orang tua itu menatapku yang berdiri bersandar di dekat pintu dengan pandangan yang dipenuhi rasa syukur dan pengabdian yang mutlak. Dia tahu betul, jika bukan karena menantu misterius ini, keluarga Wijaya mungkin sudah hancur digilas oleh keluarga Baskoro dua minggu lalu. Namun sekarang, mereka justru menyaksikan nama keluarga mereka tercatat sebagai sejarah baru penguasa ekonomi regional.

"Kesepakatan selesai, Tuan-Tuan," ucap Kirana sambil berdiri dan mengulurkan tangannya dengan tegas. "Selamat bergabung di dalam ekosistem Wijaya Group. Saya berharap Anda berdua bisa menjalankan komitment ini dengan baik."

Tan Sri Nasaruddin berdiri dengan tubuh yang sedikit lemas, menyambut jabat tangan Kirana dengan paksa sambil memaksakan sebuah senyuman kecil di wajah tuanya. "Terima kasih, Direktur Utama Kirana... Kami... kami akan memastikan seluruh pasokan energi dari Malaya Energy akan mengalir sesuai instruksi Asura Bank."

Somchai juga membungkuk hormat ke arah Kirana, lalu melirik ke arahku dengan tatapan takut yang amat sangat sebelum buru-buru mengemasi barang-barangnya dan melangkah keluar dari ruangan bersama timnya seolah-olah sedang melarikan diri dari sarang harimau.

Setelah ruang rapat kembali kosong, aku melangkah mendekati Kirana yang langsung menyandarkan tubuhnya yang letih ke dalam pelukanku. Aku mengelus rambut panjangnya dengan penuh kasih sayang, menatap keluar jendela ke arah langit Singapura yang membentang luas.

[Ding! Misi Utama Tahap Empat Diaktifkan: Bangun Pusat Peluncuran Satelit 'Asura Space' di Pulau Terluar Indonesia dalam waktu 7 Hari!]

[Hadiah Misi: Sistem Pertahanan Udara Laser Tingkat Dewa & Saldo Rekening senilai Rp 1 Triliun!]

Aku menyunggingkan senyum dingin menatap awan putih di langit tinggi. Jaringan keuangan sudah di tangan, energi terbarukan sedang dibangun, dan sekarang... sayap-sayap imperiumku bersiap untuk mengepak menembus batas atmosfer bumi, membawa nama Kirana dan aku berdiri di atas puncak dunia yang sesungguhnya.

1
Darns Jabat
👍
Andrean Matabuh: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!