Dunia ini kejam, tak ada kebahagiaan yang kekal, ujian selalu datang, maka jangan jadi orang yang lemah.
Di tengah hutan terpencil terdapat tempat pelatihan pembunuh bayaran, suatu organisasi dunia gelap yang dibentuk oleh bos mafia besar asia yaitu Bos Jamal.
disanalah tempat tinggal seorang pemuda bernama Bayu yang telah ditinggalkan orang tuanya sejak masih berumur sepuluh tahun. kini 12 belas tahun telah berlalu namun bayangan tragedi kematian kedua orang tuanya masih terngiang dikepalanya.
Ditempat pelatihan pembunuh bayaran ini lah ia dilatih oleh sang paman menjadi mesin pembunuh yang jenius untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.
kehidupannya mulai berubah saat ia mengenal seorang gadis yang bernama Anita, sosok dosen cantik yang dapat menyentuh hatinya.
ideologinya sedikit demi sedikit mulai berbeda, tentang asmara, balas dendam, maupun apa yang telah diwariskan, semua memiliki batu sandungan yang harus diterjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena pedang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
membunuh tanpa disadari.
Peluru melesat menembus tembok.
Bibir Bayu tersenyum masih menatap pada arah 90%.
Kilas balik terekam jelas pada pandangan mata si penembak jitu, ingin percaya namun kenyataan itu sangat mustahil.
Bayu menghindari peluru hanya dengan sedikit gerakan kepala,
Saat itu Mata si penembak jitu terbelalak, "tidak mungkin", kata itu keluar tanpa sadar begitu saja.
Sekali lagi, peluru di isi... Namun kali ini penembak jitu kembali melihat pada teropong senjata, "sudah menghilang", ya.. Bayu sudah menghilang dari tempat lokasi.
Penembak jitu kembali buru-buru menggerakkan senjata pada teropong, mencari posisi keberadaan Bayu.
Dia semakin bingung, menggerakkan senjata ke kiri dan ke kanan, namun masih tetap tak menemukan keberadaan Bayu.
"Sialan target menghilang", gumamnya segera mengemasi senjata, kali ini dia telah sadar bahwa tak hanya tugasnya gagal, bahkan target sudah menghilang dari pandangan.
Ia segera berlari, buru-buru berlari menuju kearah pintu, namun tiba-tiba dia berhenti.
Mata itu terbuka lebar saat pintu atap terbuka pelan.
"Kriek", seseorang datang membuka pintu, ia telah ditemukan hanya dalam hitungan menit.
Bayu telah berdiri di tengah pintu yang terbuka.
Penembak jitu menjatuhkan tas yang berisi senjata Laras panjangnya.
"Brak.." tas itu jatuh kelantai beton.
Penembak jitu tersenyum pada Bayu, senyuman itu tak ramah bahkan menyimpan sebuah ancaman.
Angin malam menyapu di udara menggerakkan rambut Bayu yang masih berdiri diatas gedung.
Setelan Hem itu berkibar seperti sebuah panji yang di kibarkan bersiap untuk berperang.
"Sepertinya aku meremehkanmu", sapaan pertama keluar dari mulut pembunuh bayaran.
"Siapa yang menyuruhmu?" Bayu bertanya dengan tatapan tajam.
"Ciih... Walaupun kau mampu menemukanku, jangan harap aku memberitahumu",
"Jika demikian, tetaplah diam sampai kamu jadi mayat". Bayu membalas santai.
"Apa menurutmu, kau mampu." Penembak jitu itu kembali tersenyum.
Mengambil pistol yang terselip dipinggang belakangnya.
"Door..!!"... Letusan tembak mengarah tepat kearah Bayu.
Untuk sepersekian detik Bayu kembali mampu menghindar dan kembali menerjang.
"Door... Door"... Tembakan kedua dan ketiga meletus, Bayu tetap bisa menghindar dengan kecepatan yang tak mampu di ikuti pandangan mata.
Gerakannya semakin mendekat.
Lengan penembak jitu di cengkram erat, lalu di peluntir, gerakan itu sangat cepat sampai reflek pikiran penembak jitu berjalan lambat.
Hingga ia sadar bahwa dirinya telah berdiri dengan keadaan terkunci.
"Ahhh.... Lepaskan aku", teriaknya meringis kesakitan dengan tangan terpeluntir kearah belakang.
Kali ini pistol itu tertodong kearah belakang kepala penembak jitu.
"Bicaralah, sebelum pistol ini yang berbicara", Bayu mengancam.
"Jangan harap, bunuh saja aku" teriak penembak jitu tak berdaya.
"Dooor.." tembakan meletus, darah menyiprat dari kepala.
Tubuh penembak jitu itu seketika jatuh lunglai pada kerasnya lantai beton.
"Bodoh... Dia pikir aku suka memainkan sampah" gerutu Bayu sebal. Melangkah menuju pintu atap gedung.
Ketika hampir berada di depan pintu langkahnya berhenti. Ia mengangkat ponselnya.
"Seperti biasa, bersihkan sampah, lokasi aku kirim, gaji lewat transfer".
"Baik pak... Kami segera laksanakan dengan cepat, Anda klien kami yang sepesial", jawab dari sebrang telepon.
Angin kembali berhembus, kali ini semakin kencang.
"Hmmm.... Herman, sepertinya kau sudah tidak sabar" kata Bayu pelan setengah berbisik.
Tatapan matanya memandang ke langit yang malam itu begitu terang di penuhi taburan bintang.
Di kedai samping jalan yang berisi sosis dan berbagai makanan bakar.
Anita, Ratih dan April duduk bersama disana.
Berbagai makanan bakar diatas meja diselingi bir yang bertumpuk rapi.
Anita melirik pada April, lirikan itu menyimpan kecemburuan yang dalam yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.
April tak menyadari itu, sedang Ratih sedikit menangkap pergerakan Anita yang malam ini tampak berbeda dari biasanya.
"Mari minum, makan yang banyak, malam ini kita bersenang-senang" teriak April bersemangat.
Ratih menyambut ajakan itu dengan mengangkat sekaleng bir di tangan.
Anita masih terdiam tanpa kata, semakin menunjukkan ketidak senangannya.
"Ada apa?" Ratih bertanya.
April terdiam dari yang semula tersenyum lebar, kini berubah menjadi serius.
"Ah... Gak ada apa-apa", jawab Anita memaksa tersenyum canggung.
Ia mengambil sekaleng bir lalu meminumnya.
April menoleh pada Ratih.
Ratih menggeleng pelan.
....
Di sisi lain, Bayu berjalan santai melewati depan pertokoan.
Berjalan santai, namun matanya melirik kesana kemari dengan waspada.
Ditengah aktivitas orang-orang yang berjalan setapak di keramaian malam.
Bayu menyadari dari arah belakang satu orang memakai jas kantoran sambil menenteng tas selempang mengintai dirinya.
Dari depan berjalan seorang wanita dewasa memakai baju minim namun di balik tangannya ada pistol kecil yang telah dimodifikasi sebagai senjata tersembunyi.
"Dua pasangan yang menyebalkan" pikir Bayu dalam hati, berpura-pura tak menyadari.
Langkahnya tetap santai, seperti berjalan biasa ditengah keramaian lalu-lalang orang-orang yang sedang berjalan di keramaian.
Selangkah demi selangkah.
Tiga meter, dua meter, satu meter.
Wanita itu semakin dekat.
Dengan berjalan tetap santai ia mencoba menembak dari dekat, yang ia pikir Bayu tak menyadari ancaman yang mengarah pada dirinya.
Sebelum tembakan meletus dengan peredam, Bayu tiba-tiba sudah berada di dekat wanita itu.
Pupil mata wanita itu mengecil dan matanya melebar saat tangan Bayu tiba-tiba memegang tangannya. Pistol kecil dibalik kearah perut wanita.
"Biiizz..." Tembakan pistol kecil yang dimodifikasi tak bersuara meletus cepat, peluru itu menembus perut wanita,
Wanita itu tiba-tiba terjatuh ke aspal seperti orang yang tiba-tiba pingsan ditengah jalan.
Orang-orang yang berada disekitar menjadi panik mengelilingi sosok wanita yang dikira pingsan.
Tatapan pria yang mengikuti dibelakang setengah terkejut mengunci pada Bayu yang masih berjalan.
Ia berlari mengejar namun tertahan oleh orang-orang yang berusaha menghampiri wanita yang dikira pingsan.
Sekali lagi.
Sosok pria itu kehilangan jejak Bayu, namun tiba-tiba ia sadar bahwa dirinya sudah terancam saat tangan yang memegang belati, Bayu genggam dari belakang dan Bayu tusukkan berkali-kali kepinggang sosok pria yang telah lama mengintai dirinya.
Tanpa disadari orang-orang, tubuh pria itu terjatuh begitu saja, dan Bayu kembali menghilang.
"Dia mati".
"Ada yang mati lagi".
Teriak orang-orang yang baru menyadari.
Malam itu ketiga pembunuh telah dieksekusi tanpa disadari.
Bayu tetap berjalan kedepan santai seperti orang yang tak bersalah walau sudah membunuh tanpa meninggalkan jejak.
Bayu mengangkat ponselnya kemudian meretas Cctv disekitar, sebagai pembunuh bayaran terlatih tanpa menghilangkan jejak, Bayu memotong video dan menghapus sebagian. Sudut bibirnya terangkat, kemudian tersenyum lebar.
.......
Jauh di depan.
Sosok wanita muda menenteng tas belanja.
Kedua tangannya penuh belanjaan.
Malam ini dia habis memborong baju dan kebutuhan kecantikan wanita.
Indah... Berjalan setapak menuju arah parkir mobil yang berada di depan mall.
Malam semakin larut, dan parkiran itu sepi.
Angga dan anak buahnya mengikuti dari arah belakang.
Bersambung.