Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.
Sampai suatu malam… hidupnya berubah.
Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.
Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.
Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui
•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨
•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍
" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuktikan Kepemilikan
Pagi itu, sebelum matahari benar-benar naik, sebuah motor gede berwarna hitam pekat sudah terparkir di depan pagar rumah Brielle.
Nevran duduk santai di atas jok kulitnya. Helm belum dilepas. Tangan di saku jaket. Wajahnya datar seperti biasa—tapi ada sesuatu di matanya yang berbeda. Lebih gelap. Lebih tajam. Seperti orang yang semalaman tidak tidur dan memutuskan sesuatu.
Brielle baru saja keluar rumah dengan wajah masih mengantuk. Rambutnya diikat asal. Seragam sekolah dikenakan malas-malasan. Namun begitu matanya menangkap sosok di depan pagar, langkahnya langsung terhenti.
“Lo ngapain di sini?!”
Nevran melepas helm pelan. Rambutnya acak-acakan khas. “Jemput.”
“Gak butuh.”
“Naik.”
“GUE BILANG GAK BUTUH!”
Nevran diam. Lalu menatap Brielle lurus. Tatapan yang sama seperti malam itu—dingin, menekan, dan penuh kepastian. “Gua kasih dua pilihan. Naik sekarang. Atau gua angkat lo ke atas motor ini di depan satpam komplek.”
Brielle mendelik. “Lo berani?!”
Nevran tersenyum kecil. Bukan senyum ramah. Senyum sinis yang bikin Brielle merinding. “Coba aja.”
Hening beberapa detik. Brielle tahu cowok ini gak pernah main-main. Akhirnya dengan gerakan kesal, ia meraih helm yang disodorkan Nevran lalu naik ke jok belakang tanpa menyentuh cowok itu sedikit pun.
“Pegang.”
“Gak mau.”
Nevran tiba-tiba menarik tangan Brielle paksa lalu melingkarkannya di pinggangnya. “Pegang, atau gue bonceng mundur.”
“LO—”
Motor langsung melaju kencang. Brielle hampir jatuh ke belakang dan refleks memeluk pinggang Nevran erat-erat. Dari balik helm, wajahnya merah padam karena kesal.
---
Motor itu berhenti tepat di depan gerbang utama sekolah. Bukan di parkiran. Bukan di samping. Tepat di depan—di mana semua siswa yang datang bisa melihat.
Brielle langsung panik. “Lo parkir di sini?!”
Nevran turun tanpa menjawab. Lalu dengan santai ia membuka helm Brielle dan menggantungkannya di stang.
Satu per satu siswa mulai berhenti. Tatapan mereka tertuju pada satu pemandangan: Brielle Noor—sang primadona sekolah—turun dari motor gede yang dikendarai Nevran Garendra, cowok dingin paling ditakuti.
“Anjir…”
“Itu Brielle sama Nevran?!”
“Mereka berdua? Pagi-pagi? Barengan?!”
“Hadeh gue gak sadar.”
“Bangunin gue kalau ini mimpi.”
Brielle ingin menghilang. Namun Nevran dengan tenang meraih pergelangan tangannya lalu menariknya berjalan masuk ke dalam sekolah. Tangannya erat. Tak bisa dilepaskan.
“Lepas, brengsek!”
“Diam.”
Mereka melewati koridor utama. Guru-guru yang melihat hanya menghela napas dan geleng-geleng kepala. Pak Adrian, guru wali kelas, memijat pelipis begitu melihat mereka berdua.
“Nevran, Brielle… kalian bisa gak sih—”
“Kami masuk kelas, Pak,” potong Nevran datar. Tanpa berhenti berjalan.
Pak Adrian hanya bisa diam sambil menghela napas panjang.
---
Sepanjang pelajaran pertama, Brielle duduk kaku di samping Nevran. Jarak mereka terlalu dekat karena bangku semeja. Dan cowok itu terus saja melakukan sesuatu yang menyebalkan.
Jemarinya yang dingin tiba-tiba memainkan ujung rambut Brielle yang terurai.
Brielle langsung menepis. “Kasar.”
Nevran menarik lagi rambutnya. Pelan. Seperti mainan.
“WOI!”
Namun Nevran tetap santai. Wajahnya menghadap ke papan tulis, tapi tangan kanannya terus memilin-milin helai rambut Brielle tanpa rasa bersalah.
Guru matematika yang sedang menerapkan rumus di papan, akhirnya menoleh. “Nevran, perhatikan.”
Nevran tidak menjawab. Tangannya masih di rambut Brielle.
“Nevran.”
Cowok itu mendongak pelan. Lalu dengan suara datar dan aksen Inggris yang sempurna—karena dia tahu guru itu fasih berbahasa Inggris—ia berkata:
“Your job is only to teach. Whether I listen or not, that is my right.”
Hening.
Guru itu terdiam. Mulutnya terbuka setengah, lalu menutup lagi. Karena secara teknis, Nevran tidak salah. Dan dia tidak mau ambil pusing dengan anak keluarga Garendra.
Seluruh kelas terdiam kagum sekaligus ngeri. Zevian bersiul kecil. Kael terkekeh.
Brielle meremas pulpennya sampai hampir patah. Brengsek.
---
Jam istirahat tiba.
Brielle langsung berdiri hendak pergi bersama Keisha dan Celine. Namun baru selangkah melangkah, pergelangan tangannya ditarik keras.
Deg.
“Lo ikut gua.”
Nevran berdiri di sampingnya, wajahnya masih datar, tapi genggamannya erat.
“Lepas!”
“Ke kantin.”
“Gue mau sama temen-temen gue!”
Nevran mencondongkan tubuh. Suaranya turun menjadi bisikan rendah hanya untuk Brielle. “Lo ikut gua sekarang, atau gue ceritakan ke seluruh sekolah… bagaimana malam itu lo datang ke kamar gua, dan apa yang terjadi di sana.”
Brielle membeku. Wajahnya pucat lalu merah. “Lo—!”
Nevran sudah berjalan sambil menariknya. Keisha dan Celine hanya bisa saling pandang bingung, tidak berani menghalangi.
---
Kantin sekolah yang biasanya ramai mendadak seperti menyisakan satu meja khusus untuk mereka berdua. Bukan karena sengaja, tapi karena aura Nevran membuat siswa lain menjauh.
Nevran duduk. Lalu dengan santai ia menggeser seporsi nasi goreng ke depan Brielle.
“Suapin.”
Brielle mengerjap. “HAH?!”
“Lo dengar.”
“Gila lo?! Makan sendiri!”
Nevran menyandarkan tubuh ke kursi. Tangannya bersilang di dada. Lalu dengan suara yang dibuat sangat lembut—lembut yang justru terdengar mengerikan—ia berkata, “Bri… tolong suapin aku.”
Deg.
Itu terdengar seperti rayuan. Tapi mata Nevran tetap dingin. Ini bukan permintaan. Ini perintah yang dibungkus dengan nada manis.
Brielle menggigit bibir. Jijik. Muak. Tapi juga takut. Karena dia tidak tahu sampai mana Nevran akan bertindak.
Dengan tangan gemetar karena marah, Brielle mengambil sendok, menyendok nasi, lalu menyodorkannya ke mulut Nevran kasar.
Nevran menerimanya dengan tenang. Mengunyah pelan. Lalu tersenyum kecil. “Lagi.”
“Setan lo!”
“Lagi.”
Brielle hampir menangis karena frustasi. Seluruh kantin menatap mereka diam-diam. Beberapa cewek berbisik iri—mereka mengira ini adegan romantis. Padahal bagi Brielle, ini adalah siksaan.
---
Dan di pintu kantin—
Elvaro berdiri.
Dia melihat semuanya.
Dari Nevran yang menarik pergelangan tangan Brielle, duduk semeja, hingga Brielle yang dengan terpaksa menyuapi cowok itu.
Darah Elvaro mendidih.
Langkahnya cepat. Wajahnya dingin. Begitu sampai di meja mereka, ia langsung meraih kerah kemeja Nevran dan menariknya berdiri.
Brak!
Semua siswa berteriak kaget.
“Lo pikir lo siapa, brengsek?!” suara Elvaro rendah, penuh amarah.
Nevran tidak melawan. Malah tersenyum kecil. “Pacarnya.”
“LO—!”
Kepalan tangan Elvaro melayang.
Namun Nevran dengan refleks menangkis, lalu membalas dengan pukulan ke perut Elvaro.
“Ngh!”
Elvaro mundur selangkah, tapi langsung bangkit dan menyerang lagi. Dua cowok itu sekarang terlibat baku hantam di tengah kantin. Kursi jatuh. Piring berhamburan. Siswa-siswi menjerit dan minggir.
“Berhenti! BERHENTI!”
Brielle berteriak di antara mereka. Matanya basah. Bukan karena sedih. Tapi karena marah, frustasi, dan tidak berdaya.
Akhirnya beberapa guru datang dan melerai. Nevran dan Elvaro dipisahkan paksa. Wajah Nevran sedikit memar di pipi kiri—bekas tamparan semalam masih samar, kini ditambah pukulan Elvaro. Sedangkan Elvaro bibirnya pecah, darah tipis mengalir.
Namun meski babak belur—
Nevran masih tersenyum.
Dia menatap Elvaro dengan tatangan dingin. Lalu matanya beralih ke Brielle.
“Sampai nanti, Sayang.”
Suaranya pelan. Tapi cukup untuk membuat seluruh kantin bergidik.
Dan Brielle… hanya bisa berdiri diam.
Dadanya sesak.
Rasa benci yang memuncak.
Tapi mulutnya terkunci.
Karena dia tahu—ini baru awal.
Bersambung
bantu support juga yaa😇