Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resmi Legal
Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, menyinari ruang makan yang biasanya kaku, namun kini terasa lebih hidup. Liam turun dengan kemeja yang kancing atasnya terbuka, wajahnya tampak lebih segar dan tenang, seolah beban berat yang dibawa Amanda kemarin telah sedikit terangkat dari pundaknya.
Ia berjalan langsung menuju dapur, mengabaikan Jino yang sedang sibuk mengoles selai pada rotinya. Fokus Liam hanya pada satu orang.
Cassie, yang sedang membelakanginya sambil menyiapkan sarapan.
Tanpa peringatan, Liam melingkarkan tangannya di pinggang Cassie dan mendaratkan ciuman singkat di pipinya.
"Pagi," bisik Liam rendah.
"Liam!" Cassie tersentak, wajahnya langsung merona merah. Secara refleks, ia memberikan cubitan keras di lengan Liam.
Liam hanya terkekeh, tidak merasa sakit sama sekali oleh cubitan itu. Ia justru merasa gemas melihat reaksi Cassie yang selalu waspada terhadap keberadaan Jino dan Marco.
"Aduh, aduh..." suara Jino memecah suasana, ia meletakkan pisau rotinya dengan dramatis.
"Marco, kau dengar itu? Sepertinya kita sudah resmi berubah jadi patung dekorasi di rumah ini."
Marco hanya menyeruput kopinya diam-diam, menyembunyikan senyum tipis di balik cangkirnya.
"Bos, kalau mau mesra-mesraan, tolong ingat kalau ada kami yang masih butuh asupan makanan tanpa rasa iri," sindir Jino lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Benar-benar tidak mengenal batas."
Liam menarik kursi di samping Cassie, menatap Jino dengan tatapan datar yang biasanya mengintimidasi, namun kali ini ada kilat jenaka di sana.
"Kalau kau merasa terganggu, kau bisa sarapan di pos penjagaan depan, Jino. Aku tidak keberatan."
"Kejam sekali!" Jino pura-pura terluka.
Cassie tertawa kecil, rasa canggungnya perlahan mencair. Ia meletakkan piring berisi sarapan di depan Liam. "Sudah makan saja sarapanmu."
Begitu mobil Liam mencapai gerbang kampus, sosok mobil putih yang kini sangat familier sudah terparkir di sana. Amanda berdiri menyandar di kap mobilnya, tampak anggun dengan mantel musim gugur yang menyelimuti tubuhnya.
Begitu melihat Liam dan Cassie, Amanda melambaikan tangan dengan senyum yang begitu cerah.
"Maaf, aku tidak bermaksud menghadang jalan kalian," ucap Amanda saat Liam menurunkan kaca jendela.
"Aku ingin ke rumahmu tadi, tapi ada janji lain yang mendesak, jadi kupikir aku tunggu saja di sini sekalian lewat menuju kantor."
Wajah Amanda memancarkan kepuasan yang tulus.
"Ada kabar baik," lanjut Amanda, membuka map tipis yang ia bawa.
"Legalitas perusahaan rokokmu akhirnya selesai. Semua izin sudah keluar. Mulai bulan ini, bisnis itu resmi sepenuhnya."
Untuk sesaat, Liam benar-benar terdiam.
Ia menerima dokumen itu, matanya bergerak cepat membaca halaman demi halaman. Garis rahangnya mengendur perlahan. Semua proses panjang, semua penolakan birokrasi, semua jalan buntu yang selama ini ia hadapi… akhirnya selesai.
"Sekarang, kau harus jadi warga negara yang baik, Liam," goda Amanda sambil terkekeh pelan.
"Siapkan mentalmu, karena pajak rokok di Verovska sangat tinggi. Kau akan menjadi penyumbang kas negara terbesar tahun ini."
Liam tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. Matanya menatap dokumen itu lama sebelum beralih ke Amanda.
"Terima kasih, Amanda. Aku tahu ini bukan hal mudah."
Amanda hanya mengangkat bahu ringan. "Ayahku membantu membuka beberapa pintu. Sisanya tetap kerja kerasmu sendiri."
Di kursi, Cassie melihat pemandangan itu dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Setelah pembicaraan dengan Liam semalam, rasa cemburunya telah berganti dengan rasa hormat pada hasil kerja Amanda.
"Selamat ya, Liam," ucap Cassie tulus sambil mengusap lengan pria itu. Ia lalu menoleh pada Amanda.
"Terima kasih banyak, Amanda, sudah membantu Liam sampai sejauh ini. Aku masuk kuliah dulu ya."
Cassie turun dari mobil, memberikan lambaian tangan perpisahan yang manis, dan melangkah masuk ke gerbang kampus dengan kepala tegak. Ia sudah percaya pada liam.
Setelah punggung Cassie menghilang di balik kerumunan mahasiswa, suasana sedikit berubah.
Amanda menatap Liam dengan tatapan yang lebih personal.
"Oh ya, Liam. Ada satu hal lagi," ucap Amanda lembut.
"Ayahku mengirim undangan makan malam untukmu besok. Dia sangat senang proses ini lancar, dan aku berharap kau bisa datang. Setidaknya, kau bisa berterima kasih langsung padanya. Kau tahu sendiri, dia cukup terlibat dalam proses ini"
Liam terdiam sejenak. Ia tahu ayah Amanda adalah orang yang sangat berpengaruh, dan tanpa campur tangan pria tua itu, legalitas ini mungkin akan memakan waktu bertahun-tahun.
"Aku akan datang," jawab Liam tegas. "Sampaikan pada Ayahmu, aku sangat menghargai bantuannya."
"Baguslah," Amanda tersenyum, lalu ia merapikan mantelnya. "Hanya makan malam biasa, Liam. Tidak perlu tegang. Baiklah, aku pergi dulu, banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan."
Tanpa menuntut perhatian lebih, tanpa kata-kata manis yang berlebihan, Amanda masuk ke mobilnya dan melaju pergi.
Liam berdiri di sana beberapa saat, memandangi map biru di tangannya. Sekali lagi, ia bergumam pelan pada angin pagi, "Terima kasih, Amanda."
***
Malam hari, suasana di kediaman Liam terasa sangat meriah. Hanya ada kebahagiaan murni karena satu beban besar baru saja terangkat dari pundak mereka.
"Malam ini kita keluar!" seru Liam saat mereka berkumpul di ruang tengah. "Pilih restoran terbaik. Aku yang bayar semua, termasuk bonus untuk kalian berdua."
Jino hampir melompat dari kursinya. "Ini baru Bos besar! Marco, siapkan setelan terbaikmu. Malam ini kita tidak makan tteokbokki pinggir jalan, kan, Cassie?"
Cassie tertawa lepas sambil merangkul lengan Liam. "Tidak, Jino. Malam ini aku biarkan Liam yang menentukan tempatnya."
***
Mereka akhirnya sampai di sebuah restoran mewah dengan pemandangan lampu kota Verovska yang berkilauan di bawahnya. Meja besar sudah dipesan di area balkon yang privat.
"Untuk legalitas perusahaan kita dan untuk masa depan yang lebih cerah!" seru Jino sambil mengangkat gelas minumannya tinggi-tinggi.
"Bersulang!" sahut mereka serempak.
Makan malam itu dipenuhi dengan tawa. Jino tidak berhenti menceritakan kejadian konyol saat mereka masih harus kucing-kucingan dengan petugas pelabuhan dulu, sementara Marco sesekali menimpali dengan detail-detail teknis yang membuat mereka semua terbahak.
Liam duduk di samping Cassie, tangannya tidak pernah lepas dari genggaman gadis itu di bawah meja. Ia memiliki bisnis yang kini aman, anak buah yang setia seperti saudara, dan wanita yang ia cintai di sampingnya.
Cassie menyandarkan kepalanya di bahu Liam. "Aku bangga padamu."
Namun, di tengah kemeriahan itu, Liam belum menceritakan soal undangan makan malam dari ayah Amanda untuk besok. Ia ingin menyimpan momen ini sesempurna mungkin, setidaknya untuk malam ini saja. Ia tidak ingin merusak senyum Cassie dengan menyebut nama keluarga Amanda.
Malam semakin larut, dan setelah makan malam yang luar biasa, mereka kembali ke rumah dengan hati yang ringan. Jino bahkan menyanyi sepanjang jalan di mobil Marco, membuat suasana tetap ceria hingga mereka sampai di rumah.
Saat masuk ke kamar, Liam menahan Cassie sebentar di depan pintu.
"Besok malam... aku harus pergi ke sebuah acara makan malam."
Cassie menoleh, wajahnya masih dihiasi senyum sisa makan malam tadi. "Acara apa? Apa aku harus ikut?"
Liam terdiam sejenak, mencari kata yang tepat. "Hanya makan malam bisnis kecil. Untuk berterima kasih pada orang yang membantu beberapa proses legalitas kemarin. Sepertinya akan sangat membosankan untukmu, jadi kau bisa istirahat saja di rumah."
Cassie mengangguk tanpa curiga sedikit pun. "Baiklah. Jangan pulang terlalu larut, ya?"
Liam mencium dahi Cassie dengan perasaan yang sedikit berkecamuk. Ia tahu ia harus pergi, tapi ia juga tahu bahwa besok malam adalah wilayah yang berbahaya.
npd jangan2 nih si liam