Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.
...~•Happy Reading•~...
Dua Bulan Kemudian.
Setelah Rafael dan Laras resmi berpacaran, perangai Laras berubah. Lebih tenang hadapi berbagai persoalan yang tidak menyenangkan di kantor atau di rumah.
Perubahan sikap Laras berdampak positif bagi orang sekitarnya. Sehingga orang tuanya menyetujui hubungan mereka tanpa diminta.
Pak Yafeth melihat semuanya dengan hati bersyukur. Rafael bisa membawa dampak baik bagi Laras. Tidak gampang emosian lagi atau uring-uringan. Dia lebih fokus dan bijak dalam menyelesaikan berbagai tugas yang di percayakan perusahaan. Sehingga prestasi di kantor melesat naik dalam waktu singkat.
~••
Hari ini adalah akhir pekan ke 18 Rafael tinggal di rumah orang tua Laras dan 17 minggu bekerja sebagai OB. Lebih tepatnya, dua bulan setelah peristiwa Laras masuk rumah sakit dan mereka resmi berpacaran.
Rutinitas Rafael di akhir pekan tidak berubah, walau sudah pacaran dengan Laras. Dia membersihkan halaman dan menghabiskan waktu di lantai atas untuk menyiangi tanaman seperti tomat dan cabe yang sudah mulai berbuah.
Daun bawang dan seledri sudah mulai dipanen oleh Bu Ester untuk memasak. Sehingga dia lebih memperhatikan yang ditanam, sebagai rasa terima kasih atas kasih sayang orang tua Laras. Terutama Bu Ester yang selalu menyediakan makanan lezat bagi mereka.
Ketika dia sedang menyiram tanaman, tiba-tiba pinggangnya dipeluk dari belakang. "Laras, lepaskan." Rafael meletakan alat penyiram lalu berbalik. "Aku bilang apa? Kalau orang tuamu atau Juan tidak ada di rumah, jangan naik ke atas." Rafael berkata serius. Dia tidak mau ada pemikiran negatif dari Bibi yang melihat mereka berduaan saja di lantai atas.
"Abis telponku gak diangkat." Ucap Laras dengan wajah kesal sambil memukul lengan Rafael.
"Oh, HP di dalam." Rafael menunjuk ke dalam kamar dengan menggerakan kepala. "Perlu sesuatu di sini?"
"Gak. Aku mau bicara. Penting." Laras berkata singkat dengan wajah serius.
"Kalau begitu, tunggu di ruang nonton. Aku cuci tangan dan ganti ini." Rafael memegang kaosnya yang basah oleh keringat.
Laras segera turun, sebab melihat Rafael sudah dalam mode tidak mau dibantah. "Jangan lama-lama, ya." Ucap Laras sebelum menuruni tangga.
Rafael jadi tersenyum melihat peringatan Laras di ujung tangga. Dia segera membersihkan tangan dan masuk ke kamar. Dia makin tersenyum melihat banyak misscall dari Laras. 'Pantas dia naik ke sini.' Rafael membatin sambil mengambil pakaian ganti lalu turun ke kamar Juano.
Tidak lama kemudian, dia keluar dari kamar dalam keadaan rapi dan bersih. "Bilangnya cuma cuci tangan, taunya mandi." Laras merajuk dan protes karena lama menunggu.
Rafael duduk di sampingnya. "Mencegah ada yang pingsan cium aroma terapi jeruk purut." Rafael bercanda untuk menetralkan suasana.
"Mau bicara apa?" Rafael melanjutkan. Dia lebih santai kalau duduk di ruang nonton. Selain ruangannya terbuka, itu adalah tempat Laras sekeluarga berbincang-bincang atau menonton. Jadi tidak yang berpikiran negatif melihat mereka.
"Minum dulu, deh. Bibi bikin dari tadi, mungkin sudah gak dingin." Laras menunjuk gelas juice jeruk di atas meja.
"Ok. Trims." Rafael minum sedikit sebagai syarat, agar bisa menenangkan Laras dan tidak mengganggu yang mau dibicarakan. "Gimana?" Rafael kembali bertanya setelah meletakan gelas di meja.
Rafael mengerti yang akan dibicarakan Laras sangat serius. Sebab sikap Laras tidak seperti biasa kalau mereka duduk di ruang nonton. Biasanya dia akan menyandarkan pelipis di bahunya sambil menonton. Sekarang jangankan bersandar, televisi pun dalam keadaan mati.
"Begini, Rafa." Laras menatap Rafael. "Aku mendapat promosi jabatan di kantor..."
"Oh, ok. Selamat." Rafael merespon tenang dan mengucapkan selamat. Tapi jantungnya tiba-tiba berdetak kuat. Dia menyadari, jurang perbedaan pekerjaan mereka makin terbuka lebar.
Laras mau naik jabatan, sedangkan dia belum menyelesaikan masa training sebagai OB. Perbedaan pekerjaan mereka bagaikan bumi dan langit.
"Jangan dulu ngucapin selamat. Dengar dulu kronologisnya."
"Ok. Aku dengar. Tadi reaksi spontan. Ikut senang." Rafael mengangkat tangan sebagai tanda minta maaf, lalu mengambil minuman di atas meja.
"Jabatanku naik, tapi ditempatkan di kantor cabang di luar kota..." Laras menjelaskan dan menyebut nama kota yang menjadi tempat tugasnya.
Mmmm..."Cukup jauh. Berapa lama ditempatkan di sana?" Rafael mulai mengerti alasan Laras mengajak bicara.
"Paling cepat, 6 bulan. Jadi bisa lebih lama dari waktu itu, kalau di sana pekerjaan berjalan lambat..." Laras menjelaskan lagi rencana penempatannya di kantor cabang.
"Ok. Apa reaksi Papa dan Mamamu soal penempatan ini?" Rafael tidak langsung memberikan pendapat, setuju atau tidak. Dia tahu, hubungan mereka belum sampai pada taraf untuk itu.
"Aku belum bicara dengan Papa dan Mama. Aku mau kita bicarakan dulu, sebelum bicara dengan mereka. Karna aku butuh persetujuanmu..." Ucap Laras serius. Tapi alam pemikiran Rafael mengirimkan sinyal berbeda, sebab ucapan Laras terselubung.
"Loh, kau belum bicara dengan mereka?"
"Aku baru tahu kemarin. Jadi perlu berpikir sendiri, sebelum bicara denganmu dan orang tuaku."
"Kalau begitu, bicara dulu dengan orang tuamu. Aku akan mengikuti pendapat mereka." Rafael berkata serius. Baginya, kalau orang tua Laras mengizinkan tinggal di kota lain dalam waktu lama, apa haknya melarang.
"Justru aku mau bicara denganmu, minta persetujuanmu. Supaya orang tuaku setuju." Ucapan Laras makin terselubung bagi Rafael.
"Apa maksudmu? Coba bicara yang jelas."
"Kita menikah dulu sebelum aku pindah..."
"Sebentar, Laras. Kita baru berpacaran belum lebih dari 2 bulan. Kau mau kita menikah?" Rafael refleks meletakan telapak tangan di dahi Laras.
"Aku bicara dalam keadaan sehat." Laras menyingkirkan tangan Rafael dari dahi dan pegang erat.
"Laras, menikah bukan sesuatu yang gampang. Perlu pemikiran matang. Apa kau tidak tahu pekerjaanku? Bagaimana aku bisa menghidupi keluarga baruku?"
"Berikan waktu. Kau sudah tahu, orang yang ambil atau temukan dokumenku sudah kirim ke kampung. Aku akan minta adikku kirim ke sini. Mungkin ada perbaikan." Rafael bicara dan menjelaskan sangat perlahan dan serius.
"Kan, aku bekerja. Gak papa." Laras tidak bisa menunggu, sebab dia tidak tahu sampai kapan ada perbaikan pekerjaan Rafael.
"Ya, tidak seperti itu. Aku laki-laki. Aku ke sini untuk memperbaiki ekonomi keluargaku. Malah sekarang tambah lagi satu keluarga."
"Kau tidak serius pacaran denganku?"
"Laras, bukan serius atau tidak serius. Tapi pacaran berbeda dengan menikah."
"Kalau kau serius, ujung-ujungnya kita akan menikah juga. Jadi apa bedanya menikah sekarang atau nanti?"
Rafael terdiam mendengar argumentasi Laras yang sangat sederhana, tanpa berpikir panjang. "Begini, alangkah baik kau bicara dengan orang tuamu, terutama Papamu. Walau mereka telah setuju kita pacaran, tapi untuk menikah, itu hal yang berbeda." Rafael tidak mau beradu argumentasi dengan Laras, sebab dia tidak berpikir dari sisinya sebagai laki-laki.
"Iya. Nanti aku bicara setelah mereka pulang. Yang penting, kau sudah tahu dan tetap mendukungku." Laras jadi berubah santai. Dia menghabiskan minuman dan bersandar pada bahu Rafael yang berusaha menghabiskan minumannya dengan sangat perlahan.
...~•••~...
...~•○♡○•~...