Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 PGS
Sherina berjalan pelan dipapah oleh Nining. "Ning, aku serasa orang stroke jalan dipapah kaya gini," celetuk Sherina.
"Apaan sih, kamu itu lemah. Sekali lagi maafkan aku ya, Sher," seru Nining dengan perasaan yang semakin bersalah.
"Sudah, kamu beberapa kali minta maaf terus. Aku gak apa-apa kok, tadi aku gak sarapan dulu makanya aku merasa pusing," sahut Sherina.
Pada saat melewati perkebunan, Syarif melihat Sherina dan Nining. Syarif langsung berlari menghampiri kakaknya itu dengan raut wajah khawatir. "Kak, Lu kenapa?" tanya Syarif.
"Tadi Sherina pingsan di sekolah," sahut Nining.
"Loh, kok bisa? Lu sakit, Kak?" Syarif menyentuh kening kakaknya khawatir.
"Gak apa-apa, kakak baik-baik saja hanya sedikit pusing. Sudah sana kamu kembali bekerja, kakak mau pulang dulu," sahut Sherina.
"Sebentar, gua anterin," seru Syarif.
Sherina belum sempat menjawab tapi Syarif sudah keburu pergi. Tidak lama kemudian, Syarif pun datang dengan memakai motor. "Ayo, Kak!"
"Motor siapa ini, Dek?" tanya Sherina lemah.
"Gua minjem motor orang, sudah buruan naik supaya kakak cepat sampai rumah," ucap Syarif.
"Tapi bagaimana dengan Nining?" seru Sherina.
"Jangan pikirkan aku, sudah kamu naik motor saja bersama adik kamu," sahut Nining.
"Maaf ya, Ning, aku duluan soalnya aku gak kuat jalan kaki," lirih Sherina.
"Iya, sudah sana pulang dan istirahat ya. Nanti sore aku ke rumah kamu lagi," seru Nining.
Sherina pun naik ke atas motor, dia berpegangan kepada Syarif. Sherina memejamkan matanya, saking dia merasakan pusing di kepalanya. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di rumah.
Syarif memapah kakaknya dengan penuh kasih sayang. "Ya, Allah kamu kenapa Nak?" tanya Mommy Wita.
"Katanya Kakak tadi pingsan di sekolah," sahut Syarif.
"Apa! kita ke rumah sakit yuk, Nak?" ajak Mommy Wita.
Sherina menggeleng lemah. "Tidak Mom, Sherina gak apa-apa kok, Sherina hanya butuh istirahat saja," sahut Sherina.
"Ya, sudah sini Mommy bantuin ke kamar," ucap Mommy Wita memapah Sherina.
"Mom, Syarif kembali ke kebun lagi!" teriak Syarif.
"Iya."
Ada anak buah Tama yang melihat Sherina dan mendengar pembicaraan mereka di kebun. "Juragan, tadi saya mendengar kalau anaknya Pak Tri yang perempuan pingsan di sekolah dan sepertinya belum dibawa berobat," seru Anak buah Juragan Tama.
"Ah, ini kesempatan saya untuk mencari perhatian kepada Jeng Wita," sahut Juragan Tama.
Tama pun datang ke rumah Wita dengan membawa mobil berniat ingin memberi bantuan untuk membawa Sherina berobat. Tama dengan semangat mengetuk pintu dan Wita membukanya. "Ada apa lagi Juragan datang ke sini?" seru Mommy Wita kesal.
"Begini Jeng Wita, tadi saya dengar anak perempuan Jeng Wita pingsan ya, di sekolah? saya datang ke sini hanya ingin memberikan bantuan untuk membawa anak anda ke puskesmas atau kalau mau kita ke dokter," sahut Juragan Tama.
"Tidak perlu Juragan, anak saya tidak apa-apa kok hanya pingsan saja," ucap Mommy Wita dingin.
"Kalau begitu saya belikan obat saja untuk anaknya, takutnya kenapa-napa," seru Juragan Tama kembali.
"Tidak usah, saya bisa beli sendiri," tolak Mommy Wita.
Tama mengeluarkan beberapa lembar uang lalu memberikannya kepada Wita. Wita sudah berusaha menolaknya tapi Tama terus memaksa dan menggenggam tangan Wita membuat Wita tidak nyaman. Sementara itu, Ida baru saja pulang dari kebun bersama tetangga yang lainnya.
"Lihat deh, ngapain Juragan Tama pegang-pegang tangan Bu Wita?" seru Bu Ida.
"Iya, kayanya Juragan Tama memberikan uang, lihat deh," sahut Ibu yang satunya.
"Wah, ini tidak bisa dibiarkan kita harus lapor sama Nyonya Ningsih biar warga baru yang sok kecantikan itu dikasih pelajaran," ucap Bu Ida penuh emosi.
"Ayo, sekarang saja!"
Ibu-ibu itu pun segera pergi ke rumah Tama berniat melaporkan penglihatan mereka kepada Ningsih. Ningsih yang mendapat kabar itu merasa terkejut, begitu juga dengan Rossa yang baru saja sampai hendak mengambil bibit ke rumahnya. "Ibu-ibu tidak salah lihat 'kan? tidak mungkin suami saya seperti itu," seru Mama Ningsih tidak percaya.
"Benar Nyonya, saya sudah beberapa kali memergoki Juragan Tama datang ke rumah Bu Wita. Waktu itu malam-malam dengan membawa sayuran dan juga buah-buahan dan barusan kita melihat Juragan memberikan uang kepada Bu Wita," jelas Bu Ida.
"Kurang ajar, dari awal aku memang tidak suka dengan keluarga itu apalagi si Syarif, dia songong banget gak sopan sama aku," geram Rossa.
Rossa pun hendak pergi tapi Ningsih menahannya. "Kamu mau ke mana, Rossa?" tanya Mama Ningsih.
"Rossa mau memberi keluarga itu pelajaran," sahut Rossa penuh emosi.
"Jangan gegabah Nak, kita tunggu Papa dulu dan kita dengarkan apa penjelasan Papamu. Takutnya ini salah paham," seru Mama Ningsih.
"Tapi, Ma----"
"Sudah, jangan membantah. Untuk kalian, lebih baik sekarang kalian pulang dan terima kasih atas infonya," seru Mama Ningsih.
"Baik, Nyonya." Ida dan yang lainnya pun pergi.
"Mama kenapa membela sih, sudah jelas itu ada yang melihat," kesal Rossa.
"Iya, tapi Mama harus tanya sama Papa kamu dulu. Kita jangan gegabah, takutnya itu hanya salah paham saja," sahut Mama Ningsih menenangkan.
Rossa akhirnya menurut walaupun dalam hatinya dia ingin sekali melabrak keluarga Syarif. Sedangkan di sekolah, Ariel tampak melamun dia merasa sangat bersalah dan khawatir dengan keadaan Sherina. "Apa dia baik-baik saja ya?" batin Ariel.
***
Sore ini Ariel sudah siap-siap akan ke rumah Fuja. Awalnya dia tidak mau ke rumah Fuja, tapi entah kenapa dia merasa sangat gelisah dan berharap bisa melihat Sherina dan tahu kondisi Sherina. Saat ini Ariel sudah mulai perhatian kepada Sherina, bahkan dia merasa rindu bertengkar dengan Sherina.
"Kakak mau ke mana? tampan sekali," goda Rossa.
"Ke rumah Fuja," sahut Ariel.
"Cie-cie, ceritanya mau apel nih."
"Apaan, enggak lah Fuja mengundang kakak untuk makan malam bersama katanya," sahut Ariel.
"Alasan, jangan malu-malu lah kak, kita sudah tahu kok jika Kak Fuja itu cinta pertama kakak dan kakak selalu menunggu kepulangan Kak Fuja," ledek Rossa.
Ariel hanya menanggapi ucapan Rossa dengan senyuman, entah kenapa rasanya saat ini perasaan dia kepada Fuja biasa saja tidak menggebu seperti dulu. Setelah siap, Ariel pun pamit dan segera pergi ke rumah Fuja. Tentu saja Fuja menyambut kedatangan Ariel dengan sangat bahagia, Ariel melihat ke arah rumah Sherina.
"Apa Sherina baik-baik saja?" batin Ariel.
"Ayo masuk, Bunda sudah nunggu kamu dari tadi," ucap Fuja sembari menarik tangan Ariel.
Fuja menarik tangan Ariel untuk masuk tapi tatapan Ariel terus tertuju ke rumah Sherina.