NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Greytha

Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.

Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.

Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 24

"Bos, kita ngapain sih jalan ngendap-ngendap gini? Mana stylenya kayak copet lagi," gerutu Riko pelan, tapi tetap mengikuti langkah Dewangga dari belakang.

Dewangga tidak menoleh.

"Sudah, lebih baik kamu diam saja, sebelum gaji kamu saya potong," ancamnya datar.

Riko langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya membesar, mengangguk patuh.

Langkah mereka melambat di pinggir taman.

"Itu bukannya Nona Zeya, Bos?" bisik Riko sambil menunjuk ke arah taman bermain.

Zeya terlihat sedang bermain seluncuran bersama Cici. Sementara Riko dan Dewangga bersembunyi dibalik pohon kecil dekat sana.

Seketika Dewangga langsung membekap mulut Riko.

"Diam! Jangan berisik," bisiknya tegas di telinga Riko.

"Kita lagi ngikutin Zeya. Kalau kamu berisik, kita bakal ketahuan. Paham?"

Riko hanya bisa mengangguk cepat.

Setelah itu, Dewangga melepaskan tangannya dan kembali fokus menatap ke arah Zeya.

Namun

Kosong.

Zeya dan Cici sudah tidak ada di tempat tadi.

"Kemana mereka?" gumam Riko, matanya menyapu seluruh area taman, mencoba mencari sosok yang barusan masih terlihat jelas.

Dewangga langsung berdecak kesal.

"Ini semua karena ulah kamu, Riko. Saya jadi tidak bisa menemukan Zeya," gerutunya.

"Cepat bantu saya cari mereka se..."

Kalimatnya terhenti.

Kepalanya perlahan menoleh ke belakang.

Dan di sana.

Zeya sudah berdiri.

Tepat di belakang mereka.

Bersama Riko yang kini menunduk, kaku, seperti anak kecil yang tertangkap basah.

Zeya tidak langsung bicara.

Ia hanya menatap Dewangga dengan ekspresi datar, lalu menurunkan pandangannya pada Cici yang masih ada dalam gendongannya.

"Sayang…" ucap Zeya lembut, mengelus pipi kecil Cici.

"Sekarang kamu sama om ini dulu ya."

Ia menunjuk Riko tanpa benar-benar melihatnya.

"Bunda mau ngomong dulu sama om ini."

Sekilas, Zeya melirik Dewangga.

Tatapannya tajam.

Tanpa menunggu jawaban, ia menyerahkan Cici ke pelukan Riko.

Riko menerima dengan hati-hati, tubuhnya masih tegang. Sementara Cici malah terkekeh kecil, memperlihatkan dua gigi mungilnya di depan.

Setelah memastikan Cici tenang dan dibawa menjauh sedikit oleh Riko, Zeya kembali menatap Dewangga.

Tatapannya kini berubah dingin penuh emosi yang ditahan.

"Mas Dewangga," panggilnya, suaranya tegas.

"Harus berapa kali sih aku bilang, jangan pernah ganggu aku?"

Nada jengahnya terdengar jelas.

"Mas tahu nggak sih, aku butuh waktu buat bisa ketemu sama Mas lagi. Mas tahu kan?, semua yang terjadi di masa lalu itu tidak semudah itu untuk dilupakan."

Dewangga hanya bisa menunduk.

Kata-kata itu seperti menekan dadanya semakin dalam.

"Mas bisa kasih aku waktu?" lanjut Zeya, suaranya mulai bergetar.

"Aku capek, Mas, sama semua yang terjadi."

Air matanya mulai jatuh.

"Aku capek. Pengkhianatan Mas Dewangga di masa lalu… Mas nggak akan pernah tahu rasanya."

"Tapi Mas nggak pernah mengkhianati kamu!" bantah Dewangga cepat, suaranya naik tanpa sadar.

"Dari dulu sampai sekarang, cinta Mas itu cuma buat kamu."

Zeya menyeka rambutnya ke belakang dengan kasar.

"Terserah Mas mau bilang itu apa," ucapnya dingin.

"Tapi semua perbuatan Mas di masa lalu itu, sudah nyakitin aku terlalu dalam."

Ia menunjuk dadanya sendiri.

Rasa sakit itu terlihat jelas di wajahnya.

Dewangga tidak sanggup menahan air matanya lagi.

Ia menggeleng cepat, mencoba meraih tangan Zeya.

namun Zeya langsung menarik tangannya menjauh.

Tidak memberi kesempatan.

"Mas bisa jelasin semuanya," ucap Dewangga putus asa.

"Tolong kasih Mas satu kesempatan aja, ini nggak seperti yang kamu bayangkan. Mas punya alasan."

Dewangga langsung berlutut di hadapan Zeya melupakan semua harga dirinya.

Namun Zeya buru-buru mundur satu langkah, menjaga jarak.

Suasana taman terasa semakin sunyi. Untungnya hanya mereka berdua ditaman itu, jadi mereka tidak akan menjadi pusat perhatian orang-orang.

Suara angin pelan di taman dan gesekan daun yang terdengar samar, seolah ikut menyaksikan ketegangan di antara mereka.

"Tolong… kasih Mas satu kesempatan buat jelasin semuanya," ulang Dewangga, suaranya melemah.

Zeya tersenyum kecut.

Tidak ada belas kasihan di wajahnya.

"Kesempatan apa yang Mas Dewangga minta?" tanyanya lirih tapi tajam.

"Bukannya dulu ada banyak kesempatan buat Mas?"

Ia melangkah sedikit lebih dekat, lalu mendorong bahu Dewangga pelan.

"Bukan cuma sekali. Berkali-kali aku kasih kesempatan itu. Tapi apa Mas manfaatkan?"

Zeya menghapus air matanya dengan kasar.

"Mas tahu, hari di mana kita ada di kamar hotel itu… setelah melakukan dosa besar itu?"

Dewangga terdiam.

Pikirannya langsung tertarik kembali ke masa lalu.

tiga tahun yang lalu.

Hari yang mengubah segalanya.

"Hari di mana aku minta Mas buat jangan pergi" lanjut Zeya, suaranya mulai pecah.

"Tapi Mas tetap ninggalin aku."

Napasnya mulai tidak teratur.

"Hari itu aku juga memohon. Dan hari itu juga aku janji sama diri aku sendiri, kalau Mas masih nemuin perempuan itu, aku yang akan pergi ninggalin Mas."

Tatapannya tajam.

"Meski hari pernikahan kita udah di depan mata."

Ia tertawa kecil, penuh getir disetiap katanya.

"Buat apa aku bertahan sama laki-laki yang nggak bisa tegas dan nggak punya prinsip kayak kamu?, meskipun satu sisi hati aku masih mengharap mas mau mendengarkan aku."

Air matanya semakin deras.

"Namun takdir berkata lain, pernikahan kita batal, dan mas tetap pergi nemuin dia dan ninggalin aku" suaranya melemah.

"dan hari itu juga kedua orang tua aku ternyata ikut ninggalin aku, di hari aku mau ngomong soal pembatalan pernikahan kita."

Zeya menunduk, bahunya sedikit bergetar.

"Dan hal yang paling aku sesali, malam itu ternyata mereka lagi butuh aku."

Suaranya hampir hilang.

"Tapi aku malah bersenang-senang menghabiskan malam panjang bersama pria yang tidak bertanggung jawab kayak kamu, Mas."

Kalimat itu seperti menutup semua.

Dewangga mengepalkan tangannya kuat.

Tubuhnya menegang, menahan dorongan untuk bangkit dan memeluk Zeya.

Namun ia tidak bergerak.

Rasa bersalah menekan dadanya tanpa ampun

membuat napasnya terasa sesak, seolah setiap detik menjadi hukuman yang pantas untuk semua yang telah ia lakukan.

"Mulai sekarang, berhenti ngejar aku. Karena kesempatan buat Mas Dewangga memperbaiki semuanya sudah tidak ada."

Suara Zeya terdengar tegas, meski di ujungnya terselip getaran yang sulit ia sembunyikan.

"Cinta aku sama Mas Dewangga sudah habis tiga tahun lalu. Sekarang aku cuma ingin hidup tenang, tanpa gangguan Mas Dewangga."

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Datar.

Tapi menghantam keras.

Dewangga yang masih berlutut langsung bangkit berdiri dengan cepat, seolah menolak menerima kenyataan yang baru saja dia dengar.

"Zeya, jangan pernah ngomong seperti itu," ucapnya dengan napas memburu.

"Mas masih sangat mencintai kamu."

Tanpa berpikir panjang, ia meraih kedua lengan Zeya, mencengkeramnya seakan takut kehilangan lagi.

Namun refleks, Zeya langsung menepis tangan Dewangga.

Gerakannya cepat dan tegas.

Kontak itu seolah terasa menyakitkan baginya.

Ia mundur satu langkah, menjaga jarak.

Tatapannya berubah dingin, meski matanya masih menyisakan sisa air mata.

"Jangan sentuh aku," ucap Zeya pelan, tapi penuh penekanan.

Dewangga terpaku.

Tangannya yang tadi terulur kini menggantung di udara, lalu perlahan turun.

Raut wajahnya berubah.

Antara tidak percaya, dan hancur.

Angin taman berhembus pelan, menggerakkan daun-daun di sekitar mereka, menambah sunyi yang menggantung di antara dua orang yang dulu begitu dekat, namun kini terasa sangat jauh.

Zeya menatap Dewangga beberapa detik.

Lalu memalingkan wajahnya.

Seolah melihatnya terlalu lama hanya akan membuat hatinya goyah lagi.

"Sudah selesai berantemnya?"

1
Bagong
KLO nuntut dino kahin SDH pasti bukan wanita baik baik ,,,,gitu aja kok g mikir,,,,,wanita yg mencintai almarhum suaminya akan sulit Nerima kehadiran pria baru ato mungkin TDK akan bisa,,,,,lah ini hitungan hari bulan SDH terobsesi sama pria lain nuntut alasan hutang nyawa bener an dia cinta sama almarhum ato dia diam diam suka sama temen almarhum selama ini benernya,,,,,ato jg jg kecelakaan ini dia yg buat skenarionya supaya dpt menjerat sang teman suami
Bagong
pret,,,,,ntar amanatnya mau bundir za di kawinini
Bagong
bukan g punya kesempatan tp pria yg membuang waktu dan kesempatan demi ngurusin wanita lain,,,,itu namanya apa namanya g cinta
Bagong
Halah laki labil buat apa bertahan disisinya KLO hanya utk menyaksikan sang lelaki yg selalu memprioritaskan wanita lain,,,g ada wanita yg mau oon,,,,seharusnya senang dong bisa bebas jalanin amanat,,,,,amanat yg salah alamat anak kecil aja tahu dasarnya aja laki Maruk merasa dibutuhkan byk wanita,,,,,
falea sezi
😒 tuh liat akibat lu belain janda kegatelan🤣
Mommy tulipp
Smga Mama baik2 saja ya Zea
Mommy tulipp
Kok tega tinggalkan Zeya
falea sezi
🤣🤣 laki bloon
Anonim
semangat author
Pingky-Puzzle
Haii readers, ketemu lagi sama author, gimana ada yang kangen ngak sama author? atau kangen sama Zeya dan Dewangga?, jangan lupa like and comment yahh, supaya author makin semangat updatenya 😍🤏
HjRosdiana Arsyam
Luar biasa
Daulat Pasaribu
alhamdulillah zeyanya uda pergi dari kehidupan dewangga
Daulat Pasaribu
aku bilang mampooss kau dewangga....cowok bodoh nyia nyia kan cewek yg uda setia dan tulus sama mu kau buang
Daulat Pasaribu
ini lah cowok paling bodoh,tolol,paok sedunia....bisa-bisanya lebih memilih nenek lampir dari pada ceweknya sendiri yg uda 4 tahun bersama
Daulat Pasaribu
suka sama persahabatn mereka saling mendukung😍
Daulat Pasaribu
sampai depresi gitu si zeya.memang kelewatan si dewangga
Daulat Pasaribu
loh kok cepat kali hamilnya thor.bukannya mereka baru ya ngelakuiinya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Pingky-Puzzle
soalnya author rencana mau konsisten nulis, dan namatin cerita ini, tapi agak ragu, menurut kalian gimana?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!