NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26.

Keesokan paginya, Alesha bangun dengan semangat yang berbeda.

Begitu selesai bersiap, ia mengambil naskah pidatonya yang sudah diberi beberapa tanda menggunakan stabilo warna-warni.

"Mudah-mudahan hari ini lebih lancar."

Pingky yang sedang berjalan di dekat pintu kamar mengeluarkan suara pelan.

"Kwek."

Alesha tersenyum sambil mengusap lembut kepalanya.

"Iya, doain aku ya."

Di ruang makan, Kevin sudah lebih dulu duduk sambil menikmati secangkir teh hangat.

Saat melihat Alesha membawa naskah ke meja makan, ia langsung mengangkat alis.

"Kamu bawa itu lagi?"

Alesha mengangguk.

"Aku mau baca sebentar sebelum berangkat."

Kevin tersenyum tipis.

"Rajin juga."

Alesha langsung duduk dan mulai membaca pelan isi pidatonya.

Sesekali bibirnya bergerak tanpa suara, berusaha menghafal kalimat demi kalimat.

Oma yang baru datang membawa sarapan tersenyum melihat cucunya.

"Wah, serius sekali."

"Aku takut lupa nanti, Oma."

"Lupa itu wajar."

Oma meletakkan piring di atas meja.

"Yang penting kamu percaya diri."

Alesha mengangguk pelan.

"Iya."

Setelah sarapan selesai, Kevin dan Alesha pun berangkat ke sekolah.

Sepanjang perjalanan, Alesha kembali membaca naskah di dalam hati.

Kevin yang melihat dari kaca spion hanya tersenyum kecil.

"Jangan terlalu dipikirkan."

"Hm?"

"Nanti malah tambah gugup."

Alesha menutup mapnya.

"Iya juga."

Beberapa menit kemudian mereka tiba di sekolah.

Seperti biasa, Kevin memarkirkan motornya di area parkir siswa.

Alesha turun sambil membawa map birunya.

"Semangat."

Kevin menepuk pelan bahu adiknya.

Alesha tersenyum.

"Makasih, Kak."

Ia pun berjalan menuju kelas.

Di depan kelas, Dinda sudah menunggu sambil melambaikan tangan.

"Pagi."

"Pagi."

Dinda langsung melihat map yang dibawa Alesha.

"Masih dibawa?"

"Iya."

"Sudah latihan semalam?"

Alesha mengangguk.

"Tiga kali."

"Wah."

Dinda tersenyum bangga.

"Berarti nanti pasti lebih lancar."

Sebelum Alesha sempat menjawab, Bu Rina masuk ke kelas.

"Selamat pagi, anak-anak."

"Pagi, Bu."

Bu Rina tersenyum lalu memandang Alesha.

"Alesha, nanti saat jam istirahat pertama temui Ibu di aula."

"Iya, Bu."

Mendengar itu, jantung Alesha kembali berdegup lebih cepat.

Dinda menyenggol lengannya pelan.

"Tenang."

"Aku mulai gugup lagi."

"Itu biasa."

Bel pelajaran pertama pun berbunyi.

Meski berusaha fokus mendengarkan guru, sesekali pikiran Alesha melayang pada latihan pidato yang akan dilakukan beberapa jam lagi.

Ia menarik napas pelan.

"Aku sudah latihan. Aku pasti bisa."

Kalimat itu terus ia ulangi dalam hati untuk menenangkan dirinya.

Di sisi lain, Arka yang sedang berpatroli di koridor melihat Alesha duduk diam sambil menatap buku, tetapi tatapannya kosong.

Ia sempat berhenti di depan jendela kelas.

"Alesha."

Alesha yang mendengar namanya dipanggil langsung menoleh.

"Iya?"

"Jangan terlalu tegang."

Alesha berkedip.

"Kok tahu?"

"Kelihatan."

Alesha tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya.

"Segitunya, ya?"

Arka mengangguk pelan.

"Kamu sudah latihan."

"Iya."

"Berarti tinggal percaya sama diri sendiri."

Setelah mengatakan itu, Arka kembali melanjutkan patroli.

Sementara Alesha hanya memandang punggungnya yang semakin menjauh.

Entah kenapa...

Ucapan sederhana itu justru membuat rasa gugupnya perlahan berkurang.

Ia tersenyum kecil.

"Baiklah..."

"Aku akan berusaha sebaik mungkin."

Waktu terasa berjalan lebih lambat bagi Alesha.

Setiap kali melihat jam dinding di kelas, jantungnya kembali berdebar. Padahal, latihan pidato baru akan dimulai saat jam istirahat pertama.

"Les."

Suara Dinda membuyarkan lamunannya.

"Hm?"

"Kamu dari tadi lihat jam terus."

Alesha mengembuskan napas pelan.

"Aku takut."

Dinda tersenyum menenangkan.

"Kamu kan cuma latihan, bukan langsung lomba."

"Iya sih."

"Nanti kalau salah, tinggal diperbaiki."

Alesha mengangguk pelan.

"Kamu benar."

Tak lama kemudian...

Teng...

Bel istirahat pertama akhirnya berbunyi.

Seluruh siswa mulai keluar kelas menuju kantin, tetapi Alesha justru berdiri sambil merapikan map birunya.

"Aku duluan ya."

Dinda mengacungkan jempol.

"Semangat! Nanti cerita ke aku gimana latihannya."

"Oke."

Alesha pun berjalan menuju aula sekolah.

Lorong menuju aula terlihat cukup sepi. Hanya ada beberapa guru yang sedang berbincang dan beberapa anggota OSIS yang sibuk memindahkan kursi.

Saat melewati koridor, ia kembali bertemu Arka yang sedang membantu mengangkat beberapa kardus.

Arka menghentikan langkahnya.

"Mau latihan?"

Alesha mengangguk.

"Iya."

"Masih gugup?"

Alesha tersenyum kecut.

"Masih."

Arka meletakkan kardus yang dibawanya.

"Lihat saya."

Alesha sedikit bingung, tetapi tetap menatap wajah Arka.

"Kamu tidak perlu berpikir semua orang akan menertawakanmu."

Alesha terdiam.

"Kalau salah?"

"Kalau salah, perbaiki."

"Kalau lupa?"

"Tarik napas, lalu lanjut lagi."

Alesha menggigit bibir bawahnya pelan.

"Sesederhana itu?"

Arka mengangguk.

"Semua orang yang pandai berbicara juga pernah gugup."

Kalimat itu membuat Alesha tersenyum tipis.

"Terima kasih."

"Semangat."

Alesha mengangguk mantap sebelum kembali berjalan menuju aula.

Sesampainya di sana, Bu Rina sudah menunggu.

"Nah, Alesha. Mari kita mulai."

"Iya, Bu."

Di aula hanya ada Bu Rina dan seorang guru lain yang sedang menyusun beberapa berkas.

Suasananya cukup tenang.

Bu Rina berdiri di depan deretan kursi.

"Coba anggap kursi-kursi ini adalah penontonmu."

Alesha menelan ludah.

"Baik, Bu."

"Silakan mulai dari pembukaan."

Alesha menarik napas panjang.

Ia menggenggam naskahnya erat-erat.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..."

Suara pertamanya masih sedikit bergetar.

Namun Bu Rina tersenyum sambil mengangguk, memberi isyarat agar ia terus melanjutkan.

Beberapa kalimat berikutnya mulai terdengar lebih jelas.

Sesekali Alesha masih melihat naskah di tangannya, tetapi ia sudah berani mengangkat kepala untuk menatap kursi-kursi di depannya.

Hingga akhirnya...

Ia berhenti.

"Maaf, Bu."

"Kenapa?"

"Ada satu bagian yang lupa."

Bu Rina tidak memarahinya.

Beliau justru tersenyum hangat.

"Tidak apa-apa."

"Ulang dari awal?"

"Tidak perlu."

Bu Rina berjalan mendekat.

"Cukup tarik napas, tenangkan diri, lalu lanjutkan dari kalimat terakhir yang kamu ingat."

Alesha mengangguk.

"Iya, Bu."

Ia kembali menarik napas perlahan.

Kali ini, ia berhasil melanjutkan pidatonya hingga selesai.

Bu Rina langsung memberikan tepuk tangan.

"Bagus."

Alesha tersenyum lega.

"Masih banyak kurangnya ya, Bu?"

"Masih."

Alesha langsung menundukkan kepala.

"Tapi..."

Bu Rina melanjutkan sambil tersenyum.

"Kamu punya keberanian. Tinggal melatih intonasi, kontak mata, dan rasa percaya diri."

Mendengar itu, wajah Alesha kembali cerah.

"Saya akan latihan lagi, Bu."

"Ibu yakin kamu bisa tampil jauh lebih baik saat lomba nanti."

Ucapan itu membuat semangat Alesha tumbuh kembali.

Ia mengepalkan kedua tangannya pelan.

"Aku pasti bisa."

Dan untuk pertama kalinya...

Alesha mulai benar-benar percaya pada kemampuannya sendiri.

Sebelum Alesha berpamitan, Bu Rina kembali memanggilnya.

"Alesha."

"Iya, Bu?"

"Ibu mau memberi satu saran lagi."

Alesha kembali menghampiri meja gurunya sambil membawa map biru di dadanya.

"Jangan hanya menghafal isi pidatonya."

Alesha tampak bingung.

"Maksudnya, Bu?"

"Kalau kamu hanya menghafal, saat lupa satu kalimat kamu akan ikut lupa kalimat berikutnya."

Alesha mengangguk pelan, mulai memahami maksud gurunya.

"Cobalah pahami isi pidatonya. Kalau kamu mengerti apa yang ingin disampaikan, meskipun ada satu dua kalimat yang terlupa, kamu tetap bisa menyampaikannya dengan bahasamu sendiri."

Mata Alesha berbinar.

"Oh... jadi bukan sekadar menghafal."

"Betul."

Bu Rina tersenyum hangat.

"Ibu melihat kamu punya potensi. Tinggal latih kepercayaan dirimu."

Mendengar ucapan itu, rasa gugup di hati Alesha perlahan berubah menjadi semangat.

Ia membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat.

"Terima kasih banyak, Bu. Saya akan berlatih lebih giat."

"Ibu tunggu perkembanganmu besok."

Alesha mengangguk mantap.

"Baik, Bu."

Ia pun keluar dari aula dengan langkah yang jauh lebih ringan dibanding saat pertama kali datang. Map biru di tangannya kini terasa bukan lagi sebagai beban, melainkan sebagai awal dari tantangan baru yang ingin ia taklukkan. Di dalam hatinya, ia berjanji akan memberikan penampilan terbaik saat hari lomba tiba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!