NovelToon NovelToon
BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Ia hanya membiarkan Aurora berada dalam pelukannya, sementara pikirannya dipenuhi satu kesadaran yang tidak bisa lagi ia abaikan:

perempuan yang selama ini berusaha ia lindungi ternyata sudah menjadi bagian yang begitu penting dalam hidupnya.

Dan malam itu, di tengah gelapnya mansion serta suara badai yang mulai terdengar dari kejauhan, keduanya hanya berdiri dalam diam—mencoba menemukan kembali rasa aman di antara satu sama lain.

“Aku takut… aku benar-benar takut. Tolong, jangan tinggalkan aku.” ucap Aurora dengan mata terpejam erat.

Kael terdiam sesaat. Ia tidak menyangka perempuan itu akan mencari perlindungan kepadanya. Namun melihat tubuh Aurora yang masih gemetar, nalurinya untuk melindungi jauh lebih kuat daripada rasa canggung yang sempat muncul.

Kael perlahan mengusap lembut punggung Aurora, berusaha memberikan ketenangan kepada wanita cantik itu.

“Aku tidak akan pergi. Tenanglah, aku ada di sini.”

Aurora perlahan melepaskan pelukannya. Namun rasa takut membuatnya kembali meringkuk, memeluk lututnya sendiri dan menundukkan wajah.

“Aku juga… takut padamu.”

Kalimat itu membuat Kael menatapnya tajam.

Ia menatap Aurora beberapa saat sebelum berkata dengan suara lebih rendah, “Kalau begitu, jangan menjauh. Tetaplah di dekatku.”

Aurora tidak menjawab.

“Peluk aku, Aurora.” lanjut Kael tegas. “Aku tidak ingin melihatmu sendirian dalam keadaan seperti ini. Setidaknya jangan sampai aku berubah pikiran dan membunuhmu.”

Aurora masih membeku, seolah pikirannya belum mampu mengejar keadaan.

“Dengar,” ujar Kael sekali lagi, kali ini lebih lembut. “Kemarilah.”

Barulah Aurora mengulurkan tangannya. Dengan langkah ragu, ia mendekat dan kembali berlindung dalam pelukan Kael.

Kael menundukkan kepala, memperhatikan wajah Aurora yang masih menyimpan ketakutan.

“Kau terlihat begitu ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Aurora menarik napas panjang. Suaranya nyaris berbisik.

“Gelap membuatku takut. Aku benar-benar tidak tahan berada di tempat seperti ini.”

Kael terdiam.

Di tengah suara hujan dan gemuruh badai di luar, untuk pertama kalinya malam itu, ia menyadari bahwa yang dibutuhkan Aurora bukan kemarahan atau perintah—melainkan seseorang yang bersedia tetap tinggal sampai ketakutannya perlahan mereda.

Aurora masih enggan membuka matanya. Kegelapan membuat dadanya terasa sesak, sehingga berada di ruangan terbuka terasa jauh lebih menenangkan baginya daripada terkurung dalam kamar yang tanpa cahaya.

“Aku tidak pernah benar-benar berani tidur sendirian,” ucapnya lirih. “Biasanya aku meminta Kak Adrian atau teman-temanku untuk menemaniku. Aku selalu takut sesuatu yang buruk terjadi ketika aku sedang terlelap.”

Kael memperhatikannya sejenak. Wajah lelaki itu tetap tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia mulai memahami ketakutan yang selama ini disembunyikan Aurora.

“Kau terlalu banyak memikirkan hal-hal buruk,” katanya pelan. “Sekarang cobalah beristirahat. Aku akan tetap di sini.”

Aurora terdiam.

Entah mengapa, kehadiran Kael perlahan membuat kegelisahan di dalam dirinya mereda. Untuk pertama kalinya sejak listrik padam, ia merasa tidak sepenuhnya sendirian menghadapi gelap.

Kael perlahan menuntun Aurora ke tempat tidur. Lalu merebahkan dirinya tepat di samping wanita cantik itu.

“Jangan pergi sebelum aku tertidur.”

“Aku tidak akan pergi.”

Jawaban singkat itu membuat Aurora sedikit lebih tenang.

Ia tetap memejamkan mata, membiarkan dirinya bersandar dalam pelukan Kael. Sesekali ia menggumamkan hal-hal kecil yang tidak beraturan, seolah rasa kantuk mulai mengalahkan kecemasannya.

“Aku cuma… tidak ingin sendirian malam ini.”

Kael tidak menjawab segera. Ia hanya memastikan Aurora tetap merasa aman di dekatnya.

Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Kael membuka suara pelan, nyaris seperti sebuah bisikan.

“Kalau anak ini benar-benar darah dagingku, aku akan memastikan dia mendapatkan kehidupan yang layak. Apa pun yang dia butuhkan, akan kusediakan. Namun, jika suatu hari hasil pemeriksaan mengatakan sebaliknya, kau harus siap menerima semua akibat karena berani membohongiku.”

Aurora menghela napas panjang. Ia sudah terlalu lelah untuk terus mempertahankan dirinya di hadapan sikap keras Kael.

“Percayalah sesukamu. Aku tidak akan memaksamu,” jawabnya lirih. “Tapi aku tahu satu hal—aku tidak pernah berbohong kepadamu. Anak ini adalah darahmu.”

Kael tetap diam beberapa saat.

“Aku hanya berharap,” lanjut Aurora, “ketika bayi ini lahir nanti, wajahnya cukup mirip denganmu untuk membuat semua keraguan itu berhenti. Semoga kau tidak perlu mempertanyakan lagi siapa ayahnya.”

Tatapan Kael berubah dingin.

“Seberapa keras pun kau meyakinkanku, aku tetap akan berpegang pada sesuatu yang bisa dibuktikan. Aku tidak ingin mengambil keputusan hanya berdasarkan perkataan.”

Aurora menunduk. Ada rasa lelah yang semakin berat di dadanya.

“Aku mengerti.”

Kael melanjutkan dengan suara tegas, “Selama belum ada kepastian, aku tidak akan menutup kemungkinan apa pun. Jadi jangan meminta kepercayaan dariku sebelum semuanya jelas.”

Aurora memilih diam. Percuma berdebat ketika Kael sudah mengunci pikirannya sendiri.

Beberapa saat kemudian, ia memberanikan diri bertanya.

“Kalau begitu… sebenarnya apa yang membuatmu memutuskan untuk menikahiku?”

Kael menoleh.

Aurora menggenggam jemarinya sendiri, lalu berkata dengan suara nyaris berbisik,

“Karena kalau hanya soal keadaan yang terjadi di antara kita, keputusanmu terasa terlalu besar. Padahal sebelum semua ini terjadi, aku sudah memiliki rencana untuk menikah dengan orang lain.”

Kalimat terakhir itu membuat suasana di antara mereka mendadak berubah.

Kael terdiam.

Pertanyaan itu sederhana, tetapi entah mengapa sulit baginya untuk menemukan jawaban. Bahkan ketika mencoba menjawab untuk dirinya sendiri, pikirannya justru dipenuhi berbagai alasan yang saling bertentangan.

Pernikahan mereka memang bermula dari keadaan yang tidak pernah direncanakan. Namun kini, ikatan itu telah menjadi sesuatu yang tak mudah dilepaskan.

Hening cukup lama menyelimuti ruangan sebelum Kael akhirnya bersuara.

“Kalau saja kakakmu memilih pria yang benar-benar pantas untukmu, aku tidak perlu repot-repot menjadi pengantin pengganti.”

Aurora mengernyit.

“Memangnya apa yang salah dengan Brema?”

Kael menatapnya datar.

“Kau benar-benar tidak tahu siapa pria itu?”

“Apa maksudmu?”

“Brema memang terlihat seperti pria biasa di hadapanmu,” jawab Kael dingin. “Tapi sebelum mengenalmu, dia sudah memiliki reputasi yang cukup buruk.”

Aurora terdiam sejenak.

“Reputasi seperti apa?”

Kael menyandarkan tubuhnya, lalu berkata dengan nada penuh sindiran,

“Dia pria panggilan para wanita kaya, Aurora.”

Mata Aurora langsung membesar.

“Kael! Jangan asal menuduh!” sentak Aurora sambil memukul kuat lengan Kael, hingga membuat pria tampan itu mengumpat pelan.

“Aku tidak sedang bercanda, Aurora.” sahut Kael tegas.

“Brema memang punya banyak penggemar, tapi bukan berarti semua yang kau katakan benar!” ucap Aurora tak mau kalah.

Kael hanya mengangkat sebelah alis.

“Kalau begitu, mungkin kau terlalu percaya pada apa yang ingin kau lihat.”

Aurora mendengus kesal. Namun jauh di dalam pikirannya, perkataan Kael mulai menimbulkan keraguan yang tidak bisa begitu saja ia abaikan.

...****************...

1
Nur Halida
oh jadi brema kek gitu ...
tapi aku yakin walau adrian memilih seorang lelaki yg baik pun pasti kael tetap akan menggalkan pernikahan aurora😁
Yudi Chandra: Hahaha....betul juga ya😅
total 1 replies
Nur Halida
pernikahan itu terjadi karena kamu menggagalkan pernikahan aurora dg brema kael kalo kamu lupa ..
dan sekarang kamu memperlakukan aura seperti itu 🤬
dasar kael ... awas ya kamu kalo sampe bucin pada aurora
Yudi Chandra: hihihi....kamu tuh yaaaa🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
aku baru ngeh kalo sekarang aurora gak manggil om lagi😁
Nur Halida
loh kok ayahnya ??bukannya aurora dan adrian udah gak punya ortu??🤔
Yudi Chandra: Hehehe...😅 maaf ya, aku khilaf 🙏
skarang udah aku koreksi.😊
total 1 replies
Visitor7755
uhui..
Yudi Chandra: 😘😘😘😘😘
total 1 replies
Nur Halida
baru aja nikah udah mau gelut aja😁
Yudi Chandra: Hehehe....abis istrinya cantik🤭
total 1 replies
Nur Halida
nah .. gitu dong kael .. tangging jawab sama aurora ... kirain kamu gak bakal dateng .. ku susul kau ke rumahmu kalo berani gak dateng..😁
Yudi Chandra: helleh...emang tau alamatnya🤭
total 1 replies
Badkill 99
cerita nyaa baagus..tpi diaalog nyaa sedikit bngt...
maap,unfollow dan unsubscribe
Yudi Chandra: it's okey.😊 but thanks for stopping by.🙏🤗
total 1 replies
Badkill 99
dialog nya dikit banget,
Lisa
Halo Kak..aku mampir nih
Yudi Chandra: 😘😘😘💞💞💞💞
total 3 replies
Nur Halida
kenapa gak kamu aja kel yg gantiin brema malah gak datang juga terus aurora gimana kalo gak ada yg nikahin .. gak ngerti d3h sama jalan pikirannya si kael ini
Yudi Chandra: sabar buuu🤗🤭
total 1 replies
Nur Halida
ihhhh .. masih saja gak percaya kalo itu anakmu..
Yudi Chandra: sabar ya bu🤭🤭🤭🤭 jangan emosi🤗 calm down😘
total 1 replies
Nur Halida
gimana kael ???kamu rela aurora nikah sama orang laen?? buang itu ke egoisan kamu
Yudi Chandra: hahhaha...jahat banget🤭
total 1 replies
Enz99
bagus
Yudi Chandra: makaciiiiiih🙏😘
total 1 replies
Nur Halida
dasar kael .. awas ya nanti kalo anakmu lahir dan mirip kamu entr kamu rebut dari aurora .. sok sok an gak mau ngakuin anakmu sekarang
Yudi Chandra: Hahaha....smoga dapat karma dia🤭
total 1 replies
Nur Halida
kael ini umur berapa sih??
Yudi Chandra: 35 kalo nggak salah😅
total 1 replies
Nur Halida
ku kira waktu kael nyelametin aurora di rumah sakit dia udah bisa menerima aurora dan bayi dalam kandungannya .. sampe katanya mau melindunhi aurora dari siapapun yg akan menyakiti aurora tapi ternyata kael balik lagi ke mode egois dan kek karakternya cenderung plin plan .. tumben kak author bikin karakter cowok yg plin plan kek si kael ini.. gak kayak karakter ethan, aiden atau ryuga yg tegas dari awal
Nur Halida
loh kok kael gitu lagi sikapnya??bukannya tafi katanya fia mau melindungi aurora??
Resti Guriangdani
seruuuuuuuuu
Yudi Chandra: Makaciiiiiih😘🙏
Ku harap kamu nggak bosen sama ceritanya ya😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!