💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 : Kejutan yang tak diinginkan.
Viona menggigit bibir bawahnya, pikirannya mulai mencari alasan yang bisa membuat Farel mengubah pikiran. Rasa tidak nyaman semakin menguasai dirinya, terutama setelah mendapat peringatan dari Arsen tadi siang.
"Kejutannya bisa nanti saja tidak, Rel?" ucapnya dengan suara pelan namun tegas, menurunkan pandangan ke roknya. "Aku sedang datang bulan. Rasanya perutku tidak nyaman dan aku ingin segera pulang untuk istirahat."
Farel mengerutkan alis, mengurangi kecepatan mobil sedikit. "Datang bulan? Benar datang bulan atau mungkin hanya sakit perut biasa," ucapnya dengan nada sedikit tidak percaya.
Viona memeluk perutnya dengan kedua tangannya, seolah benar-benar merasakan sakit. "Ini beneran datang bulan, Rel. Sebelum turun tadi aku sudah mengeceknya ke kamar mandi, lagipula ini memang sudah tanggalnya."
Melihat kondisi Viona yang tampak lesu, Farel akhirnya menghela napas dan mengubah arah mobil ke jalan menuju rumah. Padahal dia sudah menyiapkan villa dan obat perangsang yang diberikan oleh Adit tempo hari. Tapi kalau Viona sedang datang bulan, memberikan obat perangsang pun percuma.
"Baiklah, kalau begitu kita langsung pulang saja," ucapnya dengan nada lembut, menutupi rasa kecewanya.
Viona mengangguk pelan, rasa lega mengalir dalam dirinya. "Terima kasih ya Rel. Besok kalau aku sudah baik-baik saja, aku pasti akan ikut untuk melihat kejutan yang ingin kamu tunjukkan." ucapnya dengan senyuman lembut yang dipaksakan.
Farel hanya mengangguk dan kembali fokus mengemudi. Suasana di dalam mobil kembali sunyi, namun kali ini Viona merasa jauh lebih tenang. Pikirannya kembali terbang ke Arsen, dia penasaran apa yang sedang pria itu lakukan dengan Olivia sekarang?
-
-
Diwaktu yang sama dan tempat yang berbeda, Arsen yang sudah selesai menemani Olivia pergi memilih barang untuk dihadiahkan pada suaminya pun langsung memutar balik mobilnya menuju ke arah rumah begitu dia mendapatkan telepon dari asistennya yang mengatakan jika Viona sudah pulang dijemput oleh Farel sekitar dua puluh menit yang lalu.
Arsen melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, matanya fokus pada jalan raya namun pikirannya tertuju pada Viona. Dia khawatir Farel tidak langsung membawa Viona pulang dan malah mengajak Viona pergi ke tempat lain yang jauh dari pengawasan siapapun.
"Apa dia benar-benar langsung membawanya pulang ke rumah?" pikirnya sambil mengerutkan alis, matanya terkadang melihat jam di dasbor mobil yang menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit.
Angin malam yang masuk melalui celah kaca mobil yang sengaja dibuka sedikit menusuk wajahnya, namun tidak cukup untuk menghilangkan rasa gelisah yang membuat jantungnya berdebar kencang. Dia bisa saja menghubungi langsung Viona atau Farel, tapi dia tidak ingin membuat Farel curiga dan menuduhnya terlalu banyak ikut campur urusan mereka meskipun dia tahu jika perhatian yang dia berikan terhadap Viona sudah melampaui batasan yang seharusnya.
Setelah beberapa saat berkendara, mobil yang dikendarai Arsen memasuki halaman rumah, dia menarik napas lega saat melihat mobil Farel yang sudah terparkir di halaman rumah ayahnya.
"Apa aku yang terlalu berprasangka buruk terhadap anak itu? Mungkin saja dia memang sudah mulai berubah dan tidak akan membuat ulah lagi," gumam Arsen, perlahan dia menginjak pedal rem, menempatkan mobilnya di samping mobil Farel.
Arsen membuka pintu mobil dan melangkah turun. Langkahnya sedikit lebih cepat menuju pintu yang terbuka, ketika dia masuk ke dalam ruang tamu, pandangannya langsung tertuju pada Viona yang sedang duduk di sofa tengah, ditemani oleh Kakek Danu dan Tante Saskia.
Viona sudah mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana pendek, wajahnya memang terlihat sedikit pucat tapi tidak seperti yang dia khawatirkan.
"Arsen, kamu sudah kembali," Saskia menatap Arsen dengan senyum hangat.
Tuan Danu mengalihkan pandangannya ke arah Arsen, wajahnya yang keriput menunjukkan ekspresi yang sulit ditebak. "Panjang umur... kami baru saja membicarakan kamu, Nak."
Arsen mengerutkan sedikit keningnya, "Membicarakanku?"
Tuan Danu dan Saskia saling melempar pandangan dan kemudian tersenyum, sementara Viona hanya duduk diam tanpa mau menatap pada Arsen.
Tuan Danu mengangguk, "Farel kan sudah bertunangan dengan Viona, jadi Ayah berniat untuk menjodohkan kamu dengan adik dari temannya kakak ipar kamu ini."
"Menjodohkan?" Arsen terdiam sejenak, dia melirik Viona yang kini menunduk dengan tangan menggenggam diatas pangkuan.
Saskia mengangguk perlahan, senyumnya tetap hangat. "Iya, Arsen. Namanya Clara, adik dari teman dekat Kakak. Dia baru saja kembali dari studi di luar negeri dan beberapa hari yang lalu kami bertemu saat makan siang diluar. Kamu kan sudah tidak muda lagi, sudah saatnya kamu berpikir untuk membangun keluarga sendiri, Arsen."
Tuan Danu mengangguk setuju, "Clara itu anaknya baik, cerdas, dan sangat sesuai dengan kamu dari segi latar belakang keluarga."
Arsen terdiam dengan pandangan sedikit menunduk, rasanya dia tidak bisa menjelaskan jika keinginan ayah dan kakak iparnya itu membuatnya tidak nyaman. Dia menoleh ke arah Viona, berharap bisa melihat ekspresi wajahnya, tapi gadis itu tetap tidak mau menatapnya.
"Maafkan aku, Ayah, Kakak ipar," ucap Arsen dengan nada tenang namun tegas. "Aku belum berpikir tentang hal itu untuk saat ini. Ada banyak hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu di kantor, dan aku tidak ingin memaksakan diri pada hubungan apapun jika hatiku belum benar-benar siap."
Saskia menghela napas lembut, "Kami mengerti, Arsen. Tapi setidaknya beri kesempatan untuk bertemu saja ya? Tidak ada salahnya mengenal orang baru kan? Lagipula Viona juga sudah setuju untuk ikut pergi menemanimu bertemu dengan Clara."
Kata-kata Saskia seperti kilat yang menerangi kegelapan dalam ruangan, membuat Arsen langsung mengangkat kepalanya dengan mata melebar. Dia kembali menatap Viona, kali ini gadis itu terpaksa mengangkat pandangannya, matanya penuh dengan kebingungan dan sedikit rasa bersalah.
"Viona setuju?" tanya Arsen dengan nada penuh penekanan, tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
Viona menggigit bibir bawahnya, berpura-pura tersenyum. "Aku rasa tidak ada salahnya bertemu dulu, siapa tahu Paman merasa cocok." ucapnya dengan suara pelan, tidak berani menatap mata Arsen langsung.
Arsen merasa semakin tertekan. Dia melihat Viona yang tampak tidak nyaman, lalu kembali pada ayahnya dan kakak iparnya. "Aku sangat menghargai perhatian kalian, tapi aku tetap merasa belum siap. Kalau begitu aku permisi ke kamar dulu,"
Tanpa menunggu jawaban, Arsen segera melangkah meninggalkan ruang tamu dengan langkah lebar. Hatinya berdebar kencang, campuran antara rasa kesal dan kebingungan yang membuatnya sulit bernapas dengan tenang.
Setelah masuk ke kamarnya, Arsen langsung menutup pintu dengan cukup keras dan bersandar di belakangnya. Dia menutup mata sejenak, mencoba menenangkan dirinya yang masih gelisah. Mengapa Viona harus menyetujui ide itu? Padahal dia tahu betul betapa dekatnya hubungan mereka berdua.
Arsen membuka matanya kembali, pandangannya menatap ke arah jendela yang sedikit terbuka, angin malam menerbangkan tirai tipis yang ada di sana. Dia melangkahkan kakinya menuju ke arah ranjang dengan langkah perlahan, sambil melonggarkan dasi yang masih melingkari dilehernya. Kemudian dia membuka kancing jasnya satu per satu, melepasnya dari bahunya dengan gerakan kasar dan melemparkannya ke arah sofa yang ada di sudut kamar.
"Gadis kecil itu, sepertinya dia ingin mendapatkan hukuman dariku." bisiknya dengan seringai tipis di wajah, matanya memancarkan kilatan yang sulit ditebak.
-
-
-
Bersambung...