NovelToon NovelToon
Bersyukur Menikahimu

Bersyukur Menikahimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Cintamanis / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika
Popularitas:903
Nilai: 5
Nama Author: introvert girl

Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Pasang Surut

Kehidupan rumah tangga bagai badai pasang surut, kadang gemuruhnya siap menghancurkan semua manjadi kapal pecah, kadang hanya gemuruh tipis namun mampu mengguncang sanubari.

Badai kemarin telah berlalu, kemarin adalah masa lalu dan masa kini adalah masa depan. Masa kini yang masih menunggu badai apa yang akan hadir.

Tubuh tinggi dan langsing itu masih terasa nyeri bahkan bergesekan dengan pakaian sekalipun. Memaksa untuk bangkit dari mimpi buruk yang panjang dan menghadapi hari baru.

Mentari baru yang menjadi harapan dari segala kebahagiaan semu, atau harapan itu telah menjelma menjadi tanda kasih sayang pasangan suami istri.

Clarissa tak pernah putus asa, dia dibesarkan dengan penuh cinta dan perhatian. Dukungan keluarganya sejak kecil telah membentuknya menjadi sosok yang tangguh, meskipun dia anak bungsu.

Sejenak dia berdiri didepan cermin menatap wajahnya, menurutnya lebih baik dari luka lampau namun belum menatap seluruh tubuhnya.

Dia terlalu sibuk melakukan itu karena pagi hari adalah situasi yang tidak bisa diganti. Kembali berkutat dengan wajan dan minyak panas, menyiapkan secangkir kopi dengan rasa pas permintaan sang suami.

Dan terakhir membangunkan dan menyiapkan pakaian kerja sang suami. Ethan bangun seperti biasa tanpa ada rasa gamang yang mencubit hatinya. Bekerja, bertemu relasi, dan rumah adalah rutinitasnya.

"Sayang, mana kopiku" tanya Ethan dengan nada lembut setelah duduk dengan pemandangan hidangan yang lezat diatas meja.

Tanpa mengulang pertanyaannya Clarissa hadir dari balik dapur membawa segelas kopi hangat yang pas untuk disesap. Ethan meraihnya tak lupa mengucapkan terimakasih lalu menikmatinya.

Dengan sarapan nasi goreng yang khas dari Clarissa, semua tandas tanpa sisa. Bangkit berdiri sembari meraih ponselnya yang berdering, dan berjalan ke arah pintu diikuti sang istri sementara Ethan masih fokus pada lawan bicaranya dari seberang sana.

Panggilan telepon berakhir dan segera di simpan kedalam saku celana. Clarissa yang sudah paham menyerahkan kunci mobil karena suaminya lupa mengambil sejak sibuk menjawab panggilan.

"Untung kamu ingat. Terimakasih Sayang, I love you" ucap Ethan tak lupa mengecup kening istrinya kemudian meraih kunci mobil.

Ada lambaian tangan dan senyum lebar yang menghantar lelaki itu meninggalkan pekarangan rumah. Hal itu biasa dilakukan Clarissa membuat tetangga yang kebetulan lewat merasa takjub karena sosok Ethan bisa mendapatkan istri yang telaten seperti Clarissa.

Mesti tetangga sekitar rumah jarang di rumah dan sibuk bekerja di luar namun sesekali bertegur sapa jika kebetulan bertemu, tak jarang Clarissa mendapat sanjungan karena memiliki suami yang bertanggung jawab atau pujian karena dia istri yang cantik dan telaten.

Clarissa hanya tersenyum atau menjawab seadanya ketika mendengar itu, tidak ada rasa besar kepala.

Kondisi rumah kembali hening, sejak pagi dia belum sempat mandi karena mengerjakan pekerjaan dengan tenaga lebih pelan dari sebelumnya. Ethan tak mempermasalahkan jika istrinya ikut sarapan meski kondisi sama seperti bangun tidur.

Clarissa kini berada di kamar mandi mempertontonkan tubuhnya didepan cermin menatap seluruhnya, ada beberapa bekas luka yang mengering, bahkan tak terasa perih jika disentuh, namun ada luka baru yang menampilkan warna biru keunguan terpancar jelas dikulitnya yang putih.

Perlahan dibasuh dengan air hangat dan bersyukur karena tidak terlalu nyeri. Luka dari badai kemarin masih bisa disembunyikan dengan pakaian tertutup, bahkan luka diwajah menjadi mahakarya dengan polesan make up yang digunakannya.

Mengobati luka telah usai, kini dengan pakaian rumah yang lebih santai namun tetap rapi.

Dering ponselnya berbunyi berhasil mengaburkan lamunannya, nama My Mom tertera dilayar ponsel membuat Clarissa senang dan segera menerima panggilan.

Saling bertukar kabar kedua insan yang berbeda generasi itu tampak tertawa. Semenjak menikah mereka jadi jarang bertemu, dan Mamanya memaklumi itu. Bahkan sudah mewanti-wanti itu sejak Clarissa dilamar, dia adalah ibu yang hebat karena mengajarkan kiat-kiat menjadi istri yang baik.

"Wajah kamu kenapa nak?, itu kayak ada sesuatu" pertanyaan itu terlontar begitu saja memecah tawa mereka dikala diperhatikannya wajah putrinya yang tampak tirus dan sedikit berwarna biru di pipi.

Deru nafas Clarissa tercekat di udara, menenangkan hati dan senyum yang bertambah lebar.

"Tak ada yang salah Ma, bagian mananya?" ucapnya berpura-pura sembari menyentuh pipinya.

"Mama salah lihat mungkin, atau karena pantulan cahaya dari jendela jadi warnanya tidak merata" sahutnya lagi hingga Mamanya percaya.

Baik wanita yang melahirkannya maupun mertuanya terkadang menanyakan kondisinya termasuk tentang kehamilan, namun dengan wanita yang melahirkannya membuatnya lebih berani mengutarakan pendapatnya dan tidak dianggap pembangkang.

Pembicaraan itu terputus setelah hampir satu jam mereka mengobrol banyak hal. Seketika dia teringat ucapan suaminya kemarin malam untuk menuruti keinginan mertuanya.

Meski ragu jemarinya tetap menekan panggilan yang akan menghubungkannya dengan Mama mertuanya.

"Hallo Ma, selamat pagi"

"Iya Hallo Sa, selamat pagi"

"Mama sudah sarapan?"

"Iya, ini sedang sarapan bersama Kenzo dan Papa. Kamu sedang apa?"

"Baru saja selesai beresin rumah, tadi udah sarapan sama Mas Ethan"

"Oh gitu, kenapa tadi telepon Mama Sa?"

"Ma, aku setuju ikut saran Mama buat konsultasi program hamil"

"Oh ya, Ok Mama hubungi teman Mama dulu ya untuk menanyakan dokter kenalannya. Nanti Mama Kabari lagi ya"

Panggilan terputus, namun dengan dua perasaan yang berbeda. Dari seberang tampak antusias dan dari sisi lain tampak menetralkan degup jantung dan rasa sesak yang mengikat perasaannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!