Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saksi Yang Harus Dibungkam
Jeritan Lunaria Vareinne masih menggema di gudang sempit itu.
Darah mengalir dari bahunya dan menodai gaun putihnya dengan warna merah terang.
Para pelayan panik dan menjerit ketakutan dan beberapa lainnya langsung berlutut ketakutan.
Sementara Duke Cedric Vareinne memegang Lunaria dengan wajah gelap yang menakutkan.
“Panggil tabib!” teriaknya “Sekarang!” Perintah Duke Cedric.
Para pengawal langsung bergerak cepat untuk memanggil tabib.
Di sisi lain, Leonard Aster sudah menghilang keluar jendela untuk mengejar penyerang.
Namun Arcelia Vareinne tetap berdiri diam. Tatapannya terkunci pada anak panah hitam yang tertancap di lantai.
Simbol ular melingkar itu terlihat jelas. "Black Serpent, mereka benar-benar mulai panik sekarang." batin Arcelia tangannya mengepal.
[Analisis aktif.]
[Racun tingkat tinggi terdeteksi.]
[Efek: kelumpuhan saraf.]
Auriel langsung melompat ke dekat Lunaria dan menyipit tajam ke arah luka di bahu Lunaria itu.
“Sepertinya mereka ingin Lunaria mati cepat.” Kata Auriel.
Duke Cedric langsung menoleh ke arah Auriel. “Apa? Mereka ingin membunuh Lunaria?."
Auriel terkejut sesaat dan langsung mengangkat dagu kecilnya. “Panah itu beracun.” kata Auriel.
Wajah Lilian langsung pucat mendengar ucapan Auriel sedangkan Duke Cedric segera memeriksa warna darah Lunaria.
Dan benar warna merahnya mulai menggelap perlahan.
Kutukan pelan keluar dari bibir Duke.
“Bawa dia ke kamar!” perintah Duke Cedric.
Beberapa pengawal segera mengangkat Lunaria dengan hati-hati.
Gadis itu tampak semakin panik sekarang. “Ayah…Tolong…” kata Lunaria.
Duke Cedric menggenggam tangannya erat. “Kamu tidak akan mati.” kata Duke menenangkan Lunaria.
Namun mata Lunaria justru bergerak cepat mencari Arcelia.
Tatapan mereka bertemu sesaat dan Arcelia dapat melihat keputusasaan yang nyata di mata Lunaria itu.
Ketakutan seorang anak yang sadar dirinya akan dibungkam.
Setelah semua orang keluar, gudang kembali sunyi hanya tersisa Arcelia, Auriel, dan Lilian.
“Apa menurutmu Lunaria akan bicara?” tanya Lilian pelan kepada Auriel.
Auriel menggeleng kecil. “Kalau dia pintar, iya.” katanya.
“Kalau tidak… dia benar-benar akan mati sebelum malam.” lanjut Auriel.
Arcelia berjalan mendekati meja rahasia tadi. Surat setengah terbakar masih ada di tangannya.
Tatapannya perlahan menyipit. “Festival Kekaisaran…” gumamnya.
Auriel melompat ke meja. “Mereka sedang terburu-buru. Karena rencana mereka mulai bocor.” kata Auriel kepada Arcelia.
“Kamu benar.” kata Arcelia.
Arcelia memperhatikan seluruh ruangan kecil itu sekali lagi.
Botol racun.
Kertas kode.
Jejak pertemuan rahasia.
Semuanya terlalu terorganisir.
Dan satu hal mulai terasa jelas Elena bukan dalang utama. Dia hanya dijadikan pion yang terlalu dalam terlibat.
“Nona…" Lilian tiba-tiba menunjuk sudut ruangan. “Apa itu?” tanya Lilian.
Arcelia menoleh kearah yang ditunjukkan oleh Lilian. Di bawah meja kayu terdapat lambang kecil terukir di lantai.
Lingkaran hitam dan didalamnya ada ular melilit mawar di tengahnya.
Tatapan Auriel langsung berubah tajam. “…Mawar hitam.”
“Apa maksudnya lambang ini." tanya Arcelia.
Auriel terlihat ragu, “Itu simbol cabang elit Black Serpent.” katanya akhirnya.
Mata Arcelia menyipit. “Anggota cabang elit?” tanya Arcelia bingung.
“Mereka tidak menerima sembarang anggota. Hanya orang-orang penting kerajaan.” kata Auriel menjelaskan.
Berarti organisasi itu sudah menyusup sampai kalangan bangsawan tertinggi. Dan mungkin lebih dekat ke istana daripada dugaan awal mereka.
“Nona…” Lilian tampak semakin takut. “Kalau begitu kita dalam bahaya besar…” kata Lilian mengingatkan Arcelia.
“Aku tahu.” jawab Arcelia.
Namun anehnya Arcelia justru merasa semakin tenang. Karena semakin besar permainan ini semakin jelas tujuan musuhnya. Dan itu jauh lebih baik dibanding berjalan dalam kegelapan.
Tiba-tiba—
[Misi tersembunyi terbuka.]
[Identifikasi anggota Mawar Hitam.]
[Hadiah: Skill Mata Kebenaran Lv.1.]
Auriel langsung menoleh cepat. “Mata Kebenaran?” Auriel tampak teihat sangat terkejut.
“Skill itu sangat langka.” kata Auriel.
“Memangnya ini berfungsi untuk apa?." tanya Arcelia bingung.
Auriel mengibaskan ekornya perlahan.
“Kalau sudah mencapai levelnya tinggi kamu bisa melihat kebohongan, niat membunuh… bahkan energi tersegel.” jelas Auriel.
"Menarik. Skill seperti itu akan sangat berguna mulai sekarang." batin Arcelia.
Karena musuhnya semakin banyak yang memakai topeng.
Dan tepat saat Arcelia hendak bicara langkah kaki cepat terdengar dari luar gudang.
Leonard telah kembali dan napasnya sedikit berat. Namun wajahnya jauh lebih berat dibanding sebelumnya.
“Aku kehilangan dia,” katanya rendah.
Auriel langsung mendengus kecil. “Sudah kuduga.”
“Tapi…” lanjut Leonard.
Tatapannya perlahan jatuh pada Arcelia. “Aku menemukan sesuatu di luar tembok mansion.” kata Leonard.
“Kamu menemukan petunjuk?." tanya Arcelia.
Leonard mengeluarkan sepotong kain hitam dari balik mantelnya.
Di kain itu terdapat lambang kerajaan. Namun di atas lambang tersebut ada simbol ular hitam kecil tercetak samar.
Mata Arcelia langsung berubah tajam dan Leonard berkata pelan,
“Black Serpent… mungkin sudah masuk ke dalam istana.”