NovelToon NovelToon
Di Manja Suami Om-Om

Di Manja Suami Om-Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta setelah menikah / Cintamanis
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Menurut Karina, Nara sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Karena memang Karina sengaja tidak menemui pengantin, selain karena malu, Karin datang hanya ingin melihat berita yang sengaja Karin sebarkan.

Padahal justru sebaliknya. Sejak Karin membuat masalah, Nara sudah menyusun langkah dengan tenang. Nara meminta kedua orang tuanya untuk tidak membawa seluruh keluarga besar. Bukan karena malu, bukan pula karena ingin membatasi kebahagiaan. Tapi karena Nara tahu. Karina tidak akan berhenti.

Dan jika tidak bisa menjatuhkan dirinya secara langsung, maka keluarganya lah yang akan dijadikan sasaran.

Nara cukup mengenal keluarganya. Ia mencintai mereka, tapi ia juga sadar, ada beberapa yang terlalu polos, terlalu blak-blakan, atau terlalu mudah terpancing. Di tangan orang seperti Karina, satu kalimat saja bisa dipelintir menjadi bahan gosip yang memalukan.

Maka Nara memilih orang-orang yang ia tahu bisa menjaga sikap. Semua Nara siapkan rapi.

Sementara itu, di sudut ballroom, Karina mulai menjalankan rencana berikutnya.

Karin mendekati seorang wanita muda yang berdiri tak jauh darinya, Gaunnya anggun, wajahnya lembut. Karina tahu itu adik Indah, yaitu Feni.

Dengan senyum manis yang dibuat-buat, Karina menyapa. “Tante Feni, kan? Adiknya tante Indah?” Karin menyapa Feni.

Feni tersenyum sopan. “Iya.”

Karina mendekat sedikit, menurunkan suaranya seolah ingin berbagi rahasia.

“Aku cuma penasaran… dulu sebelum menikah, Nara itu kerja di rumah Arkan, ya? Jadi ART?”

Pertanyaan itu dilempar dengan nada polos, tapi mata Karina berbinar penuh maksud. Ia berharap melihat ekspresi terkejut. Atau rasa malu. Atau kegugupan.

Namun yang Karin dapatkan justru sesuatu yang membuatnya ingin menggertakkan gigi.

Feni tersenyum tipis. “Iya, betul.” jawab Feni dengan enteng.

Karina menahan napas, menunggu reaksi berikutnya.

Tapi Feni tidak terlihat canggung. Tidak ada rona malu. Tidak ada usaha menyangkal. Ekspresinya biasa saja. Tenang. Bahkan bangga.

“Terus?” tanya Feni santai.

Karina sedikit terdiam. “Maksudku, ya jarang aja sih, ART bisa jadi menantu keluarga sebesar ini.” kata Karin memprovokasi.

Feni mengangguk pelan. “Jarang, tapi bukan nggak mungkin.” jawab Feni tetap tenang. Nada suaranya tetap datar.

"Nara kerja sebagai ART bukan karena nggak punya kemampuan. Dia lagi butuh biaya kuliah. Dia kerja jujur. Nggak pernah ambil hak orang. Mungkin kalau orang seperti kamu ngga tahu bagaimana susahnya cari kerja, jadi Art juga pekerjaan yang baik loh, malah Nara bonusnya Arkan jatuh cinta sama dia.” Feni menatap Karina lurus.

“Menurutku itu lebih membanggakan daripada cuma numpang nama orang lain.” lanjut Feni.

Ucapan Feni halus. Tidak kasar. Tapi cukup tajam.

Karina merasakan wajahnya memanas. Ia ingin memancing rasa malu, yang muncul justru rasa hormat.

Beberapa tamu di sekitar Karin dan Feni yang tampak ikut mendengar percakapan itu. Bukannya terkejut, mereka justru terlihat terkesan.

“Hebat ya,” bisik salah satu tamu.

“Berarti memang dari dulu pekerja keras.”

Narasi yang Karina bangun untuk merendahkan berubah menjadi pujian.

Karina menggenggam tasnya lebih erat.

Sementara itu, di atas pelaminan, Nara sesekali melirik ke arah sudut ruangan. Tatapannya tenang, hampir seperti seseorang yang sedang mengamati permainan catur.

Nara tahu Karina sedang bergerak. Dan ia tahu, setiap langkah sudah ia perhitungkan.

Nara tidak menyangkal masa lalunya. Ia tidak malu pernah menjadi ART. Karena yang memalukan bukan pekerjaan. Melainkan niat menjatuhkan orang lain.

Dan semakin Karina mencoba membuka aib yang Karin kira memalukan, semakin Nara terlihat mulia.

Langkah kaki Karina terdengar cepat di atas lantai marmer ballroom.

Gaun mahal yang ia kenakan tidak lagi terasa anggun. Setiap senyum yang tadi ia paksakan kini menghilang. Rencananya runtuh satu per satu. Gosip yang ia tebar berbalik menjadi pujian. Sindiran yang ia lempar berubah menjadi pembelaan untuk Nara.

Karin tidak tahan lebih lama. Dengan wajah yang berusaha tetap angkuh, Karina mengambil tasnya dan melangkah keluar dari pesta resepsi yang semakin meriah.

Di atas pelaminan, Nara sedang menerima ucapan selamat dari salah satu relasi bisnis keluarga Arkan. Namun di sela-sela itu, ujung mata Nara menangkap siluet seseorang yang berjalan menuju pintu keluar.

Nara tahu. Tanpa perlu melihat jelas pun, ia tahu siapa itu. Yaitu Karina. Langkahnya cepat. Bahunya tegang. Tidak lagi mencoba terlihat santai.

Dan akhirnya, diatas pelaminan, Nara membiarkan sudut bibirnya terangkat sedikit lebih lebar. Bukan senyum sombong. Bukan senyum meremehkan. Tapi senyum seseorang yang berhasil menjaga kehormatannya tanpa harus menjatuhkan orang lain.

“Kamu pikir kamu sudah cukup pintar?” bisik Nara dalam hati.

Ada sorak kecil yang meledak diam-diam di dada Nara. Ia ingin tertawa, tapi ia menahannya. hari ini bukan tentang membalas. hari ini tentang kemenangan yang elegan.

Karena Nara tidak melawan dengan kebohongan. Ia melawan dengan persiapan. Dengan perhitungan. Dengan mengenal kelemahan dirinya dan keluarganya, lalu menutup celah sebelum orang lain sempat menusuknya.

Arkan yang berdiri di samping Nara menoleh pelan. “Kenapa senyum sendiri?” tanya Arkan yang menyadari Nara tersenyum lebih lebar.

Nara menggeleng lembut. “Nggak kenapa-kenapa.” jawab Nara yang tentunya berbohong.

Arkan menatap Nara lebih lama, lalu menggenggam tangannya sedikit lebih erat. “Kamu capek?” tanya Arkan.

Nara menggeleng lagi. “Enggak. Aku cuma bahagia.” jawab Nara yang tersenyum manis ke arah Arkan.

Dan itu tidak sepenuhnya bohong. Nara bahagia. Bahagia karena ia tidak lagi menjadi gadis yang dulu mudah diremehkan. Bahagia karena ia tidak runtuh saat orang mencoba membuka masa lalunya. Ia tidak menyangkal siapa dirinya dulu. Ia hanya membuktikan bahwa masa lalu bukan bahan hinaan, melainkan fondasi.

Lampu kristal berkilauan di atas mereka. Musik mengalun lembut. Tawa dan doa memenuhi ruangan.

Di luar gedung, Karina melangkah masuk ke mobilnya dengan perasaan kalah yang pahit.

Di dalam gedung, Nara berdiri tegak sebagai nyonya baru keluarga Arkan. Bahkan beberapa tamu masih saja memuji Nara, gadis cantik dengan bakat yang luar biasa, karena Nara menggunakan gaun rancangannya sendiri dan hampir semua tamu mengatakan gaun Nara sangat indah.

Sedangkan orang tua Nara merasakan perasaan yang berbeda, sedikit menyesal karena dulu selalu meremehkan Nara, tapi sekarang anak gadis mereka sudah menjadi istri seorang pria yang terlihat sangat mencintai Nara.

Ayahnya Nara merasa sangat bersalah, saking merasa bersalahnya sampai malu, karena dulu memaksa Nara untuk langsung bekerja dan meremehkan Nara yang ingin kuliah.

"Kamu lapar?" bisik Arkan ditelinga Nara.

"Iya, tapi ngga tahu makanannya ada apa saja." jawab Nara yang juga berbisik.

"Mau istirahat dulu untuk makan? Kita bisa izin ke kamar." kata Arkan.

"Engga enak, masih banyak tamu." jawab Nara.

"Tamunya terlalu banyak, padahal aku sudah pengen makan kamu." kata Arkan yang langsung membuat Nara mencubit lengan suaminya.

Arkan tertawa karena mendapatkan cubitan, dan hal itu menjadi momen langka, karena beberapa karyawan Arkan di kantor jarang melihat bos mereka tertawa, dan di pesta pernikahannya melihat bos mereka tertawa.

beberapa orang berbisik, karena Arkan sudah benar-benar bertemu pawangnya.

1
Risma Surullah
alurnya bagus
Mita Paramita
hempaskan pelakor 🤣🤣🤣
Drama Queen
lanjut
piah Hasan
1001 ya cara pwrempuan mau jadi pelakor..
Uthie
keep dulu ya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!