NovelToon NovelToon
CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Sistem / Cintapertama / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aulia risti

Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Kepatuhan

***

Beberapa hari berlalu.

Elara tak lagi menginjakkan kaki ke Rumah Utama. Tak ada lagi langkah kecilnya di lorong belakang, tak ada bayangannya di tepi hutan. Sepulang sekolah, ia langsung kembali ke pondok.

Di sisi lain, di lantai atas Rumah Utama—

Lucien berdiri di depan jendela tinggi, kedua tangannya bersedekap di belakang punggung. Pandangannya kosong menembus taman.

“Lucien.”

Seraphina melangkah masuk dengan anggun, gaunnya berdesir pelan. Senyum bangsawan terpatri rapi di wajahnya—tak berlebihan, tak pula tulus sepenuhnya.

“Apa pendapatmu tentang rancangan gaun pernikahan kita? Ibuku mengirimkan tiga sketsa pagi ini.” tanyanya santai.

Lucien tidak menoleh.

“Pilih saja yang kau suka,” jawabnya datar.

Seraphina berhenti melangkah. Alisnya terangkat tipis, namun senyumnya tetap terjaga.

“Yang ku suka?” ulangnya pelan. “Ini pernikahan kita, tidak bisakah berpura-pura tertarik.”

“Berpura-pura adalah keahlianmu, bukan aku.” Kata nya tajam.

Seraphina hanya menarik napas kecil, lalu melangkah lebih dekat.

“Kau tidak lupa, Tuan Marquis,” ucapnya tenang, “jika kau terus bersikap seperti ini, ibumu akan menyadarinya.”

Lucien akhirnya berbalik.

“Dan menurutmu,” katanya dingin, “apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Tatapan mereka bertemu.

“Kau mengancamku?”

Seraphina tertawa kecil—tawa cantik khas bangsawan, terlatih dan menawan. Ia tidak langsung menjawab. Tangannya terangkat, jemarinya menyusuri lengan Lucien perlahan, terlalu akrab untuk disebut sopan.

“Kau tahu betul aku, Lucien,” bisiknya.

“Meskipun aku pertama kali datang ke Valenbourg sebagai tamu, jangan lupa… kita tumbuh bersama di perbatasan.”

Tangannya kini berada di dada Lucien, tepat di atas jantungnya.

“Kau tahu bagaimana aku bermain. Gadis itu mungkin dia yang akan jadi domba nya?!”

Lucien menepis tangannya.

“Permainan seperti itu tidak pernah menarik bagiku.”

Seraphina tidak tersinggung. Justru ia tersenyum lebih lebar.

“Ah, tapi kau masih ikut bermain,” katanya ringan. “Jika tidak, kau tentu sudah menolak pernikahan ini sejak awal.”

“Itu bukan pilihan,” sahut Lucien cepat.

“Tidak?” Seraphina mendekat lagi. “Atau kau hanya takut pada konsekuensinya?”

“Kau terlalu percaya diri, lady Seraphina”

“Dan kau terlalu buruk dalam menyembunyikan perasaan,” balas Seraphina halus. “Kau berubah akhir-akhir ini, Lucien. Kau lebih berperasaan.”

Seraphina mendongakan kepala, menatapnya penuh selidik.

“Apakah mungkin kau memiliki perasaan pada gadis bernama Elara itu?”

Deg!

Lucien terdiam sepersekian detik. Namun, senyum tipis segera terukir diwajahnya.

“Jangan mengada-ada.” jawab Lucien dingin dan tenang.

“Jika begitu,” Seraphina merapikan manset gaunnya, kembali pada sikap bangsawan sempurna, “bersikaplah sebagaimana mestinya. Tersenyumlah saat dan datanglah ke jamuan. Dan tunjukkan pada semua orang bahwa Marquis Valenbourg menginginkan calon istrinya.”

Serpihana melangkah menuju pintu, lalu berhenti.

“Karena jika kau tidak melakukannya,” lanjutnya tanpa menoleh,

“aku yang akan mengatur narasinya.”

Pintu tertutup pelan.

Lucien tetap berdiri di tempatnya, rahangnya mengeras. Pandangannya kembali ke luar jendela.

***

Elara berdiri di halaman, menjemur pakaian di tali sederhana. Gerakannya pelan, nyaris tanpa suara—seolah ia tak ingin keberadaannya disadari dunia.

“ELARA.”

Suara itu datang tiba-tiba.

Tubuh Elara menegang.

Gadis itu menoleh, dan seketika wajahnya memucat.

Lucien berdiri beberapa langkah dari pagar kayu, mantel bangsawannya kontras dengan kesederhanaan pondok itu. Entah sejak kapan ia di sana.

Tanpa sepatah kata, Elara segera berbalik.

Langkahnya cepat—hampir berlari—menuju pintu.

“Elara, tunggu.”

Ucapan itu membuat langkahnya terhenti.

Elara tidak berani menoleh. Apalagi saat ia mendengar suara sepatu Lucien mendekat,# satu langkah… dua langkah… terlalu dekat.

“Apa kau sedang menghindar dariku?” tanya Lucien tajam.

Elara menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Ia akhirnya berbalik, lalu menunduk dalam, memberi hormat sebagaimana mestinya.

“Tidak, Tuan Marquis, bagaimana mungkin saya berani melakukan hal seperti itu.” jawabnya pelan

Lucien menatapnya lama, seakan mencoba menembus jawaban yang terlalu rapi itu.

“Kalau begitu, mengapa kau tidak lagi datang ke Rumah Utama?” katanya dingin.

Jantung Elara berdegup keras.

Astaga… bagaimana mungkin ia menyadarinya?

Apa yang sebenarnya ia inginkan sekarang?

“Maaf tpuan,” ujarnya hati-hati.

“Belakangan ini saya sibuk dengan pelajaran di sekolah.”

Jawaban itu tidak sepenuhnya bohong—dan justru itulah yang membuatnya aman.

“Kau selalu punya alasan yang terdengar masuk akal,” katanya pelan.

Elara menggenggam ujung roknya.

“Aku tidak bermaksud demikian.”

“Namun itulah yang terjadi.” potong Lucien cepat.

“Tuan Marquis? Anda berada di sini?”

Suara itu datang tanpa beban, terlalu tiba-tiba.

Eryn berdiri di ujung halaman dengan senyum khasnya—terlalu santai untuk situasi yang sedang tegang. Ia segera menunduk memberi hormat, namun keterkejutan jelas terlihat di wajahnya.

“Selamat siang, Tuan Marquis.”

Lucien meliriknya sekilas.

Tatapan itu jelas—tidak suka.

“Kau sering berada di sini,” ujar Lucien datar.

Eryn terkesiap kecil, lalu tersenyum canggung.

“Aku hanya memastikan Elara tidak sendirian, Tuan.”

“Menarik, Sejak kapan urusan itu menjadi tanggung jawabmu?” Balas Lucien.

Elara refleks melangkah maju.

“Tuan Marquis, Eryn tidak bermaksud—”

“Diam. Aku sedang berbicara dengannya.” potong Lucien tenang, tanpa meninggikan suara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!