Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laporan
Segarnya angin dan aroma roti yang dipanggang adalah perpaduan yang sempurna untuk menyambut pagi. Tapi sayangnya, Hita tak sama sekali menikmati pagi cerahnya.
Pikirannya masih tak lepas dari malam itu begitu Dirga merenggutnya secara paksa.
Itu benar-benar membuat Hita ketakutan setengah mati sekaligus tak berdaya untuk berbuat apa-apa lagi.
Hita tak sama sekali berpikir untuk memberitahu ini pada Dirga, itu adalah keputusan yang bodoh.
Walaupun Hita tau dirinya ini bodoh, ia tak ingin dianggap lebih bodoh lagi jika membeberkan bahwa Dirga secara tak sadar merenggut kegadisannya.
Laki-laki itu pasti menuduhnya mengada-ada, berhalusinasi dan menganggapnya tak tau diri. Ia sudah bisa memprediksi hal itu.
"Kau membuat rotinya gosong."
Hita mengerjap sadar dari lamunannya begitu mendengar bisikan Bram di telinganya.
"Yah!" Buru-buru Hita membalik roti, cemberut begitu mendapati sisi lainnya yang menghitam karena gosong.
Melamun benar-benar membuatnya tidak becus.
Hita mematikan kompor elektrik itu dan meletakkan roti di atas piring dengan kekecewaan yang malah membuat Bram terkekeh gemas.
"Kak Bram kenapa di sini?" tanya Hita, menatap Bram dari bahunya saat Bram berdiri tepat di belakangnya.
"Hanya mengikuti aroma roti lezat yang tiba-tiba gosong," balas Bram, tersenyum menawan begitu melangkah berdiri di samping Hita.
"Ada apa?" tanya laki-laki itu, tangannya menapak di sisi konter. "Kenapa kau termenung seperti itu? apakah ada yang menggangu pikiranmu?"
Hita balas tersenyum, meletakkan alat yang awalnya ia kenakan untuk memanggang roti itu pada wastafel.
"Tidak ada yang menggangu pikiranku, Kak," balasnya. "Hanya lelah saja."
"Hanya lelah saja atau sedih karena perkataan Dirga tadi?" terka Bram, mencondongkan diri ke arah Hita dengan alis naik turun jenaka.
"Aku rasa kau tidak perlu sedih karena itu," lanjut Bram berkata. "Semua orang juga mengatakan bahwa masakanmu itu enak, Dirga hanya gengsi saja."
Mendengar ucapan Bram itu membuat senyum Hita semakin lebar. Entah kenapa Bram tau sekali dengan apa yang ia pikirkan.
Jujur saja Hita sedikit sedih begitu Dirga mengatakan bahwa masakannya tak terlalu enak baginya. Tapi Hita mengerti, Dirga tak akan pernah memujinya bahkan pada hal sepele seperti masakan.
"Aku tidak sedih karena itu" Hita menggeleng. "Lagipula kan selera orang beda-beda. Bisa saja kak Dirga memang tidak menyukai masakanku."
Bram mengangguk, sedikit kagum dengan cara perempuan di hadapannya itu menanggapi. "Kau benar, kalau begitu aku akan menganggapnya sebagai orang dengan selera makanan yang buruk."
Hita mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Karena dia tidak menyukai masakanmu."
Bram menahan pergelangan tangan Hita begitu perempuan itu hendak membuang roti gosong buatannya ke dalam bak sampah kecil.
Hita yang melihat itu semakin heran, menatap Bram dengan tatapan bingung. Mata bulat perempuan cantik itu mengerjap, memperhatikan tangan Bram dan roti gosong secara bergantian.
"Aku pernah melihat di mana ayah tetap menghabiskan masakan mama walaupun jelas-jelas itu terasa begitu asin." Bram menyeringai, seringai humoris yang menular kepada Hita.
"Jangan!" seru Hita spontan, tangannya melayang di udara saat mencoba menghentikan Bram memasukan roti ke dalam mulut.
Hita mengernyit, memperhatikan laki-laki di hadapannya itu saat mengunyah. Ini tak pernah dilihat oleh Hita sebelumnya, karena setiap masakannya yang gagal di kediaman Wijaya pasti akan dibuang.
"Rasanya tetap saja enak." Bram menaik turunkan alisnya dengan jenaka, menahan tawa saat melihat ekspresi Hita yang tampak ngeri.
Bram menggigit roti itu dalam beberapa gigitan sebelum akhirnya habis. Putra sulung Martadinata itu mengibaskan tangan, seakan pamer telah menghabiskan makananya. Seperti anak kecil saja.
"Kenapa kakak makan? Aku bisa membuatkan yang baru jika kakak memintanya," ucap Hita, mengambilkan beberapa helai tisu untuk Bram.
Dengan senang hati pula Bram menerimanya, mengelap tangannya dengan teliti.
"Ayahku tidak pernah menyuruh ibuku untuk memasak ulang saat masakannya terasa terlalu asin, Hita," kata Bram, melempar gulungan tisu ke tempat sampah. "Aku juga belajar untuk tidak melakukannya."
"Kenapa?"
"Karena itu terlihat manis."
Senyum teduh terukir di wajah tampan Bram tatkala laki-laki itu menyandarkan tubuhnya pada tembok, membuat kemejanya sedikit mengetat di bawah otot-ototnya yang padat.
Hita memasang senyum, memikirkan apa yang baru saja Bram katakan. Tapi itu benar-benar manis, jika seandainya suatu saat nanti Hita memiliki suami yang bisa memperlakukannya seperti Nathan memperlakukan Nadia. Orang tua Bram yang dimaksud.
"Tapi menurut kakak, apakah perlakuan manis itu perlu?" tanya Hita, membeberkan rasa penasarannya yang polos.
Bram, di sisi lain tak bisa jika tak terkekeh gemas dengan pertanyaan perempuan itu. Hita seakan-akan tak pernah diperlakukan dengan manis oleh pria saja.
"Tentu saja perlu," balas Bram, menyandarkan kepalanya di tembok sementara matanya terfokus pada Hita.
"Hubungan akan terasa hampa sekali jika tidak dibumbui oleh perlakuan-perlakuan manis," katanya. "benar-benar membosankan."
"Tapi sepertinya tidak semua pernikahan dibumbui oleh perlakuan manis." Hita menggeleng, tampak tak setuju. "Aku banyak melihatnya di luaran sana."
"Itu karena pernikahan mereka tidak berdasarkan cinta, Hita." Begitu halus suara Bram begitu menanggapi. "Karena banyak di luaran sana orang-orang yang menikah tanpa dasar cinta," jelasnya.
"Seperti aku, ya?" Hita menunjuk dirinya sendiri, membuat Bram terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan.
"Ya, sepertimu."
Bram kali ini tampak lebih serius, namun tetap mempertahankan senyum menawan di wajahnya kala menatap Hita.
"Aku tau mungkin pernikahanmu dan Dirga tidak baik-baik saja," ucapnya hati-hati, tak ingin menyinggung. "Tapi berusahalah untuk bertahan sedikit lagi, kau akan segera terbebas dari pernikahan ini setelah Loria ditemukan nanti."
"Terkadang orang-orang bertindak tanpa memikirkan dampaknya pada orang lain, Hita," katanya. "Seperti kakak tirimu itu. Dia tidak berpikir dengan kaburnya dia dari pernikahan akan membuatmu terkena dampaknya."
Ucapan Bram itu membuat Hita kembali berpikir. Senyum di wajah cantik itu perlahan-lahan menghilang begitu berusaha menyerap kata-kata Bram.
Apakah Hita akan benar-benar terlepas dari Dirga? Itu terdengar sangat menguntungkan untuknya yang selalu saja diremehkan oleh Dirga.
Tapi kenapa Hita kini merasa itu akan merugikannya? Tentu saja setelah menerima kenyataan pahit bahwa Dirga telah merenggut kegadisannya meskipun laki-laki itu tak menyadarinya.
Ini akan merugikannya, kan?
"Kau baik-baik saja?"
Kibasan tangan Bram di wajah Hita membuat perempuan itu tersadar, buru-buru pula mengangguk dan tersenyum.
"Aku baik-baik saja," katanya. "Semoga saja kak Loria cepat-cepat ditemukan, ya."
Tapi meskipun Hita berkata demikian, ia tau bahwa kini ia merasa bimbang. Apa yang akan terjadi padanya nanti setelah Loria ditemukan? Apakah dibuang begitu saja dan dilempar kembali ke kediaman Wijaya?
"Yah... Aku juga berharap begitu," balas Bram, menghela napas panjang begitu melihat reaksi Hita yang sedikit tegang.
Perempuan itu payah sekali dalam berbohong.
"Oh ya." Bram menegakkan tubuhnya, tiba-tiba teringat sesuatu. "Kemarin aku bertemu dengan salah satu anggota keluarga dari anak yang kau selamatkan di mall itu, kau ingat?"
"Jojo?"
Bram mengangguk.
"Ibunya Jojo bertemu denganku kemarin, katanya dia ingin bertemu denganmu," jelas Bram. "Dia mengatakan jikalau ada waktu luang, dia ingin agar aku mengajakmu untuk bertemu dengannya,.dengan Jojo juga."
"Benarkah?" Hita tersenyum, sempat lupa pula ia pada Jojo.
Sekali lagi Bram mengangguk.
"Mereka mengatakan bahwa saat itu mereka tak sempat berterimakasih secara langsung, katanya tidak ingin mengganggu masa pemulihanmu di rumah sakit. Itulah mengapa sekarang ini aku ingin mengajakmu untuk menemui mereka. Bagaimana menurutmu?" tawar Bram, mengamati ekspresi Hita seakan-akan ingin membaca pikiran perempuan itu.
Hita tampak berpikir sejenak, jarinya mengetuk-ngetuk dagu tanpa sadar. Bibirnya sedikit mengerucut, bagitu juga dahi perempuan itu yang tampak berkerut karena berpikir.
Kenapa menggemaskan sekali? Bram sampai senyum-senyum sendiri melihatnya.
"Bagaimana?" tanya Bram sekali lagi, barulah saat itu Hita mengangguk.
"Baiklah, aku juga ingin bertemu Jojo lagi," putusnya. "Kapan kita akan berangkat?"
"Sore ini, bagaimana?"
"Sore ini?" Hita mengangguk antusias. "Baiklah kalau begitu. Sore ini kita bertemu Jojo."
Senyum merekah diantara keduanya begitu janji bertemu Jojo dibuat. Sore ini sepertinya akan mengasyikkan, bertemu dengan Jojo dan mungkin sedikit berjalan-jalan dari masalah berat yang menimpa.
Tapi di sisi lain agaknya ada yang merasa cemas. Di sana, samar-samar Wisnu menguping percakapan mereka dari balik tembok, menghitung jari-jarinya sembari berpikir.
Jadi sedikit bertanya-tanya apakah Wisnu menghitung jarinya karena iseng saja atau tengah menghitung seberapa besar gajinya akan dipotong jika Dirga tau menganai percakapan Bram dan Hita ini.
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga