Fiana Adams tak pernah menduga akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Pertemuan yang singkat di reuni sebuah SMA telah membuatnya terus memikirkan Arjuna Zefanya Tekins. Siapa sangka keduanya justru tak bisa dipisahkan sejak malam itu walaupun mereka harus menghadapi kenyataan bahwa keluarga mereka adalah orang yang paling berkuasa dan paling bermusuhan sejak zaman dulu. Berbagai tantangan datang dan berusaha memisahkan keduanya. Sampai akhirnya keduanya berada di sebuah pilihan yang sulit. Mempertahankan cinta mereka atau menjaga nama baik keluarga.
Ceritanya di jamin sangat romantis dan bikin baper. Walaupun memang penuh dengan tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemiripan
Baju Diana sudah basah karena terkena cipratan air dari buah anggur. Ia dan para gadis lainnya langsung turun begitu tradisi menginjak anggur sudah selesai.
Arjuna tak bisa menahan dirinya. Ia langsung mendekati Diana.
"Fiana.....!" panggilnya lalu menahan tangan gadis itu.
Diana menatap Arjuna dengan alis yang berkerut. "Diana. Namaku Diana. Ada apa?" tanyanya lalu menarik perlahan tangannya.
"Wajahmu sangat mirip dengan istriku. Memang rambut kalian berbeda tapi suaramu juga sama dengannya."
"Maaf tuan. Aku tidak mengenalmu." kata Diana lalu segera membalikan badannya dan langsung pergi. Arjuna akan mengejarnya namun Rudi segera menghalangi langkahnya.
"Arjuna, di desa ini ada aturan. Seorang pria tak boleh mengejar wanita. Jika wanita itu suka maka dia yang akan mengejar pria itu."
"Tapi paman, gadis itu sangat mirip dengan istriku. Suaranya bahkan sama. Memang yang berbeda hanya rambutnya karena rambut istriku panjang. Gadis itu juga terlihat berbeda jika tertawa lepas."
"Bukankah istrimu sudah meninggal?"
"Iya. Tapi aku merasa kalau Diana itu adalah istriku. Jantungku bahkan berdetak sangat kencang sejak pertama melihatnya."
Rudi tersenyum. "Ayo kita pulang. Di saat seperti ini, ketika hatimu masih bersedih karena kehilangan istrimu, siapapun yang kau lihat akan seperti istrimu."
Arjuna mengikuti langkah Rudi walaupun hatinya begitu yakin kalau perempuan itu adalah Fiana.
Tapi, kalau itu benar adalah Fiana, bagaimana mungkin perempuan itu tak mengenalnya? Tatapan mata Diana bahkan menunjukan rasa tak suka pada Arjuna.
Begitu tiba di rumah, Arjuna langsung disajikan makan siang oleh istri paman Rudi.
"Diana itu gadisnya sangat periang. Beberapa anak lelaki di sini sangat menyukainya. Namun Diana nampaknya belum suka memiliki hubungan dengan laki-laki." kata Mia, istrinya Rudi.
Arjuna hanya mengangguk. Ia masih baru berada di desa ini, makanya ia tak boleh memaksakan kehendaknya untuk mendekati Diana.
Saat malam tiba, ketika selesai makan malam, Rudi mengajak Arjuna untuk ikut dengannya ke balai desa. Penduduk sudah berkumpul di sana untuk membahas panen yang ada. Rudi juga memperkenalkan Arjuna sebagai tamunya. Rudi mengatakan kalau Arjuna akan tinggal di sini selama beberapa waktu karena ia ingin menenangkan dirinya.
Tak ada yang bertanya. Semua yang dikatakan oleh kepala desa tak pernah dibantah oleh penduduknya.
Arjuna melihat Diana yang duduk diantara para gadis. Ia nampak asyik bercanda. Entah apa yang mereka bicarakan, Diana nampak sesekali tertawa lepas. Dia bahkan terlihat seperti anak kecil. Rambutnya yang dipotong pendek itu membuat wajahnya justru terlihat seperti gadis remaja.
"Arjuna.....!" seorang gadis mendekatinya.
Arjuna memang sedang duduk sendiri. Para orang tua sedang rapat untuk membahas hasil panen.
"Hallo....!" Arjuna balas menyapa dengan sikap yang ramah.
"Perkenalkan, namaku Wei Ling. Kamu dapat memanggilku dengan sebutan Ling."
"Namamu mirip orang Cina."
"Nenekku keturunan Jepang-Cina. Dia yang memberikan nama itu padaku. Boleh aku duduk di sini?" tanya King sambil menunjukan kursi kong yang ada di depan Arjuna.
"Boleh."
Ling pun duduk di depan Arjuna. Gadis itu tersenyum manis. Ia cantik dengan rambut yang di kepang satu.
"Sejak aku melihat mu tadi, aku sudah tertarik padamu."
Deg! Arjuna tersentak. Ternyata apa dikatakan oleh bibi Mia benar. Jika ada gadis yang menyukai seorang pria, ia akan mengatakannya.
"Terima kasih." kata Arjuna.
"Tapi aku tahu kalau kamu sepertinya tertarik pada Diana."
"Iya." jawab Arjuna terus terang. Ia berharap Ling akan mundur.
"Aku sudah tanya pada Ling. Katanya dia tak menyukaimu. Makanya aku berkeinginan untuk mendekatimu. Kamu tak keberatan kan?"
Arjuna hanya tersenyum. "Itu hak mu. Tapi aku juga punya hak untuk menolak kan?"
Ling mengangguk. "Tapi bukan berarti aku akan berhenti untuk mendekatimu."
Arjuna terkejut. Ternyata gadis-gadis di sini sangat berani dalam mengutarakan perasaan mereka. Arjuna bahkan menjadi salah tingkah.
Diana yang masih bercanda ria dengan teman-temannya merasa risi dengan sikap Arjuna yang selalu memandangnya. Ia akhirnya memilih pergi dari balai pertemuan itu.
"Ada apa nak?" tanya ibu Inara saat melihat Diana sudah pulang.
"Aku sedikit risih dengan orang baru itu, Bu. Dia selalu menatapku. Dia bahkan mengatakan kalau namaku Fiana."
"Mungkin wajahnya mengingatkan dia pada seseorang."
"Katanya aku mirip istrinya. Memangnya lelaki itu siapa sih?"
"Mungkin orang yang sengaja disembunyikan di sini. Kamu tahu kan kalau pak kepala desa sudah mengatakan maka kita tak bisa membantah. Namun katanya dia tadi sudah ikut membantu di kebun anggur?"
"Iya. Walaupun kelihatannya ia agak kewalahan karena mungkin tak biasa bekerja di kebun."
"Mungkin dia anak orang terkenal. Entahlah. Tapi dia memang tampan lho." goda Inara membuat Diana menatap ibunya dengan dahi berkerut.
"Ibu ini...., siapa juga yang suka dengannya? Aku mau tidur saja." Diana langsung pergi ke kamarnya.
Inara pun menatap punggung gadis itu sampai menghilang di balik pintu. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu meneruskan pekerjaannya untuk menyulam mantel bagi Diana.
************
Hari berikutnya, Arjuna ikut membantu paman Rudi di kebun anggurnya. Sayangnya, hari ini Diana tidak datang.
Ling membawakan kue untuk Arjuna. Lelaki itu merasa tak enak hati menolaknya. Para gadis menggoda mereka. Demikian juga para orang tua. Arjuna hanya bisa tersenyum.
Selesai bekerja, Arjuna memilih untuk jalan-jalan keliling desa. Ia melihat ada sungai yang letaknya ada di belakang rumah paman Rudi.
Arjuna pun melangkah ke arah sungai itu. Ia bermaksud hendak menyendiri. Jujur saja, ia mulai tak nyaman dengan suasana di desa ini.
Langkahnya terhenti saat dilihatnya Diana yang nampak sedang memancing di sana.
Mata Arjuna menatap gadis itu dengan hati yang bergetar. Tak tahan, ia mendekatinya.
"Kamu suka memancing?" tanya Arjuna. Diana kaget melihat cowok itu sudah ada di sampingnya.
"Kamu mengikuti aku ya?" tanya Diana sambil menatap Arjuna dengan tatapan curiga.
"Tidak. Aku sebenarnya datang ke sungai ini untuk menenangkan hatiku. Tapi aku senang menemukan kamu ada di sini."
Diana tak menanggapi. Ia terus memancing. Alat pancing yang sangat tradisional karena hanya terbuat dari bambu halus yang menggunakan tali yang terbuat dari senar. Umpannya pun hanya cacing.
"Eh ...aku dapat....!" teriak Diana saat bambu di tangannya itu bergerak. Dia langsung mengangkatnya. Ada seekor ikan yang nyangkut di kailnya.
Ia mengambil ikan itu dan meletakkan di ember hitam yang sudah disiapkannya di sana. Ia kemudian melempar lagi kailnya.
"Eh....dapat lagi...."
Gadis itu begitu senang sampai akhirnya ikan yang keempat dia dapatkan, gadis itu kemudian menatap Arjuna. "Aku sudah hampir 2 jam di sini, namun tak mendapatkan ikan. Tapi setelah kamu ada di sini, ikannya langsung memakan umpannya. Kamu punya ilmu apa?"
Arjuna hanya tersenyum. "Mungkin ikannya mau makan umpannya agar kamu tak mengusir aku untuk pergi."
"Baiklah. Aku tak akan mengusir kamu. Tapi tolong, jangan bilang kalau aku ini mirip istrimu."
"Baiklah."
"Kita berteman agar Ling tak akan cemburu padaku."
"Tapi aku tak menyukai Ling."
"Ling itu cantik."
"Cantik kan bukanlah alasan agar dia kayak di cintai."
Diana akan bicara namun akhirnya ia berteriak kegirangan. "Ikannya dapat lagi."
Arjuna menatap wajah cantik Diana. Sifatnya yang kekanak-kanakan memang berbeda jauh dengan Fiana yang lebih tenang dan dewasa.
Akhirnya gadis itu mendapatkan 10 ekor ikan.
"Aku mau pulang." kata Diana sambil membereskan peralatan pancingnya.
"Kenapa? sudah nggak mau memancing lagi?"
"Bukan. Dokter Edgar akan datang sore ini. Aku harus melakukan pemeriksaan."
"Kamu sakit?"
"Iya. Aku pergi dulu ya." Diana melangkah. Arjuna mengikutinya lalu mengambil ember itu dari tangan Diana dan memegangnya.
Saat mereka memasuki perkampungan, terlihat sebuah mobil hitam jenis mobil yang biasa dipakai untuk alam liar sudah terparkir di halaman rumah pak kades.
"Dokternya sudah ada. Aku harus segera bersiap." Kata Diana lalu dengan langkah cepat ia berlari ke arah rumahnya. Ia lupa dengan ikan hasil tangkapannya yang ada di tangan Arjuna.
Saat seorang lelaki menggunakan pakaian khas dokter turun dari mobil, Arjuna mengerutkan dahinya. Di mana ya, ia pernah mengenal dokter itu. Karena wajahnya sudah tak asing bagi Arjuna.