Menyandang status duda diusianya yang masih sangat muda adalah hal yang sama sekali tidak pernah terbayangkan oleh Abrisam Xander Rahadian.
Hatinya telah membeku dan tidak berniat ingin mencari pendamping ataupun sosok ibu untuk putranya semenjak ia merasa dikecewakan dan sakit hati oleh mantan istrinya yang begitu tega meninggalkannya terutama putranya yang usianya belum genap satu tahun yang masih sangat membutuhkannya.
Ingin tau lebih lanjut cerita tentang Abrisam Xander??? Ikuti ceritanya yuk!!🙏😊😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intanpermata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 23
Malam ini Abrisam memilih untuk pulang ke apartemennya karena ia tidak bisa pulang ke rumah tanpa Zefanya. Pasti akan membuat Alan sangat sedih dan merasa kecewa. Kalau sampai ia tidak bisa menemukan Zefanya, ia harus siap untuk memberitau Alan kalau Alan harus melupakan Zefanya.
"Maafkan ayah Alan, ayah harus berbohong lagi kepadamu! Ayah akan berusaha mencarinya dan membawanya kembali!" Gumam Abrisam sambil duduk disofa didalam apartemennya dan menatap foto putra kesayangannya didalam dompetnya.
Abrisam kemudian bangkit dari tempat duduknya dan beranjak menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Beberapa menit kemudian Abrisam selesai mandi dan telah mengganti pakaianya.
Ia mendengar ponselnya berdering dan ia segera meraihnya.
"Ya Alan! Kenapa belum tidur?" Tanya Abrisam saat menerima panggilan telepon dari Alan.
"Ayah, aku tidak bisa tidur! Aku terus memikirkan ibu! Dimana dia Yah, aku ingin bicara dengannya sebentar! Aku sangat merindukan ibu, Yah!" Jawab Alan terdengar sedih dari seberang telepon.
Abrisam tersentak hatinya kemudian ia menghela nafasnya dalam-dalam. Seketika dadanya merasa sangat sesak dan sulit bernafas.
"Ehm..Alan sebaiknya kau tidur saja ya! Ibu sudah tidur, jadi Ayah tidak bisa membangunkannya!" Jawab Abrisam berbohong kepada Alan.
"Baiklah Ayah, sampaikan kepada ibu kalau aku tidak lupa mencuci kaki dan tanganku sebelum tidur! Aku juga sudah mengganti pakaianku Yah!" Ucap Alan dengan riang karena telah melakukan pesan dari Zefanya.
Abrisam terdiam dan ia merasa semakin bersalah. Selain bersalah kepada Zefanya, ia juga bersalah kepada putra kesayangannya karena telah membohonginya dan akan membuatnya kecewa.
"Hallo Ayah!! Apa Ayah mendengarku??" Seru Alan bertanya kepada Abrisam karena tidak mendengar suara Abrisam.
"Ya, Ayah akan menyampaikan kepada ibu besok! Sekarang kau tidur ya, jangan lupa berdoa sebelum tidur!" Jawab Abrisam dengan lembut kepada Alan.
"Baiklah! Ayah dan ibu cepatlah pulang ya! Daaah Ayah!" Ucap Alan dengan riang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
Abrisam menghela nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Kini ia merasa sangat frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.
Ia harus segera menemukan Zefanya dan kalau perlu ia akan langsung menikahinya setelah menemukanya nanti dan akan benar-benar menjadikannya ibu untuk putra kesayangannya.
Entah kenapa dalam seketika Zefanya mampu membuat hati dan pikirannya menjadi selalu tertuju kepadanya.
...***************...
Keesokan harinya.
Zefanya sedang membersihkan rumahnya. Ia menyapu dan mengepel rumahnya. Zefanya memang sangat rajin dan selalu menjaga kebersihan. Meski rumahnya kecil, tetapi terlihat sangat rapi juga bersih.
"Fyuhhh! Selesai!" Gumamnya sambil mengusap keringat dikeningnya.
"Sekarang aku ingin mandi kemudian menemui kakakku tersayang! Aku sangat merindukannya!" Lanjutnya dengan tersenyum kemudian segera mandi membersihkan dirinya dari debu dan keringat setelah bersih-bersih rumah.
Selesai mandi, ia mendengar ada suara ketukan pintu dari luar.
Tok! Tok! Tok!
Zefanya segera membukakan pintu dan ia tersenyum terlihat sangat senang.
"Paman!!" Seru Zefanya dengan riang kemudian langsung memeluk pamannya.
"Dasar anak nakal!! Kenapa kemarin tidak langsung menemui paman??" Tanya pamannya sambil membalas pelukan Zefanya.
"Maaf paman, aku kemarin sangat lelah dan tidak sempat menemui paman! Ayo masuk dulu paman!" Jawab Zefanya kemudian melepaskan pelukannya dan mempersilahkan pamannya masuk.
"Ini paman bawakan kamu makanan! Kamu pasti belum sarapan kan?" Ucap pamannya sambil menyodorkan plastik yang berisi makanan kepada Zefanya.
"Paman memang selalu pengertian! Terimakasih banyak ya paman!" Jawab Zefanya dengan tertawa dan menerima makanan yang dibawakan pamannya.
"Naya! Bagaimana dengan pekerjaanmu dikota? Kenapa sudah kembali lagi kesini? Apa kamu tidak betah disana?" Tanya pamannya yang bernama Surya memberondong pertanyaan kepada keponakan kesayangannya.
Surya yang sebelumnya telah bertemu dengan Abrisam, belum mengetahui bahwa gadis yang dicari Abrisam adalah keponakannya sendiri. Karena Zefanya sejak lahir sudah dipanggil dengan nama Naya dan Abrisam mengenainya dengan nama Zefanya.
Abrisam juga belum tau nama lengkap dari Zefanya.
"Ehm..iya paman, aku merasa tidak cocok dengan pekerjaanku jadi aku memutuskan untuk berhenti dan aku juga ingin tinggal disini sampai aku mendapatkan pekerjaan lagi!" Jawab Zefanya mencoba untuk tidak gugup karena tidak berterus terang dengan pamannya.
"Kalau begitu bagaimana kamu kembali ikut mengurus kebun nenekmu saja?" Tanya pamannya dengan tersenyum.
"Baiklah paman! Sebelumnya aku juga sudah memikirkannya untuk kembali mengurus kebun nenek!" Jawab Zefanya dengan mengembangkan senyumnya sambil membuka bungkusan yang berisi makanan.
"Ya sudah kalau begitu cepat sarapan! Paman mau pulang dulu!" Ucap pamannya sambil mengusap puncak kepala Zefanya kemudian bangkit dan beranjak pergi.
Zefanya segera menghabiskan sarapannya. Setelah selesai sarapan, ia segera pergi ingin menemui kakak sepupu kesayanganya.
...***************...
Abrisam sedang dalam perjalanan menuju kampung Flores kembali setelah semalam bertemu dengan pak Surya dan akan kembali lagi menemuinya esok harinya untuk mencari Zefanya.
Beberapa menit kemudian, mobil Abrisam sampai dan ia menghentikan mobilnya ditempat saat kemarin ia memarkirkan mobilnya.
Kemudian ia segera turun dari mobilnya dan berjalan menuju rumah pak Surya.
Di tengah perjalanan ia seperti melihat sosok yang sangat ia kenal dari kejauhan sedang berjalan.
Ia memicingkan matanya untuk menatap sosok tersebut, apakah benar apa yang sedang ia lihat itu.
Kemudian Abrisam melanjutkan langkahnya dan semakin cepat untuk segera menghampirinya.
Abrisam melihat Zefanya disana, namun saat semakin dekat ia melihat ada laki-laki dari arah berlawanan yang juga menghampiri Zefanya dan Zefanya terlihat begitu senang saat bertemu dengan laki-laki itu.
Bahkan mereka saling berpelukan seperti sepasang kekasih. Abrisam terpaku dan terdiam. Ia terus memperhatikan sosok gadis yang telah memporak porandakan hati dan pikirannya.
"Kamu kenapa tidak memberi kabar kalau mau kembali? Aku kan bisa menjemputmu!" Ucap laki-laki tersebut setelah melepaskan pelukannya.
"Aku baru kembali semalam kak! Aku sangat merindukanmu!" Jawab Zefanya dengan riang kemudian kembali memeluknya dan laki-laki itu membalas pelukan Zefanya sambil mengecup puncak kepala Zefanya.
Hati Abrisam seketika terasa seperti diremas dan dadanya terasa begitu sesak juga nyeri. Namun ia sudah terlanjur datang untuk mencarinya dan kini seseorang yang ia cari sudah ada didepan mata.
"Fanya!" Seru Abrisam memanggil Zefanya yang sedang berpelukan dengan seorang laki-laki.
Sontak membuat Zefanya dan laki-laki tersebut melepaskan pelukan mereka dan menoleh kearah suara yang memanggil Zefanya.
"Abrisam..!" Ucapnya lirih dan terlihat terkejut saat melihat Abrisam sudah berdiri didekatnya.
"Siapa dia?" Tanya laki-laki tadi kepada Zefanya.
"Ehm..dia..
Ya Tuhan!! Apa ini benar-benar dia?? Apa dia sedang mencariku?? Ini tidak mungkin!!
Gumam Zefanya dalam hati dengan perasaan yang berkecamuk.
"Aku Abrisam! Aku temannya yang kebetulan hanya lewat saja!" Sahut Abrisam dengan cepat menjawab pertanyaannya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Oh jadi kamu temannya? Aku Mirza, senang bertemu denganmu!" Jawab laki-laki tadi yang bernama Mirza dengan ramah tersenyum sambil membalas jabatan tangan Abrisam.
Zefanya masih merasa terkejut dengan kedatangan Abrisam yang tiba-tiba. Ia hanya terdiam dan menundukkan wajahnya tidak berani menatap kearahnya.
Ia sedang tidak ingin melihat Abrisam saat ini. Ia sudah berniat ingin melupakan Abrisam dan berhenti untuk berharap kepadanya.
"Aku juga senang bertemu dengan kalian disini!" Ucap Abrisam sambil menoleh kearah Zefanya kemudian melepaskan jabatan tangannya.
"O ya, tadi kamu bilang hanya kebetulan lewat sini, apa kamu sedang mencari sesuatu disini? Mungkin aku bisa membantumu!" Ucap Mirza dengan sangat ramah.
"Tidak perlu! Terimakasih! Yang aku cari sudah kutemukan dan sepertinya aku harus segera pergi!" Jawab Abrisam dengan wajah yang berubah menjadi dingin lalu menoleh kearah Zefanya dan menatapnya sebentar.
Terlihat Zefanya yang juga sempat menatapnya sekilas dan langsung memalingkan wajahnya menatap kearah lain.
"Kak Abrisam!!" Seru seseorang yang sedang berlari mendekat kearah Abrisam sambil melambaikan tangannya.
Zefanya dan Mirza menoleh dan melihat Nesya yang menghampirinya.
"Ternyata kak Abrisam sudah ada disini!" Ucap Nesya dengan senyum yang mengembang. Ia berdiri disamping Abrisam dan Abrisam mengernyitkan keningnya menatap Nesya.
Zefanya kembali terkejut karena Nesya mengenal Abrisam dan terlihat sudah akrab.
"Aku baru saja datang dan aku harus segera pergi karena masih ada urusan yang sangat penting!" Jawab Abrisam kepada Nesya namun pandangan matanya terus menatap Zefanya dan Zefanya menundukkan wajahnya tidak ingin melihat sorot mata Abrisam yang tampak seperti sangat marah.
"Kenapa harus buru-buru kak? Ayo kerumah dulu, bapak sedang menunggumu dirumah! Kebetulan aku ingin keluar membeli sesuatu tapi ternyata aku bertemu denganmu disini! Dan eh..rupanya ada dia juga disini!" Ucap Nesya dengan sangat lembut kepada Abrisam kemudian seketika berubah sangat sinis saat melihat kearah Zefanya.
"Biasa saja Nesya, tidak usah sinis begitu!" Ucap Mirza yang paham dengan tatapan sinis Nesya kepada Zefanya.
"Kak Mirza, bukankah sebentar lagi kamu mau menikah? Jangan galak-galak begitu kepadaku!" Ucap Nesya dengan kesal.
Abrisam tampak terkejut dan ia kembali merasakan sesak didadanya dan hatinya semakin terasa perih saat mendengar ucapan Nesya dan melihat Zefanya yang terlihat tersenyum saat mendengar Nesya mengatakan itu.
Apa?? Jadi dia sengaja kembali kekampungnya ini ternyata untuk menikah dengan laki-laki ini?? Sial!! Ternyata dia mebodohiku hingga aku dibuat gila memikirkannya dan mencarinya!!
Gumam Abrisam mengumpat dalam hati dengan perasaan yang berkecamuk.
Demi apa, sesusah itu nyari novel yang seru. Btw, mau sekalian rekomendasiin novel yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, wajib search pakek tanda kurung.
Bagus banget novelnya, tapi ya gitu minim pembaca😈