Luna Amara Kaito adalah wanita cantik yang hidupnya hancur karena dosa masa lalu kakaknya. Karena kesalahan itu, ia dipaksa menikah dengan Galen Arlan Wilson, pria tampan namun berhati dingin dari keluarga yang menuntut balas. Bagi keluarga Wilson, pernikahan itu bukan cinta, melainkan hukuman.
Galen yang memiliki pesona luar biasa tapi penuh amarah memperlakukan Luna dengan kejam. Ia memaksa Luna menjadi ibu susu sambung bagi bayi mungilnya meski Luna belum pernah melahirkan.
Namun segalanya berubah pada suatu malam ketika Galen merenggut kehormatan Luna. Sejak malam itu, Luna hidup dalam ketakutan. Ia takut hamil, takut masa depan, dan takut pada suaminya sendiri.
Hingga suatu keajaiban datang, membawa kebenaran yang selama ini tersembunyi. Luna akhirnya mengetahui bahwa perbuatan kakaknya jauh lebih kejam dari yang ia bayangkan. Dan satu fakta mengejutkan, bayi yang selama ini ia rawat ternyata anak kandung Kakanya.
Apakah itu anak kandung Galen juga? akankah luluh pada Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phoebeee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Haram?
“ Anggaplah aku Kak Lila yang sudah melakukan segala hal kepadamu, anggaplah aku keluargaku yang telah membuatmu sengsara. Biarkan aku menjadi perwakilan mereka” ujar Luna dengan mantap, tersenyum lirih dengan mata berlinangnya.
“Biarkan aku menjadi perwakilan keluargaku” lirih Luna
Galen tertegun, tanganya tepat di leher Luna. Matanya membara mengingat semuanya, mengingat semuanya.
Ia melihat wajah Lila di Luna, wajah wanita yang mengkhianatinya, wanita yang membuatnya tidak percaya apapun, wanita yang membuat hidupnya semakin hancur.
Tanpa sadar tanganya mencengkram leher Luna dengan keras. Alam bawah sadarnya melampiaskan semua kepada Luna, menganggap Luna memanglah Lila.
Luna tercekik, ia tidak merintih ataupun teriak hanya tersenyum tipis membiarkan Galen mencekik dirinya.
Setidaknya semua ini akan berakhir.
Ia sebentar lagi akan bertemu dengan Kakek dan Nenek di atas sana, senyum Luna.
“Shhh”
Galen tersentak, matanya yang mengabur seketika menjadi terang jelas. Badanya seketika menegang saat merasakan badan Luna melemah, nafasnya sudah perlahan memelan.
Brukk
Luna terbelalak, badanya seketika goyah saat cengkraman Galen terlepas begitu saja. Badanya seketika terasa berat
“Galen”
Luna memeluk Galen dengan erat, saat badan pria itu terjatuh menimpanya. Pria itu lemas, nafasnya memburu, badanya semakin menggigil dan panas. Bukan dirinya yang tumbang melainkan Galen yang jatuh ke dalam pelukanya.
“Heyy, jangan tutup mata” ujar Luna menepuk pipi Galen pelan.
Luna yang tadi melemah seketika kuat, semua organya seketika berfungsi dengan cepat dan semua.
Galen jatuh ke dalam pelukanya, kepala pria itu berada di lehernya. Nafas hangat Galen terasa di Luna, nafas yang memburu namun perlahan mulai melemah.
“Dingin” lirih Galen
Luna terkejut, berat, ia tidak bisa terlalu lama menjadi sandaran Galen. Tubuh pria itu lebih besar dibandingkan dirinya. Ia memutar pandangannya ke sekitar, hingga tepat di sofa tempat Galen tidur sebelumnya.
Tidak terlalu jauh.
Dengan susah, Luna membawa tubuh besar Galen menuju sofa dan membaringkan badanya di sana.
Dirinya terdiam sejenak.
Apa yang sudah terjadi?
Ia hampir saja menemui Kakek dan Nenek lalu kenapa semua menerang, merengut semua mimpi indahnya.
Pandangan Luna menatap lurus, menuju Galen yang sudah terbaring tak berdaya. Mata pria itu terpejam, badanya menggigil meracau memanggil dirinya Alen dan kata Bunda.
Bunda?
Ia berusaha tenang, ingin membantu, namun teringat bagaimana kejadian tadi.
Kejadian dimana Galen mencekiknya.
Apa sebaiknya Ia pergi saja? dan membiarkan Galen mati tak berdaya di sini? Seperti yang sudah Ia lakukan kepada dirinya?
Atau
Luna menarik napas panjang, semua terasa berat di hatinya. Ia melangkah mundur hendak pergi meninggalkan Galen, namun langkahnya terhenti saat tanganya ditahan.
“Jangan pergi. Jangan tinggalkan Alen”
“Maaf”
Luna membeku, mendengarkan kata mustahil yang keluar dari mulut Galen. Bagaimana pria itu mengatakan maaf yang tidak pernah keluar dari mulutnya.
Luna membalikkan badan, ia melihat bagaimana Galen masih terbaring dengan memejamkan mata.
“Jangan pergi” lirih Galen dalam pejamanya.
Luna terdiam, ia menunduk melihat ke bawah pada tanganya yang digenggam oleh Galen dengan penuh takut.
Luna mendekat, ia merasakan tangan Galen yang panas. Demam pria itu semakin tinggi, namun egonya juga sama tingginya.
Satu sisi ia ingin merawat Galen namun satu sisi ia takut Galen akan marah.
Ia juga masih teringat bagaimana sikap Galen namun
Mengabaikan Galen dan meninggalkan Galen sendirian rasanya juga salah.
Ia melepaskan tangan Galen dengan pelan namun Galen sama sekali tidak ingin melepaskannya.
“Maafkan aku”
“Maaf”
“Maafkan aku Luna”
Badan Luna seketika menegang saat mendengar kata yang keluar dari mulut Galen. Apa pria itu meminta maaf kepada dirinya?
Galen menyebut namanya.
“Takutt”
“Alen takut sendirian” racau Galen dengan lirih
Luna termangu, pria itu semakin mengeratkan pegangannya. Tak ingin melepaskan, takut akan sendirian.
Luna gundah.
Ia tidak bisa melepaskan tangan Galen dan ia tidak mampu untuk melepaskan paksa tangan Galen begitu saja.
Tidak tega.
Badan Galen semakin menggigil dan keringat membanjiri dahi Galen. Pria itu terlihat tidak tenang dalam tidurnya.
Luna dengan ragu mendekat, Ia tidak melepaskan rangkulan Galen. Ia perlahan menunduk, melihat wajah Galen dengan seksama, wajah yang dingin kini berakhir lemah dengan penuh rintih.
Tangan Luna tanpa sadar terangkat memegang pipi Galen mengatakan, “Aku disini” bisik Luna menenangkan
Ia tidak bisa, ia tidak bisa membalas jahat kepada Galen.
Ia juga merasa sakit melihat Galen seperti ini.
Setelah mengatakan itu perlahan kerutan di dahi Galen menghilang, nafasnya mulai stabil, nafasnya tidak sememburu tadi. Penjaman matanya mulai menenang.
Luna tersenyum lega.
Galen butuh bukti bahwa memang ada orang menemaninya. Luna mengelus pelan rambut Galen.
Air matanya keluar seketika
“Kenapa aku tidak bisa membencimu?” gumam lirih Luna
Ia juga ingin marah, ingin melakukan hal yang sama seperti Galen namun ia tidak bisa. Melihat Galen seperti ini membuatnya juga terluka.
Galen perlahan sudah mulai tenang, eratan tangan Galen perlahan mulai melemah membuat Luna bisa mengambil kesempatan untuk melepaskanya.
Dan berhasil
Luna terdiam, ia berdiri melihat ke arah Galen. Apa ia sebaiknya pergi? Namun siapa yang menjaga Galen?
Tanganya mengepal, menahan semua pikiran yang ada di pikiran.
“Aku tidak bisa” lirih Luna menunduk.
Ia berjalan meninggalkan Galen.
Ia berjalan menuju pintu yang masih terbuka tadi, perlahan Luna memejamkan matanya, menarik napas panjang.
Membukanya dengan pelan, melihat lurus keluar. Ia sudah membuat keputusan.
Luna menutup pintu, agar cahaya dari luar tidak masuk ke dalam.
Ia memilih tinggal.
Luna menuju mini bar dan kitchen di sana, kembali merebus air untuk kompresan Galen. Ia juga membuka laci-laci di sana hingga ia menemukan kotak obat.
Luna membantu mengompres Galen, menggantikan baju Galen yang bersih dengan hangat nyaman. Ia mencarinya ke kamar untung saja di sana memang ada baju Galen. Membaluri badan Galen dengan minyak telon.
Disini semuanya lengkap, bahkan buku dan peralatan Galen lainya ada di sini.
Setiap tiga atau lima menit ia merendam kain kompres kembali agar tetap hangat dan diletakkan dahi Galen hingga panas Galen perlahan mulai menurun.
Fokus Luna terpecah saat mendengar suara ponsel Galen.
Detingan ponsel itu tidak berhenti-henti. Ia berusaha mengabaiksnya namun makin lama makin banyak, takut membuat Galen terganggu.
Luna mendekat ke arah ponsel Galen, melihat wallpaper Regan saat masih bayi di sana, sangat menggemaskan.
“Lucu” cicit Luna
Mirip dirinya dan Kak Lila
Ia tersentak, saat melihat pesan masuk ke dalam. ponsel Galen yang terlihat di layar kunci pria itu.
“Lebih baik kamu mati saja. Anak haram seperti kamu yang seharusnya mati!!”