NovelToon NovelToon
Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Status: tamat
Genre:Showbiz / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

"Bukan Laknat, namaku Rahmat."

Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."

15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.

Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.

Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.

Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?

"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Lollipop

Atau mungkin, untuk pertama kalinya, dua jantung sedang belajar berdetak dalam ritme yang sama.

Keesokan harinya, Wenny memutuskan bahwa jantungnya butuh istirahat.

Sayangnya, Koko tidak setuju.

"Hari ini santai," kata Koko di halaman belakang vila Bandung, dengan senyum yang membuat kata `santai` terdengar seperti jebakan. "Kita main tebak gaya, tebak lagu, dan beberapa mini game ringan. Pemenang dapat hadiah kecil."

Kevin langsung curiga. "Hadiah kecil atau masalah besar?"

"Tergantung cara kalian memakainya."

"Itu bukan jawaban yang menenangkan."

Setelah episode berkuda kemarin, komentar live masih penuh potongan video REYN memeluk Wenny dari belakang. Wenny tahu karena ia tidak sengaja membukanya saat sarapan. Tidak sengaja yang berlangsung dua puluh menit.

Karena itu, ia bertekad hari ini akan menjaga jarak profesional.

Tekad itu bertahan sampai permainan kedua.

Wenny satu tim dengan Stella dan Kevin. Mereka menang setelah Kevin memperagakan judul lagu REYN dengan gerakan terlalu dramatis sampai semua orang menebak bukan karena gerakannya bagus, melainkan karena tidak mungkin ada orang lain yang sepercaya diri itu.

Koko memberikan hadiah berupa keranjang kecil berisi permen, cokelat, dan beberapa lollipop warna-warni.

"Hadiah anak TK," komentar Stella.

Kevin mengambil satu lollipop merah. "Jangan menghina. Ini simbol kemenangan."

Wenny mengambil lollipop rasa stroberi, lebih karena tangannya butuh melakukan sesuatu daripada karena ingin makan. Ia membuka bungkusnya, duduk di kursi panjang dekat taman, lalu memasukkan lollipop itu ke mulut sambil menonton tim REYN bermain.

Ia lupa bahwa kamera selalu mencari hal kecil.

Ia juga lupa bahwa REYN memperhatikan lebih teliti daripada kamera.

Ketika permainan selesai, REYN berjalan mendekat dan duduk di sisi kursi yang sama, menyisakan jarak sopan. Terlalu sopan, sebenarnya, setelah kemarin ia duduk di belakang Wenny di atas kuda.

"Timku kalah," katanya.

Wenny mengangkat alis. "Aku tahu."

"Kamu senang?"

"Sedikit."

"Kejujuran yang menyakitkan."

Wenny hampir tersenyum. Lollipop masih berada di mulutnya, membuat jawabannya sedikit terlambat. REYN menatapnya.

Awalnya Wenny tidak sadar.

Lalu ia melihat mata REYN turun ke lollipop, berhenti lebih lama dari yang seharusnya, lalu kembali ke matanya.

Panas langsung naik ke telinga Wenny.

"Apa?" tanyanya setelah menarik lollipop itu dari mulut.

"Tidak apa-apa."

"Kamu melihat seperti ingin bilang sesuatu."

"Aku sedang berpikir."

"Tentang lollipop?"

"Tentang kamu."

Wenny menatapnya. "Itu tidak membuat jawabannya lebih aman."

REYN tersenyum tipis.

Di pinggir set, Kevin yang seharusnya sedang memilih permen tiba-tiba sangat fokus pada mereka. Stella menatap Kevin agar diam. Natasha pura-pura membaca label cokelat. Rosa berdiri di dekat meja hadiah, wajahnya rapi, tetapi matanya tajam.

Wenny merasa harus mengubah suasana sebelum Koko mencium momen dan memperbesar semuanya.

Ia mengangkat lollipop itu, setengah bercanda. "Mau coba?"

Begitu kalimat keluar, Wenny menyesal.

Ia bermaksud menawarkan seperti orang normal menawarkan permen. Tetapi begitu melihat mata REYN berubah, ia sadar tidak ada yang normal jika melibatkan pria itu.

"Boleh?" tanya REYN.

Wenny menggenggam stik lollipop lebih erat. "Aku cuma bercanda."

"Aku tidak."

Jantung Wenny langsung lupa niatnya beristirahat.

"Ambil yang baru di keranjang," katanya cepat.

"Aku ingin yang itu."

Kevin di belakang mereka mengeluarkan suara kecil seperti orang tersedak udara.

Koko berbisik pada kameramen, "Zoom pelan."

Wenny sadar semua orang memperhatikan. Ia seharusnya menarik lollipop itu kembali. Seharusnya tertawa, mengatakan REYN bercanda, lalu mengganti topik. Tetapi ada bagian dirinya yang penasaran. Bagian yang sejak Bali terus ingin tahu sejauh mana REYN akan melangkah jika ia tidak mundur.

Ia mengulurkan lollipop itu sedikit.

"Cuma sedikit," katanya, mencoba terdengar tegas.

REYN menunduk.

Ia tidak mengambil stiknya.

Ia justru memegang pergelangan tangan Wenny dengan dua jari, sangat ringan, hanya agar lollipop itu tidak bergerak. Lalu ia mendekat dan menggigit sisi yang sama yang sejak tadi disentuh bibir Wenny.

Seluruh halaman vila berhenti.

Wenny yakin kamera menangkap matanya yang membesar.

REYN mundur, mengunyah permen kecil itu dengan wajah terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja membuat internet kehilangan akal.

"Manis," katanya.

Wenny tidak tahu apakah ia membicarakan permen.

Yang lebih menyebalkan, REYN tidak tampak menyesal. Ia duduk kembali dengan tenang, seolah barusan hanya mencicipi hadiah permainan, bukan menggigit sisi yang sama dari lollipop yang masih menyimpan bekas bibir Wenny. Sementara itu, Wenny merasa semua darah di tubuhnya naik ke wajah.

Ia ingin marah.

Seharusnya ia marah.

Namun bagian yang paling jujur dari dirinya justru sibuk mengingat sentuhan dua jari REYN di pergelangan tangannya, ringan, sopan, dan entah bagaimana lebih mengacaukan daripada jika pria itu bergerak kasar.

Komentar live meledak di monitor.

`ITU SISI YANG SAMA.`

`Indirect kiss nasional.`

`REYN tidak punya rem.`

`Wenny masih hidup? Aku saja hampir tidak.`

Kevin akhirnya berbisik, "Aku perlu duduk."

"Kamu sudah duduk," kata Stella.

"Secara jiwa."

Di ruang observasi, Chelsea menjerit tanpa suara sambil memukul bantal ke sofa. "Dia menggigit sisi yang sama. Sisi yang sama, Jay!"

Jay menutup satu telinga. "Aku punya mata."

"Kamu tidak cukup panik."

"Karena gue sudah menyerah sejak dia bilang ikut acara ini kalau Wenny ikut."

Chelsea menatap layar dengan mata berbinar. "Kalau ini masa lalu dari naksir diam-diam, aku takut masa depannya seperti apa."

Jay tersenyum kecil, tetapi tatapannya pada REYN lebih serius. "Masa depannya tergantung Wenny berani tanya atau tidak."

Di halaman, Koko bahkan tidak memberi aba-aba permainan berikutnya. Ia membiarkan hening itu bekerja, membiarkan kamera menangkap Wenny yang memegang lollipop seperti tidak tahu harus membuang, menyimpan, atau berpura-pura benda itu tidak pernah menjadi pusat bencana.

Ujung permen itu berkilau di bawah cahaya siang, terlalu polos untuk sesuatu yang baru saja membuat napasnya berantakan.

Rosa meletakkan cokelat yang belum ia buka kembali ke keranjang. Gerakannya pelan, tetapi kerasnya ujung bungkus menyentuh meja terdengar jelas.

Wenny menarik tangannya, memegang lollipop seperti benda bukti kejahatan.

"Kamu..." Ia menelan ludah. "Kamu sadar kamera ada di mana-mana?"

"Sadar."

"Lalu kenapa?"

REYN menatapnya, tidak lagi bercanda.

"Karena aku tidak mau terus berpura-pura menjaga jarak yang tidak ingin kujaga."

Kalimat itu lebih berbahaya daripada lollipop.

Wenny menatapnya tanpa berkedip.

"Kamu selalu bicara seperti orang yang sedang..."

"Sedang apa?"

Ia hampir berkata `mengaku`.

Tetapi kata itu terlalu besar.

REYN menunggu, lalu berkata lebih pelan, "Kalau kamu mau menyebutnya naksir diam-diam, itu sudah masa lalu bagiku sekarang."

Napas Wenny tertahan.

Masa lalu.

Kalau naksir diam-diam adalah masa lalu yang sudah ia tinggalkan...

Lalu sekarang apa sebenarnya untuk mereka?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!