Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24
Gala Dinner
Senja tidak langsung menjawab.
Dia bisa merasakan semua mata bergerak ke wajahnya, ke kursi kosong di sampingnya, ke cincin di jarinya, lalu kembali ke wajahnya lagi. Serena berdiri dengan senyum tipis, seolah hanya menanyakan hal ringan tentang menu makan malam.
Padahal semua orang tahu, itu bukan pertanyaan.
Itu perangkap.
Senja menarik napas pelan.
"Saya hadir sebagai diri saya sendiri," katanya.
Serena mengangkat alis. "Jawaban yang indah, tapi agak kabur."
"Kalau Pak Budiman mengundang saya karena tari, saya bersyukur. Kalau kartu tempat duduk saya tertulis Nyonya Wijaya, itu juga fakta." Senja menatap Serena, suaranya tetap rendah. "Dua hal itu tidak saling membatalkan."
Pak Budiman mengangguk kecil. "Betul. Senja diundang karena kontribusinya di dunia tari kontemporer."
Beberapa orang di meja tampak menerima jawaban itu. Namun Serena tidak akan berhenti hanya karena satu jawaban baik.
"Tentu, Pak. Saya tidak meragukan bakat Senja." Serena duduk di kursi kosong di meja sebelah tanpa diminta, cukup dekat untuk tetap menguasai percakapan. "Saya hanya khawatir orang-orang salah paham. Sekarang banyak yang mengira semua pintu terbuka karena nama Wijaya, bukan karena kemampuan."
Salah satu sponsor pria tertawa pendek. "Dalam dunia kita, nama memang membuka pintu."
"Benar," Serena menyambut cepat. "Dan ada orang yang sangat beruntung karena mendapatkan nama itu lewat pernikahan."
Panas naik ke leher Senja.
Dia ingin berkata bahwa keberuntungan tidak terasa seperti dijual dalam tiga hari. Bahwa nama Wijaya datang dengan daftar aturan, tatapan curiga, dan kamar yang dibelah bantal panjang. Tetapi di ruangan seperti ini, luka pribadi hanya akan menjadi hiburan baru.
"Nama bisa membuka pintu," jawab Senja. "Tapi setelah pintu terbuka, seseorang tetap harus berjalan dengan kakinya sendiri."
Pak Budiman tersenyum lagi. "Kalimat yang bagus."
Serena menatapnya. "Semoga kakinya cukup kuat."
Makan malam dimulai setelah itu, tetapi tekanan tidak hilang. Ia hanya berubah bentuk menjadi komentar yang dilempar seolah tidak sengaja.
"Senja, dulu kamu belajar tari di mana? Bukan sekolah seni luar negeri, kan?"
"Keluarga Liem memang mendukung seni?"
"Rayhan tidak bosan menunggu istri latihan?"
"Pernikahan kalian cepat sekali. Apa memang sudah lama kenal?"
Senja menjawab seperlunya. Tidak lebih. Setiap jawaban dia susun seperti gerakan tari: tidak terburu-buru, tidak terlalu panjang, tidak memberi celah untuk dijatuhkan.
Namun tubuh tetap punya batas.
Setelah hidangan utama, kepalanya mulai berdenyut. Bukan pusing seperti di sanggar, melainkan lelah karena terus menahan wajah. Dia minum air hangat yang sudah disiapkan staf hotel sesuai catatan Pak Hadi. Di luar ballroom, Pak Hadi pasti menunggu, tetapi Senja tidak ingin keluar sebelum Rayhan datang. Jika dia pergi sekarang, Serena akan menyebutnya kalah.
Ponselnya bergetar di clutch.
Rayhan: Lima belas menit.
Senja menatap pesan itu terlalu lama.
Lima belas menit bisa terasa pendek di jalan. Di meja ini, lima belas menit bisa terasa seperti satu babak penyiksaan kecil.
Dia mengetik balasan.
Senja: Aku baik-baik saja.
Dia belum mengirim ketika mengingat kalimat Rayhan.
Kalimat itu dilarang mulai hari ini.
Senja menghapusnya.
Senja: Aku menunggu.
Balasan datang cepat.
Rayhan: Aku datang.
Dua kata itu membuatnya bertahan sedikit lebih mudah.
Tetapi Serena melihatnya menatap ponsel.
"Rayhan?" tanya Serena dengan nada manis. "Masih di jalan?"
"Iya."
"Kasihan. Acara seni mungkin bukan prioritasnya."
Senja meletakkan ponsel ke clutch. "Dia bekerja."
"Selalu ada pekerjaan." Serena memiringkan kepala. "Kamu harus terbiasa. Menjadi istri orang seperti Rayhan tidak seindah foto di lobby hotel."
Beberapa perempuan di meja sebelah menoleh.
Senja tidak ingin menjawab. Tetapi Serena mendekatkan suara, membuat kalimat berikutnya terdengar seperti nasihat pribadi yang sengaja dibocorkan.
"Jangan terlalu percaya hanya karena dia memberi jas di depan orang. Pria seperti Rayhan tahu cara menjaga wajah keluarga. Bukan berarti dia benar-benar memilihmu."
Kata memilih menusuk tempat yang tepat.
Senja menatap piring di depannya. Makanan hampir tidak disentuh.
Serena melanjutkan, "Kamu masuk keluarga Wijaya karena keluarga Liem memberi jalan. Jangan lupa. Kalau bukan karena Papa, kamu masih..."
"Cukup," kata Senja pelan.
Serena tersenyum puas karena akhirnya melihat retak di wajahnya. "Apa? Aku hanya mengingatkan asalmu."
"Aku tidak lupa asalku."
"Bagus. Orang yang lupa asal biasanya cepat jatuh."
Senja mengangkat wajah. "Aku juga tidak lupa siapa yang selalu mendorong."
Senyum Serena menghilang.
Di meja, suasana menegang.
Seorang perempuan paruh baya mencoba mencairkan. "Sudahlah, kalian saudara. Jangan tegang di acara umum."
Serena langsung memakai kesempatan itu. "Benar, Tante. Saya justru sayang pada Senja. Kadang dia terlalu sensitif karena masa lalunya."
"Masa lalu?" tanya seseorang.
Serena menutup mulut seolah baru sadar telah bicara terlalu banyak. Aktingnya begitu halus sampai beberapa orang benar-benar condong mendekat.
Senja merasakan bahaya datang.
"Tidak ada yang perlu dibahas," katanya.
Serena menurunkan suara, tetapi semua orang di meja tetap mendengar. "Saya hanya tidak ingin orang salah paham kalau Senja terlihat kaku. Dia tumbuh dengan banyak keterbatasan. Anak angkat kadang merasa harus membuktikan diri lebih keras."
Kata anak angkat jatuh ke meja seperti gelas pecah.
Tidak ada yang langsung bicara.
Senja merasakan telapak tangannya dingin. Ini bukan pertama kalinya orang menyebutnya anak angkat. Tetapi di ruang ini, di depan orang-orang yang mengukur nilai seseorang dari nama keluarga, kata itu berubah menjadi cap di dahi.
Pak Budiman tampak tidak nyaman. "Status keluarga tidak ada hubungannya dengan karya."
"Tentu, Pak," Serena menjawab cepat. "Saya hanya memberi konteks."
Konteks.
Senja hampir tertawa.
Semua luka selalu terdengar lebih sopan jika disebut konteks.
Dia meletakkan serbet di pangkuan dengan tangan yang nyaris tidak gemetar.
"Kalau konteksnya sudah selesai," kata Senja, "mungkin kita bisa kembali membahas seni."
Serena menatapnya tajam.
Namun sebelum dia sempat membalas, sponsor pria tadi berkata, "Tapi publik tetap melihat nama keluarga. Apalagi setelah menikah dengan Wijaya. Tidak mudah membedakan mana prestasi dan mana fasilitas."
Serena tersenyum lagi. Dia tidak perlu menyerang langsung jika orang lain sudah memegang pisau.
Senja menatap pria itu. "Kalau begitu, datanglah menonton latihan kami. Lihat apakah tubuh bisa berbohong selama dua jam."
Pria itu terdiam, mungkin tidak menyangka dia akan menjawab begitu.
Pak Budiman tertawa kecil, kali ini jelas mendukung. "Saya setuju. Tari tidak bisa dipalsukan lama-lama."
Beberapa orang ikut tertawa sopan.
Serena kehilangan satu putaran lagi.
Tetapi dia masih punya satu senjata.
Dia mengambil gelas air, menyesap sedikit, lalu berkata, "Semoga saja Rayhan juga melihatnya begitu. Karena dari yang saya dengar, pernikahan kalian lebih mirip kesepakatan keluarga daripada kisah cinta."
Seluruh meja membeku.
Senja merasa darahnya berhenti.
Kalimat itu terlalu dekat dengan kebenaran.
Terlalu dekat dengan dokumen hitam di ruang kerja Rayhan. Terlalu dekat dengan Rp 50 miliar, tiga bulan batas fisik, dua tahun masa perjanjian.
Serena belum tentu tahu detailnya. Tetapi dia tahu cukup banyak untuk membuat Senja kehilangan warna wajah.
Dan kali ini, Senja tidak tahu jawaban mana yang tidak akan menjadi kebohongan.
Di belakang Serena, pintu ballroom terbuka.
Angin pendingin dari koridor bergerak masuk, membawa suara langkah yang tenang dan berat.
Rayhan Wijaya akhirnya tiba.