NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9: Akun Bernama Z

"Yu."

Suara Zhen membuat Yu sadar bahwa tangannya masih menekan punggung tangan laki-laki itu.

Di atas lengan hoodie-nya.

Di depan lobby fakultas.

Di tempat beberapa mahasiswa bisa saja melihat.

Yu langsung melepas, mundur setengah langkah, lalu hampir tersandung pinggir trotoar. Zhen menangkap siku jaketnya, kali ini hanya kain, tidak ada kulit.

"Hati-hati."

"Aku tahu."

"Kamu baru saja hampir jatuh."

"Itu karena trotoarnya salah desain."

Zhen menatap trotoar, lalu menatap Yu lagi.

"Trotoarnya diam."

Yu ingin menghilang ke dalam selokan.

Perjalanan pulang berlangsung dengan cara paling aneh. Zhen tidak bertanya terlalu banyak. Ia hanya membawa Yu ke mobil yang diparkir tidak jauh dari fakultas, membukakan pintu penumpang, lalu menunggu sampai Yu memasang seat belt.

Mobilnya bersih. Tentu saja.

Tidak ada tisu berserakan, tidak ada botol kosong, tidak ada wangi pengharum mobil murahan. Dashboard-nya rapi, joknya hitam, dan di dekat kaca depan tergantung satu gantungan kecil berbentuk huruf Z.

Yu menatapnya.

"Kenapa?" tanya Zhen sambil menyalakan mesin.

"Kamu suka huruf Z?"

"Namaku Zhen."

"Oh."

Jawaban yang masuk akal, tapi Yu tetap merasa ada sesuatu di balik huruf itu. Helm berlogo Z. Gantungan mobil Z. T-shirt Z Racing Team. Terlalu banyak Z untuk orang yang katanya hanya mahasiswa Fasilkom biasa.

Zhen keluar dari area kampus. "Kalau orang itu muncul lagi, jangan hadapi sendiri."

"Aku tidak menghadapi. Aku kabur."

"Kaburmu jelek."

"Terima kasih atas evaluasinya."

"Sama-sama."

Yu menoleh ke jendela agar Zhen tidak melihat sudut bibirnya yang hampir naik. Setelah semua ketegangan tadi, percakapan menyebalkan seperti ini justru membuat napasnya normal.

Beberapa menit kemudian, Zhen berkata, "Kamu boleh kirim jadwal kelas."

Yu menoleh cepat. "Untuk apa?"

"Aku cek kalau perlu jemput."

"Nggak perlu."

"Hari ini perlu."

"Itu kebetulan."

"Aku tidak suka mengandalkan kebetulan."

Kalimat itu membuat Yu diam.

Di luar, hujan mulai turun lagi, tipis-tipis di kaca mobil. Wiper bergerak pelan. Yu menatap garis air yang terhapus, lalu muncul lagi. Ada sesuatu yang sangat berbahaya dari cara Zhen membuat perlindungan terdengar seperti manajemen risiko, bukan perhatian.

Sesampainya di apartemen, Yu langsung masuk kamar dengan alasan ingin mandi. Padahal ia butuh menjauh dari aroma sabun dingin Zhen, dari suara rendahnya, dari fakta bahwa pergelangan tangannya masih terasa hangat.

Setelah mandi, ia duduk di meja belajar dan membuka laptop.

Tugas struktur data menunggu.

Yu membuka browser.

Jari-jarinya mengetik bukan judul tugas, melainkan:

Z Racing Team Sentul

Hasil pencarian muncul cepat.

Sebuah akun Instagram berada di posisi atas.

@Z.racing

Foto profilnya hitam putih, hanya huruf Z miring seperti goresan di aspal. Yu menelan ludah, lalu mengklik.

Akun itu punya ratusan ribu pengikut.

Foto pertama, mobil sport warna hitam di lintasan. Foto kedua, seseorang memakai racing suit dan helm, berdiri di samping mobil dengan lampu sirkuit di belakangnya. Foto ketiga, close-up sarung tangan di atas kemudi. Hampir semua foto tidak menunjukkan wajah jelas. Namun tubuh tinggi itu, bahu itu, cara berdiri yang terlalu tenang itu, Yu langsung tahu.

Zhen.

Komentarnya ramai.

Z, malam kemarin gila banget!

Bang, next race kapan?

VIP guest kemarin puas banget, katanya mau booking lagi.

Z jangan dingin-dingin dong, senyum sekali saja.

Yu membaca komentar itu satu per satu dengan wajah makin panas.

VIP guest.

Booking.

Jangan dingin-dingin.

Tentu saja, dalam dunia normal, itu bisa berarti tamu VIP acara balapan, booking jadwal race, dan penggemar yang menggoda pembalap. Tapi dunia Yu sejak seminggu terakhir tidak normal. Dunia Yu berisi mantan selingkuh, apartemen salah sistem, laki-laki pulang jam dua pagi, dan tubuh yang tenang saat disentuh orang yang mungkin punya tarif sepuluh juta.

Ia menggeser layar.

Ada video pendek. Mobil hitam melesat di Sentul International Circuit, suaranya menggeram. Kamera mengikuti sampai mobil itu melewati tikungan dengan garis rapi, lalu berhenti di pit. Seseorang melepas helm.

Wajah Zhen muncul setengah detik.

Kolom komentar meledak.

GANTENG BANGET KENAPA CUMA SETENGAH DETIK?

Ini mah bukan racer, ini model majalah otomotif.

Z, open private coaching nggak?

Yu berhenti di komentar terakhir.

Private coaching.

Ia menutup laptop setengah, lalu membukanya lagi.

"Jangan mikir aneh," katanya pada diri sendiri.

Tetapi otaknya sudah melompat.

Private coaching bisa berarti latihan balap pribadi. Bisa juga, dalam kepala Yu yang sudah dirusak Lily, berarti sesi privat dengan model otomotif misterius.

Ponselnya bergetar.

Lily.

Update. Sampai rumah? Masih hidup? Model itu nganterin?

Yu menatap pesan itu, lalu membalas:

Sampai. Dia antar.

Balasan Lily datang cepat.

GUE TAHU. Cie.

Yu mengetik:

Aku nemu akun dia.

Tiga titik muncul seketika.

KIRIM.

Yu ragu. Lalu ia mengirim username.

Tidak sampai sepuluh detik, Lily menelepon.

Yu panik, buru-buru mengambil earphone dan menerima dengan suara pelan. "Kenapa?"

"KENAPA LO BISIK-BISIK?"

"Dia di luar."

"Bagus. Dengar, Yu. Itu bukan sekadar model. Itu model premium plus pembalap atau pembalap plus model, gue belum tahu. Tapi angka followers-nya gila."

"Jangan lebay."

"Lo lihat komentar private coaching?"

Yu menutup mata. "Lihat."

"Nah."

"Nah apa?"

"Kalau lo butuh alasan untuk pegang tangan, minta coaching."

"Coaching apa? Aku nggak bisa balap mobil."

"Coaching hidup. Coaching buka stoples. Coaching cara tidak jatuh cinta sama roommate."

"Lil!"

Lily tertawa di seberang. "Oke, oke. Tapi serius, hati-hati. Orang sepopuler itu pasti banyak yang nempel. Jangan sampai lo jadi bahan gosip."

Kalimat itu mengembalikan Yu ke tanah.

Bahan gosip.

Ia melihat layar Instagram lagi. Foto Zhen di sirkuit, komentar perempuan, komentar laki-laki, pujian, candaan, emoji api. Jika Zhen memang orang populer di lingkaran itu, Yu hanyalah roommate baru yang salah masuk sistem. Ia tidak punya tempat dalam hidup laki-laki seperti itu.

Kecuali sebagai orang yang butuh bantuannya.

Dan kebutuhan itu pun tidak bisa ia jelaskan.

"Aku tahu," kata Yu pelan.

Lily ikut melembut. "Lo baik-baik aja?"

"Iya."

"Jawaban lo cepat."

Yu terdiam, lalu tertawa kecil. "Semua orang mulai pakai kalimat itu."

Setelah telepon ditutup, Yu kembali membuka akun @Z.racing. Ia berhenti di satu unggahan lama. Foto helm hitam dengan caption pendek:

Z.

Tidak ada penjelasan. Tidak ada wajah. Hanya satu huruf.

Di bagian bio, tertulis alamat email kerja sama dan satu kalimat:

No unnecessary touch.

Yu membaca kalimat itu tiga kali.

Tidak perlu sentuhan yang tidak perlu.

Tentu saja. Bahkan akun publiknya pun punya aura anti-sentuhan.

Yu menutup laptop, lalu menatap notes di ponselnya.

Cara menyentuh Zhen tanpa terlihat ingin menyentuh Zhen.

Ia menambahkan baris kedua.

Cari tahu tarif "coaching".

Beberapa detik kemudian, ia menghapus tanda petik, lalu menatap layar dengan wajah panas.

Di luar kamar, terdengar suara pintu utama terbuka.

Zhen pulang dari membeli sesuatu, mungkin makan malam, mungkin cairan pembersih lain untuk mensterilkan dunia. Yu menahan napas ketika langkahnya berhenti tepat di depan pintu kamar Yu.

Tok.

"Yu."

Ia hampir menjatuhkan ponsel.

"Iya?"

"Kamu lupa kirim jadwal kelas."

Yu melihat notes di tangannya, lalu ke pintu.

Di layar, baris terakhir masih menyala.

Cari tahu tarif coaching.

Dan di balik pintu, orang yang mungkin akan menjadi sumber kekacauan terbesarnya menunggu jawaban.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!