Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalur Evakuasi
Rentetan tembakan dari luar semakin brutal. Kaca jendela kamar utama hancur lebur berserakan di lantai. Angin malam dan kabut dingin langsung menerobos masuk, membawa bau mesiu yang menyengat paru-paru.
Bara mengerahkan seluruh tenaganya mendorong lemari kayu jati raksasa di sudut ruangan. Begitu lemari itu bergeser, sebuah pintu besi tebal yang warnanya tersamar dengan dinding tembok terlihat. Bara memasukkan kode di keypad dengan cepat.
Klik.
Pintu itu ditarik terbuka, menampakkan lorong tangga beton yang gelap gulita dan berbau apak.
"Jalurnya terbuka! Bos, Nona, cepat masuk!" teriak Bara mengalahkan suara bising tembakan di luar.
Rara yang masih memapah tubuh berat Arka menelan ludah. Matanya melotot menatap tangga yang nyaris tak ada cahaya itu. "Bar, lo bercanda?! Ini gelap banget kayak kuburan! Gue nggak bisa lihat apa-apa ke bawah!"
"Pilih mati di sini atau turun," desis Arka dingin tepat di sebelah telinga Rara. Suaranya parau, tapi ancamannya terasa sangat nyata. Pria itu menahan bobot tubuhnya yang melemah, tangan kanannya meremas erat luka di perutnya yang kembali merembes basah.
Sebelum Rara sempat berdebat lagi, pintu kamar yang tadi sudah rusak mendadak ditendang terbuka lebih lebar.
Rara nyaris menjerit, namun yang muncul dari balik pintu rupanya bukan musuh, melainkan Dino.
Pria itu melompat masuk sambil memberondongkan senapan laras panjangnya ke arah koridor. Wajahnya cemong kena debu mesiu, peluh membanjiri dahinya, dan lengan bajunya sobek di satu sisi.
"Gila, Bos! Mereka bawa pasukan sekampung!" teriak Dino sambil buru-buru menutup pintu dan menguncinya pakai kursi. "Depan udah jebol total! Granat asap di mana-mana. Kalo kita nggak cabut sekarang, kita beneran jadi perkedel!"
Arka menatap Dino tajam, sama sekali tak terlihat panik. "Sisa amunisimu?"
Dino menepuk magasin senapannya sambil meringis kaku. "Tinggal sisa setengah, Bos. Cukup buat nahan mereka di pintu ini paling lama dua menit."
"Tahan mereka sampai kami turun, lalu segera menyusul. Kunci pintu besinya dari dalam," perintah Arka mutlak, tanpa sedikit pun keraguan. Nada bicaranya tetap dingin dan kaku, seolah ia sedang mengatur strategi di meja rapat, bukan di ambang kematian.
"Siap, Bos!" Dino menyeringai tegang, memposisikan dirinya berlindung di balik ranjang sambil membidik ke arah pintu kayu yang mulai digedor paksa oleh musuh dari luar.
"Jalan, Rara," perintah Arka, mencengkeram bahu gadis itu sedikit lebih kuat untuk memaksanya bergerak.
Rara menghela napas gemetar. Rasa takutnya memuncak, tapi suara dobrak pintu dari arah Dino berjaga sukses membuat kakinya buru-buru melangkah masuk ke pintu besi itu. Lorongnya sempit dan udaranya terasa menekan dada.
Bara memimpin di depan bermodalkan sebuah senter kecil, memastikan tak ada jebakan. Rara memapah Arka menuruni anak tangga beton itu satu per satu dengan susah payah. Bobot tubuh Arka yang besar benar-benar menyiksa bahunya.
"Awas pelan-pelan," rutuk Rara dengan dada naik-turun menahan beban. "Kalo lo pingsan terus ngglundung ke bawah, gue ikutan mati ketimpa badan lo, Arka."
Di tengah rasa sakit yang merobek perutnya, Arka nyaris mendengus mendengar ocehan rewel itu. "Kalau saya mati, pastikan kau tidak menjerit-jerit panik di telinga saya."
Rara mendelik kesal di tengah kegelapan. "Sumpah ya, mulut lo..."
BAM! BAM! DOR!
Suara baku tembak pecah dengan dahsyat dari arah kamar di atas mereka. Suara rentetan senapan Dino terdengar bersahut-sahutan dengan makian musuh.
Rara refleks merunduk, napasnya tercekat. "Dino gimana?!"
"Terus jalan! Jangan berhenti!" bentak Arka tajam, menarik bahu Rara agar kembali fokus menuruni tangga. Di dunia mafia, berhenti berarti mati, dan ia tak akan membiarkan kebodohan empati sesaat membunuh mereka berdua.
Beberapa detik yang terasa seperti setahun itu berlalu, hingga terdengar derap langkah kaki terburu-buru menyusul dari atas. Dino melompat masuk ke balik pintu besi, lalu dengan cepat memutar tuas pengunci yang berat hingga berbunyi KLANG keras.
"Aman, Bos! Pintu utama terkunci!" seru Dino dari atas tangga, napasnya ngos-ngosan parah. "Tapi peluru gue beneran abis nih. Kalo mereka bawa peledak buat ngejebol tuas pintu ini, tamat riwayat kita."
Bara menyorotkan senternya ke depan, menembus lorong beton panjang yang ujungnya sama sekali tak terlihat. "Kita harus jalan satu kilometer lagi ke titik evakuasi di lereng bawah. Ada mobil cadangan di sana."
Arka menatap lorong gelap itu dengan mata setajam silet, mengabaikan keringat dingin yang membasahi wajahnya. Ia mengeratkan rangkulan tangannya di bahu Rara.
"Jalan sekarang."
Diiringi suara gedoran brutal musuh dari balik pintu besi tebal di belakang mereka, pelarian di lorong bawah tanah yang pengap itu pun dimulai. Rara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berdoa dalam hati agar malam panjang ini segera berakhir.