Dewangga tak menyangka di usianya yang menginjak 42 tahun, dia harus menikahi sahabat putrinya karena kesalahan pahaman. Pernikahan mereka pun harus dirahasiakan dari sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Escendol94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24~~ Game
Lagi-lagi Dewangga membuat semua orang di ruangan itu bingung dengan sikapnya.
Saat Riri hendak meraih gelas di meja, pria itu justru menggesernya--pelan, tapi jelas--hingga tepat berada di depan Riri. Gerakannya tenang, seolah hal itu sesuatu yang wajar. Wajahnya datar, tanpa senyum, tanpa sepatah kata pun.
Sikap itu justru membuat suasana semakin canggung.
Riri tertegun. Tatapannya berpindah dari gelas ke wajah Dewangga, lalu tanpa sadar melirik ke sekeliling. Semua orang memperhatikan. Tidak ada yang bicara, tapi ekspresi mereka cukup untuk membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Dalam hati merutuk tindakan Dewangga.
"Kenapa diam? Mau minum yang lain?"
Suara Dewangga masih saja datar. Tapi semakin membuatnya salah tingkah. Ia menggeleng cepat. Dengan tangan sedikit gemetar, Riri akhirnya meraih gelas itu.
"Makasih, Om." Suaranya pelan, nyaris tak terdengar.
Ia segera meneguk air di dalamnya, terlalu cepat, seolah ingin mengalihkan rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya. Tenggorokannya terasa kering, entah karena haus... atau karena suasana yang berubah aneh.
Di sisi lain, Nura justru tersenyum lebar. Meski tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, ia senang karena Papanya tidak lagi bersikap dingin pada Riri. Bagi Nura, hal kecil seperti itu sudah terasa seperti kemajuan besar.
Ia meletakkan sendoknya dengan semangat, lalu berkata ceria, "Habis makan kita karaoke, ya!"
Suasana yang sempat kaku itu sedikit mencair oleh suara riang Nura. Rencana itu memang sudah ia susun rapi di jadwal buatannya --dan tentu saja, ia tidak mau ada yang mengacaukannya.
Tatapan Nura kini beralih tajam ke arah Dewangga. "Papa jangan marah nggak jelas lagi!" ketusnya, nada suaranya terdengar lebih tinggi dari biasanya.
Dewangga tetap diam. Wajahnya datar, seolah ucapan itu tidak cukup penting untuk ditanggapi.
Sikap itu justru membuat Nura semakin gemas. Ia mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh, menahan kesal pada pria dingin yang--sialnya--adalah papanya sendiri.
Boleh nggak sih tukar Papa sama Oppa atau Gege? gerutunya dalam hati.
Nura menghembuskan napas panjang, mencoba meredakan emosinya. Ia tahu, seharusnya ia tidak berpikir seperti itu, apalagi tentang papanya sendiri.
Tanpa ingin berlama-lama dalam suasana yang membuatnya kesal, Nura langsung menepuk kedua tangannya pelan.
“Kita berangkat sekarang. Let's go!“ serunya, kembali ceria.
Ia menarik tangan Riri dengan penuh semangat. Membawa gadis itu ke luar dari ruang makan.
Riri hanya bisa mengikuti, sedikit terkejut dengan perubahan sikap Nura yang begitu cepat.
Di belakang mereka, tiga orang lainnya ikut menyusul, meninggalkan ruang makan menuju ruang karaoke.
Begitu pintu dibuka, ruangan luas itu langsung menyambut mereka. Sofa empuk tersusun mengelilingi meja rendah di tengah. Sebuah televisi besar menempel di dinding, sementara lampu-lampu berwarna dengan efek seperti di diskotik menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya temaram yang membuat suasana terasa lebih hidup.
Nura berdiri di depan, memposisikan dirinya seperti seorang MC. Tatapannya menyapu satu persatu wajah di ruangan itu, penuh semangat.
"Kita bakal main game," ujarnya, nada suaranya terdengar antusias. "Yang kalah harus ambil undian dan nyanyi sesuai genre lagu yang tertulis di kertas. Dan...." Ia berhenti sejenak, sengaja memberi jeda dramatis, "yang nggak bisa nyanyi bakal kena hukuman."
Riri langsung mengangkat tangan, ragu-ragu. "Kita mau main game apa?" tanyanya hati-hati. Ada rasa was-was yang belum hilang karena kejadian di jacuzzi. Ia cukup mengenal bagaimana Nura kalau sudah punya ide.
Nura terkekeh kecil, lalu mengedipkan satu mata. "Ri, santai aja. Jangan tegang gitu. Kali ini kira seru-seruan kok."
Entah kenapa, kalimat itu justru tidak sepenuhnya menenangkan Riri.
Sebaiknya begitu. Gumam Riri dalam hatinya.
"Baik." Nura menepuk tangannya sekali. "Kita mulai gamenya sekarang."
Ia kembali menatap semua orang, memastikan perhatian mereka tertuju padanya.
"Satu..."
"Dua..."
"Tutup mata!"
Seruan itu membuat Dewangga, Dirga, dan Sarah langsung menurut. Ketiganya menutup mata tanpa banyak tanya.
Namun, tidak dengan Riri.
Gadis itu duduk dengan mata masih terbuka, tampak bingung, seolah masih mencoba memahami aturan permainan yang terlalu tiba-tiba.
Sedetik hening.
Lalu--
Nura tertawa puas. Ia langsung menunjuk ke arah Riri. "Riri, kamu kalah."
Riri tersentak kaget. "Hah? Apa? Aku belum siap!" protesnya cepat. "Ulangi sekali lagi, Nura!"
"Nggak ada ulang!" sahut Nura tegas, kali ini dengan wajah dibuat galak, meski matanya masih menyiratkan keisengan. "Kamu kalah. Cepat ambil kertas di dalam kotak."
Riri menelan ludah. Tatapannya beralih ke kotak undian di atas meja, lalu ke wajah Nura yang tak memberi celah negosiasi.
Riri menunduk lesu. Bahunya sedikit turun, seolah sudah pasrah. "Baiklah...," gumamnya pelan.
Ia mengambil salah satu kertas dari dalam kotak, lalu membukanya dengan hati-hati. Tatapannya menelusuri tulisan di sana.
"Nyanyikan sebuah lagu cinta."
Sejenak ia terdiam.
"Yeay!" Nura langsung bertepuk tangan dengan wajah sumringah. "Riri... semangat!" serunya penuh antusias.
Riri tersenyum kaku. Bibirnya terangkat, tapi matanya masih menyimpan kegugupan. Ia memang sering bernyanyi bersama Nura. Tapi... itu berbeda. Sekarang ia harus bernyanyi di depan semua orang.
Dan yang paling membuatnya tidak tenang -- Dewangga ada di sini.
"Kalau aku nggak nyanyi. Hukumannya apa?" tanya Riri hati-hati, masih berharap ada jalan keluar.
Nura menatapnya, lalu tersenyum pelan. Senyuman yang terlalu manis... untuk sesuatu yang pasti tidak baik.
"Cium salah satu pria yang ada di sini!"
Kalimat itu jatuh begitu saja, santai --seolah bukan hal besar.
Mata Riri langsung membesar. "Nura!"
Refleks tatapannya langsung melirik ke arah Dewangga.
Hanya sekilas. Tapi cukup untuk membuat wajahnya memanas seketika. Jantungnya berdegup lebih cepat, entah karena malu... atau karena sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Ia buru-buru mengalihkan pandangan, lalu menghembuskan napas panjang.
"Oke... aku nyanyi aja," putusnya cepat, nyaris tanpa berpikir ulang.
Nura tersenyum puas. Ia menjentikkan jari sekali. "Pilihan yang bagus." Ia menunjuk layar televisi. "Sekarang pilih lagu tema cinta."
Riri mengangguk pelan, lalu melangkah mendekat ke layar. Jemarinya sedikit ragu saat akan memilih lagu, hingga ia berhenti pada satu pilihan.
Lagu dari Band Indonesia, D'Bagindas --Suka Sama Kamu.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar di dadanya. Lalu, perlahan ia mulai bernyanyi.
Suaranya lembut, penuh penghayatan. Setiap lirik yang keluar terdengar tulus, seolah membawa perasaan yang selama ini ia pendam.
Beberapa kali, tanpa sadar, tatapannya beralih ke arah Dewangga.
Singkat. Tapi cukup jelas. Seolah lagu itu memang ditujukan untuknya.
Dewangga yang sejak tadi bersandar santai, kini menahan senyum. Sudut bibirnya terangkat tipis, nyaris tidak terlihat. Kemarahan yang tadi sempat meluap, kini perlahan meredup.
Perasaannya kini berubah hangat. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Irama lagu itu seperti ikut menarik sesuatu yang selama ini ia tahan.
Apa-apaan ini... batinnya.
Ia mengalihkan pandangan sejenak, mencoba menetralisir perasaan yang tiba-tiba menyeruak. Ia tidak ingin ada yang melihat saat tersenyum bahagia. Tapi gagal. Tatapan itu kembali pada Riri.
Aku juga suka sama kamu. Ah, bukan lagi suka, tapi cinta... gumam Dewangga dalam hati.
Sementara itu, di sudut lain, Dirga hanya diam. Tatapannya tertuju pada Riri, tapi tidak ada senyum di sana.
Setiap lirik yang dinyanyikan gadis itu seperti jarum--pelan, tapi pasti--menusuk hingga ke dalam dada. Menyisakan sesak yang sulit dijelaskan.
Ia mengepalkan tangan di atas paha, berusaha menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan di depan yang lain.
Nura langsung bertepuk tangan begitu lagu Riri berhenti. Wajahnya berbinar, penuh kebanggaan.
Ia mengacungkan dua jempol ke arah Riri. "Riri ... suara kamu bagus banget!" pujinya tanpa ragu.
Sarah tersenyum lembut seraya memberi tepuk tangan pada Riri. Dewangga serta Dirga pun ikut memberi tepuk tangan.
Riri tersenyum malu. Tapi bukan itu yang membuat pipinya memerah. Melainkan... Dewangga.
Pria itu yang biasanya dingin dan sulit ditebak, kini mengangkat satu tangan ikut memberi jempol ke arahnya.
Sederhana.
Tapi cukup untuk membuat jantung Riri kembali berdebar tak karuan. Ia buru-buru menunduk, lalu melangkah pelan kembali ke tempat duduknya, mencoba menyembunyikan senyum kecil yang tak bisa ia tahan.
Nura yang tidak ingin suasana kehilangan ritme, segera kembali berdiri di tengah.
"Oke! kita lanjut!" serunya penuh semangat.
Ia menatap satu persatu, memastikan semua siap.
"Satu...."
"Dua..."
"Angkat tangan kiri!"
Semua langsung menurut. Tangan terangkat serempak.
Nura langsung cemberut. "Ih, kompak banget sih...."
Ia berpikir cepat, lalu kembali berseru, "Angkat kaki kanan!"
Kali ini gerakan mereka tidak secepat tadi. Dewangga terlambat. Hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuat Nura tersenyum lebar.
"Papa kena!" Ia nyaris melompat kecil karena senang. "Papa harus nyanyi lagu-"
"Papa pilih sendiri genre lagunya." Suara Dewangga memotong santai, tapi tegas.
Nura langsung mengerucutkan bibir. "Ih, nggak bisa! Aturannya harus ambil kertas dulu."
Dewangga bersandar santai, seolah tidak terlalu peduli. "Kalau begitu... Papa pilih hukuman saja."
Kalimat itu membuat Nura terdiam sejenak. Lalu, senyum licik muncul di wajahnya.
"Oke," katanya pelan, penuh arti. "Hukumannya... dansa dengan wanita yang duduk paling dekat dengan Papa.
Ucapan itu sengaja diucapkan perlahan, seolah ingin memastikan semua orang menangkap maksudnya. Tatapan Nura langsung mengarah pada Sarah.
Namun, Dewangga justru melirik ke arah lain-- ke arah Riri.
Tatapan itu singkat, tapi cukup untuk membuat Riri menegang di tempatnya. Napasnya tercekat, wajahnya kembali memanas.
Jangan aku....