Gendis baru saja melahirkan, tetapi bayinya tak kunjung diberikan usai lelahnya mempertaruhkan nyawa. Jangankan melihat wajahnya, bahkan dia tidak tahu jenis kelamin bayi yang sudah dilahirkan. Tim medis justru mengatakan bahwa bayinya tidak selamat.
Di tengah rasa frustrasinya, Gendis kembali bertemu dengan Hiro. Seorang kolega bisnis di masa lalu. Dia meminta bantuan Gendis untuk menjadi ibu susu putrinya.
Awalnya Gendis menolak, tetapi naluri seorang ibu mendorongnya untuk menyusui Reina, putri Hiro. Berawal dari menyusui, mulai timbul rasa nyaman dan bergantung pada kehadiran Hiro. Akankah rasa cinta itu terus berkembang, ataukah harus berganti kecewa karena rahasia Hiro yang terungkap seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika Ssi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Ledakan Emosi
Sementara itu, Hiro melajukan mobilnya begitu kencang menuju rumah sakit. Dia mendengar kabar bahwa Reiki sadar dari koma. Setelah sampai di rumah sakit, Hiro langsung berlari membelah kerumunan orang yang ada di lobi rumah sakit.
Langkah lelaki tersebut mantap menuju elevator. Detik-detik ketika ada dalam ruangan sempit itu terasa begitu lama. Denting suara elevator menandakan Hiro sudah sampai ke lantai yang dia tuju.
Pintu di hadapannya terbuka. Kakinya melangkah keluar dari sana. Hiro terus berlari hingga depan ruang ICU tempat Reiki dirawat.
"Aku akan segera tahu jawabannya." Hiro perlahan membuka pintu.
Dalam ruangan itu, Reiki masih terlihat masih lemah. Dia masih terbaring di atas brankard dengan Yumi yang terus menggenggam tangannya. Langkah Hiro semakin mendekat.
Saat Hiro sampai di dekat brankard, Reiki menoleh perlahan. Bibirnya bergerak, tetapi suara yang keluar sama sekali tidak bisa dia dengar dengan baik. Akhirnya Yumi beranjak dari kursi dan membiarkan adik iparnya itu berbincang dengan sang suami.
"Apa yang kamu rasakan sekarang, Kak? Bagian mana yang sakit?" tanya Hiro dengan suara berbisik pada telinga Reiki.
"Semuanya terasa mati rasa. Aku hampir tidak bisa merasakan apa pun." Suara Reiki terdengar begitu lemah, hampir tak terdengar.
"Di mana bayi itu. Aku menamainya Reina, di mana dia?" tanya Reiki lagi dengan mata sesekali terpejam.
"Ada di rumahmu. Dia aman bersama ibu susunya. Atau mungkin ... ibu kandungnya?" Hiro menatap dingin sang kakak.
Reiki tersenyum kecut. Dia hendak terkekeh, tetapi langsung terbatuk-batuk. Hiro menjauh dan kembali digantikan oleh Yumi.
"Apa yang kamu lakukan kepada kakakmu, Hiro!" seru Yumi sambil mengusap dada Reiki.
"Aku hanya bertanya sesuatu untuk memastikan hal penting! Kak, jika kamu tahu faktanya. Apakah kamu masih bisa secinta itu kepada Kak Rei?" Hiro tersenyum miring sambil menatap dingin ke arah sepasang suami istri tersebut.
"Apa maksudmu?" Yumi menoleh ke arah Hiro dan melemparkan tatapan nyalang.
"Sudahlah, biarkan Reiki pulih dulu. Nanti aku akan kembali datang untuk menanyakan banyak hal kepadanya!"
Hiro balik kanan menarik tuas pintu dan keluar dari ruangan tersebut. Ketika pintu kembali tertutup, dia melangkah mendekati dinding. Jemarinya mengepal kuat dan langsung mendarat pada tembok dingin tersebut.
"Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan, Kak! Jika benar ...." Hiro menarik tangannya dari dinding kemudian menghela napas kasar.
"Jika kamu memang benar ayah kandung Reina, artinya kamu telah menyakiti banyak orang sekaligus. Kamu telah membohongi Kak Yumi, mengambil kehormatan Gendis, dan kembali menyakiti Ayaka untuk kedua kalinya!" Hiro mengusap wajah kasar sebelum akhirnya mendaratkan bokong ke atas kursi.
Ketika sedang tenggelam dalam pikiran, ponsel Hiro berdering. Layar benda pipih tersebut menunjukkan nama Gendis. Sontak amarah Hiro padam, dia tersenyum lembut sambil mengusap kembali bibirnya.
Lelaki tersebut bergegas mengangkat panggilan itu. Ketika Hiro menempelkan benda pipih tersebut pada telinga, yang terdengar hanya isak tangis. Hiro langsung mengerutkan dahi.
"Ndis, kamu kenapa? Apa yang terjadi. Kamu lagi nggak di rumah? Kenapa berisik sekali?" Berondongan pertanyaan itu langsung diucapkan Hiro dalam sekali tarikan napas.
Namun, Gendis tidak menjawab. Justru isak tangisnya semakin keras. Mendadak suara sirine ambulans bertalu-talu di udara.
Di saat yang bersamaan, di ujung sambungan telepon terdengar suara yang sama. Hiro langsung berpikir satu hal. Mungkin saja kini Gendis ada di tempat yang sama dengannya.
"Ndis, kamu ada di rumah sakit?" tanya Hiro dengan pupil yang perlahan melebar.
Sialnya panggilan itu berakhir. Hiro kembali memukul dinding di depannya. Dia berlari sekuat tenaga untuk mencari keberadaan Gendis.
Sesekali lelaki tersebut kembali menghubungi Gendis. Akan tetapi, tidak dijawab oleh perempuan itu. Sampai akhirnya Hiro keluar dari rumah sakit, dia menemukan orang yang sedang dicari.
Di seberang jalan, Gendis sedang menatap kosong ke arahnya. Mata Hiro kembali terbelalak. Dia langsung menyeberang, berharap Gendis tidak melakukan hal bodoh.
"Ndis, hangan bergerak ke mana-mana! Tetap di sana!" teriak Hiro sambil menunjuk Gendis yang masih ada di seberang jalan.
Sesekali Hiro tersandung kerikil kecil ketika menyeberangi jalanan. Begitu sampai di depan Gendis, lelaki tersebut langsung memeluknya erat. Gendis tidak merespons tatapannya masih kosong dengan air mata yang mulai mengering.
"Ndis, kamu kenapa? Jangan bikin aku khawatir." Hiro semakin menguatkan pelukan.
Gendis masih tidak membalas pelukan hiro. Lelaki tersebut akhirnya melonggarkan pelukan, kemudian melepaskan tangan dari tubuh Gendis. Dia menatap Gendis yang kini menatapnya tanpa ekspresi.
"Ndis, apa yang terhadi?" tanya Hiro dengan jemari yang kini memegang kedua bahu Gendis.
Akan tetapi, semua pertanyaan itu menjadi percuma. Gendis tetap bungkam dan hanya menatapnya kosong seakan tidak memiliki jiwa. Perlahan Gendis mengangkat lengan menunjukkan foto Hiro bersama Reiki dan Ayaka yang dia bawa dari rumah.
"Siapa dia?" tanya Gendis sambil menunjukkan foto tersebut kepada Hiro.
Hiro menelan ludah kasar. Dia menatap foto itu sambil sesekali melirik Gendis. Hal yang dia tunda-tunda untuk diungkap perlahan meledak ke permukaan.
"Dia ... kakak dan sahabatku. Perempuan itu dulu pacar Reiki." Hiro tertunduk dalam sambil memejamkan mata.
Kali ini lelaki tersebut tidak bisa lagi berkilah. Semuanya sudah terlambat. Jika pun dia berkata sekarang, sepertinya akan sulit untuk Hiro mendapatkan kembali kepercayaan Gendis. Lelaki tersbut perlahan mengangkat wajah untuk menatap Gendis.
Mata perempuan itu sembab dan sedikit memerah. Bulu matanya masih basah dengan hidung yang masih tampak kemerahan. Hiro berusaha menggenggam bahu Gendis.
Akan tetapi, perempuan tersebut menghindar. Gendis terlihat menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Bibirnya sedikit berkedut ketika hendak kembali bicara.
"Ayaka adalah orang yang menyelamatkanku waktu itu. Aku hampir bunuh diri ketika tahu kalau sedang mengandung. Apa itu sebuah kebetulan?" Gendis maju selangkah hingga menyisakan sejengkal jarak dengan Hiro.
"Kamu dan kakakmu sengaja memintanya untuk mencegah aku bunuh diri? Hiro, kamu tahu semuanya, tapi kenapa diam saja. Aku benar-benar mempercayaimu, tapi apa ini? Kamu selalu menutupi semuanya dengan kebohongan!" teriak Gendis dengan rahang mengeras.
"Ndis, aku nggak bermaksud begitu! Untuk masalah Ayaka aku benar-benar tidak tahu. Jika harus bertanya. Maka tanyakan langsung pada Reiki! Skenario apa yang sudah dia jalankan sebelumnya." Hiro berusaha melembutkan suaranya ketika mengungkapkan kalimat tersebut.
"Dia ada di mana?" Gendis menghapus air mata menggunakan punggung tangan dan langsung melemparkan tatapan tajam kepada Hiro.
Hiro tidak menjawab. Dia hanya balik kanan, kemudian mendongak menatap lantai atas tempat Reiki dirawat. Gendis yang memahami situasinya kini bergegas menyeberang.
Perempuan tersebut menghiraukan rambu-rambu sehingga puluhan mobil membunyikan klakson secara bergantian. Sementara itu Hiro berusaha mengejar Gendis dan tetap memastikan perempuan tersebut tetap aman. Bom waktu itu kini akan benar-benar meledak, bisa saja mereka hancur di waktu yang bersamaan.
aksara bener2 superhero untuk mereka
terima kasih bacaannya thor
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️❤️
Akhirnya sah Hiro dan Gendis
Meski ada hati yang terluka dibalik kebahagiaan mereka.
Semangat Aksara
Aksara....pengorbananmu untuk Gendis dan Hiro begitu luar biasa
Hiro-Gendis-Aksara......kemana hati akan berlabuh