Arini Syafira, ia adalah wanita berusia 23 tahun mahasiswi jurusan kedokteran di sebuah universitas swasta. Dia memiliki wajah natural tetapi sangat cantik, tubuhnya yang semampai dan rambutnya yang terurai panjang menambah aura kecantikannya.
Ketika ia masih semester 2, Ayahnya meninggal. Ia pontang-panting mencari pekerjaan di Rumah sakit dan instansi kesehatan lainnya. Tetapi, hasilnya nihil. Ia bingung harus bekerja dimana lagi, karena ia harus membiayai kedua adiknya yang masih duduk di bangku sekolah.
Ketika Arini sedang duduk di halte busway, ada seorang Ibu berusia sekitar 40 tahun, menawarinya pekerjaan. Seminggu lagi, ibu itu harus pulang kampung karena anaknya sakit. Ibu itu menawari Arini bekerja di Rumah Keluarga Raharsya.
Ia harus melayani Tuan muda pewaris tahta keluarga Raharsya, yaitu Tuan Davian Raharsya. Sikapnya yang sombong dan angkuh, membuat semua orang takut padanya. Semua asisten yang pernah bekerja dengannya tak akan kuat bertahan lama. Akankah Arini sanggup menjalani pekerjaannya sebagai pembantu di rumah Davian?
Tunggu kisah selanjutnya di Noveltoon ya, selamat membaca 💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pegang tanganku
Pukul sembilan pagi, perut Davian sudah keroncongan. Ia lapar, tadi pagi lupa tak saparan. Ia ingat, makanan bekal yang diberikan Arini padanya. Davian membukanya.
"Makanan rumahan, nasi uduk lengkap. Wangi bawang goreng dan nasinya benar-benar menggoda." Davian mulai menyantap nasi uduk yang dibekali oleh Arini
Tiba-tiba, sekretaris Dika masuk, ia menciun aroma makanan yang lezat.
"Bos, lagi makan apa?" tanya Dika
"Makan nasi, lah!" jawab Davian
"Loh, kok! Gue kira nasi beli dimana gitu, itu kok kayak bekal dari rumah?" tanya Dika
"Arini yang buat, suruh gue bawa buat sarapan di kantor." jelas Davian
"Hahaha, kayak anak kecil aja lu, dibawain bekal." Dika tertawa
"Gak apa-apa, lagian masakan Arini enak kok!" ucap Davian
"Coba, bagi dikit, Bos!"
"Nih, sini elu nya." jawab Davian
Dika mencicipi nasi uduk buatan Arini. Meskipun menunya sederhana, tetapi rasanya enak sekali. Dika ketagihan, dan ingin memakannya lagi.
"Bagi lagi, Bos. Nasi uduknya enak banget." pinta Dika
"Enak aja lu, Arini buat nasi uduk ini khusus untuk gue. Udah, tinggal dikit lagi soalnya." Davian pelit
"Pinter banget si Arini, udah cantik, jago masak lagi. Gue mau daftar jadi suaminya kalau bisa! xixixi." Dika mengkhayal
"Sembarangan lu! Gue yang akan jadi suaminya Arini." ucap Davian
"HAH? Becanda aja lu, Bos!" Dika tak percaya
"Gue serius, beberapa hari lagi gue bakalan nikah sama Arini."
"Bos, lu gak becanda? Kok bisa?“
Davian menjelaskan apa yang terjadi kemarin antara keluarga besarnya Davian. Kemarin, Dika tak menginap di rumah Davian, jadi Dika tak mengetahui kondisi yang sebenarnya.
Dika benar-benar kaget, ia tak menyangka Bosnya akan menikahi seorang pembantu.
"Berapa lama kalian akan menikah sandiwara itu?“ tanya Dika
"Gue gak tahu, sampai meeting dengan investor asing aja. Mungkin, enam sampai dua belas bulan." jelas Davian
"Waktu yang cukup lama. Bagaimana, kalau nanti lu malah tumbuh benih-benih cinta sama Arini? Kalian pasti sering bersama layaknya suami istri, benar kan?“ Dika menduga-duga
"Itu yang gue takutkan, tapi gue gak mau menerawang kedepannya akan gimana, gue cukup akan menjalaninya dulu seperti ini." Davian tersenyum
"Gue dukung elu, Bos." ucap Dika
"Dukung gimana maksud lo?“ Davian tak mengerti
"Kalau elu benar-benar cinta sama Arini, nikah sungguhan aja. Nikah dengan cinta, Bos!" usul Dika
"Gimana caranya nikah dengan cinta? Sedangkan yang gue tahu, Arini sudah memiliki kekasih." ucap Davian
"Lu bener-bener tertarik ya Bos sama si Arini?“ tanya Dika
"Gue gak tahu, apa yang terjadi sama diri gue ini, gue nggak ngerti, kenapa gue nyaman sekali kalau berada didekat Arini?“ tanya Davian
"Mungkin karena lu sering bertemu sama dia, jadi ada keterikatan antara kalian berdua." ucap Dika
"Gue harus gimana? Arini memiliki kekasih, pernikahan ini tak semestinya dilakukan." ucap Davian
"Gue khawatir, seiring berjalannya waktu, elu bakal jatuh cinta sama Arini, dan elu gak mau kehilangan Arini. Itu yang gue takutkan, Bos!“ ucap Dika
" Elu tahu, apa yang gue pikirkan, Dik!"
***
Siang hari, Davian dan sekretaris Dika sudah berada di rumah lagi. Mereka akan menjemput Arini dan meminta izin pada keluarga Arini. Davian tak mau melakukan pernikahan secara sembunyi-sembunyi.
Arini sedang berada didalam kamarnya. jantung Arini berdebar tak karuan. Ini tak yakin Ibunya akan merespon Davian dengan baik. Arini takut, Ibunya akan marah besar padanya karena harus melakukan pernikahan sandiwara ini.
Tokk.. Tokk.. Tokkk..
Arini tersentak. Ia kaget, ada yang mengetuk pintunya. Ia tahu, ini pasti Tuan Davian. Ia pasti menagih janjinya. Arini pasrah, ia bingung, tetapi tak tahu harus bagaimana. Semoga saja Ibunya mengerti, karena Davian pun telah melunasi semua hutang-hutang Ayahnya.
Arini membuka pintu, ternyata sekretaris Dika yang mengetuk pintu.
"Iya, sekretaris Dika?" Arini pura-pura lupa
"Kenapa kamu belum siap-siap? Ayo, kita berangkat. Tuan Dav sudah menunggu di mobil." ucap sekretaris Dika
"Iya, tunggu 5 menit saja. Aku takkan lama." jawab Arini
Sekretaris Dika meninggalkan Arini. Arini mengganti bajunya dan memakai make up natural. Agar terlihat sedikit rapi. Dalam hati, Arini terus berdoa menguatkan dirinya.
Arini sudah berada di dalam mobil bersama Davian. Davian melihat Arini dengan tatapan tak biasa, yang membuat Arini semakin tidak nyaman. Wajah Davian melirik Arini berkali-kali, entah apa yang sedang Tuannya pikirkan.
Baru kali ini gue lihat dia pakai lipstick, cantik.. Arini memang cantik, apalagi kalau aku poles dia habis-habisan. Kenapa aku beruntung sekali? Memiliki pembantu yang cantik seperti ini. Batin Davian.
Arini benar-benar tak siap untuk bertemu Ibunya, apalagi mengatakan pernikahan ini. Arini berpikir, bagaimana caranya agar membatalkan saja datang ke rumahnya.
"Tuan, sekarang masih siang, sedangkan Ibu saya pasti masih berdagang. Ibu saya pulang sore, pasti tak akan bisa bertemu dengannya." alibi Arini
"Tidak apa-apa. Ya sudah, kalau begitu, kita makan siang dulu saja. Gimana, Dik?" tanya Davian
"Iya, Bos. Gue lapar nih. Dari pagi, belum makan. Hanya makan uduk bekal dari Arini, itupun hanya dua sendok." Dika curhat
"Kenapa hanya sedikit? Kan aku bawanya banyak." jelas Arini
"Bos Pelit, masakan Arini terlalu enak katanya, jadi gue gak boleh makan banyak." Dika ngedumel.
Wajah Davian memerah. Ia malu, bisa-bisanya Dika mencibir dirinya seperti itu. Davian malu, menatap Arini. Masakannya memang enak, tapi kalau harus memuji Arini, Davian rasanya keberatan.
"Udah, udah. Ayo, kita makan siang dulu." Davian mengalihkan pembicaraan
"Baik, Bos."
"Iya, Tuan."
Davian, Arini dan Dika makan di restoran cepat saji. Mereka sangat fokus ketika makan, karena mereka semua sangat lapar.
Setelah selesai makan, sekretaris Dika melajukan mobilnya kembali menuju ke rumah Arini. Davian melihat ekspresi Arini yang ketakutan dan gugup, Davian tahu, penyebab Arini seperti ini.
Arini tak bisa berkonsentrasi, Arini bingung harus bagaimana. Sudah tak ada pilihan lain, selain jujur pada Ibunya. Davian, lelaki yang akan menjadi suaminya. Akan bagaimana nanti kehidupan sandiwara Arini?
"Kenapa?" tanya Davian
"Gak apa-apa, Tuan." jawab Arini
"Lu, gugup ya?" Davian menebak
"Nggak, kok. Saya biasa aja, Tuan." Arini mengelak
"Lu gak bisa bohong, Rin. Gue bisa lihat dari ekspresi wajah lu yang gugup itu." jelas Davian
"Begitu, ya?" Arini menggigit bibirnya
Davian melihat wajah Arini yang khawatir, Davian ingin sekali merangkulnya, tapi tak mungkin. Apakah harus berpura-pura selama-lamanya? Harus sampai kapan kepura-puraan ini berlangsung?
"Arini, pegang lah tanganku. Kamu jangan gugup, aku yang akan bertanggung jawab atas semua ini. Tenanglah."
Davian memegang tangan Arini. Arini terkejut, spontan ia melihat kearah Davian. Benar-benar tak terduga, lelaki angkuh itu memegang tangannya.
"Tak usah menolak, pegang tanganku dengan tulus, itu akan membuat beban mu sedikit berkurang, bagi sedikit rasa gugup mu padaku, kita hadapi berdua." Davian tersenyum tulus pada Arini
*Bersambung*