NovelToon NovelToon
Please, Menikahlah Denganku!

Please, Menikahlah Denganku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:246
Nilai: 5
Nama Author: Nona Khansa

Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!

Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10-First Love

Malam harinya, seperti yang Arhan bilang ia akan menjemput Lula untuk mengantarnya pulang di tempat tinggal Lula.

Lula memakai tasnya yang ia bawa sekolah tadi dengan isi seragam sekolah. Karena memang setiap ia akan bekerja ia selalu membawa baju ganti untuk bekerja jadi tidak perlu pulang kerumah terlebih dahulu.

Ia berpamitan pada sang pemilik toko bunga yang sudah hampir setahun ia bekerja ditoko bunga itu sebelum pulang.

Berbarengan dengan keluarnya Lula, Arhan juga baru sampai dengan membawa sepeda motor kesayangannya. "Kak, ke pasar malem dulu kecapean enggak?." Arhan bertanya sembari memberikan helm pada Lula.

Lula berpikir sejenak, menimang-nimang permintaan dari Arhan. Kemudian mengangguk, tidak ada salahnya malam ini ia bersenang-senang dengan cowok itu. "Enggak kok, ayok kita kesana." Jawab Lula yang berhasil membuat hati Arhan bersorak senang.

Arhan pun menghidupkan mesin motornya dan segera melajukan nya, melewati jalan raya yang begitu sangat ramai karena malam ini adalah malam spesial bagi seseorang yang berpasang-pasangan, yaitu malam Minggu.

Seperti biasanya, Lula akan memegang kedua pundak Arhan jika Arhan melajukan motornya dengan kecepatan yang sedikit tinggi.

Setelah hampir lima belas menit mengendarai sepeda motor, mereka akhirnya sampai ketempat tujuan, yaitu pasar malam yang lumayan ramai pengunjung.

Lula turun dari motor dan mencopot helmnya. "Rame ya pasarnya." Titahnya yang masih berusaha untuk melepas pengait helmnya. Lula begitu kesulitan karena sepertinya pengait itu sedang badmood, karena tidak ingin dilepas.

Melihat Lula yang kesusahan, Arhan bergerak membantu melepaskan pengait itu. "Biar aku bantu." Timpal nya kemudian mengambil alih aktivitas Lula.

Lula pun menurunkan tangannya, memajukan tubuhnya semakin dekat dengan Arhan. Ia mendongok, menatap wajah tampan Arhan saat sedang membantunya melepaskan pengait helm itu. "Arhan... Please, jangan buat aku jatuh cinta." Jerit Lula dalam hatinya. Sudah hampir sebulan ia selalu mati-matian menepis rasa ini. Ia sadar diri dan sadar posisinya sekarang. Ia berjanji, mau sebesar apapun cintanya pada Arhan, ia tidak akan pernah berharap lebih untuk mendapatkan feedback dari Arhan. Terlebih usia Lula yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan. Mana mungkin juga Arhan mau dengannya?

Arhan juga sama, ia menatap lekat mata itu. Mata yang sejak awal ia pandang sudah membuat hatinya berdegup kencang. Ia bahkan sampai harus memastikannya berkali-kali, berhari-hari pada hatinya apakah benar jika ia mencintai cewek didepannya ini? Kalau memang benar, berarti cewek yang sedang ia tatap sekarang ini adalah cinta pertama nya, first love nya selama ia hidup enam belas tahun didunia. Entah ini hanyalah cinta monyet remaja atau memang nyata, tapi sehari tidak bertemu cewek itu, atau bahkan jika Lula berubah sikap dengannya, Arhan akan merasa gelisah dan takut kehilangannya. "Tuhan, izinkan aku memilikinya." Bisiknya dalam hati.

Beberapa menit mereka larut dalam pemikiran nya tentang isi hati mereka masing-masing. Hingga tanpa sadar, wajah Arhan semakin lama semakin menunduk dan mendekat, semakin dekat hingga hanya menyisakan empat centi saja. Mereka sama-sama bisa merasakan hembusan nafasnya.

Arhan menatap bibir mungil Lula dengan perasaan gairah yang memburu. Bukan na_fsu, tapi cinta. Ia semakin mendekatkan wajahnya, sedikit memiringkan kepalanya, entah ada dorongan darimana ia ingin sekali mengecupnya.

Lula menutup matanya melihat Arhan yang bergerak semakin dekat, sangat dekat dengannya hingga...

Cup!

Bibir mereka berdua berhasil menempel seperkian detik sebelum akhirnya Lula tersadar dengan apa yang mereka lakukan ditempat umum itu. Lula mendorong kasar Arhan hingga Arhan mundur beberapa langkah.

Lula memegangi bibirnya yang baru saja dikecup oleh pria itu. "Apa yang kamu lakuin barusan!" Katanya dengan terbata.

Arhan menelan salivanya, jakunnya naik turun gelisah dengan pertanyaan Lula. Ia merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh dan terburu-buru. "M-maaf kak, ak-aku minta maaf...." Arhan menundukkan kepalanya dengan raut wajah menyesal. Ia menyesal dengan perbuatannya yang begitu kurang ajar pada Lula.

Nafas Lula naik turun karena masih shok dengan apa yang mereka lakukan. "A-akuu mau pulang aja, antar aku pulang." Titahnya kemudian yang diangguki oleh Arhan.

Arhan yang awalnya ingin membawa Lula bersenang-senang di pasar malam malah gagal karena kejadian barusan.

Dalam perjalanan, Arhan tak hentinya mengumpat dan membodohi dirinya sendiri karena sudah kelewat batas. Ia benar-benar takut jika Lula akan membencinya dan tidak lagi menganggap nya karena kejadian tadi. Sebesar itu ketakutannya jika Lula pergi, mungkin ia juga akan gila jika benar Lula menjauhinya.

Sampai disebuah gang sempit yang pastinya motor Arhan tidak akan muat untuk masuk itu, Arhan menghentikan kendaraannya. "Kak, sekali lagi aku minta maaf ya, kakak enggak akan marah kan sama aku?"

Lula memberikan helmnya pada Arhan. "Aku enggak papa kok, aku cuman merasa kaget aja dengan apa yang kita lakukan ditempat tadi." Jelasnya pada Arhan.

Arhan bernafas lega mendengar jawaban dari Lula. "Aku pikir kakak bakal benci sama aku. Aku emang bodoh banget tadi bisa-bisanya ngelakuin hal itu sama kakak tanpa berpikir panjang, aku harap kakak lupain aja kejadian tadi ya biar enggak emosi? Aku takut kakak menjauh dan benci sama aku karena kesalahan aku tadi."

Lula tersenyum tipis. "Kamu pulang ya ini udah malem. Hati-hati dijalan oke?."

Arhan mengangguk, menurut dengan perintah Lula. "Sekali lagi Arhan benar-benar minta maaf sama kakak."

Lula mengangguk sebagai jawaban bahwa ia baik-baik saja dan memaafkan kesalahan Arhan.

Arhan pun pergi meninggalkan Lula sendirian di gang sempit itu. Biasanya Arhan akan mengantarkan nya sampai kedepan rumah, tapi untuk malam ini tidak karena ya mungkin kejadian tadi yang membuat Arhan tidak bisa mengantarkan nya kedepan rumah.

Tinn!!!!

Tin!!!!

Tinn!!!

Lula yang akan melangkahkan kakinya untuk pulang malah tertahan dan berbalik badan saat mendengar suara klakson mobil dari jalan raya yang tidak berhenti-henti dan begitu mengganggu pendengaran nya karena sudah larut malam.

Tin!!!

Tin!!!

Tin!!!

Lula yang geram karena juga akan mengganggu waktu istirahat orang sekitar, membuatnya cepat-cepat mendekati mobil tersebut. Orang gila atau bagaimana orang itu? Sudah tau jalanan sepi begini malah meng-klakson mobil.

Tok!

Tok!

Tok!

"Hei tuan!" Serunya yang terus berkali-kali mengetuk pintu mobil hingga klaksonnya berhenti berbunyi. "Buka pintunya!" Lanjut Lula yang tidak juga mendapatkan feedback dari dalam.

Hingga beberapa menit, kaca mobil itu terbuka, menampakkan seorang cowok didalamnya yang sedang menunduk.

"Tuan, kenapa anda membunyikan klaksonnya? Apa anda tau kalau apa yang anda perbuat itu akan membuat orang lain terganggu? Kenapa anda tid-" Lula tidak lagi melanjutkan perkataannya saat melihat siapa cowok yang sedang didalam mobil itu. "Aska?" Tanyanya kemudian dengan wajah panik tak kala melihat kondisi Aska yang begitu menyedihkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!