No Plagiat ❌
Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.
Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Namun saat dirinya terbangun Valerie sudah berpacaran dengan Kennan keponakannya.
Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai memahami perasaannya
Setelah berpikir keras, Damian mulai bergerak ingin membersihkan namanya dan nama Valerie.
Damian berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Ia menatap gedung-gedung tinggi di luar sana, namun pikirannya jauh dari tempat itu. Damian memijit keningnya, ia merasa banyak kejanggalan yang muncul setelah kedatangan Olivia.
Semenjak kedatangan Olivia dari Paris, Damian merasa Olivia terlalu banyak membuat masalah. Ia memilih diam karena tidak ingin menyakiti hati Olivia, namun sikapnya mulai terlihat arogan.
Damian ingin menyelidiki masalah apa saja yang sudah Olivia lakukan, agar pernikahannya tidak dapat dilanjutkan. Ia benar-benar tidak menyukai Olivia, kini ia mulai menyadari kalau dirinya menyukai Valerie.
Damian memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya berbalik.
“Donny.”
“Ya, Tuan.”
“Saya ingin kamu dan anak buahmu menyelidiki Olivia.”
Donny langsung mengernyit kebingungan.
“Dengan anak buah saya tuan?”
Damian mengangguk.
“Panggil semua anak buahmu yang bisa melakukan penyelidikan tanpa membuat Olivia curiga maupun waspada.”
“Baik.”
Damian berjalan mendekati meja kerjanya, lalu meletakkan sebuah map di hadapan Donny.
“Mulai hari ini, semua pekerjaan lain bukan lagi prioritasmu. Saya ingin kamu hanya melakukan penyelidikan, sampai bukti-bukti perbuatan Olivia terungkap.”
Dony mengangkat kepalanya.
“Saya selidiki sampai sejauh mana, Tuan?”
Damian menatapnya dengan sorot mata tajam.
“Dari hari pertama Olivia kembali dari Paris, dan jangan lewatkan satu hari pun sampai hari ini.”
“Saya ingin mengetahui ke mana ia pergi, dengan siapa ia bertemu, siapa saja yang sering ia hubungi, rekening yang digunakan, Apa yang ia beli, hingga orang-orang yang bekerja dengannya.”
Damian kembali melanjutkan,
“Cari semua rekaman CCTV, semua tempat yang pernah ia datangi. Kalau ada rekaman yang sudah dihapus, cari cara untuk mendapatkannya.”
“Jika kamu dan anak buahmu berhasil, aku akan memberikan bonus yang lumayan kepada kalian.”
Donny mengangguk siap dengan tugas dari Damian.
“Baik, Tuan.”
Damian mengepalkan tangannya.
“Aku juga ingin mengetahui siapa pria yang berada di kamar hotel bersama Valerie, cari identitasnya, dimana ia bekerja, dan siapa yang menyuruhnya. Apa kemungkinan ada kaitannya dengan Olivia.”
Dony mengangguk mantap.
“Saya mengerti.”
Damian terdiam beberapa detik sebelum kembali berbicara.
“Selidiki juga CCTV di rumah, Olivia sering datang tanpa aku ketahui.”
Damian menatap lurus ke arah Dony.
“Aku tidak hanya ingin menduga saja, tapi aku ingin bukti. Bukti yang akurat sehingga tidak bisa dibantah dengan siapa pun.”
“Termasuk oleh Olivia.”
Dony menutup buku catatannya.
“Berapa lama waktu yang Tuan berikan kepada saya untuk menyelidiki Nona Olivia?”
“Satu setengah bulan.”
Damian menghela napas panjang.
“Aku harus mengetahui siapa dalang di balik semua ini. Kalau memang Olivia yang berada di balik semuanya, aku bisa membatalkan pernikahannya dan membuat Olivia mempertanggung jawabkan perbuatannya.”
Tatapan Damian berubah dingin.
“Aku berharap ucapan Valerie benar kalau dia juga dijebak.”
Dony membungkukkan badan.
“Saya akan memimpin penyelidikan ini dengan baik, dan memastikan setiap bukti yang kami temukan dapat dipertanggungjawabkan.”
Damian mengangguk pelan.
“Pergilah.”
“Jangan membuat siapapun curiga dengan aktivitas kalian.”
Tak lama kemudian, Dony keluar dari ruang kerja.
Sore itu juga, ia mengumpulkan beberapa anak buah yang paling dipercayainya. Operasi penyelidikan terhadap Olivia pun resmi dimulai.
•●✿●•
Dua bulan telah berlalu sejak perceraian Valerie dan Damian resmi diputuskan oleh pengadilan.
Hari-hari Valerie, berjalan terasa jauh lebih tenang. Ia menghabiskan waktunya di kampus, menyelesaikan tugas akhir dan mempersiapkan wisuda yang tinggal empat bulan lagi. Walau hatinya belum sepenuhnya sembuh, menjalani hidup yang lebih tenang membuatnya sedikit lebih bahagia.
Di sisi lain kota, Damian juga tenggelam dalam kesibukan. Bukan hanya mengurus perusahaan, tetapi juga mengikuti perkembangan penyelidikan yang dipimpin Donny. Setelah dua bulan bekerja tanpa henti, beberapa titik terang mulai ditemukan.
Seperti biasanya, setiap hari Minggu Valerie dan kedua sahabatnya selalu meluangkan waktunya mengunjungi rumah Pak Boby. Hari ini adalah hari ke enam kunjungan mereka. Begitu mobil memasuki halaman rumah, Ibu Amanda sudah berdiri di teras dengan senyum hangat.
Ibu Amanda melambaikan tangan.
“Akhirnya, Putri-putriku berkunjung lagi.”
Ariana langsung turun dari mobil dengan wajah berbinar.
“Dan kami bisa makan masakan Ibu Manda lagi!”
“Aku sudah kangen rumah ini, Bu,” sahut Rachel dengan kegirangan.
Ibu Amanda tertawa kecil.
“Kalian bertiga cepat masuk.”
Rumah sederhana itu selalu berhasil membuat mereka merasa nyaman. Meski tidak semewah mansion keluarga Robert, suasananya begitu hidup. Di halaman depan tumbuh berbagai tanaman bunga yang bermekaran, di belakang rumah terbentang kebun sayur dan buah yang luas.
Tak jauh dari sana terdapat kandang ternak yang terawat, serta sebuah danau kecil dengan bunga-bunga teratai yang bermekaran di atasnya. Udara pedesaan yang sejuk membuat mereka seperti berkunjung kerumah nenek.
Setiap datang, selalu ada pengalaman baru. Kadang mereka memetik mangga, jambu, dan jeruk langsung dari pohonnya, lalu belajar membuat rujak bersama Ibu Amanda. Di lain waktu mereka memancing ikan di danau kecil, kemudian memanggang hasil tangkapan bersama Pak Boby.
Bermain air di sungai yang airnya sejernih kaca. Sesekali mereka belajar membuat roti dan kue tradisional bersama Ibu Amanda. Ada juga hari ketika mereka memanen sayur, lalu memasaknya bersama di dapur. Bahkan Pak Boby pernah mengajari mereka menunggang kuda.
Belum lagi tingkah beberapa ekor angsa yang sering mengejar mereka hingga berlari terbirit-birit sambil menangis lalu akhirnya tertawa. Semua pengalaman sederhana itu menjadi kenangan yang tidak pernah mereka dapatkan di tempat lain.
Rumah Pak Boby dan Ibu Amanda terasa seperti surga kecil, yang tidak pernah mereka rasakan hidup dikota. Apa pun yang ingin dilakukan, apapun yang dimakan semua terasa menyenangkan.
✿
Kali ini Ariana datang membawa seekor ikan tuna segar.
“Bu Manda, aku ingin belajar membuat sup ikan yang tidak amis dan sangat enak!”
Ibu Amanda tersenyum.
“Baiklah, Ibu akan mengajarimu Ariana sayang. Ayo kita masak bersama.”
Mereka pun sibuk di dapur.
Pak Boby membantu membersihkan ikan, Ariana memotong sayuran. Valerie dan Rachel menyiapkan bumbu sesuai arahan Ibu Amanda. Tak lama kemudian, aroma sup ikan yang gurih mulai memenuhi seluruh rumah.
“Sup ikan tuna asam gurih sudah matang!” seru Ibu Amanda sambil mematikan kompor.
Mereka berlima segera duduk mengelilingi meja makan, mangkuk-mangkuk sup hangat telah tersaji.
Ariana tampak tidak sabar.
“Wah... dari aromanya saja sudah sangat enak.”
Pak Boby tersenyum bangga.
“Kalau kokinya Ibu Manda, sudah pasti kalian akan makan yang lahap.”
Valerie ikut tersenyum.
Namun ketika uap hangat sup ikan tuna itu sampai ke hidungnya, senyumnya perlahan memudar. Perutnya tiba-tiba terasa bergolak, dadanya menjadi sesak. Ia menutup mulutnya dengan cepat.
“Emhh...” gumamnya pelan.
Ibu Amanda langsung menoleh.
“Valerie sayang, kamu kenapa?”
Belum sempat menjawab, Valerie buru-buru berdiri dari kursinya. Ia berlari menuju kamar mandi.
BRAK!
Pintu kamar mandi tertutup, tak lama kemudian terdengar suara Valerie muntah.
“Huek...”
“Huek...”
Di ruang makan, keempat orang yang tersisa saling berpandangan dengan wajah penuh kebingungan.
Ibu Amanda segera bangkit dengan cemas.
“Valerie!”
Ia berjalan cepat menghampiri kamar mandi, sementara Ariana dan Pak Boby mulai khawatir, tidak mengerti mengapa Valerie yang sejak pagi tampak sehat, tiba-tiba mengalami mual hebat.