No Plagiat ❌
Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.
Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melangkah kehidup yang baru
Keluar dari Mansion Robert, Valerie tidak langsung meminta Pak Boby mengantarkannya pulang.
“Pak Boby... sebelum pulang, bisakah antar saya ke pengadilan dulu?”
Pak Boby menoleh melalui kaca spion.
“Untuk apa Nona ke pengadilan?”
Valerie tersenyum sambil memeluk map berisi surat perceraian yang telah ditandatangani Damian.
“Kami sudah sepakat untuk bercerai, dan ingin mengakhiri semuanya secara hukum.”
Pak Boby tidak bertanya lagi. Ia menyetir mobilnya menuju Pengadilan Negeri. Sesampainya di pengadilan, Valerie menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.
Dengan bantuan petugas informasi, ia menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan. Petugas memeriksa dokumen satu per satu, memastikan semuanya lengkap.
“Permohonan akan diproses sesuai prosedur, Bu,” ujar petugas dengan ramah.
Valerie mengangguk.
“Terima kasih.”
Saat keluar dari gedung pengadilan, ia sempat berhenti di anak tangga depan. Ia menoleh sekali ke arah kantor pengadilan. Dalam hati, ia mengucapkan selamat tinggal pada pernikahan yang tidak pernah benar-benar dimulai dengan cinta.
✿
Setibanya di rumah peninggalan orang tuanya, Pak Boby membantu menurunkan koper Valerie.
“Nona... kalau membutuhkan sesuatu, jangan sungkan menghubungi saya.”
Valerie tersenyum tulus.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Boby dan Valerie saling mengangguk sebelum Pak Boby kembali masuk ke dalam mobil kayu pergi.
Valerie mendorong kopernya masuk ke dalam rumah, namun ia hanya meletakkannya di ruang tamu. Beberapa menit kemudian, ia kembali keluar. Ia memesan taksi, lalu menghubungi kedua sahabatnya.
“Ariana... Rachel... aku ingin bertemu.”
Mobil taksi pun sampai di rumah Ariana.
Begitu pintu terbuka, Rachel yang lebih dulu sampai disana, langsung memeluknya. Lalu Ariana menyusul memeluk mereka. Mereka menyadari wajah Valerie jauh lebih pucat dibanding terakhir kali bertemu.
“Vall, kami masih sahabatmu kan?”tanya Ariana pelan.
Valerie menghela napas panjang.
“Masih lah, pertanyaan aneh apa itu?”
Ariana menghela napas panjang.
“Habisnya, kamu seperti merahasiakan sesuatu kepada kami berdua.”
“Itu karena aku sudah tidak sanggup menceritakannya pada kalian, dan aku takut kalian ikut pusing dengan masalahku.”
Mereka bertiga duduk di ruang keluarga, disana Valerie akhirnya berani menceritakan semuanya. Tentang pernikahan kontrak, tentang keluarga Robert, tentang fitnah yang membuatnya diusir, dan tentang surat perceraian yang baru saja diajukan.
Tak ada satu bagian pun yang disembunyikannya lagi. Semakin lama cerita itu berlanjut, semakin deras air mata Ariana dan Rachel mengalir.
“Kami merasa tidak berguna, kamu itu ya!”
“Kenapa kamu memilih memikul semuanya sendirian?” isak Rachel.
“Aku pikir dapat menanganinya sendiri.”
Ariana memeluk Valerie erat.
“Dasar Valerie bodoh.”
“Berjanjilah, mulai sekarang tidak ada rahasia lagi diantara kita.”
Valerie tersenyum, lalu ia menundukan wajahnya. Melihat sahabatnya sangat menderita, tangis kedua sahabatnya pecah memenuhi ruangan.
Setelah suasana sedikit tenang, Valerie kembali berbicara.
“Tabungan orang tuaku tidak cukup untuk pajak rumah, biaya kuliah, dan mencukupi hidupku sehari-hari.”
“Aku harus bertahan sampai lulus kuliah, dan mungkin mencari pekerjaan sampingan. Sebelum itu, aku ingin menjual rumah peninggalan orang tuaku.”
“Tapi...”
Valerie menatap Ariana.
“Kalau suatu hari nanti aku sudah bekerja dan memiliki uang, aku ingin membelinya kembali.”
Ariana langsung menggeleng.
“Aku akan meminta Ayah membantumu.”
Valerie tersenyum tipis.
“Aku tidak mau, aku tidak ingin dikasihani lagi. Aku tidak ingin hidup bergantung pada siapa pun lagi.”
Melihat tekad Valerie, Ariana akhirnya memahami.
“Kalau begitu...”
“Keluargaku yang akan membeli rumah itu, anggap saja rumah itu digadaikan. Begitu kamu mampu, rumah itu akan kembali menjadi milikmu.”
Air mata Valerie kembali mengalir.
“Terima kasih Ariana.”
✿
Seminggu kemudian.
Proses jual beli selesai. Secara hukum, rumah itu telah menjadi milik keluarga Fernandez. Namun kedua orang tua Ariana tidak pernah menganggap Valerie sebagai orang lain, mereka mengenal kedua orang tua Valerie sejak lama.
“Valerie tetap tinggallah disini, kamu tetap boleh menempati rumah ini sampai kapan pun kamu mau,” kata ayah Ariana.
“Iya sayang,” sambung ibunya. “Anggap rumah ini masih rumahmu.”
Valerie tersenyum penuh hormat.
“Terima kasih, Om... Tante.”
“Tapi untuk sementara aku ingin belajar hidup mandiri, aku akan tinggal di kos.”
Kedua orang tua Ariana tidak memaksanya, mereka menghormati keputusan Valerie.
✿
Beberapa hari kemudian. Pak Boby dan Ibu Amanda datang menjemput Valerie di rumah kosnya.
“Nona,” ucap Pak Boby sambil tersenyum.
Valerie tersenyum pada mereka.
“Jangan panggil aku Nona lagi Pak Boby, sekarang aku hanyalah anak kuliahan biasa.”
“Baiklah, Valerie. Kami datang kesini, ingin mengajak kamu tinggal bersama kami.”
Valerie terkejut.
“Jangan, Pak. Aku tidak ingin merepotkan Bapak dan Ibu.”
Pak Boby tertawa kecil.
“Bapak sudah mengundurkan diri dari keluarga Robert.”
Valerie membelalak.
“Bapak resign?”
Pak Boby mengangguk.
“Bapak ingin bekerja di tempat yang membuat hati Bapak lebih tenang, dan sekarang sudah diterima menjadi sopir keluarga Cio juga.”
Ibu Amanda menggenggam tangan Valerie.
“Valerie.”
“Kami tidak mengajakmu karena kasihan, tapi kami ingin menjadikanmu putri kami.”
Valerie langsung terdiam, hatinya kembali diliputi keraguan. Ia pernah menerima banyak kebaikan. Namun pada akhirnya, ia selalu kehilangan.
“Aku... aku masih takut.”
Ibu Amanda mengusap pipinya.
“Tidak apa-apa, kami tidak akan memaksamu. Kalau belum siap tinggal bersama kami...”
“Mainlah dulu, datang kapan pun kamu mau. Kalau suatu hari nanti kamu merasa rumah kami benar-benar menjadi rumahmu, barulah kamu bisa memutuskan.”
Valerie menatap pasangan suami istri itu cukup lama, akhirnya ia mengangguk pelan.
“Baiklah, aku akan sering berkunjung.”
✿
Waktu terus berjalan. Hari demi hari berganti menjadi minggu, lalu bulan.
Selama proses persidangan, Valerie dan Damian tidak pernah bertemu. Seluruh proses berjalan melalui kuasa hukum dan sesuai prosedur yang berlaku. Tidak ada satu pun dari mereka yang berusaha menghubungi pihak lain.
Bagi Valerie, semua itu telah menjadi bagian dari masa lalu yang ingin ia tinggalkan. Sementara bagi Damian, perceraian itu hanyalah penyelesaian dari sebuah pernikahan kontrak yang sejak awal mereka sepakati.
Hingga pada suatu pagi, keputusan pengadilan akhirnya keluar. Pernikahan antara Valerie dan Damian resmi berakhir, tidak ada ucapan perpisahan dari keduanya. Hanya selembar putusan hukum yang menyatakan bahwa sejak hari itu, keduanya bukan lagi suami istri.
Valerie menerima salinan putusan tersebut dengan senyum tipis, ia menatap lama namanya yang kini tidak lagi terikat dengan nama Damian.
Perlahan, ia mengembuskan napas panjang.
“Akhirnya.”
Saat keluar dari gedung pengadilan, langit tampak cerah. Angin berembus lembut menerpa wajahnya. Valerie mengangkat wajahnya menatap langit biru.
Senyum kecil menghiasi wajahnya, beban yang selama ini menekan dadanya perlahan menghilang. Di tempat yang berbeda, Damian juga menerima salinan putusan perceraian itu, ia hanya membaca sekilas sebelum meletakkannya di atas meja kerja.
Ekspresinya tetap datar, ia mencoba kembali fokus pada pekerjaannya. Namun, entah mengapa, ruangan itu terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya. Ada kekosongan yang tidak mampu ia jelaskan, ia berusaha mengabaikan perasaan itu dan kembali menandatangani berkas-berkas di hadapannya.
•●✿●•