Ini kisahku...
Seorang laki-laki yang mencoba mencari cinta masa SMP nya,yang selama 13 tahun hanya terpendam dihati belum sempat terungkapkan. Namun ketika takdir berpihak padaku,mempertemukan aku dan dia,aku harus menelan kekecewaan karna menerima kenyataan bahwa dia sudah menjadi milik orang lain.
Akankah ada keajaiban untukku agar bisa memilikinya?
Sementara hatiku tak mampu berpaling pada wanita lain.
Selamat menikmati kisahku yaaa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon In Gusman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Pemakaman sudah selesai dan tahlilan yang aku rencanakan di gelar di rumah Rahma,teryata di minta oleh pihak keluarga Nadia yang nota bene adalah kerabat Bang Farhan. Rumah Rahma juga sudah rapi lagi seperti semula. Lalu aku pun merebahkan tubuhku di sofa ruang tengah.
Ya Alloh...badanku terasa capek sekali,untung papa kemarin bisa memintakan cuti 3 hari ke rumah sakit. Itu terjadi juga karna teryata dokter Rizal adalah sahabat papa waktu SMA.
Ya Alloh...walaupun capek tapi syukur Alhamdulillah,telah Kau beri kemudahan dan kelancaran untuk semua urusanku...Aamiin...
'Drrrttt..drrrttt..drrrttt..'
Ponselku bergetar...segera ku ambil dan ku lihat,nama 'MAMA' tertera disana...cepat-cepat ku usap layar ponselku untuk menerima panggilan.
"Hallo...Assalamu'alaikum ada apa ma..."
"Wa'alaikumsalam...mas,mama,papa sama si kembar mau pulang ke Surabaya dulu. Ini si papa katanya ada keperluan mendadak,mama ogah di tinggal sendirian di sini. Si kembar juga mo pulang karna ada temennya yang ulang tahun..."
"Kok ngedadak sih ma? Terus berangkatnya kapan?"
"Nanti sore...karna papa dapet tiket pesawatnya nanti sore."
"Nanti sore? Waduh,mas nanti sore gantiin jaga dokter Wirawan ma...gimana dong?"
"Nggak papa mas...kalo memang mas nggak bisa pulang sebelum mama berangkat,mama cuma pamit jadi tar kalo mas pulang kami nggak ada,mas nggak bingung...kunci rumah mama titipkan sama Pak Yus sebelah rumah kontrakanmu"
"Siap ma...Maaf ya ma nggak bisa nganter...hati-hati ya ma...salam buat papa dan si kembar..."
"Iyaaa...Mas juga hati-hati ya...ingat puasa sebentar lagi,tar lebaran mas wajib pulang bawa calon mantu buat mama"
Deg...Aku belum bisa membayangkan,bagaimana seandainya mama tau bahwa nanti jika lebaran aku tak hanya akan membawa calon menantu untuknya tapi aku akan membawa istriku tercinta menghadapnya. Akh,kenapa jadi rumit begini,aku yang sedari kecil tidak pernah sekali pun berbohong pada mamaku,kini aku harus berbohong dalam masalah sebesar ini. Akh betapa beratnya jika kita tidak biasa berbohong tapi sekarang di paksa berbohong. Aku belum berani ketemu mama,padahal aku sedang cuti 3 hari,tapi aku bilang sibuk di rumah sakit...Bohong lagi kau Kim...aku menepuk jidatku sendiri.
"Mas...kok diam,masih denger mama kah?"
"Akh,iya ma..."
"Iya apa coba?"
"Iya...InsyaAlloh nanti lebaran mas pulang bawa menantu buat mama,nggak cuma calon...biar mama bahagia..."
"Ah kamu mas,paling pinter godain mama"
Bukan godain ma,tapi kenyataannya memang mama sudah punya menantu,kataku dalam hati.
"Ya sudah...jangan lupa makan dan istirahat ya mas...mama mau siap-siap dulu..."
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Aku meletakkan ponselku di meja lalu ku baringkan kembali badanku di sofa. Baru saja aku hendak memejamkan mata,aku merasa ada seseorang datang mendekat. Rahma datang dengan membawa secangkir teh dan bika ambon kesukaanku.
"Sebentar lagi masuk waktu dzuhur,jangan tidur mas...ini aku buatin mas lemontea anget diminum dulu..." ucap Rahma sambil senyum.
"Terimakasih sayang..." jawabku yang langsung menerima cangkir lemontea dari Rahma.
"Sini aku pijitin...mas pasti capek kan,nanti habis di pijit terus mandi ya...tar kita sholat bareng."
"Mandinya bareng nggak?" godaku
"Huuh maunya..." ucap Rahma sambil berjalan di belakang sofa dan mulai memijitku.
"Eh...mandi bareng sama suami itu sunnah lho...jangan salah..."
"Iya deh iya... Pijitanku enak nggak mas..." ucapnya sambil terus memijit kedua pundakku.
"Enak...enak banget...Ternyata kamu pinter mijit juga ya sayang...Makasih yaaa..."
"Sama-sama mas..."
"Ih senengnya berumah tangga...kenapa nggak dari dulu ya berumah tangga...hehehe..." kataku lagi ngasal.
Rahma diam,dia tidak merespon kata-kataku tapi entah kenapa tiba-tiba pijitan Rahma berhenti.
"Kok berhenti...udah capek ya..." tanyaku sambil mendongakan kepalaku,Rahma menggeleng pelan.
"Kita kan baru saja di pertemukan lagi,kalo mas berumah tangga dari dulu...berarti nggak sama aku dong...Mas terpaksa ya nikah sama aku..." ucapnya sambil mulai berkaca-kaca.
"Hei...kamu kenapa?"
Ku raih tangannya lalu ku tarik pelan agar dia mengikuti arahan tanganku dan duduk di sampingku.
"Sini duduk sini..."titahku
Rahma mengikuti perintahku,lalu duduk disampingku...mukanya masih tampak masam dan cemberut. Akh...manisnya istriku kalo lagi merajuk...Aku memandang wajah istriku yang tertunduk,ku angkat dagunya agar aku bisa melihat wajahnya. Rahma memalingkan mukanya tapi cepat ku tahan dengan mencium bibirnya dalam satu gerakan. Rahma tak merespon,aku tau dia masih tampak kesal dengan kalimatku tadi. Aku hanya tersenyum dan memeluknya erat,ku cium keningnya lalu ku tatik pelan agar dia merebahkan tubuhnya di sofa dengan meletakkan kepalanya di pangkuanku. Rahma memiringkan badannya menghadapku dan menyembunyikan wajahnya dari sorot mataku.
Aku membiarkan sikapnya begitu,dengan senyum yang tak dilihatnya,aku pun membelai kepala istriku pelan.
"Aku menunggumu begitu lama,sambil menyiapkan diri agar aku yakin bisa membahagiakanmu,agar aku bisa pantas mendampingimu. Karna selama ini tujuan hidupku adalah kamu..."
Rahma pelan mulai membalikkan badannya,tangannya meraih lalu menggenggam tanganku dan diletakkan di atas perutnya. Netranya menatap intens kepadaku.
"Ku bentengi hatiku sedemikian rupa agar aku tak tersentuh dan tak ingin menyentuh wanita lain,karna aku ingin kau yang pertama dan terakhir."
"Aku bersyukur teryata Alloh mengabulkan dan melancarkan keinginanku. Walaupun jalan yang di tunjukkan padaku sangat berliku,tapi pada akhirnya kini aku telah sampai pada tujuanku. Namun aku tak pernah menyangka,penyatuan kita akan serumit ini."
"Maafkan aku Rahma...andai dulu aku punya sedikit keberanian dan tidak mementingkan karirku,tentu aku tidak akan membuatmu menunggu terlalu lama,dan aku juga tidak akan membuat Bang Farhan hadir di antara kita. Sehingga aku bisa memberimu pernikahan seperti impian semua wanita,tanpa sembunyi-sembunyi."
Rahma tiba-tiba bangun dari tidurannya,duduk di pangkuanku dan memelukku erat.
"Aku tidak apa-apa walau menikah denganmu harus dengan cara begini,yang penting pernikahan kita syah secara agama dan juga syah secara hukum. Karna tujuanku hidup pun hanya kamu,kalau pada akhirnya Bang Farhan hadir di antara kita,itu adalah kesalahanku yang lemah saat menunggumu...maafkan aku mas...hiks hiks hiks...Tapi biar pun kami menikah tapi Bang Farhan tidak pernah menyentuhku,aku masih menjaga hati dan tubuhku untukmu..."
"Aku juga hanya ingin di sentuh olehmu yang pertama dan terakhir buatku...Kamu percaya padaku kan mas...hiks hiks hiks..."
"Iyaaa...aku percaya sepenuhnya padamu. Jangan menangis sayang...jangan buat aku merasa bersalah..."
Aku mendekapnya sambil mengusap-usap punggungnya dengan lembut untuk memberikan ketenangan padanya. Tangis Rahma mulai mereda,lalu Rahma melepas pelukannya dan menyeka sisa-sisa air matanya. Aku memantunya dengan mengusap pipinya.
"I love you..."
Ku cium lembut bibirnya dan kali ini Rahma pun meresponnya. Tapi tiba-tiba dia menarik diri...
"Kita mandi dulu terus sholat...tuh sudah mulai terdengar suara adzan" ucapnya yang langsung beranjak dari pangkuanku.
"Jadi mandi barengkan?" godaku yang mampu membuat merah pipinya.
Rahma mengangguk sambil menjauh meninggalkanku,aku pun buru-buru berlari mengejarnya.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut...