Judul : LUNARA
Genre : Romantic/Comedy
Sedari kecil selalu dikelilingi oleh empat orang pria yang sangat menyayangi dan melindunginya, ternyata tak membuat kisah cintanya seberuntung itu.
Kisah cinta pertamanya, berakhir bahkan sebelum dimulai. Kisah cinta selanjutnya dan seterusnya, penuh dengan penghianatan.
Gadis itu bernama Lunara, yang berarti Putri Bunga. Mempunyai kulit putih mulus, berparas cantik dan berhati baik. Bisa diibaratkan Lunara seperti malaikat. Kekayaan orangtua yang melimpah, tidak membuatnya tumbuh menjadi gadis angkuh dan sombong.
Lunara gadis yang selalu terlihat ceria dimata dunia, namun memendam banyak luka.
© 2020, Maya Asviana
Kisah ini merupakan lanjutan dari Novel saya sebelumnya yang berjudul Paman Yoo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 24
Waktu cepat sekali berlalu, tanpa terasa sudah enam bulan Luna menjabat sebagai Manajer Team Dua Divisi Strategi Pemasaran. Selama enam bulan ini sudah dua kali mereka bersaing mendapatkan tender dengan Team Satu yang dipimpin oleh Reinaldo. Namun sayangnya tender-tender besar itu selalu dimenangkan oleh Reinaldo dan teamnya. Sedangkan Team Dua yang dipimpin oleh Lunara selalu mendapatkan tender sisa atau tender-tender kecil.
Minggu depan mereka juga akan kembali bersaing untuk mendapatkan sebuah tender besar.
"Sis, gue gak yakin nih kalau proposal kita ini bisa mengalahkan Team Satu. Pasti kita gagal lagi deh" ucap Rizal putus asa, saat mereka sedang berdiskusi di ruang meeting Team Dua.
"Iya Sis, lagian kenapa sih gak pakai idenya Sis Luna aja. Kalau dari cara Sis Luna memberi masukan, sepertinya Sis Luna bisa membuat proposal yang lebih baik dari ini. Apalagi Sis Luna lulusan dari luar negeri" cecar Tiara.
"Ya, buat apa ada kalian kalau semua ide dari gue. Tapi proposal ketiga ini sangat jauh lebih baik daripada proposal pertama kalian" ucap Lunara.
"Iya sih memang. Tapi rasa-rasanya masih belum bisa menyaingi Team Satu. Kalau menurut Sis Luna, apa proposal ini bisa mengalahkan Team Satu?" tanya Dwi.
"Jujur, kalau menurut gue sih proposal ini gak bisa mengalahkan proposal Team Satu. Tapi proposal ini kalian yang buat loh, kalian saingan dengan Kak Rein head to head. Iya gak sih?" ucap Lunara. Dwi, Tiara dan Rizal tertegun mendengar ucapan Lunara.
Mereka merasa ucapan Lunara benar, proposal ini murni karya mereka bertiga. Lunara hanya memberi beberapa masukan saja. Ide dan prosesnya mereka kerjakan sendiri. Mereka bertiga bersaing dengan manajer jenius yang selalu dibanggakan oleh Yohan Erlangga.
"Suatu saat mungkin gue akan menjadi asisten CEO atau mungkin CEO atau bahkan menjadi ibu rumah tangga yang tidak akan bekerja disini lagi. Tapi gue mau salah satu diantara kalian yang akan menggantikan gue menjadi manajer" jelas Lunara.
Mereka bertiga pun mengangguk dan menatap Lunara dengan penuh senyuman. Mereka sama sekali tidak menyangka, kalau Lunara yang terlihat sangat kekanakan mempunyai pemikiran sedewasa itu.
"Terimakasih Sis, karena telah memberikan kami kesempatan untuk berkembang" ucap Dwi sambil merangkul Lunara yang duduk disampingnya.
"Santai..." Ucap Lunara sambil menepuk punggung Dwi.
Tiara dan Rizal juga menyampaikan rasa terimakasih mereka terhadap Lunara.
.
Hari yang dinantikan pun tiba. Lunara dan teamnya maju kedepan dan mempresentasikan proposal mereka. Seperti biasa, Lunara tidak banyak berbicara, dia membiarkan ketiga rekannya untuk menjelaskan. Dan hasilnya sesuai dengan apa yang mereka tebak. Mereka kalah, dan lagi-lagi tender itu dimenangkan oleh Team Satu.
"Tetap semangat Sis and Bro" ucap Lunara yang masih tetap ceria.
"Siaaap Sis" jawab Dwi, Tiara dan Rizal serempak.
"Lunara Erlangga, saya tunggu diruangan saya segera" ucap Yohan. Ketika dia dan kedua asistennya, Nico dan Junior hendak keluar dari ruang meeting itu.
"Kenapa Bapak harus menunggu saya diruangan Bapak, jika kita bisa berjalan bersama sambil bergandengan tangan" ucap Lunara ketika ayahnya yang juga atasannya itu, berjalan melewati dirinya.
Yohan pun menghentikan langkahnya dan menggelengkan kepalanya menatap Lunara yang sudah bergelayut manja di lengannya.
"Guys, Sis Luna ngikut Big Boss dulu ya. Jangan merindukan gue" ucap Lunara seraya melambaikan tangannya kepada rekan satu teamnya.
"Kami pasti merindukan kamu Sis" ucap Rizal, yang langsung menunduk karena ditatap oleh Yohan. Lunara terkekeh melihat ekspresi takut Rizal.
Yohan dan Lunara pun berjalan keluar dari ruangan meeting itu.
"Kalian harusnya jangan ikut bermain seperti Lunara. Kalian harus bisa membimbing dia" ucap Reinaldo kepada Dwi, Tiara dan Rizal. Namun mereka bertiga hanya tersenyum menanggapi ucapan Reinaldo.
Sementara itu Lunara terus bergelayut manja kepada ayahnya hingga masuk ke dalam elevator.
"Kok bisa sih, gue punya anak gendeng seperti ini" ucap Yohan sambil menghela nafasnya.
Junior yang sudah tertawa sedari tadi, tambah terbahak mendengar ucapan Yohan.
"Buah itu jatuh gak jauh dari pohonnya, Dad. Gendengnya Luna, kalau gak nurun Mommy, ya nurun dari Daddy, hahaha ..." Ucap Junior terbahak.
"Dulu Luna gak sebegininya deh, sejak pulang dari Sydney tambah parah" ucap Yohan sambil mengacak rambut Lunara.
"Abang yang ngajarin Dad!" celetuk Lunara.
"Enak aja kamu" ucap Junior sambil menusuk-nusuk pinggang Lunara dengan jari telunjuknya.
"Daddy ... Abang kelitikin Luna nih" ucap Lunara yang kini beralih memeluk pinggang Yohan.
"Bodo amat!" ucap Yohan sambil menepuk dahi Lunara.
"Awww ...." Ucap Lunara dengan mulut yang mengerucut. Nico dan Junior terkekeh melihatnya.
Lunara langsung melepaskan pelukannya dan mengusap-usap dahinya yang ditepuk oleh Yohan.
"Kerja yang serius dong sayang. Jangan bermain terus" ucap Yohan kepada Lunara.
Belum sempat Lunara membalas ucapan ayahnya itu. Pintu elevator sudah terbuka. Dan mereka semua berjalan menuju ruangan CEO.
.
"Luna, kenapa kamu selalu menyuruh anak buah kamu yang mengerjakan proposal. Ini sudah enam bulan loh. Daddy tau itu bukan proposal buatan kamu. Kamu mau bermain terus?" cecar Yohan. Begitu dia duduk bersandar disinggasananya. Sedangkan Lunara, Junior dan Nico berdiri di depan meja kerja Yohan.
"Siapa yang bermain sih Dad. Justru Luna sedang membantu Daddy loh ini" jawab Lunara.
"Membantu apa? Kamu dan Team Dua belum pernah sekalipun mendapatkan tender besar! Padahal kalau kamu yang mengerjakan proposal itu, Daddy yakin pencapaian kamu bisa sama bahkan melebihi Rein" ucap Yohan.
"Dad, selama ini Daddy itu selalu menganggungkan Kak Rein. Selalu memuji dia" ucap Lunara kesal.
"Itu karena dia memang layak dipuji. Kamu tanya saja sama Om Nic bagaimana cara kerja Reinaldo dari dulu" ucap Yohan. Nico pun mengangguk, membenarkan ucapan Yohan.
"Tapi tindakan Daddy itu salah. Kalau dia memutuskan untuk keluar dari Yohan Corp, gimana nasib perusahaan? Daddy terlalu bergantung dengan dia" jelas Lunara.
"Maksud kamu?" tanya Yohan.
"Ada beberapa hal yang harus Daddy tau tentang pandangan Luna." Ucap Lunara mulai menjelaskan.
"Pertama, Luna gak punya anak buah, Dad. Dwi, Tiara dan Rizal itu rekan Luna, bukan anak buah. Kami saling mendukung dan bekerja sama" ucap Lunara. Yohan pun memcebikkan mulutnya sambil mengangguk.
"Kedua, ada alasan kenapa selama ini Luna gak pernah terjun langsung dalam membuat proposal. Itu karena Luna mau kita punya banyak orang seperti Reinaldo. Luna mau Dwi, Tiara dan Rizal gak cuma bekerja menuruti perintah, tapi juga memikirkan ide dan mengembangkan ide itu. Luna mau mereka juga mendapatkan kesempatan untuk berkembang, Dad" lanjut Lunara. Yohan pun mulai mencerna setiap perkataan anaknya.
"Ketiga, Luna gak peduli dengan omongan orang yang bilang Luna gak punya kompetensi sebagai Manajer atau apalah. Luna bekerja di Yohan Corp bukan untuk pembuktian diri dan dianggap hebat. Luna hanya ingin membuat perusahaan ini lebih baik. Di posisi apapun Daddy menempatkan Luna" jelas Lunara.
Mata Yohan terlihat berkaca-kaca. Yohan, Junior dan Nico tersenyum lebar mendengarkan penjelasan Lunara.
"Luna kebanggaan Abang" ucap Junior sambil mengacak kecil rambut Lunara. Lunara pun membalas pujian Junior itu dengan senyuman.
Yohan beranjak dari singgasananya dan berjalan mendekati Lunara, hingga anaknya itu kini berada dalam pelukannya.
"Ternyata anak Daddy sudah dewasa. Terimakasih ya sayang, lakukan apa yang kamu anggap baik. Daddy bangga banget sama kamu, Lunara Erlangga" ucap Yohan sambil memeluk erat dan mencium pucuk kepala anaknya itu.
"Om Nic juga bangga sama kamu" ucap Nico sambil mengelus kepala Lunara yang sedang ada di dalam pelukan sang ayah.
"Dad, Luna pinjam Abang Jun ya. Lagian sebentar lagi kan jam istirahat" ucap Lunara setelah Yohan melepaskan pelukannya.
"Mau kemana kalian?" tanya Yohan.
"Paling Luna minta ditemani beli makanan dan minuman buat Dwi, Tiara dan Rizal. Ya kan Dek?" ucap Junior.
Ya, setiap sehabis meeting, Lunara selalu mentraktir dan makan bersama dengan rekan satu teamnya.
"Betul. Biar mereka tetap semangat dan ceria" jawab Lunara dengan bibir yang melengkung.
"Yasudah kali ini Daddy izinkan" ucap Yohan sambil menepuk pelan pipi Lunara.
"Terimakasih Daddy, sayangnya akuuh" ucap Lunara sambil memeluk ayahnya.
Junior pun ingin ikut berpelukan bersama Lunara dan Yohan. Namun dia tidak sampai memeluk Lunara, karena wajahnya tertahan oleh telapak tangan Yohan.
"Pelit banget sih, mau ikut berpelukan aja gak boleh" cebik Junior. Nico hanya bisa terkekeh melihat kelakuan Yohan dan Junior.
"Yuk Bang" ajak Lunara ketika Yohan telah melepaskan pelukannya.
Lunara dan Junior pun pergi membelikan makanan dan minuman untuk mereka makan bersama Dwi, Tiara dan Rizal.
Setelah selesai membeli makan siang, mereka pun kembali ke ruang Divisi Strategi Pemasaran.
"Siapa yang merindukan Lunara Erlangga" ucap Lunara sambil mengangkat bungkusan di tangannya.
"Wuih gado-gado Bu Sri" sorak Dwi, Tiara dan Rizal serempak.
"Cus ke basecamp" ucap Lunara sambil berjalan mendahului rekannya yang lain, menuju ruang meeting team dua.
Dwi, Tiara dan Rizal pun masuk ke ruang meeting Team Dua Divisi Strategi Pemasaran yang sering dialihfungsikan sebagai ruang makan oleh Lunara.
"Mereka itu gak mengenal pantry room ya? Makan kok diruang meeting" ucap Lidya.
"Biar aja deh Lidya, gak merugikan elu juga kan?" ujar Rio.
"Udah ... Udah mending kita cari makan aja yuk" ucap Hana kepada Lidya, sebelum Lidya dan Rio memulai pertengkaran.
"Gado-gado Bu Sri" gumam Reinaldo.
Semenjak Hana bekerja di PT. Putra Erl, Reinaldo sudah tidak pernah lagi makan siang di warung gado-gado kesukaannya, warung gado-gado Bu Sri. Tempat dia dan Lunara pertama kali bertemu.
Reinaldo selalu mengikuti Hana dan rekannya yang lain makan di cafe atau mall disekitar perusahaan tempat mereka bekerja. Karena dia ingin lebih dekat lagi dengan Hana. Apalagi semenjak tau kalau Dylan dan Hana sedang menjalani Long Distance Relationship. Reinaldo semakin berusaha mendekati Hana.
Tetapi entah kenapa saat mendengar Dwi, Tiara dan Rizal bersorak ketika Lunara membawa gado-gado Bu Sri, Reinaldo mendadak menjadi rindu rasa gado-gado Bu Sri itu.
"Han, aku gak ikut kalian ya. Tiba-tiba aku ingin makan gado-gado di tempat langganan aku dulu" ucap Reinaldo. Hana pun tersenyum dan mengangguk.
.
"Wah ... mantap pisan euy gado-gado nya" ucap Rio yang memutuskan untuk menemani atasannya itu makan di warung gado-gado Bu Sri.
"Pantas saja anak-anak Team Dua pada senang kalau Sis Luna bawain gado-gado" lanjut Rio.
"Dulu Pak Rein sering makan disini loh Mas" ungkap Bu Sri. Rio hanya mengangguk sambil terus menyantap makanannya.
"Iya ya Bu, udah lama gak mampir kesini. Tadi karena melihat Lunara bawa gado-gado Bu Sri, saya jadi ingin juga" ungkap Reinaldo.
"Kalau Neng Luna sih hampir setiap hari pesan disini. Buat orang-orang kantor, buat cleaning service, security, bahkan sekarang sudah beberapa kali membelikan buat abang-abang ojek di pengkolan depan" jelas Bu Sri.
Reinaldo hanya tersenyum mendengarnya. "Seandainya Lunara itu cerdas dan pekerja keras seperti Pak Yohan, dia akan sempurna sekali sebagai wanita. Sayangnya hanya anak manja yang gak bisa apa-apa. Ya setiap manusia punya kekurangan dan kelebihan masing-masing sih" gumam Reinaldo dalam hati.
------------------------------------------
.
Itu visual Daddy Yoo diatas, pura-puranya lagi duduk disinggasana nya ya 😂
Si Othor bukannya kasi visual, Lunara, Reinaldo atau Junior, malah kasi visual Daddy Yoo.
Mohon maaf authornya bener-bener gak bisa Mup On dari Daddy Yoo 🙏
.
.
.
Terimakasih sudah membaca 💕
Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE, tuliskan KOMENTAR kamu dan beri VOTE yaaa ...
Jangan lupa juga untuk memberikan RATE
⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan
mau ke laundry bang (L)
😂😂😂
tdk monoton ke dalam romantisan saja...
lanjut author💪💪💪
ntar keenakan dia bikin kacau ditempat kerja.. 🤦♀️🤦♀️
kalau gk boleh dekat ma orang lain....
jangan muna. weww.. 😁😁