4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.
Dia hampir mati karenanya.
4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.
"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.
Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Akta Nikah
"Aku tidak mau bertunangan denganmu. Aku mau menikah denganmu."
Naomi menatap map putih gading di tangan Darren seolah benda itu bisa meledak.
Di dalamnya, berkas Catatan Sipil tersusun rapi. Ada formulir permohonan, fotokopi KTP, surat keterangan belum menikah, dan sampul dokumen bertuliskan Akta Nikah. Semua terlalu lengkap. Terlalu siap. Terlalu Darren.
Untuk beberapa detik, Naomi bahkan lupa marah.
Lalu kesadarannya kembali.
"Kamu gila."
Darren masih berlutut di depannya. Celana jas mahalnya menyentuh lantai batu taman yang lembap setelah hujan, tetapi ia tidak bergerak. "Kemungkinan besar."
"Berdiri."
"Kalau aku berdiri, kamu akan pergi."
"Kalau kamu tetap berlutut, aku akan menendangmu."
"Pakai sepatu hak begitu? Kakimu sakit nanti."
Naomi menatapnya tajam. "Darren."
Akhirnya Darren berdiri, tetapi map itu tetap ia pegang dengan kedua tangan, seperti seseorang yang membawa seluruh hidupnya di sana.
Naomi mengambil salah satu lembar dokumen. Nama lengkapnya tercetak jelas: Naomi Liem. Di bawahnya, data KTP, alamat apartemen, tempat tanggal lahir. Napasnya tercekat.
"Dari mana kamu dapat fotokopi KTP-ku?"
Darren terbatuk pelan.
Naomi menatapnya lebih tajam. "Jawab."
"Aku mencuri KTP-mu."
Keheningan jatuh.
Di kejauhan, musik dari ballroom masih terdengar samar. Lampu taman berkedip lembut. Semua terasa terlalu indah untuk kalimat kriminal yang baru keluar dari mulut Darren.
"Kamu apa?"
"Mencuri." Darren mengangkat satu tangan cepat. "Sebentar. Bukan KTP aslinya. Aku mengambil salinan dari dokumen kerja sama yang pernah kamu kirim ke panitia gala. Lalu aku minta Billy mengurus sisanya."
"Itu tetap mencuri."
"Iya."
"Kamu mengaku dengan santai?"
"Aku tidak santai. Aku takut kamu marah."
"Aku memang marah."
"Aku tahu."
Naomi menekan kertas itu ke dada, bingung apakah harus tertawa atau memukulnya dengan map. "Kamu sadar ini bukan cara normal melamar orang?"
"Aku sudah mencoba cara normal." Darren menatapnya. "Bunga, sarapan, payung, menunggu di luar toko. Kamu tetap menjaga pintu terlalu rapat. Jadi aku menyiapkan pintu lain."
"Pintu pernikahan?"
"Pintu pulang."
Kalimat itu membuat Naomi terdiam.
Darren tidak mendekat. Ia hanya menatapnya dengan mata yang sejak tadi kehilangan semua kenakalan. "Nao, aku tidak membawa ini supaya kamu merasa terpaksa. Kalau kamu bilang tidak, aku akan simpan lagi. Kalau kamu mau memukulku karena KTP itu, aku terima. Kalau kamu mau melaporkanku, aku ikut ke kantor polisi."
"Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda." Darren menarik napas pelan. "Tapi aku juga tidak mau pura-pura cukup dengan menjadi pria yang menunggu di seberang jalan. Aku sudah kehilangan empat tahun. Aku tidak mau kehilangan satu hari lagi hanya karena aku takut terlihat putus asa."
Naomi menggenggam kertas itu sampai ujungnya melengkung.
"Kamu memang putus asa," bisiknya.
"Karena itu kamu."
Naomi memalingkan wajah. Matanya panas lagi, dan ia membenci betapa mudahnya Darren membuat semua pertahanannya tidak berguna. Di satu sisi, ia ingin menolak. Ia ingin menuntut semua penjelasan dulu, ingin memastikan luka lama tidak akan berdarah lagi. Di sisi lain, bagian paling jujur dari dirinya tahu bahwa selama empat tahun ia tidak pernah benar-benar berhenti mencintai Darren.
Yang membuatnya takut bukan menikah.
Yang membuatnya takut adalah percaya lagi.
"Kalau aku tanda tangan," ucap Naomi pelan, "bukan berarti aku melupakan semuanya."
Darren menggeleng. "Aku tidak minta kamu lupa."
"Bukan berarti aku langsung memaafkan."
"Aku akan menunggu."
"Bukan berarti kamu boleh mengatur hidupku."
"Kamu boleh mengatur hidupku sebagai gantinya."
Naomi menatapnya, kesal. "Jangan menjawab seperti itu."
"Maaf."
Ia terdengar terlalu sungguh-sungguh sampai Naomi kehilangan amarah beberapa detik.
Di belakang mereka, suara seseorang berdeham.
Naomi menoleh. Tiffany berdiri di ujung pergola dengan kedua tangan terlipat, Jason di belakangnya mencoba terlihat tidak ikut campur, dan Billy memegang kotak dokumen tambahan dengan wajah pasrah.
"Gue cuma mau memastikan sahabat gue belum diculik pakai map," kata Tiffany.
Naomi langsung merasa wajahnya panas. "Tiff."
Tiffany berjalan mendekat, mengambil salah satu dokumen, lalu membaca cepat. "Wah. Lengkap banget. Dar, lo ini red flag tapi administratif."
Jason tertawa keras sebelum Darren menatapnya.
Tiffany menatap Darren lagi, kali ini tanpa bercanda. "Kalau dia nangis karena lo sekali lagi, gue nggak peduli lo CEO apa. Gue akan bikin hidup lo tidak nyaman."
Darren mengangguk. "Aku tahu."
"Jangan cuma tahu. Takut."
"Aku takut."
Jawaban itu membuat Tiffany diam sesaat. Ia mencari kesombongan di wajah Darren, tetapi tidak menemukannya. Akhirnya ia menghela napas dan menatap Naomi.
"Keputusan lo. Bukan karena dia berlutut. Bukan karena dokumennya siap. Bukan karena semua orang nonton. Lo mau, ya mau. Lo nggak mau, gue bawa lo pulang sekarang."
Naomi memegang tangan Tiffany.
"Aku tahu."
Ia kembali menunduk pada dokumen di dalam map. Selain formulir Catatan Sipil, ada satu lembar pernyataan terpisah yang membuat alisnya berkerut.
"Ini apa?"
Darren melihat kertas itu, lalu menjawab hati-hati, "Pernyataan bahwa Maison de Belle tetap sepenuhnya milikmu. Aku, Wijaya Group, atau siapa pun dari keluargaku tidak punya hak mengatur toko itu tanpa izin tertulismu."
Naomi membaca lebih jauh. Ada juga klausul bahwa semua keputusan karier Naomi tetap berada di tangannya, bahwa rekening bisnisnya tidak akan dicampur, dan bahwa Darren bersedia menanggung biaya hukum jika suatu hari ada pihak keluarga Wijaya yang mencoba menekan usahanya.
Tiffany ikut membaca, lalu bersiul pelan. "Oke. Ini bukan red flag. Ini red flag yang sudah ikut terapi."
Darren tidak tersenyum. Matanya tetap pada Naomi.
"Aku tahu kamu membangun Maison de Belle sendirian," katanya. "Aku tidak mau pernikahan denganku membuat siapa pun merasa berhak menyentuh hidup yang kamu selamatkan dengan tanganmu sendiri."
Kata selamatkan membuat tenggorokan Naomi tercekat.
"Lalu kamu?" tanyanya.
"Apa?"
"Apa yang kamu dapat?"
Darren tampak bingung, seolah pertanyaan itu tidak pernah masuk daftar pertimbangannya. "Kamu."
Naomi menatapnya lama.
"Itu jawaban yang sangat tidak sehat."
"Mungkin." Darren menunduk sedikit. "Tapi jujur."
Malam itu, Naomi tidak langsung menandatangani apa pun.
Ia meminta waktu sampai pagi.
Darren menerimanya tanpa tawar-menawar. Ia mengantar Naomi dan Tiffany pulang, lalu benar-benar berhenti di depan lobby apartemen tanpa turun. Tidak ada pesan panjang setelah itu. Hanya satu kalimat di WhatsApp.
Darren: Aku akan menunggu di Catatan Sipil pukul sepuluh. Kalau kamu tidak datang, aku akan pulang.
Naomi membaca pesan itu hampir sepanjang malam.
Pukul sembilan lima puluh lima keesokan paginya, ia berdiri di depan kantor Catatan Sipil Kota Megah dengan gaun putih sederhana dan blazer krem. Tiffany berdiri di sebelahnya, membawa tas kecil berisi lipstik, tisu, dan kemungkinan benda yang bisa dijadikan senjata.
"Masih bisa balik," kata Tiffany.
Naomi menatap pintu kaca gedung.
Di dalam, Darren berdiri menunggu. Ia memakai kemeja putih tanpa dasi, rambut tertata rapi, wajah pucat seperti belum tidur. Begitu melihat Naomi, matanya berubah.
Bukan menang.
Lega.
Naomi melangkah masuk.
Prosesnya lebih tenang daripada semua drama sebelumnya. Petugas membaca data, memeriksa berkas, meminta tanda tangan, menjelaskan bahwa pencatatan pernikahan mereka akan selesai hari itu karena semua dokumen telah diverifikasi sejak beberapa hari lalu. Billy terlihat hampir menangis lega di kursi saksi. Jason sibuk menahan Tiffany yang terus menggumam bahwa orang kaya memang punya jalur administrasi seperti jalan tol.
"Kamu yakin mau jadi saksi?" Naomi bertanya pada Tiffany sebelum duduk.
Tiffany merapikan blazer Naomi dengan gerakan yang mendadak lembut. "Gue jadi saksi bukan karena gue setuju sama semua cara dia. Gue jadi saksi karena lo nggak boleh berdiri sendirian di hari sepenting ini."
Naomi menggenggam jemarinya.
Di sisi lain meja, Jason menepuk bahu Darren. "Kalau lo bikin Ci Nao nyesal, gue bantu Tiffany cari benda tajam."
Darren mengangguk tanpa membalas lelucon. "Aku tahu."
Billy mengusap sudut matanya dengan tisu. "Akhirnya Bos menikah."
"Jangan nangis sebelum pengantin," tegur Tiffany.
Ketika pena diletakkan di depan Naomi, tangannya sempat berhenti.
Darren duduk di sampingnya. Ia tidak menyentuhnya. Ia hanya berkata pelan, "Kalau ragu, berhenti."
Naomi menoleh.
"Aku tidak mau kamu memilihku karena terdesak," lanjut Darren. "Aku mau kamu memilihku karena kamu masih ingin pulang."
Kata pulang membuat mata Naomi basah.
Ia memikirkan empat tahun yang dingin. Pintu apartemen yang selalu ia kunci sendiri. Malam-malam ketika ia berpura-pura tidak menunggu siapa pun. Lalu ia memikirkan bubur hangat, payung hitam, Darren yang berdiri di hujan tanpa memaksa, dan mata yang selalu menemukannya di ruangan penuh orang.
Naomi mengambil pena.
"Aku belum memaafkanmu sepenuhnya," katanya.
Darren tersenyum, rapuh. "Aku tahu."
"Tapi aku juga lelah berpura-pura tidak mencintaimu."
Pena itu bergerak di atas kertas.
Tanda tangan Naomi Liem tertinggal jelas di bawah tanda tangan Darren Wijaya.
Petugas Catatan Sipil mencap dokumen mereka. Suara cap itu pendek, kering, dan anehnya membuat jantung Naomi bergetar.
"Selamat," kata petugas itu. "Mulai hari ini, Anda berdua resmi tercatat sebagai suami istri."
Darren menutup mata sebentar.
Saat membukanya, ia menatap Naomi seperti seseorang yang akhirnya menemukan udara setelah terlalu lama tenggelam.
"Istriku," bisiknya.
Naomi menahan air mata, lalu menatap buku nikah di atas meja.
Mulai hari itu, nama Darren Wijaya bukan lagi masa lalu yang ia hindari.
Ia adalah suaminya.