Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Hari Pernikahan
Gaun putih itu terlalu indah untuk pernikahan yang tidak dipilihnya sendiri.
Senja berdiri di ruang rias kecil di belakang gereja, menatap pantulan dirinya di cermin tinggi. Rambutnya disanggul rendah, beberapa helai dibiarkan jatuh di dekat pipi. Makeup di wajahnya lembut, membuat matanya tampak lebih besar dan lebih tenang daripada yang sebenarnya.
Di dadanya, jantung berdebar tanpa ritme.
Lara berdiri di belakangnya sambil merapikan ujung veil. Tidak banyak orang yang diizinkan hadir hari itu. Dari pihak Liem hanya Papa Liem, Serena, dan beberapa kerabat dekat. Dari pihak Wijaya, kabarnya hanya keluarga inti, Engkong Wijaya, Brandon, dan beberapa orang kepercayaan.
Pernikahan konglomerat yang seharusnya bisa memenuhi ballroom hotel bintang lima itu justru dibuat tertutup.
Terlalu tertutup, seolah semua orang ingin cepat menyelesaikannya sebelum ada yang sempat bertanya kenapa.
"Sen," bisik Lara, "kalau kamu mau kabur, aku masih bisa cari pintu belakang."
Senja menoleh.
Lara tidak tersenyum. Matanya merah, mungkin karena sejak tadi menahan tangis.
Untuk sesaat, dada Senja terasa hangat dan sakit bersamaan. Dia ingin tertawa, tapi yang keluar hanya hembusan napas.
"Aku pakai gaun seperti ini. Susah lari."
"Aku bisa gendong."
"Kamu akan jatuh duluan."
Lara menggigit bibir. "Aku serius."
Senja menatap sahabatnya melalui cermin. Di belakang mereka, gaun putih itu mengembang seperti awan kecil. Cantik, bersih, mahal. Tidak ada yang tahu bahwa tangan di balik sarung renda itu dingin sampai ujung kuku.
"Aku tahu," jawab Senja pelan. "Tapi aku tidak bisa."
Lara memejamkan mata sebentar, lalu memeluknya dari belakang dengan hati-hati agar tidak merusak gaun.
"Kalau dia jahat padamu, telepon aku. Jam berapa pun."
Senja mengangguk. Kali ini, dia tidak berani bicara karena takut suaranya pecah.
Ketukan terdengar di pintu.
Seorang wedding organizer membuka pintu sedikit. "Nona Senja, sudah waktunya."
Nona Senja.
Beberapa menit lagi, panggilan itu akan berubah.
Di sisi lain gereja, Rayhan Wijaya berdiri di dekat altar dengan jas hitam yang dikirim butik tanpa fitting. Jas itu tetap jatuh sempurna di tubuhnya, tentu saja. Orang seperti dia bahkan tampak seperti sudah lahir dengan ukuran yang disiapkan dunia.
Brandon berdiri di sampingnya sebagai pendamping. Pria itu menoleh ke arah pintu gereja yang masih tertutup, lalu melirik Rayhan.
"Kamu tegang?"
"Tidak."
"Kamu bahkan belum melihat calon istrimu masuk."
"Aku punya mata."
"Punya hati juga?"
Rayhan tidak menjawab.
Brandon menahan senyum. "Baiklah. Karena suasana terlalu kaku, aku sudah menyiapkan sesuatu."
"Jangan."
"Kamu belum tahu aku mau apa."
"Karena aku mengenalmu."
Brandon justru berdeham kecil, lalu berkata dengan suara cukup pelan agar hanya Rayhan yang mendengar, "Anggrek mekar di senja hari, Rayhan yang bercahaya menerangi."
Rayhan menoleh perlahan. "Itu buruk."
"Itu pantun penuh doa."
"Itu ancaman terhadap selera bahasa."
Brandon nyaris tertawa keras, tapi suara organ gereja mulai mengalun. Semua orang berdiri.
Pintu terbuka.
Rayhan mengangkat pandangan.
Untuk pertama kalinya, dia melihat Senja Liem bukan sebagai nama di dokumen, bukan sebagai foto yang dikirim Hendrik, melainkan sebagai perempuan yang berjalan perlahan di lorong gereja dengan wajah pucat dan mata yang berusaha tidak goyah.
Dia tampak kecil di antara kursi-kursi kayu dan rangkaian anggrek putih yang dipasang di kedua sisi lorong. Bukan kecil karena tubuhnya, tetapi karena seluruh ruangan seperti menaruh beban di bahunya.
Papa Liem menggandengnya. Pria itu berjalan tegap, terlalu puas untuk seorang ayah yang sedang melepas anaknya.
Senja tidak melihat ke kanan atau kiri. Tangannya mencengkeram buket anggrek putih sampai batang bunganya sedikit miring.
Rayhan menyadari detail itu.
Lalu dia membenci dirinya sendiri karena menyadarinya.
Ketika mereka berhenti di depan altar, Papa Liem menyerahkan tangan Senja kepada Rayhan.
Sentuhan pertama mereka terjadi tanpa drama. Hanya ujung jari dingin Senja yang menyentuh telapak tangan Rayhan.
Tetapi Senja menahan napas.
Rayhan merasakannya.
Dia menunduk sedikit. Dari dekat, wajah Senja lebih lembut daripada di foto. Matanya tidak sepenuhnya takut. Ada sesuatu yang lain di sana, seperti seseorang yang sudah terlalu sering disuruh menerima sampai lupa bagaimana cara meminta.
"Jangan pingsan," kata Rayhan sangat pelan, hampir tanpa menggerakkan bibir.
Senja terkejut. Dia mendongak, dan untuk pertama kalinya mata mereka benar-benar bertemu.
Suara pendeta di depan mereka tetap mengalir, tetapi selama satu detik, dunia mengecil menjadi tatapan pria itu. Mata Rayhan gelap, tenang, terlalu tenang. Tidak ada senyum. Tidak ada kehangatan. Namun tangannya kokoh di bawah tangannya, tidak membiarkannya jatuh.
"Aku tidak akan pingsan," bisik Senja.
"Bagus."
Itu percakapan pertama mereka sebagai calon suami istri.
Singkat. Dingin. Aneh.
Dan entah kenapa, membuat Senja sedikit lebih mampu berdiri.
Pemberkatan berjalan cepat. Pendeta berbicara tentang kasih, kesetiaan, dan rumah tangga yang dibangun bukan hanya dengan janji, melainkan dengan kesabaran. Kata-kata itu terdengar begitu indah sampai Senja hampir merasa bersalah karena tidak bisa mempercayainya.
Ketika tiba saat bertukar cincin, Brandon menyerahkan kotak beludru hitam kepada Rayhan.
Cincin itu sederhana, platinum polos dengan satu garis tipis di tengah. Tidak romantis, tapi mahal. Seperti semua hal tentang keluarga Wijaya.
Rayhan mengambil cincin untuk Senja.
Tangannya hangat. Tangan Senja dingin.
Saat cincin itu masuk ke jari manisnya, Senja menatap benda kecil itu dengan perasaan kosong. Begitu ringan, tetapi mengubah seluruh hidupnya.
"Senja Liem," suara pendeta terdengar lembut, "apakah engkau bersedia menerima Rayhan Wijaya sebagai suamimu?"
Ada jeda sepersekian detik.
Lara yang duduk di barisan depan mencengkeram tisu. Serena menatap dengan bibir melengkung. Papa Liem tidak berkedip.
Senja mendengar detak jantungnya sendiri.
"Saya bersedia," jawabnya.
Rayhan menatapnya sekilas.
Kemudian giliran Senja memasangkan cincin ke jari Rayhan. Jari pria itu panjang, kuat, dengan urat halus di punggung tangan. Tidak ada getaran sedikit pun.
"Rayhan Wijaya, apakah engkau bersedia menerima Senja Liem sebagai istrimu?"
"Saya bersedia," kata Rayhan.
Suaranya rendah, stabil, tanpa emosi.
Namun tetap saja, kata-kata itu membuat gereja kecil tersebut berubah. Orang-orang bertepuk tangan pelan. Kamera keluarga mengambil gambar. Serena tersenyum untuk foto. Papa Liem menjabat tangan Hendrik Wijaya dengan wajah lega.
Senja berdiri di sisi Rayhan, merasa seperti baru saja menandatangani sesuatu yang tidak dia baca.
Setelah pemberkatan dan pencatatan sipil, makan keluarga dilakukan di sebuah restoran privat dekat Menteng. Meja panjang dihiasi anggrek putih dan lilin rendah. Hidangan keluar satu per satu, tetapi Senja hampir tidak bisa menelan.
Brandon mengambil tempat di sebelah Rayhan dan mengangkat gelas.
"Untuk pasangan baru," katanya cerah. "Semoga anggrek yang mekar di senja hari benar-benar mendapat cahaya yang cukup."
Beberapa orang tertawa sopan.
Rayhan menatap Brandon seperti ingin mengusirnya dari Jakarta.
Senja tidak mengerti seluruh maksud pantun itu, tapi dia mendengar namanya dan nama Rayhan di sana. Pipinya memanas sedikit.
"Jangan dengarkan dia," kata Rayhan tanpa menoleh.
Senja baru sadar pria itu bicara kepadanya.
"Kenapa?"
"Dia terlalu banyak waktu luang."
Brandon meletakkan tangan di dada. "Aku tersinggung sebagai sahabat sekaligus penyair keluarga."
"Kamu bukan penyair."
"Belum diakui saja."
Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Senja hampir bergerak. Hampir.
Rayhan melihatnya. Hanya sebentar.
Lalu Serena datang mendekat dengan gelas jus di tangan.
"Selamat, Senja," ucapnya manis. "Sekarang kamu benar-benar Nyonya Wijaya."
Senja tahu nada itu.
Nada yang terdengar seperti ucapan selamat, tapi menyimpan pisau di belakangnya.
"Terima kasih," jawab Senja.
Serena menatap cincin di jarinya. "Jaga baik-baik apa yang bukan milikmu sejak awal."
Sebelum Senja sempat menjawab, suara Rayhan terdengar.
"Apa maksudmu?"
Serena terdiam.
Rayhan bahkan tidak menaikkan suara. Dia hanya menatap Serena dengan dingin, tetapi warna wajah Serena berubah sedikit.
"Tidak ada, Pak Rayhan. Aku hanya bercanda dengan Senja."
"Aku tidak suka bercanda."
Brandon pura-pura sibuk minum.
Senja menoleh ke Rayhan, tidak yakin apakah pria itu sedang membelanya atau hanya tidak suka keributan di acara keluarga.
Rayhan tidak menatapnya. "Duduk."
Perintah itu ditujukan kepada Serena.
Serena tersenyum kaku, lalu kembali ke tempatnya.
Senja menunduk, menatap cincin di jarinya lagi. Benda itu masih terasa asing. Tetapi untuk beberapa detik, dinginnya tidak terlalu menusuk.
Malam turun ketika mobil hitam membawa mereka ke Wijaya Mansion. Menteng terlihat tenang, pohon-pohon tua di sisi jalan basah oleh sisa hujan. Di dalam mobil, Senja duduk di sisi kiri, Rayhan di kanan. Jarak di antara mereka cukup untuk satu orang lain.
Tidak ada yang bicara.
Senja bisa mencium aroma kayu cendana yang samar dari tubuh Rayhan. Aroma itu bersih, dingin, dan mahal. Seperti rumah yang akan dia masuki.
Wijaya Mansion berdiri di balik pagar tinggi, bangunan tua yang direnovasi dengan kaca dan batu alam. Lampu taman menyala lembut, membuat rumah itu terlihat indah sekaligus tidak ramah.
Pak Hadi menyambut mereka di pintu.
"Selamat datang, Tuan muda. Selamat datang, Nyonya."
Nyonya.
Senja menahan napas.
Rayhan berjalan masuk lebih dulu. Senja mengikutinya melewati foyer luas, tangga melengkung, dan lorong panjang yang begitu sunyi sampai suara langkahnya terdengar terlalu jelas.
Kamar utama berada di lantai dua.
Ketika pintu dibuka, Senja melihat tempat tidur besar dengan seprai putih, sofa panjang dekat jendela, dan vas berisi anggrek di meja samping. Semua sudah disiapkan dengan sempurna.
Terlalu sempurna.
Rayhan melepas jasnya dan menggantungnya di sandaran kursi.
"Kamar mandi di kanan. Lemari sebelah kiri sudah dikosongkan untukmu."
Senja memeluk tas kecilnya. "Baik."
"Aku tidur di sisi kanan."
"Baik."
Jawaban itu keluar otomatis.
Rayhan menatapnya sebentar. "Kamu hanya bisa bilang baik?"
Senja terdiam.
Dia tidak tahu harus menjawab apa. Di rumah Liem, kata itu sering menyelamatkannya dari pertengkaran. Di hadapan Rayhan, kata itu terasa tiba-tiba memalukan.
"Maaf," ucapnya.
Rayhan menghela napas pendek, seperti tidak sabar. "Lupakan."
Malam pertama mereka tidak seperti cerita yang pernah Senja dengar dari orang lain. Tidak ada bisikan manis. Tidak ada tangan yang mencari tangan. Tidak ada percakapan panjang tentang masa depan.
Setelah mandi, Senja keluar dengan piyama lengan panjang yang paling tertutup yang dia bawa. Rayhan sudah berbaring di sisi kanan, membaca dokumen di tablet.
Di tengah tempat tidur, sebuah bantal panjang diletakkan membujur.
Senja berhenti di dekat ranjang.
Rayhan tidak mengangkat wajah. "Batas sementara."
Sementara.
Kata itu tidak menenangkan, tapi setidaknya memberi bentuk pada ketakutan.
Senja naik ke tempat tidur dari sisi kiri, menjaga agar tubuhnya tidak menyentuh bantal itu. Lampu kamar diredupkan. Tablet Rayhan akhirnya dimatikan.
Gelap turun perlahan.
Di luar, sisa hujan menetes dari daun-daun pohon tua. Di dalam kamar, dua orang yang baru saja menjadi suami istri berbaring kaku, dipisahkan oleh satu bantal panjang dan ribuan hal yang tidak mereka katakan.
Senja menghadap ke kiri.
Rayhan menghadap ke kanan.
Di antara punggung mereka, keheningan terasa lebih dingin daripada pendingin ruangan.