REVISI...!!
Ketika ketiadaanku menjadi angin segar untuk mu maka aku bersedia pergi dari sisi kehidupanmu.
Dan
Ada cerita yang sejak detik itu harus berubah menjadi kenangan.
Nama nya Azura, wanita ini terpaksa menikah dengan laki-laki yang bernama Elvan. Elvan berjanji akan membiayai semua biaya perawatan ibu Azura selama dia menjadi istri nya.
Laki-laki yang awal nya di kenal sangat baik oleh Azura ternyata seorang yang kejam. Wanita ini memutuskan untuk pergi di saat diri nya tahu bahwa Elvan dan ketiga sahabat nya hanya menjadikan nya seorang wanita taruhan.
Jangan Lupa Like Rate Coment And Vote.
Selamat membaca😊😊
Follow👇🏻
IG:Riani.Vii
FB:Ni R
Tw:Ni R
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24.Penyesalan
Cukup melelahkan perjalanan Azura, wanita itu jatuh tersimpuh di depan jasad yang sudah di kafani, Azura tak bisa melihat wajah ibu nya untuk yang terakhir kali nya. Wanita itu menangis histeris karena merasa bersalah pada ibu nya.
"Bukan kah ibu selama ini baik-baik saja." ujar Zura.
"Elvan memberhentikan perawatan ibu mu satu bulan ini." ucap bu Nani.
Azura kaget, "Elvan telah mendapatkan pendonor untuk ibu, tidak mungkin dia membohongi ku." ucap Zura.
"Entahlah Zura, sebaiknya kita segera memakamkan ibu mu."
Dengan di dampingi Nani, Azura berjalan menuju pemakaman mengiringi langkah terakhir ibu nya. Air mata terus mengalir namun ia harus kuat untuk ibu nya.
Gundukan tanah merah basah dengan bertabur bunga, di situ lah Azura bersimpuh menangis penuh penyesalan. Nani mencoba mengajak Azura untuk pulang namun wanita itu menolak.
Elvan yang menyusul merasa iba saat melihat isak tangis istri nya, pria itu bahkan sudah berada di pemakan sedari tadi.
"Zura, suami mu." ujar Nani.
Azura menoleh, namun tatapan kebencian jelas terpancar dari sorot tajam wanita yang sedang berduka itu.
"Kau membohongi ku." ucap Zura dengan nada tinggi.
"Aku membohongi mu apa?" tanya Elvan tak mengerti.
"Bukankah kau bilang sudah mendapatkan pendonor untuk ibu ku?"
"Iya, lalu kenapa?"
"Kenapa kau memberhentikan perawatan ibu ku, apa kurang puas telah menyiksa ku?"
Elvan bingung, ia merasa tak pernah memberhentikan biaya perawatan untuk mertua nya itu. "Aku tidak memberhentikan nya, aku tidak tahu."
"Kau pembohong, aku membenci mu, pergi kau." usir Zura.
"Sabar Zura, sabar nak." ucap Nani menenangkan.
"Aku membenci mu Elvan...aku membenci mu." ucap nya sekali lagi lalu pergi meninggalkan makam ibu nya.
Elvan berusaha mengejar istri nya, namun Nani menghalangi langkah Elvan. "Biarkan dia sendiri." ujar Nani.
Nani kemudian pergi menyusul Zura, sedangkan Elvan duduk tersimpuh di depan makam. "Maaf Elvan bu, Elvan tidak pernah melakukan itu semua." ucap nya, namun tiba-tiba ponsel Elvan berbunyi. Seseorang memberitahu siapa Risma dan ada hubungan apa ia dengan Ines. Elvan terkejut bukan main, cukup lama ia tinggal dan hidup bersama Risma namun tak sedikit pun pria itu tahu seluk beluk siapa Risma di masa lalu.
Elvan tak menyusul istri nya, pria itu kembali menuju bandara untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi sekarang. Namun sebelum pulang, Elvan pergi kerumah sakit terlebih dahulu.
"Siapa yang memberi mu perintah untuk memberhentikan perawatan mertua ku?" tanya Elvan kesal.
"Maaf tuan, nyonya Risma atas perintah anda." jawab dokter Hendra ketakutan.
Elvan mengacak rambut frustasi, ia tak menyangka jika Risma akan melangkah sejauh ini. Dengan menggunakan penerbangan yang paling cepat, Elvan yang baru saja tiba langsung pergi menuju rumah utama.
Wajah penuh amarah jelas terlihat, Elvan masuk lalu membanting vas bunga membuat semua orang terkejut.
"Pergi kau dari rumah ku sekarang!" teriak Elvan pada Risma yang duduk santai.
Risma kaget begitu juga Viska dan Vilna yang sedang berada di kamar. "Kak ada apa?" tanya Viska.
"Sudah ku bilang jangan pernah ikut campur urusan ku apa lagi hidup ku."
"Elvan, maksud kamu apa?" tany Risma pura-pura tidak mengerti.
"Kau telah mencampurkan obat ke dalam minuman ku dan apa hak mu memberi perintah untuk memberhentikan perawatan mertua ku?" tanya Elvan emosi.
"Jangan mengada-ngada, kau memfitnah ku." ujar Risma membela diri.
"Jangan kau pikir aku tidak tahu siapa diri mu, siapa Ines dan Ibu nya itu." ujar Elvan membuat Risma langsung gugup.
"Jangan macam-macam Van, aku akan memberitahu siapa aku sebenar nya pada Viska dan Vilna."
"Katakan cepat katakan aku tidak takut." ujat Elvan menantang.
"Kalian berdua dengar baik-baik bahwa aku bukan ibu kandung kalian." ucap Risma dengan bangga.
Viska dan Vilna saling tatap, "Kami sudah tahu." jawab mereka bersamaan.
Risma terperangah, wanita itu telah kehabisan kata-kata untuk membela diri.
"Kemasi barang-barang mu sekarang juga atau aku akan menuntut semua kejahatan mu." usir Elvan.
Mau tidak mau Risma langsung bergegas mengemasi semua barang-barang milik nya, wanita itu sangat takut melihat wajah amarah dari anak tiri nya. Elvan langsung memberi perintah kepada para pelayan di rumah nya untuk membakar semua foto yang berhubungan dengan Risma.
Elvan menangis, pria itu tak tahu harus berbuat apa terutama kepada istri nya. Viska dan Vilna mencoba menenangkan kakak nya.
"Kakak telah jahat pada nya." ucap Elvan dengan air mata nya.
"Sudahlah kak, Kak Zura pasti memaafkan kakak, toh semua juga bukan kesalahan kakak." ujar Vilna.
Viska hanya diam, gadis itu sebenarnya juga merasa bersalah pada kakak ipar.
"Dia telah membenci kakak." ujar Elvan.
"Besok, kembali temui kak Zura, jelaskan pada nya."
Elvan mengusap air mata nya kasar, pria itu memilih pergi menemui para sahabat nya. Sangat kebetulan, semua sahabat nya sedang berkumpul di cafe milik Julian.
"Gue balikin saham lo,'' ujar Elvan tiba-tiba.
Raka, Julian dan Erkan kaget, "Apa yang telah terjadi?" tanya Erkan.
Elvan menceritakan semua nya, pria itu bahkan sangat menyesal sekarang.
"Bantu gue, Azura marah Azura membenci gue sekarang." ucap nya memohon.
"Kita akan bantu lo Van." ujar Julian.
Elvan memilih kembali kerumah yang ia tempati bersama Zura, pria itu masuk ke dalam kamar yang sangat berantakan itu, Elvan memungut gaun yang robek itu lalu memeluk nya sambil menangis.
Elvan membayangkan kembali semua perbuatan nya pada Zura, hati nya sakit sa sangat sakit saat membayangkan wajah istri nya penuh dengan air mata.