Ini kisahku. Tentang penderitaan dan kesakitan yang mewarnai hidupku. Kutuangkan dalam kisah ini, menjadi saksi bisu atas luka yang sengaja mereka perbuat padaku sepanjang hidupku.
Karina, lahir dari seorang ibu yang pemabuk sejak ia masih kecil. Menikahi pria yang sangat ia cintai tak kalah buruk memperlakukan Karina. Di tambah sang mertua yang tak pernah berpihak padanya. Hingga satu tragedi telah mengambil penglihatannya. Karina yang mengalami kebutaan justru mengalami perlakuan buruk dari suami dan mertuanya.
Namun seorang pria tak di kenal telah membawanya keluar dari kegelapan. Yang tak lain pria yang sama yang merenggut penglihatannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 24
Setelah selesai melakukan pekerjaannya. Ava menemui Alexis untuk meminta bayarannya. Ava memutuskan untuk memberikannya pada Widia dan segera membawa Karina ke Luar Negeri untuk pengobatan. Setelah itu ia bisa tenang pulang ke Negara asalnya.
"Senang sekali bisa bekerjasama dengamu, Ava. Tapi kau masih terikat kontrak kerja bersamaku. Jadi, kau tidak bisa keluar dari pekerjaan yang sudah kau tantatangani." Alexis memberikan cek pada Ava.
"Kau tidak perlu khawatir, aku pasti menepati janjiku."
Ava menerima cek itu lalu memasukkannya ke dalam saku jaket yang ia kenakan.
"Oya, ada pekerjaan yang harus kau kerjakan. Tapi tidak sekarang. Tunggu dua hari lagi." Alexis duduk di kursi menatap ke arah Ava.
"Katakan, apa yang harus kukerjakan lagi."
"Tidak sekarang, tunggu dua hari lagi." Alexis mempersilahkan Ava untuk pergi. Sesaat Ava membungkukkan badannya lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan Alexis, langsung menemui Karina di rumahnya.
Ava sudah tidak sabar lagi untuk segera sampai di rumah Widia. Seiring waktu, tumbuh benih cinta di hati Ava untuk Karina. Untuk pertama kalinya hatinya yang tertutup rapat, telah tersimpan satu nama di hatinya. Diam diam Ava mengagumi dan menyimpan rasa cinta untuk wanita buta itu, sekaligus menyimpan rasa takut. Seandainya Karina tahu, dia lah yang menyebabkannya buta. Akankah Karina bisa menerima kehadiran Ava lagi?
Sesampainya di halaman rumah Widia, ia langsung menemui Karina dan Ibunya dan memberikan cek hasil kerjanya.
"Nak, Ibu ucapkan terima kasih. Kau sudah membantu kesulitan kami." Widia menundukkan kepala sesaat.
"Jangan sungkan Bu, simpanlah dan segera urus surat surat keberangkatan kalian. Aku juga akan membantu setelah kalian di sana."
Ava merasa tidak keberatan melakukan apapun untuk Karina. Meski ia tahu konsekwensinya Karina akan membencinya setelah melihat wajah Ava.
"Ibu buatkan minuman segar." Widia beranjak ke dapur.
"Mas, terima kasih. Jika nanti aku bisa melihat, yang pertama kali ingin kulihat adalah dewa penolongku. Kau, mas Ava."
Penuturan Karina membuat Ava merasa tersanjung sekaligus takut. Ava menundukkan kepala sesaat, lalu tersenyum meski Karina tidak melihatnya.
"Karina, boleh kutanya sesuatu?" tanya Ava.
"Silahkan mas." Karina mendengarkan dengan seksama.
"Jika kau bertemu dengan pria yang sudah membuatmu buta. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Ava lagi, ia ingin tahu seberapa bencinya Karina.
"Aku belum tahu mas, saat ini aku tidak memikirkan itu," ungkap Karina.
Ava mendesah kecewa, ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Kenapa mas bertanya itu?" tanya Karina.
"Tidak apa apa, Karina."
***
Sementara di rumah Pramudya terjadi pertengkaran hebat antara Zahra dan Pramudya. Pasalnya Zahra tidak terima dengan sikap Pramudya sekarang, seluruh pikiran Pramudya hanya memikirkan bagaimana caranya merebut karina lagi. Sebelumnya Pramudya tidak pernah bersikap seperti itu, hidup Zahra terasa sempurna mendapatkan suami, cinta dan kasih sayang seutuhnya dari Pram.
"Cukup Zahra! sampai kapan kau akan terus menuntut? apa kurang? yang selama ini kuberikan?" tanya Pram kesal menatap wajah Zahra yang terisak.
"Mas, Karina sudah bukan istrimu lagi. Bisa tidak? kau fokus pada anak kita? masa depan keluarga kecil kita?" Zahra terus berusaha mengingatkan Pram.
"Aku bilang diam!" bentak Pramudya semakin kesal mendengar tuntutan Zahra. Ia merasa sekarang kalau Zahra terlalu banyak menuntut, tidak seperti Karina yang selalu menuruti apa maunya.
"Karina masih istriku yang sah, dan aku harus membawanya kembali ke rumah ini." Pramudya menoleh sesaat ke arah Zahra yang masih terisak. Lalu ia berlalu begitu saja meninggalkan Zahra di kamarnya.
"Tidak akan pernah, aku harus mencegahnya bagaimanapun caranya, mas."
moga tidak ya klu iya gk semangat lagi baca nya