Di dunia yang penuh intrik dan kekuasaan, Liora, seorang wanita penerjemah dan juru informasi negara yang terkenal karena ketegasan dan sikap dinginnya, harus bekerja sama dengan Darren, seorang komandan utama perang negara yang dikenal dengan kepemimpinan yang brutal dan ketakutan yang ditimbulkannya di seluruh negeri. Keduanya adalah sosok yang tampaknya tak terkalahkan dalam bidang mereka, tetapi takdir membawa mereka ke dalam situasi yang menguji batas emosi dan tekad mereka. Saat suatu misi penting yang melibatkan mereka berdua berjalan tidak sesuai rencana, keduanya terjebak dalam sebuah tragedi yang mengguncang segala hal yang mereka percayai. Sebuah insiden yang mengubah segalanya, membawa mereka pada kenyataan pahit yang sulit diterima. Seiring waktu, mereka dipaksa untuk menghadapi kenyataan. Namun, apakah mereka mampu melepaskan kebencian dan luka lama, ataukah tragedi ini akan menjadi titik balik yang memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari sipayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Yang Terlepas
Srekkk... srekkk...
Tanpa aba-aba, Darren langsung bersiap. Gerakannya cepat dan terlatih, tanpa memberi sedikit pun celah bagi musuhnya untuk menyadari serangan yang datang. Dalam hitungan detik, tubuh lawan terhuyung, kehilangan keseimbangan, lalu terhempas ke tanah dengan suara pelan yang nyaris tak terdengar di tengah kegelapan malam Sierra. Cahaya rembulan yang samar-samar tertutup awan semakin menambah suasana yang menegangkan.
Di dekatnya, Liora tetap waspada. Tangannya menggenggam erat senter kecil, satu-satunya sumber penerangan mereka saat ini. Tatapannya menyapu sekitar, memastikan tidak ada ancaman lain yang mengintai dari balik bayang-bayang pepohonan. Mereka telah berhasil menangkap satu musuh yang sebelumnya berkeliaran di sekitar area tersebut, tanpa menyadari dirinya telah menjadi target Darren dan Liora.
"Buka maskernya," ujar Darren dengan suara rendah namun penuh ketegasan. Kedua tangannya masih mencengkeram erat tubuh musuh yang kini tak sadarkan diri, memastikan tidak ada kemungkinan baginya untuk tiba-tiba sadar dan melawan.
Liora mendekat, mengarahkan cahaya senternya ke wajah musuh tersebut. Namun sebelum ia sempat membuka topeng yang menutupi wajahnya, Liora tiba-tiba berbicara, "Di markas saja. Di sini terlalu berbahaya jika berlama-lama."
Darren terdiam sejenak, mencerna ucapan Liora. Matanya menyapu area sekitar, dan ia menyadari betul bahwa tempat ini memang terlalu terbuka. Jika mereka tetap di sini terlalu lama, bukan tidak mungkin ada musuh lain yang muncul dan menyerang mereka secara tiba-tiba.
Akhirnya, ia mengangguk setuju. Tanpa banyak bicara, ia segera membungkuk dan mengangkat tubuh musuh yang telah mereka lumpuhkan. Namun, saat tubuh itu berada dalam dekapannya, Darren menyadari sesuatu yang membuatnya sedikit heran.
Ringan.
Tubuh musuh yang ia angkat terasa lebih ringan dari yang ia perkirakan. Dalam benaknya, ia sempat berpikir bahwa orang ini pastilah seorang pria kurus—mungkin seseorang yang tidak terlalu memiliki kekuatan fisik yang besar. Namun, keraguan muncul di benaknya. Apa mungkin musuh mereka kali ini bukan seorang pria seperti yang ia duga?
Meski rasa penasaran mulai mengusiknya, Darren tidak bertanya lebih lanjut. Ia dan Liora segera melangkah cepat menuju markas, membawa hasil tangkapan mereka malam itu. Bayangan mereka bergerak lincah di antara pepohonan, meninggalkan jejak samar di tanah yang dingin, sementara angin malam terus berhembus, menyelimuti Sierra dengan keheningan yang penuh misteri.
Saat mereka akhirnya tiba di depan markas yang dipenuhi cahaya lampu terang, Darren tetap melangkah mantap sambil menggendong tubuh musuh yang tak sadarkan diri. Cahaya lampu-lampu itu memantulkan bayangan panjang di tanah, menciptakan kontras yang tajam antara gelapnya malam Sierra dan keamanan markas mereka.
Namun, ketika Darren hampir mencapai pintu masuk, langkahnya terhenti. Ia menyadari sesuatu—tidak ada lagi suara langkah kaki Liora di belakangnya. Keheningan itu membuatnya segera berbalik, dan matanya langsung tertuju pada Liora yang berdiri diam di tempatnya, beberapa langkah di belakang.
Wajah Liora sulit dibaca. Pandangannya kosong, seakan pikirannya melayang ke tempat lain, tenggelam dalam sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Ada apa denganmu? Ayo!" ujar Darren, mencoba menarik perhatian Liora. Namun, gadis itu tidak bergeming.
Darren mulai merasa tidak nyaman. Detik demi detik berlalu tanpa jawaban dari Liora, dan semakin lama ia diam, semakin besar rasa gelisah yang menyelimuti Darren.
"Ada apa?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas. Namun, Liora tetap tidak menjawab, membuat Darren semakin cemas.
Tatapan gadis itu masih terpaku ke depan, namun bukan pada Darren atau markas mereka—melainkan sesuatu yang lain, sesuatu yang membuatnya membeku di tempatnya.
"Bukankah dia adikmu?"
Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir kecil Liora, terdengar pelan namun menusuk. Darren langsung membeku di tempatnya, seakan tubuhnya kehilangan tenaga untuk bergerak. Kata-kata itu bergema di kepalanya, membuat dadanya terasa sesak dalam sekejap.
Tatapannya perlahan mengikuti arah pandang Liora, turun ke tubuh yang masih ia angkat di bahunya. Ia menelan ludah, merasakan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat.
Dengan gerakan yang sedikit gemetar, matanya bergerak ke atas, menatap wajah orang yang sejak tadi berada dalam genggamannya.
Deg...
Sebuah perasaan aneh menjalar dalam dirinya, sebuah firasat buruk yang sejak tadi ia abaikan kini mencengkram lebih kuat. Jemarinya mencengkeram lebih erat, seakan berharap apa yang ia lihat nanti hanyalah kesalahpahaman belaka. Namun, sebagian dari dirinya tahu bahwa sesuatu yang besar baru saja terungkap, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Darren tertegun, tubuhnya terasa kaku saat menatap wajah adiknya yang terpejam. Seseorang yang sejak tadi ia angkut, seseorang yang ia kira musuh—ternyata adalah Kary, adiknya sendiri.
Dadanya terasa sesak. Napasnya tersengal saat kenyataan itu menghantamnya tanpa ampun. Lututnya melemah, dan sebelum ia menyadarinya, tubuhnya jatuh berlutut ke tanah. Beban emosional yang mendadak menguasainya membuatnya kehilangan keseimbangan. Tubuh Kary pun ikut terjatuh dari genggamannya, tergeletak di dekat Darren dan Liora dengan posisi yang tidak berdaya.
"Kary..." lirih Darren, hampir seperti bisikan yang sarat dengan keterkejutan dan kesedihan. Matanya mulai berkaca-kaca, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Liora segera bergerak, mendekati Kary dan memeriksa keadaannya. Ia menempelkan dua jarinya ke leher Kary, memastikan denyut nadinya. Setelah beberapa detik yang terasa begitu lama, ia menghela napas lega. "Dia masih hidup," ucapnya pelan namun tegas. Kemudian, tanpa ragu, ia menatap Darren yang masih terpaku. "Ayo bawa dia masuk, sebelum yang lain melihat."
Darren menatap Liora dengan ekspresi kosong, seakan masih berusaha memahami semuanya. Tapi Liora tahu, mereka tidak punya waktu untuk itu. Jika orang-orang di markas sampai melihat Kary dalam kondisi seperti ini, adik Darren bisa langsung dijadikan tersangka utama dan dijatuhi hukuman tanpa ampun.
Darren akhirnya mengalihkan pandangannya ke sekitar. Markas masih sepi, tetapi itu tidak akan bertahan lama. Ia mengepalkan tangannya, berusaha menenangkan diri.
"Ayo bawa dia!" katanya, kini dengan nada lebih tegas. Kesadarannya perlahan kembali, meski emosinya masih bergejolak. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera mengangkat Kary dan membawa tubuhnya ke dalam.
Liora bergegas mengikuti, memikirkan tempat terbaik untuk menyembunyikan Kary. Dan satu-satunya tempat yang aman saat ini hanyalah kamar Liora.
Di Ruangan Liora
Suasana ruangan terasa sunyi, hanya terdengar napas mereka yang masih terengah. Cahaya remang dari lampu kecil di sudut ruangan menyoroti wajah Kary yang masih tak sadarkan diri, menciptakan bayangan samar di dinding.
"Kembalilah, biar dia bersamaku!" ujar Liora, suaranya terdengar lembut namun tegas. Ia menatap Darren yang masih berdiri di sisi ranjang, enggan melepaskan pandangannya dari adiknya.
Namun Darren tidak merespons. Matanya tetap terarah pada Kary, seakan takut jika ia mengalihkan pandangan walau sedetik saja, adiknya akan menghilang. "Bagaimana bisa kau tahu itu dia?" tanyanya akhirnya, nadanya datar namun sarat dengan emosi yang ia tahan.
Liora menghela napas panjang sebelum menjawab. "Maskernya terbuka, dan aku menyadarinya." Jawabannya jujur, tanpa ragu. Memang, saat Darren menggendongnya tadi, masker Kary terlepas begitu saja, menampakkan wajahnya yang selama ini tersembunyi. Hanya dalam satu kedipan mata, segalanya berubah—dan kini mereka harus menghadapi kenyataan pahit ini.
Darren terdiam. Tubuhnya terasa semakin berat, seolah dunia menghimpitnya tanpa ampun. Ia menunduk, jemarinya mengepal di sisi tubuhnya. "Lalu bagaimana sekarang?" suaranya terdengar bergetar. "Dia pasti akan dihukum..."
Pikiran itu membuat dadanya terasa semakin sesak. Ia bisa membayangkan hukuman apa yang menanti Kary jika orang-orang di markas mengetahuinya. Tidak akan ada belas kasihan. Tidak akan ada kesempatan kedua.