NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAH

TERPAKSA MENIKAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Misteri / Nikahmuda / CEO / Mengubah Takdir / Keluarga
Popularitas:325k
Nilai: 5
Nama Author: AioraAghfi

(Baca Ulang, Sudah aku edit)

Harap Bijak karena beberapa episode mengandung adegan dua puluh satu plus. Thankyou 😘😘

***

Nasta Ayruma

Gadis itu sedang duduk bersimpuh diatas tempat tidurnya. Bahu nya bergetar hebat merasakan sakit yang menusuk dalam kerelung hatinya. Kedua tangannya mencengkram kuat sprei yang terlihat mulai lusuh.
Tangis yang seharusnya terdengar keras, kini hanya tercekat didalam tenggorokan.
Tak mampu dia bagikan.

Langkah nya tidak bisa mundur. Tak ada pilihan dalam situasi yang sulit ini untuk mengatakan Tidak ataupun Menolak.

Dia tidak punya kuasa saat harus terpaksa menikah dengan laki-laki penguasa yang arogan itu.

Pandu Bragistandara.!

Nasta : Bagaimana bisa aku egois memilih masa depanku sedangkan ibu sedang membutuhkan bantuan ku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AioraAghfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duka Luka Dan Lara

Sedih.

Itulah yang dirasakan seorang anak ketika harus berpisah dengan orang tua yang selama ini mengasuh dan membesarkannya dengan penuh cinta. Perpisahan itu mungkin memang bukan untuk selamanya, namun tetap saja menyisakan duka, luka dan lara.

Mereka berdua dipenuhi rasa tidak rela.

Selama ini, baik Nasta mau pun sang adik belum pernah sekalipun tinggal di atap yang berbeda dari ibu dan ayahnya. Karena sebuah penyakit yang ingin mendapatkan kesembuhan, mau tidak mau dua anak perempuan itu harus rela hidup jauh dari mereka.

"Ibu harus baik-baik saja ya disana."

Nasta kini tengah mendorong kursi roda sang ibu menuju sebuah ruang tunggu di bandara. Berkat kekayaan suami dan mama mertua Nasta, Winda sang ibu benar-benar mendapatkan perawatan dan pelayanan eksklusif.

"Benar. Rista bakal nungguin ibu pulang disini. Dan pas pulang nanti, ibu harus sudah sembuh. Tidak kambuh-kambuh lagi."

Pun dengan Rista, yang terlihat mendampingi sang ibu, menggenggam tangannya dan berjalan beriringan disamping kursi roda.

"Iya. Anak-anak ibu juga harus pinter menjaga diri. Nasta jangan merepotkan boss kamu. Kalau bisa bantu-bantu pekerjaan dirumahnya. Dan Rista juga, harus nurut sama mbak Nasta ya Ris?"

Sementara sang ayah yang tadi pamit ke toilet terlebih dahulu, rupanya diam-diam memilih menemui Pandu di tempat parkir yang sedang menunggu.

Lelaki muda itu kembali mencium tangan Herman seraya menunduk hormat. "Ayah sudah siap? Nanti nyampek sana di jemput supir dan orang kepercayaan mama.

Ayah tinggal ngikut aja. Pokoknya ayah dan ibu terima beres."

Herman tersenyum bangga dan menepuk bahu menantunya dengan pelan. Lelaki itu merogoh saku, lalu menyerahkan suatu benda kepada Pandu. "Ndu, ini kunci rumah kami kamu pegang ya."

Mengernyit kan dahi penuh keheranan, Pandu segera bertanya. "Buat apa yah?"

Herman menggeleng. Menerawang jauh ke depan dengan pandangan penuh misterinya. "Barangkali kau ingin berkunjung, dan mencari tahu sesuatu tentang Nasta."

"Tapi yah?"

"Terima saja. Sekalian ayah titip ke kamu."

"Maaf yah, tapi Pandu gak bisa. Akan sangat tidak sopan masuk kerumah orang sedangkan pemiliknya saja sedang tidak ada."

Kini, Herman tertawa ringan. "Ck. Kau tidak berubah rupanya. Jangan khawatir, disana tidak ada barang berharga kecuali berkas-berkas tentang riwayat kita. Kalau kau masih takut, kau bisa ajak Rista. Anak itu cukup pandai menjaga rahasia."

Kali ini, Herman benar-benar memaksa Pandu untuk menerima kunci rumahnya. Meskipun Pandu masih saja berusaha menolaknya.

Bukan apa-apa, Pandu hanya merasa bahwa dia bukan siapa-siapa jadi dia tidak layak menjarah rumah yang ada pemiliknya.

Lagian siapa yang tahu kalau Herman benar-benar sudah mempercayakan rumahnya pada sang menantu, kecuali Pandu sendiri?

"Percaya pada ayah. Mungkin sebelum aku pulang, suatu saat kau akan membutuhkan kunci ini untuk mencari sesuatu dikamar ayah." Dan dengan terpaksa, akhirnya Pandu menerima kunci itu.

Meski Pandu belum mengerti tujuan pasti seorang Herman menyerahkan kunci rumahnya, tapi Pandu paham betul bahwa ayah mertuanya menyimpan maksud tertentu. "Baik yah, Pandu akan simpan dan jaga dengan baik sampai ayah pulang."

"Jaga juga anak-anak ku, Ndu.. ayah titip."

Pandu mengangguk patuh, sesaat sebelum Herman kembali meninggalkannya untuk menuju ruang tunggu bandara. Meninggalkan Pandu yang diam mematung sembari memegang kunci rumah mertuanya.

"Ayah lama sekali, dari mana saja sih?" Di ruang tunggu bandara khusus customers VVIP, Winda langsung menodong sang suami dengan pertanyaan. Meski pun tubuhnya lemah, wanita paruh baya itu masih sanggup bersuara lirih dan tetap ramah.

"Buang hajat bu."

"Ish, hampir saja aku suruh Nasta nyusulin."

Herman pura pura tidak tahu, dan segera menjawab pertanyaan sang istri. "Kenapa?"

"Lima menit lagi pesawat terbang ayah..." Kali ini Rista yang menjawab pertanyaan sang ayah dengan suara jengah.

Sedangkan Nasta hanya diam saja. Karena sebenarnya gadis manis pemilik mata yang cantik itu tahu kemana sebenarnya sang ayah pergi.

"Kalau begitu, ayo kita bersiap, bu..." Herman kembali bersuara sembari berdiri mengambil alih kursi roda sang istri.

Empat anggota keluarga itu berjalan beriringan menuju pintu barcode. Mereka berpisah ditempat pemeriksaan Security Chekpoint. Nasta dan Rista yang tidak memiliki boarding pass terpaksa merelakan sang ibu dan Ayah untuk masuk lebih dalam menuju tempat pesawat di parkirkan.

"Sampai bertemu lagi ibu"

"Sampai bertemu lagi ayah"

Hanya lambaian tangan yang tersisa, sampai siluet orang tua nya tak lagi mampu ditangkap pandangan mata.

"Udah jangan nangis Rista.. kan ada mbak Nasta?"

Remaja SMP itu spontan menyenderkan kepalanya ke bahu sang kakak. Sambil mengusap air mata yang jatuh tak bisa ditahan. Tanpa Rista ketahui, Nasta pun tengah berkaca-kaca menahan perasaan tak rela di hatinya.

Namun sebagai seorang kakak, bukankah Nasta tidak boleh menampakkan kelemahannya di hadapan seorang adik yang butuh sosok pelindungnya?

Nasta ingin terlihat kuat, agar mampu menyalurkan energi tenangnya dalam hati Rista.

"Sudah?"

Suara dingin Pandu yang mampu ditangkap indra pendengaran Nasta membuat dua gadis itu menoleh bersamaan. Entah sejak kapan Pandu membuntuti mereka, yang jelas kehadirannya begitu mengagetkannya.

Nasta sempat ingin kembali protes, karena suasana haru nya merasa dirusak oleh lelaki itu. Namun niatnya gadis itu urungkan tatkala Pandu lebih dulu kembali bersuara.

"Kalau sudah, ayo kita pulang."

Merasa kehabisan energi dan tidak ingin berdebat, Nasta memilih menurut. Dengan menggandeng tangan sang adik, gadis itu berjalan mengekor di belakang suami.

Mobil Porsche Macan 2.0 warna hitam milik Pandu melaju kencang membelah jalanan. Matahari meninggi menunjukkan waktu yang sudah siang hari.

Sikap Nasta yang sejak tadi diam mematung dan lebih memilih menatap jendela membuat Pandu merasa tidak nyaman. Terlebih Nasta selalu membuang muka ketika lelaki itu mencoba menyelami perasaan gadisnya melalui sorot mata.

Nasta, Gadis muda yang baru saja di nikahinya beberapa hari yang lalu sepertinya berhasil masuk dan meracuni pikiran Pandu dengan segala bayangnya.

"Rista langsung istirahat ya mbak."

Sang adik langsung masuk ke dalam rumah, menuju sebuah kamar yang sudah disediakan beberapa hari ini untuknya tanpa rasa sungkan lagi. Sementara Nasta yang tengah bingung mau ke mana, memilih berdiam diri di depan rumah megah bak istana dalam waktu yang cukup lama.

Ini kali ke dua Nasta menginjakkan kaki nya di rumah Pandu setelah dia mengembalikan dompet dahulu.

Sementara Pandu yang tadi masih setia menunggu, kini seoalah tidak lagi bisa bersabar. Pandu segera mengambil tindakan. Menggandeng tangan Nasta dan membawanya masuk mengikuti langkah kakinya.

"Ayo.."

Nasta tertegun. Sikap Pandu yang terkesan dingin dan hangat secara bersamaan kepadanya seperti ini, sungguh bisa saja membuat gadis itu lupa diri suatu saat nanti.

Nasta mengikuti Pandu karena memang lelaki itu menarik tangannya, dan membawa masuk ke dalam mencari ketenangan.

Pandu, Lelaki asing yang baru saja menikahinya beberapa hari yang lalu, rupanya selalu bisa di andalkan ketika Nasta sedang dalam posisi kebingungan.

1
Tovix Zoda
dari awal uda nggak menarik bacanya
Khoiruddin Febriansyah
bagus
Yanti Ana
lanjut thor
Ceöl Cuìlcuil Cowek
kok gag up lg thor,,, ditunggu lanjutannya😊
Yanti Ana
karyanya bagus dan menarik
Sheninna Shen
Semangat kakak! Aku kasih vote biar makin semangat
maredni Jiba
kasian pandunya,nasta juga sudah mencintai suaminya , semoga ibu Winda merestui
Tri Unhie
semoga pandu dan nasta tidak jadi di pisahkan..
Tri Unhie
jangan egois lahh Bu,aku tau perasaanmu, meninggalnya putramu mungkin itu takdir ,tapi memisahkan suami istri bukankah juga sebuah dosa?
iNDy💞
baiqlaahhh..sedikit demi sedikit benang merah mulai terurai😊
buat mas ato kak Arya,ntar sama Rista aja ya,dia ga kalah cantik n baik ko ma nasta🤭
MamaSaskia
mumet aku 😁
MamaSaskia
aku kok tmbh bingung to😁🤔
MamaSaskia
Kaciaann 😁😁🤭
MamaSaskia
hadeehhh... nasta dibelain suami mlh marah
MamaSaskia
polos bgt nasta 😄😄
maredni Jiba
lanjut Thor semangat 💪
MamaSaskia
mampir aahhh ...
maredni Jiba
wah,nastanya hilang ingatan ya sampai begitu takutnya pandu
maredni Jiba
wah, hati''Arya jngna sampai si pandu bikin kamu jadi perkedel🤣🤣
iNDy💞
dan sepertinya tujuan pandu pun seperti itu indah🤭😂
please..Jan lama² ya ndah resign nya🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!