"Kamu tidak perlu bertanggung jawab. semua yang kamu takutkan tidak akan terjadi,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam di bazar
Alona dan Levin saling menautkan jari mereka seraya menelusuri suasana malam yang ramai. Saat ini mereka sedang mengunjungi bazar makanan disepanjang jalan raya.
Alona memilih turun dari mobil saat Suaminya menawarkan untuk berkeliling bazar menggunakan mobil. Kurang menyenangkan bila tidak melihat dari dekat bagaimana para penjual menjajakan dagangan mereka. Aroma masakan yang menggeletik hidung membuat Alona seolah lupa dengan kenaikan berat badannya akhir-akhir ini. Semua yang menurut matanya Lezat maka Ia akan langsung meminta pada Levin agar membelikannya.
Ketika tangannya menunjuk deretan sosis di atas panggangan dengan baluran saus sambal, Levin menepuk jarinya.
"Itu bahaya untuk pencernaanmu," tegurnya dengan mata yang menyiratkan ketegasan. Alona menghela napas pasrah.
Mungkin nanti akan ada makanan yang membuatnya tergiur lagi di ujung bazar ini. Di tangannya Alona sudah memegang satu cup jagung susu. Sejak tadi jagung itu belum habis membuat Levin menggeleng pelan tidak habis pikir.
'Makanan yang ada saja belum dihabiskan. Sudah meminta yang lain,' batinnya menggerutu. Walaupun harganya tidak seberapa namun kebiasaan Alona yang membuatnya geram. Alona kerap sekali menyisakan makanan. Akhirnya Ia yang terkadang menghabiskan makanan tersebut.
"Duduk dulu? Aku lelah," tawar Levin yang sebenarnya menggambarkan keadaannya sekarang yang cukup lelah berjalan hampir setengah jam di sekitar pasar menuruti berbagai keinginan Istrinya.
Alona menggeleng dengan bibir mengerucut.
"Aku tidak ingin duduk. Lagipula di sini tidak ada tempat untuk duduk, Levin,"
Mendengar alasan Alona, Levin memutar bola matanya. Ia tidak bisa memaksa Alona.
"Kamu tidak ingin membeli sesuatu?"
Alona menengadahkan kepalanya untuk menatap Levin yang lebih tinggi darinya.
"Aku sudah kenyang karena sejak tadi menjadi tempat sampah Istriku," jawab Levin dengan tenang namun terdapat sindiran di dalamnya. Tentu saja Alona menyadari itu. Ia menepuk lengan suaminya kesal.
"Siapa yang menyuruhmu untuk menghabiskannya?"
Levin menatap Istrinya dengan kerinyitan di dahi. Lalu maksud Alona apa?
"Tidak baik membuang makanan terus-menerus, Alona! Di luar sana banyak yang tidak bisa makan,"
Walaupun Alona kesal, Namun perempuan itu dibuat salut dengan pemikiran Suaminya. Bahkan Ia saja yang orang miskin tidak punya pikiran seperti itu. Apakah Alona memang sudah berubah menjadi sosok yang sombong dan tidak takut dengan Tuhan?
"Aku belagu ya?" tanya Alona tiba-tiba membuat Levin terkejut. Ia tidak bermaksud untuk mengatakan itu pada Alona. Sepertinya Alona salah menangkap tujuannya berbicara seperti itu.
"Tidak, Alona. Aku mengatakan itu agar kamu berubah," jawabnya seraya mengusap puncak kepala Istrinya.
"Aku tidak masalah mau sebanyak apapun kamu membeli makanan. Asal semua makanan tersebut habis. Justru aku senang bila Istriku memiliki tubuh yang berisi. Tidak kurus seperti ini,"
Alona mendengus. Pada akhirnya Levin akan membicarakan fakta. Itu membuatnya makin dongkol.
"Iya aku salah. Dulu aku juga susah mencari makan. Sekarang malah membuang-buangnya. Mungkin karena setan dalam diriku mengatakan Kamu punya suami yang kaya jadi aku bisa berubah seperti ini," gumamnya.
"Usir setan itu. Jangan dengan mudah menuruti perintahnya untuk berbuat dosa,"
Alona kini tersenyum. Tidak menyangka kalau pembicaraan mereka akan terlampau jauh seperti itu. Alona senang karena Levin bisa memberinya pengertian dengan pelan. Ia akan belajar memperbaiki dirinya.
"Jagungnya? Masih ingin di makan?"
Alona menatap cup jagung yang masih luamayan banyak isinya. Ada apa gerangan Levin bertanya demikian?
"Aku boleh minta? Ternyata mengajarkan Istriku itu bisa membuat lapar juga,"
"Kenapa sih selalu saja buat aku badmood ?"
Walaupun dengan gerutuannya, Alona tetap menyerahkan jagung itu pada Levin. Dengan senang hati Levin menikmati salah satu makanan kesukaannya itu. Sebenarnya Levin sudah membeli satu cup juga tadi. Namun masih kurang untuknya. Ia ingin meminta bagian Alona tapi melihat Alona yang sepertinya juga suka dengan jagung itu menghalangi niat Levin.
"Habiskan saja," ucap Alona ketika Levin ingin mengembalikan cup jagungnya.
"Yakin?"
Alona langsung mengangguk pasti. Ia tidak bisa mengonsumsi makanan manis terlalu banyak karena akan membuatnya mual. Alona hanya lapar mata saja tadi.
"Mau makan apa lagi? Sebelum kita pulang," tanya Levin setelah menjauh sedikit dari Istrinya untuk membuang sampah. Ia meminta selembar tissue pada Alona.
"Sebentar lagi kita pulang?"
Bukannya menjawab, Alona malah balik bertanya. Ia masih nyaman berada di sana.
"Ya, malam semakin larut, Alona,"
Alona menghela napas pasrah. Mengingat besok mereka akan kembali pada aktifitas rutin.
"Hmmm..."
Jarinya mengetuk dagu seolah berpikir makanan apa lagi yang akan menggoyang lidahnya. Ketika melihat gulai tersaji di dekat mereka dengan asap yang mengepul, membuat Alona tidak bisa fokus. Hampir di tabrak orang di belakangnya. Dengan sigap Levin membawa Alona dalam pelukannya.
"Jalan, Dek! Kenapa bengong aja sih?" ucap seorang wanita tua pada Alona.
Melihat Istrinya yang sebentar lagi akan ketakutan, Levin langsung menatap wanita tua itu seraya menunduk sopan.
"Maafkan Istriku,"
Tanpa menjawab apapun, Wanita tua itu pergi. Sementara Levin menghela napasnya pelan. Ia menyentuh hidung Alona sebelum berkata,
"Jangan terlalu fokus pada gulai!"
***************
Happy reading kawan-kawan. Jgn lupa like&vote nya dungsss. Maaciw yaaa
mampir jg di bukalah hatimu untukku
Gabungin ja thor sm MCH biar bareng sm triple A.
Khadziya ketinggaln jauh dech si triple A udh pd gede si dziya mlh msh baby 😂