Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan
Chloe tidak menoleh. Tatapannya tetap ke Levin. "Pilih, Levin. Penjara seumur hidup... atau pergi sekarang dari hadapanku dan jangan pernah muncul lagi."
Detik berjalan lambat.
Tangan Levin turun sedikit. Napasnya memburu.
Lalu pria itu segera berlari pergi dari sana dengan pistol di tangannya. Dua orang polisi ingin mengejarnya, tapi Chloe menghentikannya.
"Biarkan saja," ucap Chloe.
"LEVIN... JANGAN TINGGALKAN MAMA!" teriak Serena saat melihat putranya pergi begitu saja.
Langkah kaki Levin terdengar menjauh. Tak.... Tak.... Tak... lalu hilang di ujung koridor.
Serena langsung ambruk ke lantai. Menangis histeris. "PUTRAKU... KENAPA DIA MENINGGALKANKU! Aku tidak mau dipenjara!"
Chloe baru menoleh, menatap Serena yang tersungkur dengan borgol di tangan.
"Kau lihat kan, Ibu Tiri," kata Chloe dingin. "Darah dagingmu sendiri lebih memilih menyelamatkan dirinya, dan meninggalkanmu."
Serena hanya menangis, sedangkan Alexander menunduk.
"Bawa mereka pergi," ucap Chloe.
Keduanya segera digelandang keluar. Diiringi jeritan Serena dan flash kamera wartawan.
BUK
Pintu tertutup.
Ruangan hening. Hanya terdengar napas para direktur yang masih shock.
Chloe berbalik. High heels-nya berbunyi Tak.... Tak.... Tak.... menuju kursi direktur utama.
Ia berhenti di belakang kursi itu. Kursi itu dulu milik ibunya, sebelum direnggut oleh Alexander.
Perlahan ia duduk. DUG
Elsa berdiri di belakangnya.
Chloe menatap ke depan. Ke dua puluh direktur tua yang menunduk.
"Mulai hari ini," ucap Chloe. Suaranya tenang, tapi menggema ke seluruh ruangan. "Saya, Chloe Weiss. Pemegang saham 51%. Adalah Direktur Utama Weiss Group."
Hening dua detik.
Pak Hendra berdiri pertama. Membungkuk 90 derajat. "Kami mendukung Nona Direktur."
Chloe mengambil palu sidang. TOK
"Rapat dimulai."
"Agenda pertama. Pemecatan seluruh tim Alexander. Efektif hari ini."
"Agenda kedua. Audit total lima tahun terakhir. Bongkar semua."
"Agenda ketiga. Konferensi pers jam tiga sore. Saya akan mengumumkan kembalinya Weiss Group ke tangan yang benar."
Ia meletakkan palu. Menatap ke arah jendela. Kota Geneva di bawah sangat cerah.
Dalam hati Chloe berkata, "Bu... Ibu lihat kan aku berhasil merenggut semuanya... Aku berhasil mengambil apa yang menjadi milik ibu yang dirampas oleh mereka... Ku harap ibu tenang di alam sana bersama Chloe, pemilik asli tubuh ini."
TAK
Lima belas menit kemudian. Di luar gedung.
Breaking News: "Kejutan! Ahli waris Weiss Group yang asli kini telah kembali dan mengambil alih semuanya. Dua tersangka dengan dugaan pembunuhan dan penggelapan dana digelandang polisi. Satu buronan."
Layar televisi menampilkan foto Chloe duduk di kursi direktur utama. Wajah dingin, tatapan tajam.
Komentar netizen langsung meledak.
"Akhirnya Nona Muda Weiss kembali!!"
"Gila... Lima tahun ditindas sekarang berhasil mengambil semuanya."
"Nyonya Serena nangis-nangis ditinggal anaknya sendiri."
"Levin Buronan? Awas aja ketemu Nona Chloe lagi."
---
PERUSAHAAN REINHARD GROUP. RUANGAN DIREKTUR.
BRAK
Pintu ruangan itu terbuka sedikit kuat. Luca melangkah masuk dengan tablet di tangannya.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat buru-buru seperti itu?" tanya Erivo tanpa menoleh sedikitpun ke arah asistennya. Ia hanya fokus dengan dokumen yang ada di tangannya.
"Tuan... apa anda tidak melihat berita hari ini?" tanya Luca.
"Aku tidak ada waktu untuk melihat hal seperti itu," jawab Erivo cuek.
Luca segera meletakkan tablet yang ada di tangannya di depan tuannya itu.
"Tuan... sebaiknya anda lihat ini sekarang," ucap Luca pelan.
Hening.
Erivo baru mendongak. Alisnya menyipit. "Berita apa yang sampai membuatmu terlihat heboh seperti ini, Luca?"
Tanpa bicara Luca memutar video itu.
PLAY
Layar menampilkan Chloe. Duduk di kursi direktur utama Weiss Group. Mengenakan blazer hitam. Di belakangnya ada logo Weiss Group yang besar.
"Selamat sore. Nama saya Chloe Weiss. Dan hari ini, saya resmi mengambil alih Weiss Group sebagai Direktur Utama."
Erivo terus melihat video itu. Ia memperhatikan wajah Chloe dengan lekat.
Berita terus berlanjut. Menampilkan rekaman penangkapan Alexander dan Serena. Jeritan Serena. Dan satu kalimat terakhir Chloe.
"Dan untuk Tuan Levin yang saat ini menjadi Buronan... aku membiarkanmu lari. Tapi ingat ucapanku baik-baik."
Video selesai.
Hening.
Erivo menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya.
"Apa kau memperhatikan tatapan mata, dan cara bicaranya, Luca?" tanya Erivo.
"Iya, Tuan... Nyonya mirip Nona Queen," jawab Luca jujur.
Erivo memejamkan matanya. "Dia membuat aku kembali mengingat dia... Dia yang sudah tenang di alam barunya."
"Dia sangat hebat... hanya dengan waktu satu hari dia berhasil merenggut semua apa yang menjadi haknya sejak dulu," lanjut Erivo.
Ia membuka matanya. Luca berkata, "Saham Weiss Group naik 22% dalam dua puluh menit terakhir."
"Dan Nyonya... akan mengadakan konferensi pers lanjutan jam tiga sore," ucap Luca.
"Sangat hebat," Erivo tersenyum. Ia mengakui kehebatan wanita yang baru dua hari ini menjadi istrinya.
"Siapkan buket bunga mawar merah. Lima menit lagi kita akan ke Weiss Group. Aku ingin mengucapkan selamat kepada istriku atas keberhasilannya," ucap Erivo.
"Tapi Tuan... di sana banyak wartawan. Apa nggak masalah jika anda tersorot kamera?" tanya Luca hati-hati.
Erivo menarik napas cukup panjang. Ia berdiri. Merapikan kancing jasnya.
"Tidak masalah," ucap Erivo datar.
"Tuan... Anda yakin?" tanya Luca ragu.
"Sangat yakin. Biar seluruh Geneva tahu. Direktur Reinhard Group dan Direktur Weiss Group adalah suami istri."
Luca langsung terdiam. Matanya melebar.
"Selama ini dia berjuang sendiri. Dan kali ini dia tidak sendiri lagi," Erivo tersenyum tipis. Tapi matanya tajam.
"Baik, Tuan," Luca segera keluar dari ruangan tuannya itu untuk menyiapkan buket mawar merah.
---
ZURICH
Tuan Maximilian Schwarz duduk di ruangannya dengan layar televisi yang menyala.
Menampilkan Chloe atau Daisy, putrinya yang kini berhasil mendapatkan Weiss Group. Dan duduk di kursi direktur utama.
"Kemampuan putriku memang tidak bisa diragukan," gumam Maximilian.
"Siapkan jet pribadi. Malam ini juga aku ingin ke Geneva," ucap Maximilian kepada asisten pribadi yang berdiri di belakangnya.
"Baik, Tuan," ucap pria itu menunduk hormat lalu melangkah pergi.
"Sekarang giliran Kalajengking Merah," ucap Maximilian lagi. Suaranya datar dan mengancam.
---
KEMBALI KE GENEVA
Lobby Weiss Group tiba-tiba menjadi ramai saat mobil berwarna hitam mengkilap dengan logo keluarga Reinhard berhenti.
Kamera wartawan langsung menyorot. FLASH FLASH FLASH.
Luca turun lebih dulu lalu membukakan pintu mobil untuk tuannya.
Erivo keluar. Jas hitam rapi. Di tangan kirinya ada buket mawar merah 99 tangkai.
Wartawan langsung menghampirinya. Dengan cepat anak buah yang ikut bersamanya membentuk barikade.
"TUAN ERIVO! APA BENAR ANDA DATANG UNTUK NONA CHLOE WEISS?!"
"APA BUKET BUNGA ITU UNTUK NONA CHLOE, TUAN?!"
"APA REINHARD GROUP AKAN MEMBANTU WEISS GROUP?!"
Erivo tidak menjawab. Wajahnya dingin. Tatapannya lurus ke depan.
Tak.... Tak.... Tak....
Langkah sepatunya menggema di lantai marmer lobby.
Security Weiss langsung menghadang. "Maaf Tuan, konferensi pers hanya untuk media dan internal."
Luca maju, menunjukkan ID. "Beliau Tuan Erivo Reinhard. Suami dari Direktur Utama Weiss Group."
Hening satu detik.
Security itu langsung terbelalak. "S-Suami? Baik, Tuan. Silakan."
BUK
Pintu ruang konferensi pers dibuka.
Di dalam. Ruangan penuh wartawan. Lampu sorot. Dan di podium... Chloe.
Ia baru saja duduk. Blazer hitam. Riasan tipis. Aura dingin dan berwibawa.
Begitu pintu terbuka, semua mata menoleh.
Termasuk Chloe.
FLASH FLASH
Kamera langsung beralih dari Chloe ke Erivo.
Chloe terdiam. Alisnya sedikit terangkat. Dalam hati: "Ngapain dia ke sini? Bukannya dia paling benci publikasi?"
Erivo berjalan melewati lorong tengah. Wartawan otomatis minggir memberi jalan.
Ia berhenti tepat di depan podium.
Hening.
Erivo mengangkat buket mawar merah itu. Menyerahkannya ke Chloe.
"Selamat," ucap Erivo. Suaranya rendah tapi jelas terdengar sampai ke mikrofon. "Untuk kemenanganmu, Istriku."
DUG
Chloe menerima bunga itu. Wanginya langsung menguar. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Tapi wajahnya tetap tenang. "Terima kasih, Tuan Reinhard," jawab Chloe profesional.
---
Jangan lupa dukungannya ya guys 🙏 😊 🥰 🥰 🤗.
dan skraang queen ad ddsnaa ,, d tubuh Chloe weiss
baru berkarya lgiii ,,
tenang aq gx kmn2 tetap mantengin NT buat nunggu kelanjutan cerita kk ,,
🤭🤭🤭🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
tp apa gx kaget tuh nanti pa mertua dr Zurich dtg ke geneva ,,🤔🤔🤔🤔😂😂😂
sebagai penebus dy dlu menyakiti queen daisy tanpa sadar ,,
menguasai harta yg bukan hak ny ,,
membuang pewaris ,, tp tenang karma mereka sdang otw menghampiri 😏😏😏😏😏
dtggu kelanjutan ny yx kak
semakiiiiin memanaaas ,,