Warning!
(Kram perut yang disebabkan membaca cerita ini tidak ditanggung BPJS, Jika gejala berlanjut hubungi Otor)
Bianca Nataniasunny seorang gadis mandiri dan sedikit arogan harus menjalani pernikahan tanpa cinta dengan seorang pria bernama Skala Prawira yang tak kalah arogan seperti dirinya. Kedua mahkluk itu sama-sama mengincar warisan dari keluarga mereka dan sepakat untuk melakukan kerjasama.
Menikah tidak membuat mereka lantas dengan mudah saling mencintai. Pertengkaran yang berujung kekonyolan menjadi santapan mereka sehari-hari.
"Kalau gue Anaconda loe Piranha Amazon," ~ Ska.
"Hah...ogah gue sehabitat sama loe," ~ Bian.
Tanpa Skala dan Bianca sadari jeratan takdir masa lalu telah mengikat keduanya.
_
_
_
Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Indehoi?
Saat terbangun di pagi hari, Bian mendapati kepalanya sudah berada di tepian ranjang, Ia mengusap muka lalu tertawa sendiri merasa konyol mengingat ledekan sang suami tentang cara tidurnya yang ternyata benar. Beberapa minggu ini dia selalu tidur satu ranjang bersama Skala, aneh rasaya mendapati laki-laki sombong itu tak berada di ruangan yang sama dengannya sekarang.
Bian lantas turun menuju dapur, mengernyitkan dahinya melihat sang suami tengah berdiri di dekat meja makan sambil menuang air ke dalam gelas dengan masih memakai bajunya kemarin. Begitu juga dengan Ska, laki-laki itu menatap istrinya yang tengah membuka pintu kulkas, dress merah yang Bian kenakan terlihat kusut, dengan santai gadis itu mengambil susu kotak ukuran satu liter dan langsung menenggaknya.
Setelah selesai Bian menutup pintu kulkas, bersandar pada benda metal berwarna silver itu, tajam menatap Ska yang sedang menenggak cairan bening dari gelasnya untuk yang ketiga kalinya.
"Ngapain loe ngunci pintu kamar?"
"Pintu kamar? Kamar gue ga gue kunci." Ketus Ska.
"Markas maksud gue." Bian membenarkan kalimatnya.
"Lha gue pikir elo yang ngunci! gue mau ngambil baju ganti aja sampai ga jadi."
Bianca terheran-heran, "Nah kalau bukan elo atau gue terus siapa?"
Mereka saling pandang, tiba-tiba Bian merasa merinding, bulu kuduknya berdiri menari-nari, Ia mendekat merapat ke suaminya, "Ska, loe beli rumah ini udah ngecek sejarahnya kan Jangan-jangan ni rumah dulu pernah menjadi lokasi pembunuhan dan ada setan di sini!"
"Ngaco loe ah, kayak ga punya Iman aja percaya sama setan!"
"Tapi kan mahkluk halus memang ada Ska," bantah Bian lagi.
Mereka saling pandang dengan mimik wajah kebingungan, Ska tidak percaya sampai suara langkah kaki yang seolah mengendap-endap terdengar mendekat, Bian menjatuhkan kotak susunya lantas mengalungkan tangannya ke lengan suaminya.
"Ska, kalau bukan setan apa donk? maling? Apa kita bakal disekap terus dibunuh?"
Skala yang mendengar kalimat Bian menjadi ikut cemas, Ia menarik sang istri untuk berjongkok bersembunyi di balik meja ruang makan.
Dari celah kursi dan meja, pasangan suami istri itu melihat empat kaki yang melangkah dengan cara berjinjit, Ska mendongakkan kepalanya karena berpikir bukan setan yang tengah melintas di dekatnya, melihat sang pengacara dan Melanie tengah berjalan bergandengan tangan saling mengekor, Ska memilih menarik tangan Bian untuk ikut mengendap-endap di belakang kedua pengacaranya mereka.
"Buka cepetan kuncinya!" Bisik Melanie ke Andra, tangannya terlihat menggenggam selimut berwarna abu tua dari markas sahabatnya.
"Sabar! aku ga punya pengalaman buka pintu rumah orang kaya sayang!"
"Sayang?" tanpa bersuara Bian menatap suaminya yang langsung membalas dengan gerakan telunjuk di depan bibir sambil menggeleng.
Andra terlihat masih bersusah payah membuka pintu rumah itu, antara grogi atau memang tidak tau caranya, laki-laki itu sampai bercucuran keringat.
"Sini gue bukain!" Skala melepaskan tangannya yang tanpa Ia sadari ternyata menggenggam erat tangan Bianca dari tadi.
"Terima kasih!" Ucap Andra tanpa sadar, sedetik kemudian pengacara itu menatap kekasihnya dengan raut wajah terkejut.
Skala membuka pintu rumahnya tapi dengan sigap berdiri menghalangi jalan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Jadi kalian yang tidur di markas gue?" Ska menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecih.
Melanie terlihat sangat terkejut sampai menjatuhkan selimut yang berada di pelukannya, melihat bercak merah di selimut itu Bian membelalakkan matanya, Andra yang melihat langsung memungut selimut itu dari lantai mencakupnya lalu memeluk gumpalan selimut itu erat seolah benda lembut itu adalah nyawanya.
Dengan sengaja Andra menginjak kaki Skala agar sahabatnya itu menyingkir dari depan pintu. Berhasil, Ska berteriak kesakitan dan secepat kilat Andra menarik tangan Melanie berlari sampai keluar pagar, melihat sahabatnya meringis kesakitan membuat Bian bertanya-tanya.
"Apa Andra melakukan kekerasan? apa dia menganiaya Melanie? yang gue lihat tadi noda darah kan? Loe lihat juga kan? diapain si Melanie sama pengacara loe? Ha?"
Skala menunjuk lalu mendorong kening istrinya dengan jari telunjuknya membuat tubuh Bian sampai limbung ke belakang, "sok polos loe ah, gue aja pernah lihat loe nyosor Eric."
"Ska sumpah gue ga ngerti," Bian mengekor suaminya dan masih terus bertanya.
"Mereka habis indehoi."
"Gue ga ngerti Ska apa itu indehoi yang gue tahu indihouse produk layanan komunkasi itu lho," oceh Bian.
"Au ah, gue mau mandi."
***
Ska yang sudah rapi terlihat sibuk mengenakan dasi di lehernya, lagi-lagi Bian bertanya soal arti indehoi kepadaya.
"Loe cari sana di gulugulu arti indehoi." Ska meminta istrinya untuk membuka halaman peramban yang banyak dikunjungi orang-orang.
(kalau di dunia nyata kan google ya kan? kalau di novel Na gulugulu 🤭)
"Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya asik bermesraan," ungkap Bian sambil menatap layar ponselnya.
"Nah loe klik tuh bagian gambar jangan cuma artinya , ntar loe tahu apa arti yang gue maksud."
Mata Bian membelalak lebar, menatap deretan gambar vulgar yang terpampang di layar benda pipih miliknya.
"Jadi mereka? mereka....," terbata-bata, Bian tak percaya dengan apa yang sudah Melanie lakukan dengan Andra.
Skala terlihat santai, tak seperti Bian yang heboh sampai memikirkan masa depan sahabatnya, gadis itu terus memandangi layar ponselnya, mulutnya terus meracau tak percaya dengan perbuatan dua pengacara itu di markasnya. Bian baru berhenti mengoceh saat suaminya bertanya tentang sebuah benda.
"Ca, loe lihat kotak merah di laci jam tangan gue ga?"
"Kotak merah?" Bian mendekat ke arah Skala yang tengah berada di ruang ganti yang berada di kamar mereka. "Ketinggalan kali di rumah Kakek."
"Enggak mungkin, gue udah yakin masukin kotak itu barengan sama koleksi jam tangan gue."
Melihat suaminya panik, Bian berpikir bahwa suaminya itu tengah kehilangan salah satu jam tangan mahal koleksinya.
"Isinya benda yang sangat berharga buat gue!" Skala terlihat sangat cemas membongkar semua laci di walk in closet kamarnya.
"Emang apa sih isinya ?" Bian juga ikut membantu suaminya mencari kotak yang dimaksud.
"Jepit rambut."
"Hah? jepit rambut? ngapain loe nyimpen jepit rambut?" Bian yang tengah membuka laci berisi deretan dasi suaminya terlihat terheran-heran." Ska? loe dulunya bukan cewek terus operasi kelamin jadi laki-laki kan?"
"Ngaco loe ngaco Ca, jangan bercanda! benda itu milik orang yang udah nyelametin nyawa gue, gue masih belum bisa nemuin orang itu buat bilang makasih."
Skala terlihat sampai berjongkok dan tiarap untuk mencari kotak miliknya dibawah kolong-kolong laci dan almari, berbeda dengan Bian yang terlihat santai karena bukan dirinya lah yang kehilangan benda berharga, mata Bian tertuju pada dua buah kardus besar di sudut ruang ganti itu yang berisi tumpukan kado dari tamu undangan pernikahannya yang masih belum sempat dia buka.
Bian mendekati tumpukan kado itu, melihat sebuah benda berbentuk kubus tergeletak diantara kardus dan almari baju. "Ini yang loe cari?"
Skala menyambar kotak itu dari tangan Bian, secepat kilat membuka kotak itu untuk memastikan isi di dalamnya masih utuh.
"Ya elah Ska, jepit rambut kayak gitu semua cewek di zaman gue SD juga punya," cicit Bian.
"Jangan-jangan gue yang udah nyelamatin hidup loe," imbuhnya.
Bian terbahak sambil berlalu mengambil sepasang sepatunya dari lemari, meninggalkan suaminya yang terlihat lega karena barang berharganya sudah ditemukan.
-
-
-
-
-
-
-
-
LIKE
KOMEN
RATE
thanks you ❤
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
cemburu Bi... c e m b u r u
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣😍😍😍