NovelToon NovelToon
Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Slice of Life
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Niluh

Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.

Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.

Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Laut yang Jernih untuk Hati yang Kacau".

Matahari sudah terbit dengan cahaya yang lebih terang, menandai tiba nya hari yang ditunggu-tunggu. Dewi sudah berdiri di teras sejak jam lima pagi, memakai baju yang rapi dan hati yang penuh ketegangan. Dia melihat jalan raya yang mulai ramai, menunggu kedatangan orang tuanya.

Tidak lama kemudian, bunyi mobil yang dia kenal terdengar. Mobil itu berhenti di depan rumah, dan ayahnya yang pertama keluar, membawa tas besar. Ibundanya segera mengikutinya, dengan wajah yang ceria sampai dia melihat wajah Dewi yang pucat. "Sayang, kamu kok kurus banget?" ujar ibunya dengan suara khawatir, mendekati untuk memeluknya.

Sedang itu, bunyi motor Arif juga terdengar. Dia turun dari motor dengan wajah yang merah malu, menundukkan kepala. Dia tahu hari ini akan sulit—dia harus menghadapi orang tua Dewi dan mendengar semua kesalahan yang dia lakukan. "Pak, Bu," sapanya dengan suara yang lemah.

Ayah Dewi hanya mengangguk, sedangkan ibunya melihat Arif dengan mata yang penuh pertanyaan. "Kita masuk saja ke dalam ya, Bu, Ayah. Ada yang mau kubicarakan," katanya Dewi dengan suara yang tegas. Semua orang masuk ke rumah, duduk di ruang tamu yang bersih. Rio juga tiba tepat pada waktunya—dia datang untuk mendukung Dewi.

Dewi mengambil napas dalam, lalu mulai menceritakan semua yang terjadi selama orang tua nya pulang kampung. Dia menceritakan bagaimana Arif pulang dengan uang judi, bagaimana dia menyembunyikan uang, bagaimana dia tidak memberi uang untuk makan selama dua minggu, dan bagaimana dia akhirnya memutuskan untuk berpisah.

Selama dia bercerita, Arif hanya menunduk, tangan menyusun di pangkuan. Kadang dia mengangguk, mengakui bahwa apa yang dikatakan Dewi benar. Tapi ketika Dewi menyebutkan tentang uang yang disembunyi dan rasa lapar yang dia rasakan, Arif merasa ingin membela dirinya.

"Dewi, itu tidak semuanya benar," katanya dengan suara yang sedikit keras. "Aku menyembunyikan uang itu bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk membayar keperluan sawah yang kamu tidak tahu. Dan aku tidak memberi uang karena aku benar-benar tidak punya pada saat itu—uang yang kamu temukan itu baru aku dapat dari teman yang meminjamkan."

Dewi melihat Arif dengan mata yang dingin. "Kamu bohong lagi, Arif. Aku sudah cek keperluan sawah—sudah tidak ada lagi, hanya tinggal menggunakan panen saja. Dan temanmu mana yang mau meminjamkan uang padamu yang selalu tidak mengembalikan?"

"Betul, Arif. Aku juga tanya ke teman-temanmu—tidak ada yang bilang mau meminjamkan uang padamu," tambah Rio dengan suara yang tegas. "Kamu hanya berdusta untuk membela dirimu."

Arif merasa malu dan marah. Dia berdiri dengan cepat, wajahnya memerah. "Kalau begitu, apa yang harus kulakukan? Semua orang selalu menyalahkan aku! Aku sudah berusaha berubah, tapi tidak ada yang mau percaya!"

"Kamu tidak berusaha apa-apa, Arif. Kamu hanya berkata-kata," jawab Dewi. "Kamu janji akan bekerja, tapi belum ada tanda-tandanya. Kamu janji akan berhenti berjudi, tapi kemarin sore aku lihat kamu lagi nongkrong dengan teman-temanmu yang suka berjudi."

Kata-kata itu membuat Arif terdiam. Dia tidak bisa menjawab—karena apa yang dikatakan Dewi benar. Kemarin sore, dia memang nongkrong dengan teman-teman yang suka berjudi, meskipun dia tidak ikut berjudi. Tapi itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa dia belum berubah.

Ayah Dewi yang selama ini hanya diam, akhirnya menghela nafas panjang. Dia melihat Dewi dan Arif dengan mata yang penuh kesedihan. "Kita semua mendengar cerita mu, Dewi. Dan kita juga mendengar pembelaan Arif," ujarnya dengan suara yang tenang. "Kita sebagai orang tua, tidak akan memihak siapapun. Karena ini adalah kehidupan mu berdua—kamu yang menjalani, kamu yang merasakan, walaupun jika ayah tak mau ada perceraian tapi kembali lagi dengan keputusan kalian."

Ibundanya Dewi mengangguk, tangannya memegang tangan Dewi. "Ya, sayang. Kita tidak akan memaksa kamu untuk tetap bersama atau memaksa kamu untuk berpisah. Keputusan itu ada di tangan mu berdua. Kita hanya bisa berdoa agar kamu membuat keputusan yang terbaik untuk hidup mu."

Dewi merasa lega mendengar kata-kata orang tuanya. Dia khawatir mereka akan memaksa dia untuk memaafkan Arif, tapi ternyata mereka memahami. "Terima kasih, Bu, Ayah. Aku sudah memutuskan—aku mau pisah dengan Arif."

Arif terdengar seperti terhantam oleh petir. Dia mendekati Dewi, ingin memegang tangannya. "Dewi, tolong. Jangan lakukan itu. Aku akan benar-benar berubah. Beri aku kesempatan terakhir."

"Tidak ada kesempatan lagi, Arif. Sudah cukup," katanya dengan suara yang tegas.

Pada saat itu, ibunya Dewi menarik tangan Dewi dengan lemah. "Sayang, mama punya saran. Kamu udah terlalu capek dan pusing dengan semua ini. Gimana kalau kamu ikut mama ke desa nenekmu—ibu dari mama—selama beberapa waktu? Kurang lebih sebulan atau dua. Di sana, kamu bisa istirahat dengan tenang, merawat tubuhmu, dan memantapkan hati mu sebelum membuat keputusan yang final."

Dewi terkejut mendengar saran itu. Dia tidak pernah berpikir untuk pergi ke desa neneknya, yang terletak di seberang laut yang jauh. Tapi dia merasa itu adalah ide yang bagus—dia memang butuh waktu untuk istirahat dan memikirkan semua ini dengan tenang.

"Aku mau, Bu. Tapi apa Arif akan setuju?" tanya Dewi, melihat Arif.

Arif mengangguk dengan lemah. "Kalau itu yang membuatmu senang, silakan. Aku akan menunggu keputusan mu yang final setelah kamu pulang."

"Baiklah. Kita akan pergi besok pagi," ujar ibunya Dewi dengan suara yang senang. "Di sana, bagus dekat dengan laut, akan ad banyak makanan laut yang sehat dan yang kamu suka, dan nenekmu yang pasti rindu banget sama kamu. Kamu bisa istirahat dan merawat sakitmu yang sudah lama tidak terawat."

Dewi tersenyum—senyum yang pertama kalinya dalam waktu lama. Dia merasa ada harapan baru yang muncul. Di desa neneknya, dia bisa jauh dari semua masalah dengan Arif, jauh dari kesedihan dan kekhawatiran. Dia bisa memantapkan hati mu dan memutuskan apa yang terbaik untuk hidup mu.

Setelah itu, Arif pergi ke rumah mertuanya untuk meminta maaf. Dia menundukkan kepala, mengakui semua kesalahannya, dan meminta maaf karena telah menyakiti Dewi. "Pak, Bu, maaf sudah menyakiti Dewi. Aku sungguh menyesal. Aku akan berusaha berubah, meskipun itu sudah terlambat," ujarnya dengan suara yang bergetar.

Ayah Dewi hanya mengangguk. "Kita harap kamu benar-benar berubah, Arif. Karena Dewi adalah putri kita yang kita cintai. Kita tidak mau dia tersakiti terus."

Setelah Arif keluar, Dewi memeluk orang tuanya dengan erat. Dia menangis—tapi kali ini tangisnya penuh kelegaan dan harapan. "Terima kasih, Bu, Ayah. Kamu terlalu baik padaku."

"Iya, sayang. Kita selalu ada untuk mu," ujar ibunya dengan suara yang lemah. "Sekarang, kamu istirahat ya. Besok kita akan pergi ke desa nenekmu, dan kamu bisa mulai hidup baru yang lebih baik."

Malam itu, Dewi bisa tidur dengan nyenyak. Ia membayangkan desa neneknya yang indah— pepohonan yang masih rimbun, udara yang segar, laut yang jernih, perpaduan laut dan langit biru , ombak yang lembut dan pasirnya yang putih . Ia membayangkan dirinya sedang duduk di teras rumah neneknya, melihat matahari terbenam, dan memikirkan semua ini dengan tenang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi dia merasa siap untuk menghadapinya—setelah ia memantapkan hati nya di desa neneknya.

Jam di dinding menunjukkan jam sembilan malam. Hari sudah gelap, dan rumah terasa tenang. Dewi menutup mata, merasa lega dan tenang. Besok akan menjadi hari baru—hari dia memulai perjalanan menuju desa neneknya, dan hari dia memulai langkah baru untuk menemukan kebahagiaan yang dia cari selama ini.

1
HIATUS DULU
wahhh tulisannya rapih banget, diksinya juga bagus. Siap jadi author bertanda tangan enggak sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!