Bagaimana jika kamu menyukai adik tirimu sendiri? Itulah yang di rasakan oleh Renzo pemuda tampan yang begitu menggilai adik tirinya yang begitu manis dan polos.
"Keluar selangkah lagi, besok kamu gak akan bisa berjalan lagi. Baby!"
Renzo mengendus leher adik tirinya yang sudah menangis ketakutan.
"No, Abang jangan lakuin itu ...,"
tangisan, permohonan adik tirinya begitu candu bagi Renzo, dirinya akan semakin dominan jika adik tirinya menangis memohon ampun di bawahnya!
"You're driving me crazy darling!"
. . .
"ini salah, kita saudara, kita tidak boleh seperti ini!"
Menghadapi fantasi gila Abang tirinya membuat Nazila hampir hilang arah, hidupnya merasa tidak tenang!
baca dulu 10 bab 😁 biar tau alurnya 🤓🥀🙃💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _yan08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter. 24
Liana datang berkunjung ke rumah Kaela sahabatnya, keadaannya Kaela pun begitu memperihatinkan semakin harinya. "Kaela? Aku datang nih?" panggil Liana membawa makanan yang di perbolehkan oleh dokter.
Mama Elina pun datang mendorong kursi roda milik Kaela. "Sama siapa ke sini nak?" tanya Elina basa-basi.
"Sendiri Tante, kangen banget soalnya sama Kaela, apalagi waktu sekolah sepi banget ...!" keluh Liana memeluk sayang sahabatnya meskipun hanya berdiam diri.
"Ya sudah, Tante mau kebelakang dulu, kalian berdua ngobrol-ngobrol aja dulu." Elina pergi ke belakang untuk mengurus sesuatu.
"Gimana sama keadaan Lo Kae?" tanya Liana meskipun sudah tau.
"Seperti yang Lo liat," senyum lirih itu begitu menyedihkan, terkadang dirinya merasa iri melihat teman sebayanya bisa berjalan dan melakukan aktivitas normal pada umumnya, namun sayang dirinya harus mengalami kelumpuhan.
"Jangan putus semangat, nih lihat gue bawain buku materi yang ada di sekolah, jadi Lo bisa belajar bareng sama gue, kebetulan juga Bu Dela ngasih gue PR jadi gue ngerjain aja bareng Lo sekalian," tukas Liana panjang lebar membantu Kaela turun untuk duduk di karpet bulu.
"Kenapa Lo mau masih sahabatan sama gue? Padahal keadaan gue kek begini, gak bisa ngapa-ngapain cuma bisa nyusahin aja, kan ada Nazila yang masih bisa jalan normal gak seperti gue!" tanya Kaela menatap sedu ke arah Liana yang berhenti menulis.
Di tambah suaranya yang sedikit tidak normal alias gagu membuatnya tambah sedih, dirinya yang dulu sehat dan bugar kini harus mengalami kelumpuhan dan entah kapan penyakit ini akan sembuh, semoga tuhan berbaik hati menyembuhkan sebagian penyakitnya.
"Kae, jangan ngomong gitu, gue sahabatan sama Lo tulus tanpa Mandang apapun, ingat kita sahabatan udah dari kelas lima SD, masa Lo gitu sih sama gue," kesal Liana pura-pura, membuat Kaela tersenyum kecil.
"Ingat Lo jangan pesimis oke? Semua penyakit itu pasti ada penyembuhnya, cuma belum waktunya aja, jadi jangan patah semangat buat sembuh, di sini masih ada gue sama mama Elina Lo jangan pernah merasa sendirian Kaela ...," bisik Liana di akhir kalimatnya setelah memeluk pundak rapuh sahabatnya.
Kaela membalas pelukan Liana. "Makasih udah mau support keadaan gue Li, gue beruntung banget punya sahabat kek Lo," tangis Kaela di dalam pelukan Liana.
Mama Elina ikut menangis melihat kedua gadis itu, dirinya semakin semangat dan tak gampang menyerah untuk mencari biaya pengobatan buat anaknya, benar kata Liana penyakit pasti ada penawarnya, jika tidak pasti itu kematian, tinggal menunggu ikhlas atau tidaknya.
"Oh ya, keadaan Nazila gimana, tuh anak gak pernah datang ke sini, padahal pen banget gue ketemu ma tuh orang!" dengus Kaela.
Wajah Liana seketika muram. "Kae, entah kenapa gue merasa Nazila menyembunyikan sesuatu, setiap di sekolah tuh anak selalu menghilang di setiap jam kosong, alibinya sih ke toilet tapi gue susul toilet sepi!" lesu Liana.
"Ah, masa sih, mungkin dia ke toilet kelas lain," sergah Kaela tak mau menyimpulkan.
"Iya ih, masa setiap balik kelas penampilannya tuh kek berubah meskipun terlihat seperti biasa sih tapi pas gue teliti lagi nih ya, mulai dari parfum yang bercampur terus nafasnya gak teratur agar sedikit berkeringat gitu, aneh gak sih?" selidik Liana meminta pendapat Kaela.
"Mungkin habis lari-larian terus berkeringat," tebak Kaela membuat raut wajah Liana datar seketika.
"Ck. Lo, mah!" kesal Liana.
Kaela tertawa renyah dengan ekspresi Liana. "Udah lah, mau gimanapun kita gak boleh ikut campur, apalagi Nazila baru kenal kita gak begitu lama, Lo jangan terlalu ikut campur, temenan-temanan aja seperti biasa." Peringat Kaela dengan nada serius.
Liana mengangguk mengiyakan.
.
.
Siangnya Joana dan Nazila kini tengah berjalan-jalan di mall untuk menikmati kedekatan mereka yang sempat merenggang setelah Joana menikah dengan Fathur.
Dengan ragu-ragu Nazila mendekati mommynya untuk membisikkan sesuatu. "Mom?" bisiknya, pada Joana yang tengah asik memilih baju.
"Kenapa sayang?" tanya Joana pada anak gadisnya ini.
"Temenin Zila beli bra mom, soalnya punya Zila udah pada kekecilan," bisiknya begitu malu, karena selama ini semua pakaian dalamnya di belikan oleh mommynya dirinya tak pernah ikut beli lantaran terlalu malu.
Joana menelisik tubuh anaknya sebentar, dan benar tubuhnya berubah menjadi sedikit lebih berisi. "Sebentar kita ambil ini dulu." Joana dan Nazila pergi ke toko rak khusus pakaian dalam wanita banyak sekali motif mulai dari baju dinas dan segala macamnya.
Nazila jadi membayangkan bagaimana reaksi abangnya jika memakai baju seperti itu, rasa ingin membelinya hinggap begitu saja lalu melirik Joana sebentar. "Nanti kalo aku beli mommy pasti bakalan curiga, lain kali aja ah ..." batinnya mengambil aman.
"Sayang yang ini coba?" panggil Joana membuyarkan lamunannya.
"Iya mom!" jawab Nazila terkejut mengikuti perintah mommynya.
Selesai berbelanja Nazila dan Joana pergi makan sebentar sedangkan Nazila sibuk dengan handphonenya sendiri yang tengah berbalas chat dengan sang Abang, bahkan dirinya kali ini berani mengirim pap pahanya sendiri setelah mengangkat sedikit rok pendeknya.
Joana yang sedang makan tak mengetahui aksi tak terpuji anaknya itu di depan umum.
'kurang tinggi baby.
Balas Lorenzo kini tengah berada di sebuah cafe bersama teman-temannya, dirinya begitu puas dengan gambar paha gadisnya yang mulai nakal dengan dirinya.
'segitu aja Abang, takut ketauan sama mommy.
"Nak ayo makan jangan main handphone terus, mommy gak suka ya kamu seperti ini, makan sambil main handphone!" ketus Joana memperingati anaknya.
Nazila sedikit terkejut lalu menaruh handphonenya bersamaan menutup pahanya lalu mulai memakan sajian yang di pesannya.
.
.
"Renzo?" panggil Yunita di ambang pintu cafe, lalu berjalan dengan cepat.
"Tuh nenek lampir tumben keliatan, bejir!" bisik Liam pada Veroza.
"Aku hamil!" celetuk Yunita.
"Terus?" tanya Lorenzo dengan wajah tak peduli.
"Ya kamu harus tanggung jawab! Aku hamil gara-gara kamu Lorenzo, kamu udah ngambil keperawanan aku masa sekarang gak mau tanggung jawab!?" sentak Yunita dengan intonasi suara yang cukup tinggi, sehingga menarik perhatian beberapa pengunjung dan tak sedikit pula yang mencemooh Lorenzo yang tidak-tidak.
“Maksud Lo apa jal*ng!?” Geramnya menatap tajam Yunita yang kini tengah menatapnya juga.
"Kok kamu gitu sih, setelah kamu mengambil keperawanan ku sekarang kamu malah kek begini," tangis Yunita semakin membuat orang yang berada di sana bersimpati tak lupa juga beberapa orang memvideokannya untuk di sebar ke publik dengan judul.
SEORANG PRIA TAMPAN MENGHAMILI SEORANG WANITA TETAPI TIDAK MAU BERTANGGUNG JAWAB? BEGINI KISAHNYA.
"Lo jangan main asal nuduh sembarangan Mak lampir, jelas-jelas sahabat gue gak pernah tidur ma lo!" sergah Liam tak terima dengan tuduhan Yunita.
"Kok kamu gitu sih Liam? Jelas-jelas Renzo yang tidur sama aku dan sekarang aku hamil anaknya!" tukas Yunita semakin menangis tersedu-sedu.
"Sial!" batin Lorenzo tak menyangka akan seperti ini. "Awas Lo bajingan gara-gara perbuatan Lo gue yang kena getahnya!" batin Lorenzo menatap tajam Yunita yang masih menangis, harga dirinya turun merosot gara-gara wanita sialan ini.
“Dih ngadi-ngadi Lo semprul! Gue tau Lo cinta sama dia, tapi jangan gini fitnah lah ….” Sungut Liam tak suka sahabat dituduh seperti itu.
“Fitnah dari mananya sih Yam? Gue tau Lo gak suka sama gue tapi jangan gini juga, gue lagi ngandung anaknya sahabat Lo sendiri.” Tangis Yunita begitu mendalami sekali sehingga banyak para pengunjung yang membelanya.
“Dih, apalah! Udah cabut aja kita, mau gue di giniin!” sahutnya lalu pergi ke kasir untuk membayar, rusak sudah acara nongkrong bersama mereka gegara wanita gila itu.
“Mak lampir edan!” Gerutu Liam tak henti-hentinya.
.