Dijodohkan dengan seorang laki laki dari usia bayi tanpa diketahui, yang ternyata laki laki itu adalah musuh bebuyutannya di sekolah. Namun perjodohan sudah tidak bisa lagi untuk dihindari.
Bagaimana kisah kehidupan Arin dan Rafa selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Paginya Arin terbangun dengan perutnya yang terasa berat karena semalaman tangan suaminya itu memeluknya tanpa melepas sedikitpun. Arin berbalik menatap wajah suaminya dan mengamati tiap inci wajah tampan dihadapannya dekat.
"Ganteng banget suamiku, aku sayang kamu banget" ucap Arin lirih.
"Aku juga sayang kamu" tiba-tiba terdengar suara serak khas bangun tidur yang membuat Arin tersadar dari pandangan ke suaminya.
"Yank, udah bangun? kamu kaget ya?" tanya Arin pelan karena mendapati suaminya tiba-tiba terbangun.
"Gak sayang" sahut Rafa manja, mengeratkan pelukannya yang membuat Arin meronta.
"Yank, udah pagi aku mau mandi ke sekolah. Kamu juga kan harus ke kantor papa lagi hari ini" seru Arin, namun Rafa tak menghiraukan istrinya malah semakin memeluk erat.
"Bentar yank aku masih kangen sama kamu" manja Rafa, dibalas pelukan oleh Arin lalu mengajak mandi.
Seusai mandi bersama, Arin dan Rafa pun kembali bersiap untuk melakukan aktifitas mereka masing masing.
"Sialan nih laki gue pagi-pagi main hajar aja" batin Arin merasakan sakit pada area intimnya.
Rafa melakukan hubungan itu di dalam kamar mandi, karena semalam Arin sudah terlelap dan ia tak tega membangunkan istrinya itu. setelah berganti pakaian, mereka pun turun ke meja makan untuk makan roti dan selai serta segelas susu yang di buatkan Arin. Setelah selesai sarapan, mereka bergegas pergi namun terpisah.
"Aku berangkat dulu ya sayang, kamu ati-ati bawa motornya, jangan nakal" ucap Rafa sambil mencium bibir istrinya hangat.
"Iua yank, kamu juga ati-ati ya. Gak boleh ganjen" sahut Arin dengan penuh penekanan yang dibalas senyum oleh Rafa.
"Nanti aku pulang sore kok yank, soalnya tinggal dikit kerjaannya. Kamu tungguin aku ya, pengen nengokin adek kamu lagi" pesan Rafa dengan mata tertuju pada bagian bawah istrinya. Membuat arin malu dan menepuk dada suaminya lirih.
"Udah sana cepetan" ucap Arin mendorong keluar tubuh suaminya.
Tak lama Rafa pergi, Arin pun pergi untuk ke sekolah dengan senyum riang dan wajah berseri namun tetap merasa ngilu pada miliknya karena permainan Rafa pagi ini benar-benar liar. Mungkin karena memang ia benar-benar merindukan istrinya dan lama memendam rasa.
Disekolah, Arin mengikuti pelajaran dengan hati senang dan tak sabar menunggu bel pulang meski baru saja bel masuk pelajaran pertama berbunyi. Entah mengapa Arin merasa sangat rindu pada suaminya dan tak ingin berpisah lama dari lelaki terus membuatnya berbunga.
Sementara di kantor, rafa mencoba untuk fokus dan mengerjakan pekerjaannya dengan cepat agar bisa pulang sore hari ini. Dia juga merasakan hal yang sama dengan Arin, ingin cepat-cepat ketemu karena rindu yang ia tahan terlalu kuat hingga membuat dadanya sangat sesak.
Siang itu, Quena kembali menghampiri Rafa dikantor dengan membawakan bekal makan untuk Rafa. Namun Rafa masih tetap fokus mengerjakan pekerjaannya dan tak menyadari kehadiran wanita cantik dalam ruangannya. Sekitar setengah jam Quena menunggu Rafa, tak melepas pandangannya ke arah lelaki tampak fokus bekerja. Rafa menyadari kalau ada yang memperhatikan, mulai meregangkan tubuhnya ia menyudahi pekerjaannya.
"Quen?" tanya Rafa dengan nada terkejut.
"Biasa aja dong, orang udah dari tadi gue disini. Lo aja yang gak nyadar" sahut Quena dengan tawanya.
"Ngapain ke sini?" tanya Rafa dingin.
"Nih..." seru Quena sambil mengangkat bekal makan yang ia siapkan untuk Rafa, sembari mengisyaratkan untuk mengajak makan. Rafa berjalan menghampiri Quena dan duduk di depan wanita tengah sibuk membuka bekalnya dan menyiapkannya untuk Rafa.
"Lain kali gausah ya Quen, gue bisa makan sendiri di luar" ucap Rafa dingin, lalu Quena meletakkan makanan tepat di hadapan Rafa.
"Tadi gue mau anter ini buat papa, cuma papa lagi gak ada makanya timbang mubadzir dibuang mending buat lo" klah Quena tersenyum.
Saat Rafa tengah melahap makanan bekal yang dibawa Quena, tiba-tiba pintu ruangan pun terbuka, dan papanya mulai masuk ke ruangan. Betapa terkejutnya Aditya saat mendapati anaknya yang sudah menikah, kini berada satu rungan dengan perempuan lain. Rafa yang melihat papanya datang, dengan cepat mengehentikan makannya dan berdiri menghampiri.
"Eh pa? masuk pa makan" ucap Rafa gugup.
"Rafa ada yang mau papankmongin, kita keluar sebentar" sahut Aditya, terus menatap pada meja yang dipenuhi bekal bawaan Quena.
"Siang om, apa kabar?" apa Quena dengan sopan, namun hanya disuguhi senyum oleh pria masih berdiri di dekat pintu dan berlalu pergi.
"Kamu nih apa-apaan sih Fa? kamu udah nikah bukan lagi pacaran, gak bisa kamu seenaknya gini. kalau Arin tahu gimana perasaannya? kamu pikir dong" ucap Aditya dengan nada kesal.
"Iya pa, maaf, tadi Quena cuma mampir bawa makan buat papanya, tapi papanya gak ada makanya dia bawa kesini" sanggah Rafa dengan nada bersalah.
"Kamu pulang sekarang, kerjaan kamu selesaiin dirumah!" ucap papa Rafa lagi dengan sedikit amarah.
"Iya, Pa" jawab Rafa dengan wajah menunduk.
Aditya meninggalkan Rafa dengan kesal, Rafa pun kembali keruangan nya untuk kembali pulang.
"Maaf Quen, gue harus pulang sekarang. Ada urusan mendadak" ucap Rafa sambil berlalu membereskan pekerjaannya.
"Oh gitu? engga apa apa, lo pulang gih. Gue juga harus balik lagi ke butik" jawab Quena. ia memang memiliki butik sendiri yang dikelolanya dari masa sekolah SMA.
Soal’y wktu bru rilis saya ikutin smpe selesai
Eh pas pngen baca lgi ko di potong gini cerita’y
Jdi aneh deh
nganter ditimpuk ma rafa hahah