Sebuah kecelakaan pesawat Jet terjadi dan Alika adalah seorang pramugari satu-satunya yang selamat dalam penerbangan tersebut, namun kecelakaan itu membuat Alika buta.
Ryan Aditama sang CEO, rasa bersalah atas meninggalnya seluruh tim 1 membuatnya tak bisa mengabaikan Alika, dia putuskan untuk jadi pelayan gadis buta tersebut dengan identitas yang lain, Erlan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Seperti Karang
Cukup lama Alika dan Ryan berpelukan seperti itu, di depan pintu lobby rumah sakit tak peduli dengan banyaknya orang yang lalu lalang.
Sampai Alika akhirnya merasakan ketenangan.
Di dalam dekapan Erlan seperti ini, Alika tidak merasa sendiri lagi. Tak peduli segelap apa pandangannya, tapi dengan adanya Erlan semuanya jadi terasa baik.
Alika tak bisa memungkiri, bahwa dia sangat membutuhkan Erlan.
Sekuat apapun dia mencoba untuk bisa sendirian, nyatanya tetap saja dia tidak bisa.
"Er," panggil Alika.
"Hem, kenapa? sudah lebih baik?" tanya Ryan dengan begitu lembut.
Ryan juga melerai pelukan mereka dan menghapus peluh di dahi Alika. Kembali merapikan anak rambut sang kekasih yang tidak ikut terikat.
Setelahnya Ryan pun menangkup wajah Alika dengan begitu lembut.
Sungguh, Ryan ingin Alika tenang.
Tak ingin Alika gundah sendirian, karena dia akan selalu ada di sini.
"Kamu tidak akan meninggalkan aku kan Er?" tanya Alika, dia mendongak dan coba menatap Erlan. Meski kedua matanya nampak kosong namun Alika tetap ingin Erlan menatap wajahnya.
"Kamu ingin kita segera menikah?" tanya Erlan langsung hingga membuat Alika mendelik.
Alika juga langsung memukul lengan Erlan dengan cukup kuat.
Plak!!
Tapi erlan tidak merasa kesakitan sedikitpun, dia malah tersenyum.
Bagi Ryan, arti tidak ingin ditinggalkan adalah dengan mengikat mereka berdua. Dan ikatan yang paling kuat adalah pernikahan.
Ryan tidak ragu mengatakan itu karena dia telah mengenal Alika dengan baik, dari semua data pemberian Romi, dari saat dia melayani Alika secara langsung seperti ini.
Gadis yang seperti karang, diluar nampak begitu keras namun memiliki hati yang begitu lembut.
Tak butuh waktu lama, Ryan tau bahwa dia menyukai Alika, menyayangi Alika. Tidak perlu diuji, Ryan tidak akan rela melihat Alika dimiliki oleh pria lain.
Mungkin sekarang masih sedikit, tapi Ryan sendiri percaya bahwa dia mencintai Alika.
Dan setiap hari mereka bisa memupuk rasa itu hingga jadi semakin memenuhi hati.
"Jangan membuatku terkejut terus seperti itu!" kesal Alika, kemarin menjadi kekasih saja masih sulit untuk dia terima, dan sekarang tiba-tiba Erlan bicara tentang pernikahan.
Secepat kilat jantungnya berdegup tak karuan.
"Aku sangat tampan Al, tanyalah pada bi Santi kalau tidak percaya, karena itu cobalah buka hatimu, kita jalani ini bersama, ya?" bujuk Ryan pula, pikirnya Alika masih ragu menerima dia karena takut jika dia adalah pria buruk rupa.
"Apa benar kamu setampan itu?" tanya Alika, seperti mempertimbangkan. Padahal yang lebih berat terasa di dalam hatinya adalah tentang kenyamanan, bukan rupa.
"Serius, aku sangat sangat tampan."
Alika terkekeh.
"Tapi jangan menikah dulu, aku harus sembuh dulu, agar bisa bertemu dengan seluruh keluarga mu," jawab Alika dengan malu-malu. Bukan jawaban gamblang, tapi dari kalimat itu mengisyaratkan bahwa dia bersedia jadi kekasihnya Erlan.
Ryan langsung tersenyum dengan sangat lebar.
Di rumah sakit ini akhirnya mereka sepakat untuk jadi sepasang kekasih.
Alika tidak lihat saat Ryan sedikit menundukkan kepalanya dan mengikis jarak, mengecup sekilas bibir merah Cherry itu.
Cup!
Alika yang terkejut sampai berjangkit kaget, tangan kanannya reflek kembali memukul Erlan.
"Err!!" kesal Alika, bukan marah, tapi dia malu.
Ryan pun terkekeh, dia peluk lagi gadisnya ini. Mencium dalam-dalam puncak kepala sang kekasih.