Enough berkisah tentang kisah asmara seorang wanita bernama Dia Tarisma Jingga dengan seorang lelaki yang belum lama dikenalnya, Btara Langit Xabiru
Keduanya saling mencintai dan kemudian memutuskan membangun kehidupan keluarga kecil yang harmonis dan bahagia.
Namun sayangnya semua itu hanya menjadi angan saja, hal ini terjadi lantaran trauma masa lalu dan sikap Tara yang abusive, yang pada akhirnya menjadi prahara dalam rumah tangga mereka.
Akankah Tari dan Tara mampu mempertahankan rumah tangga mereka? Kisah selengkapanya hanya ada di novel Enough.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Setibanya di restaurant Jepang, Tari langsung terkesan dengan restoran berkonsep kebudayaan luhur dari negeri matahari terbit, dengan banyaknya lukisan boneka kokeshi di dinding.
Dari kejauhan Tari melihat bundanya duduk di salah satu meja, ia dan Tara pun bergegas menghampirinya. "Hai, Bunda." sapa Tari.
Surinala mengangkat wajah dari handphonenya dan kemudian menyapa putri semata wayangnya "Oh, hai, sayang. Kamu sudah datang?" ia memasukan handphonenya ke dalam tas, lalu mencium kedua pipi Tari.
Mata Surinala tertuju pada Tara yang berdiri di samping putri kesayangannya. Tara tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Aku Tara."
Dengan ramah Surinala menyambut tangan Tara, sembari memandangi putrinya dan Tara secara gergantian. Tara pun melepaskan jabatan tangannya dan duduk di sebelah Tari.
"Aku Surinala, bundanya Tari. Senang berkenalan denganmu, Tara." Surinala mengembalikan perhatiannya ke putrinya dan mengangkkat alis. "Apa dia temanmu?"
'Astaga aku sampai lupa untuk mempersiapkan jawaban yang tepat'. Tari bingung harus menjelaskan hubungan statusnya denganTara, ia berfikir tak mungkin rasanya mengatakan masih dalam tahap percobaan, namun ia juga tidak bisa mengatakan bahwa Tara adalah kekasihnya, karena Tara belum menembaknya.
Tara yang menyadari bahwa Tari tengah gugup, menaruh tangannya di paha Tari yang sedikit terbuka karena Tari mengenakan rok mini, ia mengelusnya dengan lembut. "Adiku bekerja di D'Jingga Cafe," ucapnya. "Mungkin tante sudah bertemu dengan Caira "
Surinala mencondongkan badannya ke depan dan berseru, "Oh! Ya! Tentu saja tante kenal dengan Caira. Jadi kau kakaknya? pantas saja wajah kalian sangat mirip."
Tara mengangguk. "Kami berdua mirip Mommy."
Surinala tersenyum ke arah putrinya. "Banyak orang yang bilang jika Tari mirip tante."
"Benar," sahut Tara. "Tante dan Tari sama cantiknya." Tara kembali mengelus paha Tari di bawah meja. "Tante, Tari. Aku permisi ke toilet sebentar." Tara mendekat dan mengelus kepala Tari. "Kalau nanti pelayan datang, pesankan yang sama saja dengamu."
Tatapan mata Surinala mengikuti Tara yang melangkah pergi, kemudian memandang Tari. "Sepertinya kau belum cerita apa pun tentang kedekatanmu dengan Tara?"
Tari tersenyum kecil, ia sendiri bingung bagaimana harus menjelaskannya kepada bundanya. "Dia sangat sibuk Bund, jadi kami jarang menghabiskan waktu bersama. Ini adalah kali pertamanya kami makan malam di luar."
Surinala mengangkat alisnya."Benarkah?" ujarnya, ia bersandar di kursi. "Tapi dari bahasa tubuh kalian tidak seperti itu, kalian terlihat mesra untuk ukuran orang baru saling kenal."
"Kami bukan baru kenal," terang Tari. "Aku mengenalnya sudah sekitar enam bulan yang lalu, tapi kami tidak pernah pergi keluar karena dia sibuk dengan pekerjaannya."
"Memangnya apa pekerjaannya sampai tidak sempat mengajakmu keluar?"
"Dia pengusaha batu bara asal Surabaya, tapi saat ini dia sedang mengerjakan project di Jakarta." jawab Tari.
Surinala mengangguk. "Oh seorang pengusaha."
"Selamat malam, mau pesan apa?" tanya pelayan.
"Ya," jawab Tari. "Kami pesan...."
Seketika mulut Tari terkatup rapat. Ia terpana menatap pelayan yang datang mengenakan kemerja biru, rapih, tanpa mengenakan apron di pinggangnya layaknya pelayan lainnya. Jantung Tari terasa tersangkut di tenggorokan, hingga Tari lupa bagaimana caranya untuk berbicara.
"Tari?" tanya Surinala, ia menjentikan jemari ke arah putrinya. "Dia menunggu pesananmu."
Tari menggeleng dan mulai tergagap. "Aku.. Ehm.. Aku..."
"Deep fried roll, sushi attack–ichikuma’s, sushi attack–nikuma’s, tacoban, spicy creamy volkano roll, sushi attack ganbatte. Minumnya, tiga air mineral dan tiga ocha," sahut Surinala, memotong ucapan Tari yang berantakan.
Sang pelayan tersadar dari lamunannya yang cukup lama, kemudian ia menuliskan pesanan yaang di sebutkan oleh Surinala di kertas catatannya.
"Deep fried roll, sushi attack–ichikuma’s, sushi attack–nikuma’s, tacoban, spicy creamy volkano roll, sushi attack ganbatte. Minumnya, tiga air mineral dan tiga ocha," ualngnya. "Baik, di tunggu sebentar pesanannya." pelayan itu berbalik dan melangkah pergi, namun Tari melihat pelayan itu menoleh ke arahnya, sebelum ia masuk ke dapur
Surinala mendekat dan bertanya, "Kamu ini kenapa sih?"
Tari menunjuk ke balik bahu. "Pelayan tadi," ucap Tari sambil menggeleng. "Dia mirip sekali dengan....."
Baru saja Tari ingin berkata 'Ranu Laksana Samudra', namun Tara muncul dan duduk di sampingnya.
Tara melirik ke arah Tari dan bundanya. "Apa aku melewatkan sesuatu?"
Tari menelan ludah dengan susah payah, kemudian menggeleng. Ia kembali memikirkan pelayan tadi, 'Itu bukan Ranu' batinnya, Tapi matanya? Meski sudah bertahun-tahun Tari tak melihat Ranu, tapi Tari tak pernah lupa akan wajah terutama matanya. 'Itu pasti Ranu'. Tari sekarang yakin jika pelayan tadi adalah Ranu, terlebih saat tadi dirinya dan Ranu sama-sama saling menatap.
"Tari?" tanya Tara, ia menggenggam tangan Tari. "Kau baik-baik saja?"
Tari mengangguk dan memaksakan senyum, kemudian berdeham. "Ya, tadi kami membicaraknmu," ucap Tari, ia melirik ke arah bundanya. "Tara baru saja berhasil memenangkan project senilai 28 triliun, untuk pembangunan taman rekreasi terbesar di Indonesia."
"Oh ya?" Surinala mencondongkan tubuhnya penuh minat, dan Tara pun mulai bercerita tantang progresnya sudah sejauh mana.
Tak lama kemudian, semua pesanan bunda tiba, namun kali ini di antar oleh pelayan yang lain. Mereka bertiga mulai meikmati hidangan, tapi seluruh perhatian Tari tersita ke sisi restaurant mencari keberadaan Ranu. 'Aku harus menenangkan diri,' batinnya.
"Bunda, Tara. Aku mau ke toilet dulu ya." Tari berdiri, kemudian berjalan ke arah lorong yang mengarah ke toilet. Begitu tak ada orang di sekitarnya, Tari membungkuk dan menghembuskan nafas panjangnya untuk menenangkan diri, sebelum ia kembali ke mejanya. Tari mengangakat kening, sembari memejamkan matanya.
'Selama hampir sembilan tahun aku terus bertanya-tanya apa yang terjadi padanya'
"Tari?"
Tari mendongakan wajahnya, ia melihat Ranu berdiri di ujung lorong bagai hantu dari masa lalu. Pandangan Tari langsung melesat ke bawah, memastikan Ranu tidak melayang di udara.
Rupanya tidak. Dia nyata dan berdiri tepat di hadapannya.
Tari tetap bersandar ke dinding, ia tidak tahu harus berkata apa pada Ranu. "Ranu..."
Begitu Tari menyebut namanya, Ranu menghela nafas leganya, ia melangkah mendekat ke arah Tari. Begitu pula Tari, ia melangkah ke arah ranu.
Mereka bertemu di tengah, dan kemudian berpelukan dengan sangat erat.
👏👏👏👍
banyak pesan moral yg didapat dari cerita ini.. asli keren kak.. bisa buat baper akut n nangis Bombay.. untuk kak Irma sukses terus sehat dan selalu di tunggu karya selanjutnya..
banyak pesan dan ilmu yang terkandung
Semangat Kak author,
Terima kasih untuk cerita yg luar biasa ini,
💪👍