"Sampai kapan kamu akan berlindung di ketiak mama? Kalau sikap kamu manja seperti ini mana ada laki-laki yang mau menikahi kamu. Abang tahu kamu sering dimanfaatkan oleh pacar-pacar kamu itu 'kan?"
"Abang, jangan meremehkan aku. Aku ini bukan gadis manja seperti yang kau tuduhkan. Aku akan buktikan kalau aku bisa mandiri tanpa bantuan dari kalian."
Tak terima dianggap sebagai gadis manja, Kristal keluar dari rumahnya.
Bagaimana dia melalui kehidupannya tanpa fasilitas mewahnya selama ini?
Yang baca wajib komen!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengantar kakak ipar
Usai pulang dari rumah sakit, Ruli mengantar kekasihnya sampai di depan rumah. "Kamu nggak mampir dulu?" tanya Kristal sebelum dia turun dari mobil.
Ruli melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Lain kali saja ya, ini sudah terlalu malam. Salam buat keluarga kamu." Rully mengelus kepala Kristal dengan lembut. Kristal merasa sangat beruntung mendapatkan kekasih seperti Ruli yang selalu memperlakukannya dengan baik.
"Apa kamu yakin bisa pulang sendiri?" Kristal sedikit khawatir dengan keadaan Ruli. Ruli menganggukkan kepalanya. Setelah itu kristal turun dari mobil. Gadis itu melambaikan tangan pada kekasihnya.
"Loh pacar kamu nggak mampir?" Tanya Berlian yang menyambut kedatangan putrinya.
Kristal menggelengkan kepalanya. "Dia agak tidak enak badan," jawab Kristal. Berlian jadi berpikir mungkin karena Ruli kehujanan saat membantu dirinya.
"Mama jadi merasa bersalah padany." Ucapan Berlian membuat Kristal mengerutkan kening.
"Memangnya kenapa, Ma?"
"Tadi mobil Mama sempat kehabisan bensin lalu Ruli membantu mama mengisi bensin sambil kehujanan."
Kristal terkejut mendengarnya. "Ya ampun kasihan banget dia. Jadi mama lihat kan kalau dia itu baik banget." Berlian mengangguk setuju.
"Kalau udah cocok minta dia menikahi kamu secepatnya."
Jaden yang baru turun dari lantai atas menajamkan telinganya ketika sang istri menyebut kata menikah. "Menikah? siapa yang mau menikah?" Tanya Jaden.
Kristal dan Berlian sama-sama menoleh ke arah laki-laki yang merupakan kepala di keluarganya itu. "Siapa lagi di sini yang belum menikah?" Jawab Berlian. Dia meminta suaminya untuk berpikir.
"Menikah dengan siapa? Yang namanya Ruli itu? Dia bahkan belum berkenalan dengan papa," cibir Jaden.
"Enak saja mau menikah secepat itu. Aku tidak bisa membiarkan anakku jatuh ke sembarang lelaki," batin Jaden. Sebagai seorang ayah tentu saja dia tidak mau anaknya kenapa-kenapa.
Kristal merangkul lengan ayahnya. "Sebenarnya aku belum berpikir sampai sejauh itu, Pa. Tapi kalau seandainya dia tiba-tiba datang melamarku apa papa akan merestui kami?" Tanya Kristal setengah menggoda ayahnya.
Jaden berpikir sejenak. "Kita lihat saja nanti," jawab Jaden sambil bersidekap. Semua orang jadi terkekeh melihat sikap Jaden.
Di tempat lain, Sandra meminta suaminya menemani ke dokter kandungan besok.
"Mas, aku mau memeriksakan kandunganku. Apa besok kamu bisa menemaniku?" tanya Sandra dengan lembut.
"Aku sangat ingin menemani istriku ini." Alex mencolek dagu istrinya. "Tapi besok aku ada jadwal meeting pagi sayang," tolaknya dengan halus. "Bagaimana kalau aku minta mama untuk menemani kamu besok?" Alex memberikan solusi. Dia berharap istrinya itu menyetujuinya. Sandra mengangguk.
Kemudian Alex menelepon ibunya. "Hallo, Ma."
"Ada apa menelepon malam-malam begini Lex?" tanya Berlian dari ujung telepon. Saat ini dia sedang berada di dalam kamar bersama istrinya. Anak mereka sudah tidur di kamar terpisah.
"Bisakah mama menemani istriku ke dokter kandungan besok?" Pinta Alex.
"Besok mama nggak bisa sayang, besok di rumah Tante Raina ada pengajian jadi mama diminta bantu-bantu di sana. Bagaimana kalau Sandra ditemani Kristal saja?"
"Sebenarnya besok ada meeting dengan klien tapi tidak apa aku bisa handle sendiri. Tolong bilang pada Kristal ya Ma. Besok pagi suruh dia ke rumahku."
"Iya, nanti mama bilang sama dia." Usai menutup telepon, Berlian turun dari ranjang.
Jaden menutup koran yang sedang dia baca ketika melihat istrinya beranjak keluar. "Mau ke mana Ma?" tanya sang suami.
"Alex mau nyuruh Kristal buat nganterin Sandra besok ke dokter kandungan." Jaden beroh-oh ria. Suaminya itu paham kalau anaknya sangat sibuk jadi dia tidak bisa mengantarkan istrinya ke dokter kecuali jika jadwal periksanya sore hari.
Setelah itu Berlian berjalan menuju ke kamar Kristal. Dia langsung membuka kamar Kristal. Betapa terkejutnya dia ketika melihat penampakan wajah Kristal yang menyerupai zombie.
Berlian sampai memegangi dadanya karena kaget. "Kamu sengaja ya mau nakut-nakutin mama?" Tuduh Berlian.
Kristal tergelak. "Aku lagi pakai masker Ma. Ada apa mama nyari aku?" tanya Kristal.
"Kamu disuruh Abangmu mengantar istrinya besok ke dokter untuk periksa kandungan."
"Lah bukannya besok aku harus kerja. Kenapa nggak mama aja?"
"Besok kamu bisa libur atau pergi kerja setelah selesai mengantar Sandra. Mama nggak bisa nganterin dia soalnya mau bantu-bantu di rumah Tante Raina."
"Ada acara hajatan, Ma? Kak Zidan mau menikah ya?" tanya Kristal.
"Bukan, hanya pengajian rutin di kompleknya. Ya sudah besok pagi kamu jangan sampai telat jemput Sandra."
"Siap, nyonya."
"Ih, apaan sih?" Berlian menggeleng.
Keesokan harinya Kristal memakai pakaian semi kantor. Dia memakai atasan warna pink dipadukan dengan celana jins dan serta tas jinjing yang senada.
"Ma, aku berangkat ya," pamit Kristal.
"Kamu nggak sarapan dulu?" tanya Berlian.
"Nanti sarapan di rumah bang Alex saja."
"Katanya mau mengantar Sandra ke dokter ya?" tanya Jaden.
"Iya, Pa. Tapi setelah itu aku akan kembali ke kantor. Bang Alex sudah mengirimi aku pesan tadi pagi."
"Hati-hati!" Pesan Berlian pada anaknya.
Kristal memasuki mobil menuju ke rumah abangnya. Ketika tengah berhenti di lampu merah, Kristal tak sengaja melihat gadis yang ia kenal. "Sepertinya aku mengenal perempuan itu," gumamnya. Dia mencoba memutar ingatannya.
Tiba-tiba Kristal terkejut ketika melihat laki-laki yang di samping gadis itu. "Vano," gumam Kristal menyebutkan nama laki-laki itu.
Kristal yang kurang fokus tidak menyadari kalau rambu lalu lintas sudah berubah hijau. Bunyi klakson yang berasal dari mobil di belakangnya terdengar amat nyaring hingga membuyarkan lamunannya. Ingin sekali dia mengikuti mantan pacarnya itu tapi dia sudah janji untuk menemani Sandra pergi ke dokter.
Tak lama kemudian Kristal sampai di depan rumah abangnya. Ketika dia baru keluar dari mobil, Alex baru saja berpamitan pada Sandra.
"Hati-hati, Bang."
"Ingat jangan bolos hari ini. Kembali ke kantor setelah mengantar kakakmu." Alex kembali mengingatkan adiknya.
"Iya, cerewet."
Sandra melambaikan tangan pada suaminya. Setelah itu Sandra mengajak Kristal ke dalam rumahnya. "Ayo masuk!"
"Zavier sudah berangkat ke sekolah ya?" tanya Kristal yang tidak melihat keponakannya itu.
"Dia diantar oleh sopir. Semenjak aku hamil Mas Alex tidak mengizinkan aku menyetir sendiri," terang Sandra.
"Iya, bahaya Kak. Kalau butuh bantuan aku buat nganter ke mana-mana hubungi aku saja ya."
"Kakak ambil tas dulu ya. Kamu mau minum apa?" tanya Sandra.
"Nanti aku buat sendiri aja, Kak," jawab Kristal yang tak mau merepotkan kakak iparnya itu.
Sambil menunggu Sandra yang sedang bersiap-siap, Kristal mengambil air minum di dapur. Dia baru ingat siapa gadis yang bersama Vano itu saat dia meneguk air minumnya. "Adiknya mas Ruli. Iya aku yakin itu adiknya."
"Kristal," panggil Sandra. Kristal menoleh ke arahnya. "Ayo berangkat sekarang," ajak Sandra yang sudah siap.