Apakah kalian tahu sumber kebahagian sesungguhnya?,,,Kebahagiaan bukanlah bersumber dari uang, jabatan, atau wanita.
Sumber kebahagian adalah berasal dari hati yang murni. Setiap kita menolong sesama maka kebahagian akan menghampiri kita dengan sendirinya.
Mulai dari sekarang mari kita lakukan kebaikan paling tidak sehari satu kali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon G aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOH CHANG MIN
Terimakasih sudah mampir. Semoga kita semua selalu sehat dan bahagia. Selamat membaca...
Koh Chang min berjalan di ikuti oleh Ridwan dibelakangnya. Ditengah perjalanan ada seorang nenek yang dari kejauhan terlihat sudah tersenyum-senyum sendiri.
"Yah ketemu nenek ini lagi deh" gumam Ridwan dalam hatinya, dengan wajah sedikit kesal. Koh Chang min juga mempunyai perasaan yang sama dengan Ridwan.
"Koh mau kemana? kok cepat benar jalannya", nek mimi bertanya sambil mengerutkan keningnya.
"Ini nek mau ke rumah Dede" jawab koh Chang min menghentikan langkahnya didepan nek mimi.
"Siapa yang mati?" Nek mimi lanjut bertanya.
"Tidak ada yang mati nek, cuma mau berkunjung saja" Ridwan menambahkan.
"Kasihan, seharusnya kalau sakit cepat-cepat berobat. Memangnya dia sakit apa sampai bisa mati begitu?'' kata nek mimi lagi.
"Tidak ada yang sakit nenek tidak waras" teriak Ridwan darahnya sudah mencapai kepala.
"Oh sakit panas, kan sudah nenek bilang kalau sakit kayak gitu obatnya jus cacing saja." nek mimi menggelengkan kepalanya pelan. Rambutnya yang sudah memutih bergerak gerak.
"koh sebaiknya kita jangan hiraukan dia, bisa stres kita kalau kita terus diajak ngobrol sama nenek tuli ini" usul Ridwan.
"Kau benar Magrib, udah ayo kita lanjut jalan" koh Chang min bersama Ridwan langsung meninggalkan nek mimi yang masih mengoceh tidak jelas dibelakang mereka.
"Hei kalian ini diajak ngobrol sama orang tua malah pergi begitu saja, dasar anak jaman sekarang tidak punya sopan santun" gerutu nek mimi, kemudian dia berjalan tergopoh-gopoh lagi dibantu dengan tongkat kayunya.
"Sial bener kita bisa ketemu nenek tuli itu" Koh Chang min bergumam. Dibalas anggukan ringan sama Ridwan.
Sesampainya mereka dibelakang rumah Dede. Terlihat olah mereka berdua Dede sedang duduk sambil mengelus bulu Tiger yang sudah mulai mengering.
"Dede ini koh Chang min sudah datang, dia setuju mau membeli ular Kobra itu" teriak Ridwan pada Dede.
"Eh, koh Chang min. Mari koh koko bisa langsung ambil ular ini, walaupun dia sudah mati tapi tubuhnya masih segar kok" kata Dede langsung mengajak koh Chang min ketempat ular itu tergeletak sambil memangku Tiger di pelukannya.
"Wih ularnya gede banget, siapa yang melumpuhkannya?" tanya koh Chang min pada Dede. Dia penasaran karena tidak mungkin kedua anak ini yang membunuh ular kobra sebesar itu.
"Dia kalah sama kucing ku ini" kata Dede sambil menciumi bulu Tiger yang lembut.
"Masa kucing kecil ini bisa mengalahkan ular kobra sebesar ini?" mata koh Chang min menatap lekat-lekat kearah Tiger.
Sedangkan Tiger tidak suka jika dia ditatap seperti itu, dia balas menatap koh Chang min sambil menggeram ringan kearahnya. Sontak koh Chang min mundur selangkah karena kaget.
"Uh sepertinya kucing putih mu tidak suka aku tatap" katanya pada Dede, ada sedikit rasa takut saat matanya beradu pandang dengan mata Tiger.
"Ya sudah aku bawa sekarang saja ular ini, mumpung masih hangat, kamu punya karung tidak?" koh Chang min menatap Dede.
"Aku punya koh, tunggu sebentar aku bawa dulu kerumah" Ridwan berlari penuh semangat kerumahnya yang tidak jauh dari rumah Dede.
"Koh ngomong-ngomong mau diapakan ular sebesar ini?" tanya Dede penasaran.
"Oh ini akan dijadikan sate buat obat penyembuhan istriku yang lagi sakit perut" koh Chang min menjelaskan.
"Apa benar gitu, sate ular bisa menyembuhkan sakit perut?" Dede tidak percaya perkataan koh Chang min barusan.
"Iya saya sudah membuktikannya sendiri waktu sakit Kholik makan sate ular kobra, langsung sembuh. Kamu mau Dede satenya? kalau mau nanti datang saja ke rumahku" kata koh Chang min menawarkan.
"Tidak koh makasih tawarannya. Agama saya melarang memakan hewan bertaring seperti itu. Kecuali kalau sudah tidak ada makanan lagi buat dimakan" Dede menolak dengan halus.
"Oh ya sudah tidak apa-apa" balas koh Chang min. Tidak lama kemudian Ridwan datang sambil membawa karung bekas beras.
"Koh ini karungnya" kata Ridwan.
"Kamu masukin dong Magrib" balas Koh Chang min.
"Takut koh geli pegangnya" jawab Ridwan.
"Ah kamu ini anak laki-laki kok penakut" kata koh Chang min sambil merebut karung yang dibawa Ridwan. Kemudian dia memasukan ular itu kedalam karung.
"Uh berat juga" kata Koh Chang min saat mengangkat tubuh ular itu. Namun tetap dia mampu mengangkatnya. "Magrib, Dede terimakasih ya sudah menjual ular ini pada ku. Kalau tidak ada kalian aku bingung harus nyari daging ular kemana lagi".
"Iya koh sama-sama", balas Dede dan Ridwan bersamaan.
"Kalau begitu aku pamit ya anak-anak" kata koh Chang min sambil berjalan menjauhi rumah Dede. Namun setelah beberapa langkah dia menghentikan langkahnya. Kemudian berbalik dan kembali ke rumah Dede.
"Kenapa koh kok balik lagi?" tanya Dede heran dengan kelakuan koh Chang min.
"Aduh aku lupa, koki dirumah ku sekarang lagi tidak ada. Dia pergi ke kampungnya. Kalian tahu gak dimana orang yang bisa memasak sate ular ini?" tanya koh Chang min menatap Dede dan Ridwan bergantian.
Ridwan hanya bisa diam mendengar penjelasan koh Chang min barusan, dia tidak tahu kemana harus mencari koki yang bisa memasak sate ular itu.
"Kalau cuma di sate saja sih aku juga bisa memasaknya koh" celetuk Dede membuat kedua orang yang ada disana tidak percaya dengan pengakuannya.
"Jangan bercanda kamu Dede, aku lagi serius nih" kata koh Chang min menatap tajam Dede.
"Beneran koh, kalau tidak percaya aku bisa memasaknya didepan kalian berdua" kata Dede menyakinkan.
"Ya sudah sekarang kamu lakukan dengan cepat, istriku sudah menunggu dirumah" kata koh Chang min.
"Baik koh aku akan bersihkan dulu tubuh ular itu disini. Sebentar aku akan membawa peralatannya dulu kedalam" kata Dede menaruh Tiger ke lantai lalu dia pergi ke dapur membawa pisau dan talenan.
Tidak lama kemudian Dede sudah kembali sambil peralatannya. Lalu Dede mengeluarkan tubuh ular itu dari karung. Kemudian proses pembersihan tubuh ular pun berlangsung disaksikan Ridwan dan Koh Chang min.
Ridwan terpana melihat kemahiran Dede dalam menggunakan pisau dapur. Dia sudah seperti seorang ahli memasak saja. Begitupun koh Chang min dia tidak bisa berkata melihat kejadian dihadapannya.
Seorang anak SD berumur 9 tahun sudah pintar memainkan pisau. Dari mulai menguliti, pemotongan, sampai pembersihan dengan air keran. Dede lakukan dengan cepat dan sempurna.
Hanya dalam hitungan menit sate ular sudah siap untuk dimasak. Koh Chang min dan Ridwan dibuat menganga oleh Dede, hingga tidak sadar air liur mereka menetes kebawah.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen, hadiah dan vote. Serta pencet tombol favoritnya biar tidak ketinggalan up date selanjutnya. Sampai jumpa lagi bos ku :).
lebih Mudah untuk dipahami... dan tidak bikin pusing kepala...💆💆💆
dan aku Salut sama Author yang tetap konsisten dengan Ceritanya yang dari Awal udah banyak yang tidak sesuai harapan jadi Teruuuu...sss....Gaaaaa....ssspooolll🙏💪💪💪 bikin cerita Hallunya sungguh diluar Nurul
17-19th Terus Isti yang Jadi Adiknya misal usia Isti 13-15th Mungkin itu lebih pas dengan Alur Ceritanya... Dan tentang Cerita Ayahnya Dede sebelumnya Tolong di revisi karena tidak Masuk akal apalagi penyebab kematian Ayahnya Dede dan Isti...🤦💆💆💆
lanjutkan thor