Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman yang Tertunda
Jeviza tidak menyangka, akan mendapati keberadaan Tevi di rumah Arlo di pagi hari yang sibuk ini. Keadaan Tevi tidak sebaik saat terakhir mereka bertemu. Dan jeles asa masalah serius yang sedang gadis itu hadapi, sampai nekat datang ke rumah Arlo, sementara jarak kos Tevi dan rumah Arlo saja sangat jauh.
"Mau di sini aja? Apa ke taman belakang aja?"
Diamnya Tevi membuat Jeviza tahu jika ruang tamu bukanlah tempat yang tepat, apa lagi sesekali Tevi terlihat meremat jari-jari tangannya, ia langsung menuntun Tevi untuk ke taman belakang. Di sana jauh lebih tenang tempatnya.
"Vi, gue tau lo lagi nggak baik-baik aja, mau langsung cerita atau peluk dulu?"
Jeviza sudah merentangkan tangannya, bersiap jika Tevi butuh pelukan untuk menenangkan.
Dan benar, seperti dugaan Jeviza. Tevi langsung memeluknya dengan erat, pada akhirnya Tevi tidak kuat lagi menahan tangis. Ia menangis di pelukan Jeviza.
Hati Jeviza berdesir mendengar suara tangis Tevi. Pagi seperti ini, Tevi nekat ke rumah Arlo, sudah pasti masalahnya memang sangat serius.
"Nangis aja, Vi, gue di sini." Jeviza menepuk punggung Tevi dengan pelan. Membiarkan gadis itu meluapkan kesedihan dengan tangisnya, sampai Tevi benar-benar merasa puas dan melepas pelukan keduanya.
"Napas dulu, Vi, pelan-pelan aja."
Tevi menurut, ia bernapas secara perlahan, mencoba menormalkan dirinya lagi.
"Makasih, Jevi. Kita berangkat sekarang yuk."
Jeviza langsung menolak, ia menggeleng dan mengambil tangan Tevi untuk ia genggam.
"Enggak, kita absen dulu hari ini, gue mau temenin lo, dan gue yakin lo akan kesusahan kalau tetep ngampus sementara keadaan lo aja nggak baik, Vi."
Tevi menunduk, menatap Jeviza dan mengangguk, lalu terdengar napas panjang dari gadis itu.
"Udah mau cerita? Atau sarapan dulu?"
Tevi menggeleng, ia tidak enak datang dengan keadaan berantakan lalu numpang sarapan di rumah orang, meski tuan rumah dan semua penghuni rumah tersebut sangat baik, tetap saja Tevi merasa sangat sungkan.
"Enggak, Je. Gue udah sarapan tadi."
Sebuah kebohongan yang langsung terbongkar. Perut Tevi tiba-tiba bunyi, sangat berbanding terbalik dengan ucapannya.
"Kan? Ya udah kalau gitu lo cerita dulu, setelah itu kita sarapan bareng ya?"
Pada akhirnya Tevi mengangguk, sorot matanya lurus ke depan, seperti kosong, tetapi sesekali melirik ke arah Jeviza yang duduk di sebelahnya.
"Je, gue mau berhenti kuliah."
Satu kalimat singkat itu berhasil membuat Jeviza terpaku. Diam, masih mencerna dan belum merespon apa-apa.
"Kemarin nyokap gue telpon, Je. Beliau udah capek ngadepin bokap yang mabuk-mabukan, main gila sama perempuan, dan mereka mutusin buat cerai."
Jujur saja, untuk masalah seperti ini, Jeviza butuh waktu untuk menyikapi. Ini pertama kalinya ia mendapat curhatan tentang rumah tangga yang akan kandas.
Diam-diam dalam hatinya merapalkan doa semoga pernikahannya dengan Kean berakhir dengan kebahagiaan sampai tua nanti.
"Gue capek banget Je, selalu denger keluhan nyokap, bukan karena gue nggak sayang, tapi nyokap nggak pernah tegas selama ini, masih mau bertahan dengan hubungan yang bahkan sudah tidak ada komitmen apa-apa lagi di dalamnya." Tevi menjeda ucapannya, menyeka air mata dan membenarkan letak kaca matanya. "Tapi gue lega kalau nyokap gue akhirnya sadar, cuma gue benci banget dia pergi gitu aja ninggalin adek gue yang masih SMA."
Jeviza semakin tercekat mendengar itu. Ternyata keluarga Tevi sangat berantakan. Ibunya bahkan rela meninggalkan adiknya. Jeviza menggenggam erat tangan Tevi, memeluk gadis itu lagi.
"Kalau keluarga lo emang udah nggak bisa diperbaiki lagi, bukan berati lo harus berhenti ngejar cita-cita, lo Vi. Sayang banget kalau lo harus berhenti, adik lo pasti bakal kecewa banget."
"Lo butuh biaya, Vi? Lo mau kerja?"
Tevi menganggukan kepalanya. "Gue udah nggak bisa ngarep kiriman nyokap lagi, Je. Ditanya dimana juga nggak dijawab, malah dimatiin telponnya."
Jeviza bisa merasakan keputus asaan Tevi. Lalu ia tersenyum tipis. Menepuk punggung tangan Tevi dengan lembut, tetapi ada ketegasan di sana.
"Gue pasti bantu nyari buat lo, Vi. Tapi please jangan mikir buat berhenti kuliah ya?"
Tevi mengangguk, memeluk Jeviza sekali lagi sebelum akhirnya suara Puspa di ambang pintu terdengar.
"Udah dulu melow nya.. Sarapan dulu yuk."
"Ayo, nggak usah sungkan, kak Pus baik banget kok." Jeviza menarik tangan Tevi, membawanya menuju ke meja makan.
Sampai di sana, tidak ada orang, Ia melirik Puspa yang sedang mengambil secangkir coklat panas di tangannya.
"Mas Arlo udah berangkat, kak?" tanya Jeviza membuat Puspa terkekeh.
"Yakin nanya suami gue, Je? Bukan suami lo?" goda Puspa membuat Jeviza mencebik.
"Apa sih, kak? Ya dengernya aja gimana?"
Puspa menggeleng dengan kekehan. "Mas Arlo udah berangkat, ada rapat pagi, kalau Kean baru aja berangkat."
Puspa menaruh segelas coklat panas. "Coklat panas dulu, Vi, biar good mood."
"Makasih kak Puspa, maaf ngrepoti."
"Aman, aja kok," balas Pupsa melangkah menuju kulkas, lalu kembali dengan 3 cup matcha.
"Je, dari Kean tadi, buat lo sama Tevi, yang satu buat gue."
Jeviza melirik matcha di atas meja.
Kean masih sempat-sempatnya pesan minumah hijau tersebut.
"Oke, thank you."
"Bilang ke Kean dong, bukan ke gue," seloroh Puspa berbalik badan.
"Sarapan yang kenyang Vi, nggak usah sungkan," ujar Puspa sebelum kepergiannya.
"Je, hidup lo seru banget ya?" ujar Tevi secara tiba-tiba.
Jeviza sempat tercekat beberapa saat, lalu tersenyum tipis. "Nggak seperti keliatannya kok, Vi, tapi gue emang bersyukur banget dikelilingi orang-orang yang sayang sama gue dan baik, salah satunya lo."
Tevi ikut tersenyum haru, keduanya sarapan bersama, setelah selesai, Tevi ikut membantu Puspa untuk membersihkan meja makan dan mencucinya. Sebagai tamu ia harus sadar diri.
"Vi, bentar ya? Gue ambil hp di atas."
Tevi mengangguk, duduk lesehan di karpet bulu depan tv.
Sementara Jeviza masuk ke dalam kamar, aroma parfum Kean yang mahal langsung tercium saat ia menapaki kamar mereka.
"Orangnya udah pergi, tapi baunya masih tertinggal," gumam Jeviza menghirup dalam-dalam.
Ia mengambil ponsel miliknya, mendapati beberapa pesan dari Sisil dan Naura, tetapi yang menyita perhatian Jeviza paling pertama ialah pesan yang Kean kirimkan beberapa saat lalu.
Keandra
Gue berangkat dulu
Nggak enak ganggu lo sama temen lo
Besok berangkat bareng
Dengan cepat Jeviza langsung mengetik balasan, ia yakin Kean mungkin baru saja tiba di kampus dan belum mulai kelas.
Jeviza
Oke, besok berangkat bareng
Tidak membutuhkan waktu lama, Kean langsung membaca pesan yang ia kirimkan. Bahkan balasan dari Kean begitu cepat.
Keandra
Kissnya mana?
Tadi belum sempet
Buruan, Je. Sebelum mulai kelas
Jantung Jeviza langsung berdebar membaca pesan yang Kean kirimkan. Semakin berani saja Kean, meski sampai saat ini, Kean belum melakukan apa-apa karena mungkin masih menunggu Jeviza siap. Tetapi mendapati pesan romantis yang dikirimkannya membuat pipi Jeviza merona seketika.
...****************...
Guys, mau minta dukungannya dong
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣